APKDock Logo
Sampul Novel Pondok Mertua Indah

Pondok Mertua Indah

8.5 / 10.0
Tuduhan pembunuhan terhadap Juragan Dirja membuat Parmin dipenjara. Demi membebaskan ayahnya, Nengsih terpaksa menikahi putra mendiang juragan tersebut. Namun, pernikahan ini menjadi awal dari misi rahasianya. Tinggal di rumah mertua, Nengsih diam-diam menyelidiki konspirasi dan misteri di balik kematian sang juragan. Mampukah ia menemukan bukti kunci di pondok tersebut untuk mengungkap kebenaran dan membersihkan nama baik ayahnya?

Pondok Mertua Indah Bab 1

"Tolooong ...." Terdengar suara seseorang dari kejauhan.

Langkah Parmin berhenti seketika saat mendengar suara tersebut. Kepalanya menengok ke kanan dan kiri, mencari siapa yang meminta tolong. Bulu kuduknya langsung merinding.

Parmim semakin gencar menengok ke kanan dan kiri, tetapi tidak juga menemukan apa pun. Akhirnya dia kembali meneruskan berjalan. Senter yang kadang hidup dan mati, ditepuk-tepuk agar menyala. Sarungnya yang sedikit melorot ke pinggang, kembali dia lingkarkan ke leher. Malam ronda kali ini terasa lebih dingin dari biasanya, membuat tubuhnya merinding.

"Parmin, tolong ...." Suara seseorang terdengar lirih menghentikan langkahnya.

Suara tak bertuan itu kembali menginterupsi kegiatan ronda malam Parmin. Kali ini namanya disebut, membuat dia merinding. Taku-takut yang melakukannya bukanlah makhluk kasatmata. Melainkan sosok setan yang sering diceritakan orang-orang di pos ronda jika mendapat gangguan dari makhluk gaib. Parmin takut jika semua itu terjadi kepadanya di saat bertugas sendirian seperti ini.

"Si--siapa?!" tanyanya, setengah membentak. Parmin berusaha untuk tidak berlari walaupun ingin melesat secepat kilat dari tempat ini.

"Di sini Parmin, lihat ke bawah ...."

Mendengar interuksi itu, perlahan-lahan dia mengarahkan senter ke bawah. Namun, jalan setapak becek yang dipijak tak menampakkan apa pun selain genangan air keruh dan tanah yang liat.

Dipindahkan lagi cahaya senter ke samping kanan tubuhnya. Tubuh Parmin langsung menegang karena melihat seseorang terbaring bersimbah darah dengan pisau masih menancap di perutnya. Darah itu bahkan terlihat tidak lagi merah pekat, tetapi kehitaman. Keterkejutannya tidak hanya dikarenakan keadaan itu saja, tetapi orang yang sedang sekarat ternyata bukanlah warga desa biasa. Dia adalah ....

"Juragan Dirja?!" Parmin memekik kencang. Dia tampak terkejut dan sedih sekaligus. Mendapati seorang yang begitu berpengaruh dengan keadaan mengenaskan seperti itu membuat tubuh Parmin bergetar ketakutan.

Lelaki itu langsung mengarahkan cahaya ke seluruh tubuh pemilik sawah tempatnya mengais rejeki. Senter di genggaman langsung jatuh menggelinding. Parmin kebingungan dan panik. Semua isi  pikirannya terasa buyar. Pandangannya juga kosong, tak bisa memutuskan apa yang harus dilakukan dalam keadaan genting seperti ini.

Erangan kesakitan terus terdengar dari Juragan Dirja. Parmin akhirnya buka suara.

"Ju--Juragan ... saya harus minta bantuan ke warga lain. Saya mohon Juragan tahan sebentar. Tunggu saya!"

Saat hendak beranjak dari tempat itu, tangannya ditepis halus oleh Juragan. Parmin kaget dan kembali mendekat ke tubuh boss-nya.

"Tidak ada waktu ... ca--cabut pisau di perut saya. Tolong Parmin, saya sudah gak kuat lagi!" Juragan Dirja berkata dengan napas terengah-engah. Tubuhnya yang ditancapkan benda tajam itu mengeluarkan darah terus menerus.

"Ta--tapi saya gak bisa Juragan! Saya takut, lebih baik kita ke dokter. Ayo Juragan biar saya gendong saja."

Parmin mengambil ancang-ancang untuk menggendong. Namun, tangannya malah dipegang Juragan Dirja dan di arahkan ke perut, lalu ke atas pisau yang masih menancap.

