APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pesona Hantu CEO

Pesona Hantu CEO

Sion Alexander Robin, pemimpin Robin Group yang disegani di Kota Mayro, mengalami fenomena aneh saat jiwanya terpisah dari tubuhnya. Di tengah keputusasaan menjadi arwah gentayangan, ia bertemu Roura. Gadis biasa ini secara mengejutkan dapat melihat dan menyentuh sosok astral Sion. Demi mengungkap kebenaran di balik kondisi misterius ini, Sion meminta bantuan Roura untuk mencari raga aslinya dan mencari jawaban mutlak: apakah ia masih hidup atau telah tiada.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bab. 3

Pak Will. Dengan gerakan cepat mendorong pintu itu, ia melangkah masuk dengan wajah penuh cemas.

Dan memindai ruangan itu, tapi tidak melihat apapun atau siapa pun di sana selain Roura yang berdiri dengan napas memburu.

"Mana orangnya?!" tanya Pak Will mendesak.

Roura masih terengah-engah, langsung menunjuk ke samping, ke arah tempat Sion berdiri beberapa detik yang lalu.

"Dia ada di sana!"

Pak Will menoleh ke arah yang ditunjuk, tetapi ruang itu kosong. Tidak ada siapa pun yang bisa ia lihat.

Roura juga segera menoleh ke arah yang sama, ia terkejut mendapati Sion sudah tidak ada di sana. Hanya udara kosong yang menyambut tatapannya.

Kini wajah Pak Wiil terlihat marah, ia menghela Nafas mencoba bersabar dengan sikap gadis ini.

"Roura? Apa kau sedang mencoba bercanda denganku? Karena ini sama sekali tidak lucu."

"Tapi ... tapi tadi dia ada di sini!" jawab Roura panik, menunjuk ke ruang kosong itu lagi.

Pak Will menatapnya dengan tajam, menahan marahnya sekuat tenaga. Lalu pria ini memijat pelipisnya sendiri.

"Ya, Tuhan. Kau ini terlalu sering membantah dan sering bertingkah aneh. Jangan buat masalah lagi, Roura. Kalau kau tidak ingin bekerja, tinggal bilang. Aku akan mencari orang lain."

Roura hanya terdiam, penuh dengan kebingungan, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya lagi. Karena Sion benar-benar menghilang.

Roura sendiri sangat bingung, entah bagaimana, kehadirannya tadi terasa sangat nyata, tetapi sekarang tidak ada jejak yang bisa dibuktikan.

"Maafkan aku, pak Will!"

Wajah Roura penuh penyesalan, gadis ini hanya bisa menunduk dan tidak bisa membela diri lagi. Sementara Pak Will sekali lagi hanya bisa menggeleng kepala, tidak habis pikir dengan tingkah Roura.

"Sudahlah, sekarang cepat kembali bekerja."

Roura berdiri terdiam sejenak, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. Dan Pak Will segera pergi meninggalkan Roura dalam kebingungannya sendiri

"Dasar gadis aneh."

Pak Will menggerutu sambil berjalan menjauh, dan Roura juga melangkah keluar dari kamar mandi, ia menghela napas panjang sebelum memulai pekerjaannya.

Hari ini terasa begitu melelahkan baginya, tubuh Roura serasa dirajam rasa letih. Namun, ia tetap menyunggingkan senyum kecil kepada beberapa pelanggan kafe yang datang.

"Sudahlah, mungkin pria tadi hanya halusinasi ku saja."

Ketika malam tiba, dengan langkah lelah Roura berjalan menuju halte bus. Saat sedang menunggu bus, ponselnya tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk terlihat, dengan setengah hati, ia membuka pesan dari ibu tirinya.

"Roura, beli seekor bebek bakar untuk kakakmu. Awas jika kamu sampai lupa, maka jangan berharap bisa masuk rumah."

Pesan itu singkat, tetapi itu sebuah perintah yang harus dituruti. Roura mendesah panjang, menatap saldo di aplikasinya yang hanya cukup untuk membeli setengah ekor bebek.

"Tentu saja, seperti biasa. Meminta macam-macam tapi tidak pernah memberikan uang," ucap Roura.

Gadis ini berhenti di sebuah kios makanan untuk membeli setengah ekor bebek bakar. Ketika si penjual menyerahkan pesanannya, aroma lezat bebek bakar itu membuat perutnya yang kosong berbunyi pelan.

"Maaf, perutku. Tapi ini bukan untuk kita."

