APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pesona Presdir Posesif

Pesona Presdir Posesif

Dikhianati sang kekasih yang menikahi sahabatnya sendiri membuat hidup Adira runtuh. Di tengah kepedihan, ia melewati satu malam bersama Kian, sosok misterius yang dikira gigolo. Kejutannya luar biasa saat tahu Kian ternyata miliarder berkuasa sekaligus wali dari mahasiswanya. Adira pun terjebak dalam sandiwara rumit rancangan sang presdir. Kini, ia harus berjuang menghadapi jerat pesona posesif pria kaya tersebut yang kian mengungkungnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Keesokan harinya, Adira terbangun dengan rasa sakit yang mengerikan di kepalanya. Sinar matahari yang masuk melalui celah tirai hotel terasa begitu menyakitkan, seolah cahaya itu ingin menembus ke dalam jiwanya yang hancur. Matanya masih berat, tubuhnya lelah, dan pikirannya berkelindan antara penyesalan dan kebingungannya sendiri. Ia menatap sekeliling, ruang hotel yang kosong, terasa sepi, kecuali untuk suara hujan yang masih terdengar di luar sana. Namun, yang lebih menonjol adalah kekosongan yang mengisi ruang hatinya.

"Astaga," desahnya, mengingat kembali kejadian malam itu. Bagaimana ia menyerahkan dirinya begitu saja pada seorang pria yang baru dikenalnya. Pada Kian. Bagaimana ia mengabaikan setiap perasaan yang pernah ia miliki untuk Rio. Semua itu terasa seperti mimpi buruk, dan kini, ia terjebak di dalamnya.

Namun, saat matanya melirik ke meja samping tempat tidur, ia melihat sesuatu yang mengejutkan. Di sana tergeletak sebuah kartu nama. Kartu nama itu mengingatkannya pada sesuatu yang tak ingin ia ingat-pada Kian. Pria itu, yang dengan mudahnya mampu membuatnya menyerah pada godaan yang datang begitu kuat, begitu menggoda. Hatinya berdegup kencang saat mengingat kata-kata Kian yang terdengar begitu mendalam dan penuh kekuatan.

"Kau tidak bisa melarikan diri dariku, Adira," ucapnya di malam itu, begitu dekat, begitu penuh pesona, seolah Kian tahu bahwa dia sedang berada di ambang kehancuran. "Malam ini, kau akan melupakan segala sesuatunya. Kau akan merasakan kebebasan dalam pelukanku."

Adira menutup matanya, merasakan gelombang emosi yang datang begitu cepat. Tapi saat ia membuka matanya, rasa takut itu kembali muncul. Bagaimana bisa ia begitu mudah terperangkap dalam pesona seorang pria yang tidak ia kenal? Mengapa ia harus begitu rapuh malam itu? Mengapa ia tidak bisa menjaga dirinya sendiri?

Namun, rasa penyesalan yang mengalir dalam dirinya tidak mengurangi kenyataan bahwa ia telah melakukannya-ia telah tidur bersama Kian. Dan sekarang, ia harus bertanggung jawab atas kesalahan yang ia buat.

Dia bangkit dari tempat tidur dengan perasaan tak menentu, menatap sekeliling kamar yang kini terasa asing. Namun, sebelum ia sempat beranjak, ponselnya berdering. Adira mengerutkan kening, melihat nama yang muncul di layar. Itu adalah nama seseorang yang tidak pernah ia harapkan muncul dalam hidupnya lagi-Kian.

Dengan ragu, ia mengangkat ponsel itu, merasa terjepit di antara rasa bersalah dan rasa ingin tahu yang menggelayuti pikirannya.

"Adira," suara Kian terdengar dalam telinga, dalam dan menggoda, seperti selalu. "Bagaimana tidurmu malam ini?"

Adira menahan napasnya, menutup mata sejenak, mencoba untuk tetap tenang meskipun hatinya berdegup keras. "Kian, aku... aku tidak tahu apa yang terjadi kemarin malam," katanya dengan suara gemetar, merasa malu dan cemas. "Aku... aku tidak seharusnya..."

