
Prahara Orang Ketiga
Bab 4
Pada hari operasi, aku mengikuti perawat melewati koridor.
Di sebelah ada departemen kebidanan dan kandungan. Ada seorang wanita yang baru melahirkan tengah menggendong bayinya dan didorong keluar dari ruang operasi. Keluarga dan teman wanita mendekat dan begitu perhatian dengan kondisi ibu dan anak.
Melihat itu, hatiku terasa masam, menunduk dan menyentuh perutku.
Perawat mengira aku gugup, jadi menyarankan agar aku bermain dengan ponsel sebentar biar lebih santai.
Aku menatap layar ponsel dengan linglung, tanganku tanpa sadar membuka status teman-temanku.
Kebetulan saja muncul status Riani yang begitu hati-hati.
Dia menuliskan, "Kali terakhir bepergian dengan orang yang paling aku cintai."
Dalam foto tersebut, terlihat tangan mereka saling menggenggam erat.
Meskipun saat resepsi aku sudah memutuskan untuk menyerah dengan hubungan ini, air mataku tetap terjatuh, membasahi layar ponsel.
Karena Bimo sibuk bekerja, sering lembur dan melakukan perjalanan dinas, tanggal pesta pernikahan terus tertunda.
Aku sudah memikirkan masalah pesta pernikahan dan perjalanan bulan madu kami berkali-kali, bahkan menunggu selama ribuan hari.
Hasilnya sungguh menyedihkan.
Aku menyeka air mata dari wajahku. Ketika aku mencoba mengelap air mata dari layar ponsel, aku tidak sengaja menekan tombol suka.
Sebuah pesan muncul seketika, "Erika, awalnya perjalanan bulan madu ini ingin aku lakukan bersamamu, tapi kamu marah-marah. Hotel sudah dipesan, jadi nggak mungkin kalau nggak ditempati."
Aku memblokir kontaknya biar hati dan pikiranku bisa tenang.
Sebaliknya, dia malah marah-marah dan meneleponku berulang kali. Tiba-tiba, perawat memanggil namaku.
Dia menyadari bahwa aku berada di rumah sakit dan bertanya dengan penuh kekhawatiran, "Erika, kamu kenapa? Apa kamu sakit serius? Apa aku kembali saja?"
Riani yang mendengar itu menghentikannya, "Mungkin dia melihat statusku, jadi sengaja pura-pura sakit buat merusak perjalanan kita. Kak Bimo, jangan sampai tertipu olehnya. Apa penyakitnya seserius penyakitku?"
Bimo berpikir sejenak dan merasa apa yang dikatakan Riani benar. Bagaimana mungkin Erika bisa sakit dan masuk rumah sakit saat dia punya kekuatan untuk menamparnya saat pesta pernikahan?
Dia pun mengumpat, "Erika, simpan saja tipu muslihatmu itu. Jangan kira kamu bisa menipuku!"
Anda Mungkin Juga Suka