Roura kini sudah tiba di sebuah apartemen. Tempat yang sangat sederhana untuk ia tinggal bersama keluarganya, dengan biaya sewa yang paling murah di kota Mayro. Itupun Roura masih sering telat untuk membayar

Roura merogoh kantong celananya untuk mengambil kunci. Namun sebuah suara aneh terdengar dari arah pohon di dekatnya.

"Sstt! Hei, Roura!"

Roura mendongak ke atas, matanya melebar karena terkejut, ketika melihat Sion duduk santai di atas salah satu cabang pohon. Ia melambaikan tangan dengan senyum lebar.

"Kamu?"

"Bagaimana mungkin kamu ada di atas sana?" tanya Roura bingung.

Sion hanya tertawa kecil, cukup lucu melihat ekspresi gadis itu yang terlihat ketakutan.

"Pohon ini cukup nyaman. Bahkan lebih baik daripada apartemen sempitmu itu. Kau harus coba untuk pindah ke sini!"

Sion menjawab sambil melambaikan tangan seperti anak kecil yang menemukan mainan baru.

"Turunlah, dasar aneh. Tetangga akan menganggap kau gila, jika kau tidur di atas pohon," ejek Roura lagi.

Roura terus saja mengomel pada Sion, ia meminta agar Sion segera pergi dari sana, atau setidaknya tidak mengganggunya lagi.

Mendengar keributan di luar, ibu tiri Roura yang bernama Martha segera membuka pintu. Seperti biasanya, wajahnya tidak pernah tersenyum, hanya kemarahan dan rasa tidak suka, yang ia tunjukkan pada Roura.

Di depan pintu, bu Martha sudah menunggu dengan bertolak pinggang. Rambutnya yang pirang disanggul rapi, tetapi ekspresi wajahnya seperti badai yang siap menghantam.

"Mana bebek bakarnya?" tanya Bu Martha.

Roura menyerahkan bungkusan kertas itu pada bu Martha, lalu segera melangkah masuk ke dalam rumah.

Martha segera menaruh bungkusan itu di atas meja, tapi ia langsung marah-marah begitu melihat isinya.

"Ini cuma setengah ekor bebek! Aku memintamu membeli seekor penuh. Kau bahkan tidak bisa mendengar permintaan sederhana!"

"Uangku hanya cukup untuk membeli setengah ekor, bu." jawab Roura.

"Jangan membantahku, Roura. Aku sudah cukup sabar menghadapi tingkah lakumu itu! Kau selalu saja bodoh."

Tiba-tiba ayah Roura muncul dari ruang tamu, wajahnya memerah marah mendengar keributan yang terjadi di ruang tengah mereka.

Mata pak Mike melotot pada Roura, padahal gadis itu adalah anak kandungnya. Pak Mike segera membentak Roura dengan kasar, membuat gadis itu terkejut.

"Roura? Tidak bisakah kau bicara dengan lebih sopan kepada ibumu? Dia sudah mengurus rumah ini, dan kau malah membuatnya marah."

Roura mengepalkan tangan, mencoba menahan emosi. Kenapa selalu dia yang bersalah di mata ayahnya. Keluarga ini selalu meremehkannya, tidak pernah menghargai usahanya, bahkan tidak pernah peduli dengan setiap kesulitan Roura.

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Ayah. Jika bu Martha ingin aku membeli sesuatu, setidaknya dia bisa memberikan aku uang untuk itu."

"Jangan berdebat denganku, Roura. Kamu harus belajar menghormati ibumu." bentak Pak Mike.

Roura sangat kesal dengan sikap ayahnya, merasa terpojok. Ia menunduk dan hanya bisa berjalan menuju kamarnya tanpa sepatah kata lagi.

 Roura melempar tas kerjanya ke sudut kamar, menghempaskan diri ke kasur, dan mendesah panjang.

"Sialan, lelah sekali hidupku ini. Semuanya aku tanggung sendiri. Ibu ... Kenapa kau pergi begitu cepat? Meninggalkan aku sendirian bersama ayah yang egois itu? Dia hanya menyayangi istri dan anak barunya. Sedangkan aku, hanya sampah baginya."

Roura mengeluh penuh frustrasi. Ia mengusap wajahnya, mencoba menghilangkan beban hari yang terasa berat.

Setelah beberapa saat menenangkan diri, Roura bangkit dan melangkah ke kamar mandi. Ia menyalakan keran air hangat, membiarkan uap memenuhi ruangan kecil itu. Air mengalir di tubuhnya, membantu mengusir rasa lelah yang melekat.

Roura membungkus tubuhnya dengan handuk putih yang ia lilitkan dengan cepat. Rambutnya masih basah, meneteskan air ke lantai.