"Tidak seharusnya apa?" Kian memotong, suaranya lebih rendah, namun penuh penekanan. "Apa yang terjadi kemarin malam, Adira, adalah sesuatu yang sudah lama kita berdua inginkan, bukan? Kau tidak bisa menyangkalnya. Aku tahu betul bahwa kau juga merasakannya."

Adira terdiam, kata-kata Kian mengguncang dirinya. Apa maksudnya dengan 'kau juga merasakannya'? Tidak, ini tidak benar. Tidak seharusnya dia merasa terikat dengan pria itu. Tetapi, dalam hatinya, ada perasaan yang tidak bisa ia hindari. Perasaan yang membingungkan, yang ia coba untuk tidak akui, tapi tetap saja merayapi setiap bagian dari dirinya.

"Kian, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana sekarang," akhirnya Adira berkata, suaranya hampir patah. "Aku merasa... aku merasa kehilangan kendali atas diriku sendiri."

Kian tertawa pelan, sebuah tawa yang penuh dengan kepercayaan diri, seolah dia tahu segalanya tentangnya. "Tidak ada yang hilang dari dirimu, Adira. Justru, kini kau lebih hidup dari sebelumnya, bukan? Kau hanya perlu menyadari satu hal-kau tak akan bisa melepaskan dirimu dari aku. Kau sudah terjebak."

Adira merasakan punggungnya menegang, rasa sakit itu kembali muncul, namun kali ini bukan hanya karena penyesalannya terhadap apa yang telah terjadi. Rasa takut juga merayapi dirinya. Dia merasa terperangkap dalam cengkeraman Kian, dan meskipun ia tahu itu adalah kesalahan, ia tak tahu bagaimana cara untuk melepaskan diri.

"Apa yang kamu inginkan dariku, Kian?" Adira bertanya dengan suara serak, mengumpulkan keberanian yang tersisa di dalam dirinya. "Aku tidak ingin terjebak dalam permainanmu."

"Terlambat, Adira," Kian menjawab dengan nada yang penuh keyakinan. "Permainan ini sudah dimulai. Dan kau sudah menjadi bagian darinya. Aku ingin kau berada di sisiku, mengerti? Kau akan bekerja sama denganku, bahkan jika itu berarti kau harus menjalani hidup yang berbeda dari apa yang kau bayangkan."

Adira merasa jantungnya terhimpit. Apa yang dia katakan? Apa maksudnya? Mengapa semua ini terasa semakin membingungkan?

"Kau tidak punya pilihan," lanjut Kian, suaranya semakin dalam dan lebih menggoda. "Aku akan memastikan kita bertemu lagi, Adira. Dan saat itu terjadi, kau akan tahu bahwa kau tidak bisa melarikan diri dari apa yang telah terjadi malam itu."

Adira merasakan tubuhnya kaku. Kata-kata Kian mematikan setiap keberaniannya untuk menentang. Ada kekuatan dalam suara itu, dalam cara dia berbicara, yang seolah mengendalikan pikirannya. Mungkin Kian benar-mungkin dia sudah terjebak.

"Tunggu," Adira berusaha mengumpulkan pikiran yang kacau. "Kian, apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"

Ada keheningan beberapa detik sebelum Kian menjawab dengan suara yang lebih dingin, lebih penuh tekad. "Aku ingin semuanya, Adira. Aku ingin kau berada di bawah kendaliku. Dan aku tahu, kau akan memilih untuk tetap bersamaku. Kau tak akan bisa menolakku."

Setiap kata yang keluar dari mulut Kian semakin membuat Adira merasa kehilangan kendali. Setiap detik yang berlalu, semakin jelas bahwa dirinya sudah terperangkap dalam perangkap yang tidak bisa ia hindari. Ia merasa dirinya semakin dekat dengan jurang yang dalam, dan Kian adalah pria yang akan memastikan dia jatuh ke dalamnya.

