APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pesona Presdir Posesif

Pesona Presdir Posesif

Dikhianati sang kekasih yang menikahi sahabatnya sendiri membuat hidup Adira runtuh. Di tengah kepedihan, ia melewati satu malam bersama Kian, sosok misterius yang dikira gigolo. Kejutannya luar biasa saat tahu Kian ternyata miliarder berkuasa sekaligus wali dari mahasiswanya. Adira pun terjebak dalam sandiwara rumit rancangan sang presdir. Kini, ia harus berjuang menghadapi jerat pesona posesif pria kaya tersebut yang kian mengungkungnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Adira menatap cermin di kamar hotel yang gelap. Hujan deras yang jatuh di luar hanya menambah kesedihan yang menggerogoti hatinya. Setiap tetes air yang membentur jendela seperti mengingatkannya pada kenangan yang pahit, kenangan tentang bagaimana pria yang ia cintai bertahun-tahun, Rio, kini memilih untuk menikahi sahabatnya, Nadya. Sakitnya seperti ditusuk berkali-kali. Dunia yang dulu dia kenal, dunia yang penuh dengan harapan dan impian, kini hancur berkeping-keping.

"Kenapa aku bodoh sekali?" Adira berbisik pada dirinya sendiri, suara itu terdengar serak, hampir tenggelam oleh gemuruh hujan yang beradu dengan langit. "Kenapa aku tidak bisa lebih kuat? Kenapa aku harus menunggu sampai semuanya hancur?"

Dia melangkah mundur, berusaha menghindari bayangannya di cermin. Wajah yang masih terlihat cantik, namun penuh dengan keremangan kesedihan. Mata yang biasanya bercahaya kini tampak kosong, suram, dan jauh dari kilau yang dulu pernah ada. Pikirannya melayang kembali pada hari itu-hari ketika Rio melamarkan Nadya di depan matanya, di tempat yang dulu mereka sering kunjungi bersama, di restoran favorit mereka. Semua yang pernah dia impikan, semuanya patah dalam sekejap.

Perasaan terkhianati itu membakar dalam dirinya, membuatnya merasa kecil dan tak berharga. Bahkan cinta yang ia berikan selama bertahun-tahun tak cukup untuk mempertahankan pria itu di sisinya. Mengapa dia begitu mudah berpaling? Mengapa Nadya, sahabat yang selama ini dia percayai, bisa begitu tega?

Tangannya gemetar saat ia meraih gelas di meja sampingnya, memandang isinya yang berwarna kemerahan. Anggur. Minuman yang biasa ia nikmati bersama Rio dalam suasana santai. Tapi malam ini, tidak ada kebersamaan, hanya kesendirian yang menyesakkan. Dia merasa lelah-lelah dengan dirinya sendiri, lelah dengan perasaan yang terus-menerus membebaninya.

"Jika aku tidak bisa mendapatkan cinta itu, mungkin aku bisa melupakan semua ini, kan?" pikirnya, mencoba mencari cara untuk mengusir kesedihan yang menyesakkan.

Tanpa berpikir panjang, Adira mengenakan mantel dan keluar dari kamar hotel. Teriakan hujan yang semakin keras hanya menambah rasa kacau dalam dirinya. Dia butuh pelarian, sesaat saja, agar bisa melupakan rasa sakit ini. Agar bisa berhenti merasa begitu rapuh.

Di bar yang gelap itu, Adira duduk di sebuah meja di sudut ruangan. Ia memesan segelas anggur lagi, berharap cairan itu mampu mengalirkan kesedihannya pergi. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak gelas yang kosong, semakin dalam rasa hampa itu merayapi jiwanya. Hatinya yang terluka seolah membutuhkan pelarian lebih jauh lagi-sesuatu yang lebih besar, lebih gelap, dan lebih liar.

Tidak ada yang mengganggu kesendiriannya sampai pria itu datang.

Kian. Namanya terdengar di telinganya seperti bisikan dari dunia yang tidak dikenalnya. Pria itu masuk dengan langkah pasti, penuh karisma, dan aura yang begitu kuat. Tidak seperti kebanyakan pria yang ada di bar itu, dia bukan hanya sekadar tampan-dia seperti sebuah kekuatan yang menahan segala perhatian. Wajahnya yang tajam, rambut hitam berkilau, serta tubuh tegap yang tampak sempurna dalam balutan jas gelap, membuatnya seolah keluar dari dunia yang berbeda.

Kian mendekat, matanya yang tajam tidak melepaskan pandangan dari Adira yang duduk sendiri, tenggelam dalam pikirannya. Tanpa berbicara, dia menarik kursi dan duduk di hadapan Adira. Ada kekuatan dalam dirinya yang begitu sulit untuk diabaikan, seperti sebuah magnet yang menariknya ke dalam dunia yang asing dan berbahaya.

"Apakah kamu sedang merayakan kesedihanmu atau sedang mencoba untuk melarikan diri?" suaranya dalam dan tenang, namun ada sedikit tantangan yang mengalir di sana.

Adira, yang sedang kebingungan dengan keberadaan pria ini, hanya bisa terdiam. "Aku tidak ingin berbicara," jawabnya pelan, berusaha untuk menjaga jarak, meskipun hatinya berdebar lebih cepat karena kehadiran pria ini.

Namun, Kian hanya tersenyum tipis, senyum yang mengisyaratkan bahwa dia tahu lebih banyak dari yang Adira perkirakan. "Kamu datang ke sini untuk melupakan sesuatu, bukan?" tanyanya, suaranya serak dengan penuh rasa ingin tahu.