Tapi saat ia melangkah keluar dari kamar mandi.

"Aaah!"

Roura tiba-tiba menjerit, langkahnya terhenti mendadak, ketika ia melihat sesuatu yang tak seharusnya ada di dalam kamarnya.

Mata Roura melotot tidak percaya, jantungnya berdebar kencang, saat melihat seorang pria tengah duduk di tepi ranjangnya, melihat Roura dalam penampilan seperti ini.

"Bagaimana kau bisa masuk?"

Roura membentak marah, saat melihat Sion malah berbaring dengan santai, pria itu tersenyum lebar tanpa merasa berdosa.

"Ssstt! Berhentilah berteriak! Atau ayahmu akan marah lagi!" ucap Sion santai.

Roura bicara marah, sekaligus ketakutan. "Tapi bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku? Apa orang tuaku sudah menjualku padamu?"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Kisah Heroik Sang Menantu
9.6
Baru sehari menikah, sang protagonis langsung menyaksikan kebrutalan di kediaman Keluarga Kuncoro saat ayah mertuanya menyiksa sang ibu mertua. Alih-alih dihargai karena mencoba melerai, ia justru dicaci dan diperkenalkan pada tradisi kekerasan keluarga tersebut. Namun, ketika suaminya sendiri mencoba melakukan tindakan fisik yang sama terhadap dirinya, ia tidak merasa takut. Momen penindasan ini justru menjadi kesempatan emas yang ia tunggu-tunggu untuk membongkar kekuatan super rahasianya.
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 2
8.1
Permana Brata, anak hasil hubungan gelap Prabasari dan Baron Smith, bertekad mencari ayahnya yang hilang. Mengandalkan warisan Pedang Kebenaran Sejati serta ajaran ilmu Sepuluh Syair Bumi Pertiwi dari Ki Sasmaya, ia berani mengarungi dunia persilatan yang kejam. Berbagai musuh dan rintangan berat tidak menyurutkan langkahnya. Petualangan penuh aksi ini menjadi pembuktian keteguhan hati Permana dalam menghadapi pahitnya konflik demi menuntaskan misinya.
Sampul Novel Pendekar Dataran Tengah
8.5
Pernikahan kontroversial Jiu Cien dengan bibi gurunya berujung petaka. Hasutan dan rasa iri membuat istrinya yang sedang mengandung tewas dibantai secara keji. Di tengah kehancuran hidup, Jiu Cien bangkit membawa dendam membara terhadap para pelaku. Ia memulai petualangan hebat di dunia persilatan demi membalas rasa sakitnya. Lewat perjuangan berdarah, ia menapaki jalan kependekaran hingga berhasil menduduki takhta tertinggi sebagai Pendekar Dataran Tengah.
Sampul Novel Penerus Para Dewa
8.7
Xiao Long tewas setelah menyelamatkan seorang anak dari penculik. Namun, di ambang kematiannya, sesosok makhluk bercahaya memberikan kesempatan hidup kedua. Terlahir kembali di dunia baru, ia dibekali ingatan dan ilmu dari para dewa. Kini, Xiao Long memulai petualangan besar demi menjadi sosok abadi yang tangguh. Ia bertekad untuk menaklukkan para dewa sekaligus menundukkan kaum demon yang menghalangi jalannya.
Sampul Novel Perempuan Bersuami Dua
9.6
Kehidupan rumah tangga Mak Bayah sangat tidak biasa. Dukun desa ini tinggal bersama dua suami sekaligus dalam satu rumah secara damai. Namun, keharmonisan tersebut menyimpan misteri besar. Di balik itu semua, Mak Bayah memiliki ambisi yang sangat gelap. Mengandalkan ilmu hitam dan kemampuan mistisnya, ia siap melakukan apa saja demi memikat pria mana pun yang ia dambakan. Saat obsesinya telah memuncak, tidak ada satu orang pun yang mampu menghentikan niatnya.
Sampul Novel Tukang Pijat Tampan
8.3
Kehidupan Aditya sebagai pemijat biasa berubah drastis setelah mewarisi sebuah cincin misterius. Pusaka itu memberinya kekuatan fisik luar biasa dan sentuhan pemikat wanita. Dalam sekejap, ia menjelma menjadi pengusaha kaya raya yang dikelilingi para pemuja. Namun, di balik kehidupan barunya yang dipenuhi hubungan ambigu dan intrik harem, bahaya besar mulai mengintai seiring dengan perlahan terkuaknya rahasia kuno di balik cincin tersebut.