"Jangan lari, Adira. Ini baru permulaan," suara Kian bergema dalam telinga Adira, dan ia tahu, tak ada jalan keluar lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akibat Cinta Semalam dengan CEO
9.7
Setelah dimutasi ke kantor pusat, Jeanne terjerat cinta semalam dengan CEO barunya saat masih memiliki kekasih. Kemalangannya berlipat ganda begitu ia tahu bahwa bos tersebut adalah Alan Rasya Purnama, sepupu dari sang mantan pacar. Kini, hidup Jeanne tidak lagi tenang. Alan menjadi sangat terobsesi untuk menguasai seluruh aspek kehidupannya, baik raga maupun jiwanya. Jeanne pun terjebak dalam situasi rumit tanpa ada celah sedikit pun untuk melarikan diri.
Sampul Novel Cabe-cabean Kekasih Vice President
7.8
Pertemuan tidak terduga di sebuah kelab malam mempertemukan Alexander Richard dengan Soraya, gadis berusia 19 tahun yang polos dan apa adanya. Walau perbedaan usia mereka terpaut delapan belas tahun membuat sang Vice President awalnya mengira hubungan ini tidak serius, ia justru jatuh hati teramat dalam. Sayangnya, masa lalu Soraya menyimpan rahasia yang berhubungan dengan luka lama Alexander. Kini, ia mesti berjuang mengatasi trauma besarnya demi mempertahankan cinta sang gadis impian.
Sampul Novel Hasrat Kakak Tiri
9.6
Dua belas tahun di New York tak mampu menghapus obsesi Bryan Alexander pada adik tirinya, Deanisa Melody. Kini, sang CEO playboy harus menghadapi takdir saat Nisa mendadak menjadi asisten pribadinya. Meski bertekad menjaga jarak dan memperingatkan Nisa agar tetap profesional di kantor, Bryan terus tersiksa oleh perasaan lamanya. Batasan kerja pun diuji saat ia berjuang keras menahan hasrat mendalam terhadap gadis yang selalu menjadi candu baginya.
Sampul Novel Hello Love Sign
8.7
Kebencian mendalam Sheina pada keluarga Levanchois tak menghalanginya bertahan demi sebuah misi rahasia di kantornya yang toksik. Namun, tepat saat ia berniat mundur dan menuntut balas, takdir mempertemukannya dengan Samuel Clark Levanchois. Pria terkuat di dinasti tersebut justru menyodorkan kontrak bisnis menggiurkan untuk melepaskan Sheina dari atasannya. Kini, terjebak dalam pusaran dominasi, sanggupkah ia menghindari jerat asmara dari pria yang paling ia benci?
Sampul Novel IBU SUSU UNTUK BOSKU
9.1
Sonia, seorang ibu berumur 23 tahun, harus mencari uang demi mengobati anaknya yang mengidap Thalassemia. Saat terlilit utang, ia bertemu Mr. Wei, CEO berusia 45 tahun yang menjadi tempatnya bersandar. Hubungan tersembunyi ini menjadi pelarian Sonia dari pernikahan yang dingin. Namun, kecurigaan sang suami mulai mengancamnya. Terjebak dilema moral dan pengkhianatan, ia harus memilih cinta barunya atau hancur dalam kepedihan.
Sampul Novel Istri Kedua
7.9
Indira begitu bersemangat memulai pekerjaan barunya sebagai sekretaris pengganti di sebuah perusahaan raksasa. Namun, situasi menjadi canggung ketika ia tidak sengaja memergoki sang bos, Edbert, sedang bermesraan dengan istrinya, Merry. Tak disangka, Merry tidak marah dan malah meminta Indira untuk menikah dengan Edbert. Usulan poligami ini tentu membuat Edbert terkejut setengah mati. Akankah Indira bersedia menerima tawaran gila tersebut dan menjadi istri kedua?