"Jangan Juragan!" Parmin berusaha keras menolak dan ingin menjauhkan tangannya, tetapi semua terlambat. Juragan menahannya dengan seluruh sisa tenaga yang dia miliki.

"Harus, Parmin! Kamu sudah banyak hutang budi sama saya. Sekarang Bantu saya mencabut pisau ini!" maki Juragan Dirja sambil menatap tajam Parmin.

Setelah dirinya dibentak, Parmin akhirnya menarik pisau dengan sekali hentak. Erangan kesakitan lolos dari mulut Juragan Dirja.

Tangannya masih memegang pisau. Darah ikut keluar menyembur ke telapak tangan dan sarungnya. Tanpa Sadar Parmin mundur dan membuang pisau dari genggaman. Tubuhnya langsung gemetar.

"Cepat bawa aku ke dokter, Bodoh!" Juragan Dirja berkata dengan emosi.

Juragan Dirja kesal, dia berteriak-teriak dengan suara yang hampir habis. Parmin masih menegang, tetapi bukan karena keadaan Juragan saja, melainkan ... sosok wanita berkebaya putih yang berdiri di tengah jalan dengan ujung jari-jari kakinya saja. Makhluk itu memandang ke arah mereka dengan tetas air liur yang banyak.

"Parmin, a--ayo cepat! Wanita itu datang lagi, selamatkan saya!" Rupanya Juragan Dirja juga melihat sosok yang sama, kemudian berkata dengan ekspresi wajah sangat ketakutan. Air mukanya pucat dengan getaran di bibir.

Wanita yang mengenakan kebaya itu perlahan mendekati mereka. Suara bergemeletuk seperti tulang patah, mengiringi langkahnya. Parmin benar-benar dibuat tak berdaya,   seperti kehilangan akal. Bukannya berlari, dia malah mengambil senter dan mencoba melihat lebih jelas sosok aneh itu. Demi melihat lebih jelas apakah sosok itu nyata atau hanya halusinasi dan setan saja.

Akan tetapi, ketika di arahkan ke objek yang ingin dilihat, sinar senter langsung meredup. Parmin menepuk-nepuknya dengan cepat sampai terdengar suara. Senter itu kembali menyala dan ....

"Aaargh!" teriak Parmin nyaring.

Bersamaan dengan sinar yang kembali terang, tepat di depan senter, wajah penuh lubang, darah dan belatung muncul di depan Parmin. Pemandangan mengerikan itu membuatnya terjungkal ke belakang.

Kepala pria kurus itu menghantam sesuatu yang keras, membuat kepalanya sakit dan pusing secara bersamaan. Semua pandangan terasa berputar. Parmin berkedip beberapa kali, berusaha mengenyahkan penampakan yang masih setia berdiri di dekatnya. Semakin lama sosok itu terlihat lebih jelas. Dia menyeringai dan menaiki tubuh Parmin dengan mudahnya.

Tak ada keluar suara apa pun. Keheningan semakin mencekam dengan kengerian ini. Parmin masih menahan nyeri di perutnya, kuku-kuku tajam kaki wanita berkebaya lusuh itu terasa menancap, seperti merobek kulitnya.

"Jangan campuri urusanku, budak tak berguna!" bentak wanita di atasnya kemudian dia menyeringai.

"A--ampun ... lepaskan saya." Parmin memohon dengan suara lirih.

"Hihihi ... enak saja!" Wanita itu terus tertawa dengan nada yang membuat bulu kuduk berdiri.

Dengan perlahan, kuku yang menancap bergerak-gerak di atas perut. Rasanya seperti tersayat-sayat. Kemudian wanita itu berpindah ke atas dada Parmin dan menekannya kuat-kuat, mengalirkan rasa sesak yang tak bisa lagi ditahan.

Parmin hampir tidak bisa untuk mempertahankan kesadarannya sendiri. Setelah napas terasa di ujung tenggorokan, tekanan pada dadanya tiba-tiba berkurang. Dia merasa aman sebentar, tetapi itu tak bertahan lama.Saat dia melirik ke samping kanan tempat Juragan Dirja, pemandangan mengerikan mulai menyapa kedua manik matanya.

Wanita menyeramkan itu tampak  sedang merobek perut terluka Juragan dan menjilati organ dalamnya dengan lidahnya yang panjang. Melihat itu, Parmin dikuasai rasa takut yang luar biasa, dia merasa akan diperlakukan seperti itu juga bila masih diam di tempat. Dengan tertatih, pria kurus itu mencoba bangkit dan kabur dari sini. Perlahan tapi pasti, akhirnya bisa berdiri.