Adira menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Aku... aku baru saja kehilangan seseorang yang sangat penting bagiku," katanya, meskipun rasanya sulit untuk mengucapkannya. "Dan sekarang, aku merasa hancur."

Kian menatapnya dalam-dalam, seolah menilai setiap kata yang keluar dari bibir Adira. Tanpa memperdulikan suasana hati Adira, ia justru lebih dekat lagi, suaranya semakin rendah dan memikat. "Jika kamu benar-benar ingin melupakan, maka izinkan aku membantumu," katanya.

Adira, yang hampir tidak bisa berpikir jernih karena campuran antara anggur dan rasa perih di hati, hanya bisa terdiam. Hatinya bergejolak. Apa yang sedang dia lakukan? Ini bukan dirinya. Ini bukan Adira yang selama ini dia kenal.

Namun, tatapan Kian begitu tajam dan menguasai. Seperti ada kekuatan di dalamnya yang mampu memengaruhi setiap langkah yang dia ambil. Dalam beberapa detik, semua rasionalitas itu lenyap, tergantikan oleh kebutuhan untuk melepaskan dirinya dari rasa sakit yang semakin mendalam.

Dia mengangguk pelan, seolah sudah tidak punya pilihan lain.

"Baiklah," jawabnya, suara itu hampir tenggelam dalam kebingungannya. "Aku... aku ingin melupakan semuanya."

Kian tersenyum, dan senyum itu-senyum yang penuh dengan kekuatan dan keinginan-membuat Adira merasakan perasaan yang aneh, sekaligus menakutkan. Senyum itu seperti peringatan, tapi juga janji akan sesuatu yang lebih besar.

Malam itu, Adira menyerahkan dirinya pada dunia yang begitu jauh dari yang ia kenal-dunia yang dipenuhi dengan pesona, godaan, dan janji yang tidak pernah dia duga akan datang.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Because of Mistake
9.6
Salah paham fatal membuat Eudora disiksa tanpa ampun oleh Legolas yang dendam. Penderitaan berat ini membuat Eudora putus asa dan mendambakan kematian. Saat fakta terungkap bahwa Eudoralah penyelamat hidup Legolas di masa lalu, penyesalan pun datang terlambat. Kini, hati Eudora telah dipenuhi kebencian dan kekecewaan yang mendalam. Akankah hubungan mereka berakhir menjadi musuh abadi, atau justru ada ruang bagi cinta untuk tumbuh kembali?
Sampul Novel CEO Mesum
9.1
Alice Handerson, sekretaris berprinsip kokoh, selalu menghadapi sikap menggoda dari bosnya di tempat kerja. Di balik profesionalismenya, ia kerap terseret dalam ketegangan penuh sensasi di kantor. Ketika sebuah tawaran kontroversial datang dari sang atasan, Alice bimbang antara akal sehat dan gejolak batinnya. Hubungan penuh dinamika cinta dan benci ini menantang batas kekuasaan serta gairah mereka dalam kisah romansa modern yang berani.
Sampul Novel GAIRAH TERLARANG KAKAK IPAR
8.4
Renata Adinda menjalani pernikahan dingin tanpa kasih sayang dari suaminya, Adi Sanjaya, yang selalu mengabaikan kewajiban batinnya. Di tengah kehampaan hidup tersebut, Ryota Anggara hadir. Kakak kandung Adi itu menyadari keretakan hubungan mereka dan mulai mendekati Renata. Ketertarikan Rio memicu jalinan asmara terlarang yang membara di antara keduanya. Akankah cinta rahasia ini terus bertahan atau justru membawa kehancuran bagi mereka?
Sampul Novel I Hate Birthday Party
8.5
Di sebuah kamar hotel mewah, seorang pemuda tampan melontarkan hinaan pedas pada gadis yang telah ia bayar tiga kali lipat. Dengan dingin, ia mempermainkan kepercayaan Tiara—menyentuhnya, menciumnya, namun justru menolaknya saat tubuhnya tak merespons. Rasa malu dan patah hati itu menghancurkan Tiara yang sudah hidup bagai boneka tak layak. Ia hanya bisa bergumam lirih, bertanya mengapa harus dibayar semahal itu jika akhirnya ditolak. Namun di balik tragedi itu, sebuah janji menggema penuh ancaman: "Aku akan mengeluarkanmu dari sana! Tunggu dan lihat saja apa yang akan kulakukan padamu, Tiara!" Sebuah awal dari kisah gelap yang penuh amarah, dendam, dan hasrat yang tak terduga.
Sampul Novel PEDIHNYA JADI ISTRI KE DUA PAK DOSEN
9.7
Menjadi istri kedua membawa penyesalan mendalam bagi Rania. Penulis ini berusaha pergi demi mendapatkan perceraian, tetapi sang suami yang berprofesi dosen terus menerornya. Saat berjuang menuntut keadilan, ia bertemu Yudha. Sosok yang terlihat tulus itu rupanya menyimpan niat buruk. Di tengah kepedihan dan pengkhianatan baru, mampukah perempuan tangguh ini bertahan, bangkit melawan, serta menyelesaikan badai hidupnya dengan cara yang elegan?
Sampul Novel Sebuah Penyesalan
8.4
Steven Alessio terpikat sosok wanita asing hingga terperosok dalam misteri pembunuhan istrinya sendiri. Bertekad menuntut balas, ia justru terjerat dalam pusaran keluarga wanita itu. Di tengah situasi tersebut, Steven terpaksa menyaksikan satu demi satu aib serta rahasia kelam keluarganya terbongkar. Lewat rentetan aksi dan ketegangan, ia tiba pada titik balik menyakitkan yang memaksanya menghadapi arti penyesalan terdalam.