APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Prahara Orang Ketiga

Prahara Orang Ketiga

Hari pernikahan Erika berubah menjadi mimpi buruk saat kekasih masa lalu Bimo datang merebut posisi mempelai wanita dengan alasan sakit parah. Alih-alih membela Erika yang tengah hamil dan telah mengantongi buku nikah, Bimo justru mendukung pergantian tersebut demi membahagiakan wanita itu. Menghadapi cemoohan para tamu undangan, Erika tidak meluapkan amarah di tempat. Dia memilih mengambil keputusan besar untuk menggugurkan kandungannya dan merelakan hubungan sepuluh tahun mereka berakhir begitu saja.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah berjuang cukup lama, aku memaksakan diri untuk berdiri.

Ketika menuruni tangga, kakiku keseleo dan rasanya sangat sakit.

Aku melihat sepatuku, ternyata tumitku sudah berdarah.

Ternyata bukan hanya gaun pengantinnya yang tidak muat dengan ukuranku, sepatu hak tingginya juga tidak muat dengan kakiku.

Aku sempat berpikir bahwa itu karena Bimo terlalu sibuk dan tidak cukup teliti dalam memperhatikan hal-hal yang berhubungan denganku, jadi dia salah memilih.

Aku melihat ke arah mawar putih dan violet yang diletakkan di taman, yang juga merupakan bunga favorit Riani.

Ternyata, semua itu bukan untukku.

Ketika aku berjalan melewati jalan setapak di taman menuju lokasi pernikahan sebelumnya, kakiku sudah lelah karena tumitku terluka.

Sekarang, kakiku keseleo. Saat menginjak jalan berkerikil, setiap langkah yang aku ayunkan terasa sangat menyakitkan.

Semua pelayan menundukkan kepala saat mereka melewatiku. Mereka tidak menatapku, hanya bergegas menuju ruang perjamuan dengan makanan di tangan mereka.

Tidak ada yang mau membantuku karena Bimo sudah mengatakan kepada semua orang untuk tidak mengurusiku dan membiarkanku pergi semauku.

Aku langsung melepas sepatu hak tinggiku dan melemparkannya dengan asal. Aku tidak menginginkan sesuatu yang bukan milikku.

Kakiku menginjak kerikil, menimbulkan memar-memar kecil di permukaan. Aku berjalan dengan susah payah sampai ke depan pintu.

Aku mengeluarkan ponsel untuk memesan taksi ke rumah sakit. Saat akan membayar, aku tiba-tiba menyadari bahwa uangku tidak cukup.

Langit tiba-tiba menjadi gelap, awan hitam bergulung di kejauhan. Aku tidak tahu kapan hujan deras akan turun.

Bagaimana mungkin saldonya tidak mencukupi? Jelas-jelas aku mendapatkan gaji enam puluh juta setiap bulan.

Aku keluar dari aplikasi bank, masuk, lalu memeriksa isi saldo di dalamnya.

Sopir taksi yang sudah berhenti menatapku dengan pandangan menghina. "Kalau nggak punya uang jangan naik taksi. Ganggu saja!"

Aku berpikir untuk waktu yang sangat lama, yang terlintas dalam benakku adalah keluargaku yang mata duitan.

Pada saat seperti ini, ketika aku sangat membutuhkan dukungan keluargaku, mereka sudah sejak lama menyembunyikan pisau di belakang punggung mereka, menunggu untuk memberikan pukulan fatal ketika aku berada pada titik yang paling rentan.

Aku duduk di tepi jalan sambil memeluk lutut. Tiba-tiba, dering ponselku berdering memecah lamunanku.

Suara Bimo terdengar sangat murah hati, seperti sedang membujuk anak kucing.

"Acara sudah selesai. Kembalilah, kamu bisa foto sama kami, jadi nanti ada yang dilihat saat hari perayaan.

"Nggak perlu." Aku menyeka air dari wajahku dan menyadari bahwa hujan telah turun selama satu jam, membasahi tubuhku.

"Erika, aku sudah mengalah, tapi kamu nggak mau memanfaatkannya dengan baik. Apa maumu sebenarnya?"

"Kamu nggak punya uang sepeser pun saat ini. Kalau kamu masih bersikap nggak tahu diri, aku nggak keberatan membuatmu merasakan bagaimana pahitnya hidup di jalanan."

"Dari mana kamu tahu aku nggak punya uang?" tanyaku sangat terkejut.

"Heh, itu karena orang tua dan adikmu yang nggak pernah puas." Katanya dengan nada meremehkan, "Mereka selalu minta uang, memperlakukanku seperti ATM mereka. Menjengkelkan sekali, jadi aku kasih tahu mereka kata sandi kartu bank milikmu."

"Tapi tenang saja, aku punya lebih dari cukup uang buat menghidupimu. Aku nggak punya kewajiban buat menghidupi keluargamu."

Ternyata seperti itu. Uang yang selama bertahun-tahun aku kumpulkan dengan susah payah sudah dihabiskan oleh mereka, bahkan tidak menyisakan satu sen pun.

"Keluargamu mata duitan semua yang dikit-dikit minta uang. Riani nggak pernah menggangguku karena masalah seperti ini."

Dia mengoceh tentang keluargaku, memuji Riani yang begitu lembut, murah hati dan sopan.

Tidak pernah mengganggunya?

Tiba-tiba aku teringat saat pertama kali hamil dan orang tuaku datang ke rumah untuk meminta uang. Aku tidak memberikan uang yang mereka mau, karena aku memikirkan biaya cuti melahirkan yang harus aku ambil setelahnya.

