
Perpisahan yang Kutandatangani
Bab 9
Setelah itu, wajah Petro selalu membawa senyum. Aura dinginnya yang biasa membeku pun menghilang. Jelas sekali dia sedang bahagia.
Wajar saja, mana ada laki-laki yang tidak senang mendapat lebih banyak anak.
Petro makin jarang pulang. Tapi, setiap datang, dia selalu membawa banyak hadiah. Janji-janji yang tidak akan ditepati dilontarkan dengan alasan menebus rasa bersalah.
Yasmin tidak membongkar kepalsuan itu. Dia juga tidak berusaha menyambutnya.
Lama menunggu, akhirnya telepon dari pihak panti asuhan masuk.
"Kak Yasmin, semua berkas sudah selesai. Kakak bisa masuk kerja kapan saja."
"Kira-kira kapan Anda bisa datang?"
Yasmin duduk di sofa, berpikir sebentar. "Paling cepat besok."
"Besok mau apa? Yasmin, kamu sibuk ya?"
Suara Petro muncul dari belakang. Dia berjalan mendekat dan spontan memeluk Yasmin.
"Ketemu teman saja, nggak ada yang penting."
Petro mengangguk mengerti. Belum sempat bicara, ponselnya berdering. Begitu dia mengangkat, wajahnya langsung berubah. Dia buru-buru menutup telepon, lalu tergesa memberi penjelasan.
"Yasmin, malam ini ada urusan di kantor. Kamu tidur duluan."
"Begitu selesai, aku langsung pulang. Nanti aku ajak kamu liburan, kita berdua saja."
Habis bicara, dia bergegas pergi.
Baru lima menit di rumah lalu dipanggil lagi. Terlihat jelas betapa kuatnya obsesi Yara.
Yasmin tetap tenang. Baru setelah punggung Petro hilang dari pandangan, dia perlahan bangkit dan mulai membereskan koper.
Malam itu, kurir mengantarkan sebuah paket.
Yasmin menerimanya, membuka, lalu mengeluarkan dua buku akta cerai.
Tipis saja, tapi, saat digenggam terasa begitu berat. Saat dulu memutuskan untuk bercerai, hatinya masih sakit. Kini, setelah sebulan menunggu, yang tersisa hanya rasa lega.
Satu bulan terakhir terlalu melelahkan. Akhirnya dia bisa menjauh dari semua keributan, meninggalkan segalanya, lalu menjalani hidup dengan tenang.
Dia memanggil Haris yang sejak lama marah enggan bicara, lalu membentangkan akta cerai di depan matanya.
"Haris, sesuai keinginanmu."
"Aku sudah cerai sama ayahmu. Hak asuh jatuh ke dia. Nggak lama lagi, Yara akan jadi ibu barumu."
Setelah sekian lama mengutuk dan memakinya, Haris akhirnya berhasil. Seharusnya dia senang bukan main.
Tapi, saat ini, anak itu justru terdiam kaku.
Yasmin menekuk bibir membentuk senyum tipis. Dia mengira Haris hanya terlalu bahagia sampai kehilangan kata-kata. Dia menyerahkan akta cerai ke tangannya.
"Biar kamu sendiri yang kasih ke ayahmu."
"Mulai sekarang, kalian berdua bebas."
Selesai bicara, Yasmin tidak berlama-lama. Dia menyimpan salinan akta cerainya sendiri, menarik koper yang sudah siap.
Dia membuka pintu, masuk mobil, lalu pergi.
Anda Mungkin Juga Suka





