
Pesona Kemolekan Istri Sahabatku
Bab 2
"Puff ...!"
Kuda besar berwarna cokelat kemerahan itu mendengus keras, berjalan mondar-mandir.
"Ah! Mas Ridwan! Pegang aku!" Teriakan Kasih membuatku berhenti menikmati bayangan tadi.
Benar juga, si cantik ada tepat di depan mata, bagaimana mungkin aku tidak bertindak?
"Jangan takut! Aku pegangi kudanya. Ayo, aku ajak keliling sebentar." Sambil berbicara, aku menuntun kuda menyusuri jalur kuda. Kuda itu mengais tanah dengan tapalnya. Tubuhnya berguncang-guncang, lalu mulai berlari kecil.
"Ah .... Mas Ridwan, aku takut!"
"Jangan takut, aku ajarin!"
Tanganku memegang tali kekang, kaki kiriku menginjak sanggurdi belakang. Aku mengentakkan badan dan meloncat naik ke punggung kuda, duduk tepat di belakang Kasih.
Pelana yang dipakai adalah pelana ganda untuk orang tua dan anak, jadi tidak sebesar pelana ganda standar. Begitu aku naik, tubuhku langsung menempel rapat di punggung Kasih.
Kehangatan tubuh Kasih dan aroma harum yang menggoda langsung terasa. Terutama pantat Kasih yang berdaging, menempel erat di bagian depanku, hangat dan kenyal ....
Nikmat!
Kasih sepertinya belum sempat bereaksi. Tubuhnya kaku, tidak berani bersandar ke belakang ke tubuhku, tetapi juga tidak tahu harus bagaimana.
"Kasih, aku ajarin kamu. Pegang tali kekangnya!"
Kedua tanganku melingkari tubuh Kasih, menyerahkan tali kekang ke tangannya, lalu aku menggenggam tangannya dan menariknya ke bawah dengan kuat.
Kuda itu seakan-akan mendapat perintah, langsung berlari kencang dengan penuh semangat.
"Kasih, seru nggak?" Angin menderu. Aku mendekat ke telinga Kasih dan berteriak.
"Ya! Mas Ridwan, karena ada kamu, rasanya nggak terlalu takut. Naik kuda benar-benar seru!"
Saat itu, Kasih fokus ke depan dan pada sensasi pertama kali naik kuda, sama sekali tidak menyadari bahwa bagian bawah tubuh kami sudah menempel erat satu sama lain.
Memeluk wanita idamanku yang selalu aku pikirkan siang malam, dengan posisi tubuh yang begitu dekat, gesekan depan dan belakang membuat sesuatu di bawah tubuhku perlahan mengeras.
Kasih sepertinya juga merasakan sesuatu. Bagian belakang telinganya perlahan memerah, tubuhnya yang bersandar padaku pun melunak. Aku jelas bisa merasakan napasnya menjadi lebih cepat, tetapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda tidak senang, juga tidak berniat menjauh dariku.
Ada peluang. Sepertinya tubuh wanita muda ini memang sangat sensitif!
Setelah berkuda beberapa saat, tubuh Kasih mulai bergerak.
"Mas Ridwan ... rokku sepertinya ketindih, rasanya nggak nyaman."
"Oh, angkat pantatmu sedikit."
Belum sempat Kasih menjawab, kedua tanganku sudah menopang pantatnya yang lembut dan kenyal, lalu menarik keluar ujung roknya yang terjepit.
"Gimana? Sudah lebih enak?"
Embusan napasku semakin panas. Satu tanganku memeluk pinggang ramping Kasih.
"Hmm ... cuma rasanya ada sesuatu yang mengganjal ...."
Suara Kasih jelas merendah dan kalimat itu terdengar punya makna lain. Dia sudah menikah, tentu tahu apa itu. Kalau dia menolak, dia pasti langsung minta turun dari kuda. Jadi, apa maksud ucapannya itu?
Jantungku berdebar kencang! Ini kode untukku?
"Aku mengerti!"
Saat ini, pikiranku sudah tidak punya keraguan sedikit pun. Satu tanganku memeluk pinggang Kasih, tangan lainnya menyentuh pahanya.
Bibirku langsung menempel padanya, sementara lidahku membuka gigi yang terkatup, menarik lidah wanita itu, dan mengisapnya dengan lembut. Satu tanganku menyusuri punggung dan pinggangnya ke bawah, menyelip ke dalam pinggang celana dalamnya. Setelah masuk perlahan, dua jariku pun mengusap-usap bagian atas belahan pantatnya.
Tubuh hangat dan lembut dalam pelukan, adik manis di bawah tubuhku semakin membesar.
Kasih pun merasakan perubahan tubuhku. Setelah lama, bibir kami terpisah. Dia terengah-engah, membenamkan wajah ke dadaku, menggesek-gesekkan tubuhnya dengan lembut.
"Ah! Mas Ridwan! Nggak bisa ...."
Meskipun mulutnya berkata tidak bisa, tangan yang menahanku sama sekali tidak bertenaga.
Tubuh Kasih lemas, napasnya kacau. Kepalanya mendongak tinggi, lidah merah mudanya menjilat bibirnya.
Melihat waktunya sudah tepat, kedua tanganku memegang pinggang Kasih, lalu mengangkat tubuhnya dengan kuat dan memutarnya agar duduk menghadapku.
Setelah itu, jariku menekan tepi celana dalam Kasih. Sambil menyentuh celahnya, aku menarik celana dalam itu agar terbuka ....
Anda Mungkin Juga Suka