Adikku menjadi kesal dan mengatakan bahwa aku jadi berani karena sudah menikah. Setelah itu, dia mendorongku hingga jatuh dari tangga.

Aku hampir saja kehilangan bayi dalam kandunganku. Namun, lenganku terkilir karena tanganku melindungi perutku saat jatuh dari tangga.

Ketika aku menelepon Bimo, dia sedang bersama Riani, yang kabur dari rumah karena bertengkar dengan ayahnya.

Mendengar penjelasanku, Bimo hanya mengatakan bahwa ini masalah keluargaku. Lalu, dia melemparkan ponselnya begitu saja.

Kemudian, dia melanjutkan membujuk Riani, mengatakan bahwa jika orang tua Riani berani pilih lagi, dia akan membuat bisnis mereka merugi.

Aku memegangi lenganku yang terkilir dan meneleponnya berkali-kali. Ketika panggilan diangkat, dia hanya mengatakan bahwa aku harus menyelesaikan masalah ini sendiri.

Dia bahkan tega memberitahukan kata sandi kartu bank milikku kepada keluargaku, demi memperbaiki keadaan untuk yang terakhir kalinya.

Telepon masih tersambung, tetapi dari dalam terdengar suara cemberut Riani, "Kak Bimo, Kak Erika nggak balik dan cuma kita yang berdiri di tengah. Dia cemburu nggak, ya?"

"Nggak apa-apa, dia yang bikin situasinya jadi begini. Kalaupun dia nggak datang buat foto, dia tetap harus minta maaf sama kamu." Bimo mengatakan hal ini pada Riani, tetapi jelas sekali perkataan itu ditujukan untukku.

Aku menutup telepon tanpa mengucapkan sepatah kata pun, meminjam uang dari seorang teman, lalu pergi ke bagian kebidanan dan kandungan rumah sakit.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku dan Adik Tiriku
8.7
Raffael akhirnya pulang setelah enam tahun pergi ke luar negeri akibat fitnah kejam dari adik tirinya, Syaqila. Meski kini Syaqila berniat tulus untuk meminta maaf atas kesalahan masa lalu yang membuat Raffael terasing, ia justru disambut dengan tatapan dingin dan penuh kebencian. Hubungan mereka pun kini berada di ujung tanduk. Apakah pertemuan ini akan menjadi momen rekonsiliasi yang damai, atau justru menjadi awal dari rencana pembalasan dendam Raffael?
Sampul Novel Asisten Terkekang Oleh Majikan
8.3
Sejak remaja, Dian mendedikasikan hidupnya sebagai asisten keluarga Firdaus. Kehidupan tenangnya seketika berubah saat putra sulung keluarga itu, Niko, kembali untuk mengelola bisnis. Walau telah memiliki istri, Niko justru terobsesi pada Dian dan bertekad menjadikannya tawanan cinta rahasia. Tinggal di rumah yang sama membuat tekanan dari Niko kian gencar, membuat Dian terjebak tanpa celah untuk lari. Di tengah kepungan obsesi sang majikan, sanggupkah Dian lolos dari jeratannya?
Sampul Novel Cinta Yang Sengsara
8.6
Dalam keadaan hamil, Naraya diusir dan dicampakkan oleh suaminya, Alvano. Badai fitnah kejam yang disebarkan oleh perempuan asing bernama Vanya sukses meruntuhkan pernikahan mereka. Tanpa ada satu pun orang yang membantu, Naraya terpaksa berjuang sendirian demi melahirkan serta mengasuh anaknya. Sementara itu, Alvano sama sekali tidak tahu bahwa anak yang dibuangnya adalah darah dagingnya sendiri. Akankah semua kebohongan ini terbongkar dan membawa penyesalan mendalam bagi Alvano?
Sampul Novel Dinodai Calon Kakak Ipar
8.1
Kesucianku direnggut oleh calon kakak ipar menjelang pernikahan. Tragisnya, aku malah dituduh menggoda dirinya hingga diusir keluarga. Demi bertahan hidup, aku terpaksa menjajakan diri pada pria kaya. Bertahun-tahun kemudian, pria brengsek yang menghancurkan hidupku itu mendadak kembali menjadi pelangganku. Ia bahkan menyewaku secara eksklusif selama satu bulan penuh. Rencana jahat apa lagi yang sedang ia persiapkan untukku?
Sampul Novel Dinodai Kakak Angkat
8.9
Yugo melakukan tindakan keji terhadap adik angkatnya, Maheswari, saat kehilangan kendali. Begitu tahu Maheswari hamil, Yugo yang angkuh justru kabur dari tanggung jawab. Demi menutupi kesalahannya, ia dengan kejam menjebak Junior sebagai kambing hitam. Di tengah situasi penuh ancaman dan kekerasan, Maheswari kini didera dilema besar mengenai kelanjutan masa depannya bersama Junior yang ikut terseret.
Sampul Novel Menjadi Istri Dadakan Mas Duda
8.5
Audra sempat menolak keras lamaran Inigo, duda yang jauh lebih tua darinya. Namun, Inigo berhasil meyakinkan bahwa pernikahan kontrak adalah jalan keluar terbaik demi menghindari desakan orang tua mereka. Kini, Audra harus mengarungi kehidupan rumah tangga yang penuh kejutan. Akankah ketulusan Audra mampu menyentuh hati Inigo yang masih dibayangi rahasia masa lalu? Simak perjalanan cinta penuh komedi yang akan mengubah takdir hidup mereka berdua.