Langkahnya pelan, kecipak lidah yang menjilat organ dalam boss-nya masih terngiang di telinga. Parmin menangis, dia takut, panik, syok dan merasa terancam. Selangkah demi selangkah Parmin menjauh, dia bisa melihat kumpulan orang yang sedang duduk-duduk di pos ronda.

"Tolong ...!" teriaknya. Namun, tak ada satu orang pun yang mendengar suaranya.

"To ...." Parmin tak melanjutkan teriakannya, bersamaan rasa pusing yang menyerang kepalanya dan membuat semuanya terasa buram. Pria paruh baya itu terjatuh dan tak sadarkan diri.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Pondok Mertua Indah

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel DANGEROUS MAN
9.8
Athur Paker, CEO ternama sekaligus mahasiswa, menyembunyikan sisi gelap yang haus darah. Kehidupan dinginnya berubah total saat ia terobsesi pada Shena, gadis ceria yang berani menolak ajakannya. Tak menerima penolakan, Athur memakai paksaan untuk mengklaim Shena. Kini, hidup damai Shena hancur dalam jeratan sang psikopat tanpa jalan keluar. Di tengah penderitaan itu, rahasia masa kecil mereka mulai terkuak. Akankah identitas asli Athur membawa petaka baru bagi masa depan Shena?
Sampul Novel Melepas dengan Ikhlas
8.0
Fitnah keji dan hinaan dari mantan ibu mertua yang serakah telah menghancurkan hidup Mutia. Kepedihannya kian mendalam karena sang suami justru enggan membelanya. Enggan terus menderita akibat ketidakadilan ini, Mutia memilih pergi membawa luka batin. Ia bertekad bulat tidak akan pernah kembali lagi. Mampukah Mutia meraih kebahagiaan baru setelah melangkah pergi? Ikuti perjuangan emosionalnya menghadapi pengkhianatan ini.
Sampul Novel Pelaminan Tanpa Mempelai
9.3
Sebagai sekuel Enam Tahun Tanpa Malam Pertama, kisah ini menyoroti kepedihan seorang wanita akibat dosa masa lalu orang tuanya. Kehidupannya hancur saat sang kekasih pergi meninggalkannya di hari pernikahan. Takdir rumit kemudian menyeretnya ke dalam ikatan rumah tangga bersama putra dari musuh bebuyutan keluarganya. Mampukah ia bertahan menghadapi pernikahan yang penuh konflik dan dilema batin mendalam ini?
Sampul Novel Suami Adikku Mantanku
8.8
Mantan kekasih yang dulu pergi dan menorehkan luka mendalam tiba-tiba kembali hadir dalam hidupku. Namun, kepulangannya membawa kenyataan yang jauh lebih menyakitkan: ia kini telah resmi menjadi suami dari adik kandungku sendiri. Di tengah ikatan keluarga yang kini terasa begitu menyesakkan, aku terjebak dalam pergolakan batin yang hebat, dipaksa menghadapi bayang-bayang masa lalu yang belum sepenuhnya usai.
Sampul Novel Suami Berengsek, Istrimu Kini Hamil Anak Big Boss!
9.6
Tiga tahun menikah, Shanaya menyadari Adrian hanya mencintai kakak iparnya. Sadar hanya dianggap istri penurut, ia diam-diam menyiapkan perceraian tanpa mengusik suaminya. Saat Shanaya sukses menciptakan obat kanker legendaris dan dipuja dunia, Adrian berlutut penuh penyesalan memohonnya kembali. Namun, segalanya terlambat ketika sosok pria paling berkuasa yang dingin dan tak tersentuh merengkuh pinggang Shanaya, menegaskan bahwa wanita itu kini siap melangkah ke pelaminan bersamanya.
Sampul Novel The Romance Empress
8.2
Kebahagiaan Kang Mi Irene hancur setelah dinobatkan sebagai Permaisuri kedua. Setiap malam, ia dirundung pilu karena harus mendengar Raja Xie memanggil nama 'Permaisuri' saat bersama wanita lain. Kabarnya, sang Raja begitu terpukul atas kematian istri pertamanya, Permaisuri Jie. Mengapa Irene yang harus menanggung luka ini? Di depan pintu Aula Raja, ia hanya bisa menangis dalam diam, meratapi nasibnya yang malang tanpa ada yang mendengar.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan