APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan yang Tak Pernah Tuntas

Pernikahan yang Tak Pernah Tuntas

Menjelang hari bahagia mereka, musibah menimpa Nando Soman yang menjadi korban pemukulan hingga kehilangan ingatannya. Rani yang panik segera mendedikasikan seluruh waktunya untuk membantu sang tunangan pulih dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah mereka. Namun, perjuangan tulus Rani hancur seketika saat ia tidak sengaja mendengar obrolan rahasia Nando dengan temannya di rumah sakit. Berbekal hasil pemeriksaan medis yang menyatakan kondisi Nando sebenarnya normal, Rani akhirnya menyadari bahwa amnesia tersebut hanyalah sandiwara licik untuk menunda pernikahan demi kebebasan Nando.
Bab
Bagikan

Bab 1

Menjelang hari pernikahan, Nando Soman tiba-tiba menjadi korban pemukulan.

Saat aku mendengar kabar buruk itu dan buru-buru ke rumah sakit, dia sudah tak mengenaliku lagi.

Dokter bilang, kepalanya mengalami benturan hebat, menyebabkan amnesia sementara.

Sejak itu, aku mengerahkan segalanya.

Kucoba mengajaknya mengunjungi ulang semua tempat penuh kenangan kita, berharap bisa membangkitkan kembali ingatannya.

Tapi saat kami kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan, aku tak sengaja mendengar percakapannya dengan teman-temannya.

“Rani udah sebaik itu sama kamu, kamu nggak terharu?”

“Terharu apanya, aku mau muntah. Setiap hari mutar di tempat yang itu-itu aja, nggak ada hal baru. Cewek-cewek baru malah lebih seru dan bervariasi.”

“Kalau gitu kenapa masih mau nikah sama dia? Menurut aku sih, mending batalkan aja tunangannya, hidup lebih bebas.”

Tapi dia malah marah besar.

“Ngomong apa kamu?! Aku cinta banget sama Rani, mana mungkin aku batalkan pertunangan kami! Aku pasti akan menikahinya! Cuma, waktunya ditunda sedikit.”

Saat aku melihat hasil pemeriksaan di tanganku yang menunjukkan semuanya normal, aku baru benar-benar tersadar.

Ternyata, memang tak bisa membangunkan orang yang pura-pura tidur.

Menjelang hari pernikahan, Nando tiba-tiba menjadi korban pemukulan.

Saat aku mendengar kabar buruk itu dan buru-buru ke rumah sakit, dia sudah tak mengenaliku lagi.

Dokter bilang, kepalanya mengalami benturan hebat, menyebabkan amnesia sementara.

Sejak itu, aku mengerahkan segalanya.

Kucoba mengajaknya mengunjungi ulang semua tempat penuh kenangan kita, berharap bisa membangkitkan kembali ingatannya.

Tapi saat kami kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan, aku tak sengaja mendengar percakapannya dengan teman-temannya.

“Rani udah sebaik itu sama kamu, kamu nggak terharu?”

“Terharu apanya, aku mau muntah. Setiap hari mutar di tempat yang itu-itu aja, nggak ada hal baru. Cewek-cewek baru malah lebih seru dan bervariasi.”

“Kalau gitu kenapa masih mau nikah sama dia? Menurut aku sih, mending batalkan aja tunangannya, hidup lebih bebas.”

Tapi dia malah marah besar.

“Ngomong apa kamu?! Aku cinta banget sama Rani, mana mungkin aku batalkan pertunangan kami! Aku pasti akan menikahinya! Cuma, waktunya ditunda sedikit.”

Saat aku melihat hasil pemeriksaan di tanganku yang menunjukkan semuanya normal, aku baru benar-benar tersadar.

Ternyata, memang tak bisa membangunkan orang yang pura-pura tidur.

Di dalam ruang rawat, suara obrolan Nando dan temannya masih terdengar.

Namun kali ini lebih pelan, seakan mereka mulai membicarakan sesuatu yang tak ingin orang lain dengar.

Tak lama kemudian, keduanya tertawa kecil, rendah, jijik, seperti berbagi rahasia kotor.

Nada suaranya terdengar jelas, antusias, penuh semangat.

“Ayo siap-siap, malam ini harus seru banget!”

“Tenang, Bro. Malam ini aku bakal cariin beberapa cewek yang terbuka dan enerjik, biar kamu puas banget!”

“Tapi kalau kamu terus begini, nggak takut kehilangan Rani selamanya?”

Jawaban Nando datang begitu santai, namun setiap katanya terasa seperti belati menusuk langsung ke dadaku.

“Takut kenapa? Dia cinta mati sama aku. Bahkan kalau harus nunggu sepuluh tahun pun, dia nggak akan ragu.”

Tak lama, terdengar langkah kaki dari dalam kamar.

Aku buru-buru menyeka air mata di sudut mataku, lalu pura-pura baru saja tiba di depan pintu kamar.

Begitu temannya keluar dan melihatku, dia langsung menyapaku dengan senyum ramah.

“Eh, Kakak ipar datang ya? Sayangnya kondisi Kak Nando belum pulih betul, sampai lupa banyak hal tentang kami juga. Tapi tenang, nanti malam aku udah rencana bikin acara kecil-kecilan buat bantu dia pulihkan ingatannya.”

Aku hanya bisa memaksakan senyum.

Ternyata aku memang bodoh.

Sekarang aku mulai paham, apa sebenarnya maksud dari “acara” yang mereka bicarakan.

Dulu aku nggak tahu apa-apa, bahkan sempat berterima kasih dengan tulus.

“Kalau begitu, terima kasih, ya.”

“Ah, Kakak ipar jangan sungkan. Kak Nando lagi pusing di dalam, temani aja dulu. aku pamit dulu, harus siapin acara malam ini.”

Aku melangkah masuk ke kamar rawat.

Nando mengernyitkan dahi saat melihatku, suaranya terdengar sinis dan tak sabar.

“Kamu datang lagi? Sudah kubilang, aku nggak kenal kamu!”

“Aku tahu aku ganteng, wajar kalau banyak cewek suka sama aku. Tapi kamu? Pengen nikah sama aku? Mimpi dulu!”

“Beberapa hari ini aku udah nemenin kamu keliling ke berbagai tempat, tapi tetap nggak ada yang bikin aku inget apa pun. Terus kamu masih ngejar-ngejar aku buat apa?”

Aku menggigit bibirku, menahan emosi.

Padahal tadi di depan pintu aku sudah mendengar semuanya.

Tapi tetap saja, saat berhadapan langsung begini, rasa sakit itu kembali menghantam keras dari dalam dada.

Dulu, dia yang pernah rela memutus hubungan dengan keluarganya demi aku.

Kita sudah berjuang sejauh ini, tinggal selangkah lagi menuju pernikahan.

Tapi kenapa dia bisa berubah sejauh ini?

Aku mengulurkan hasil pemeriksaan dari tanganku padanya.

“Nggak ada apa-apa, cuma bawain hasil pemeriksaanmu. Kamu sehat, dan sudah boleh pulang.”

Nando tampak terkejut, lalu wajahnya langsung sumringah.

“Serius?!”

Padahal, alasan dia belum boleh pulang selama ini adalah karena aku yang memintanya tetap di rumah sakit.

Sebagian alasannya untuk menyembuhkan "hilang ingatannya", dan sebagian lagi karena aku khawatir ada efek samping dari pemukulan itu.

Tapi sekarang, semuanya jadi jelas.

Dia tidak pernah kehilangan ingatan.

Bahkan mungkin, pemukulan itu hanya sandiwara yang dia rancang sendiri, demi menunda pernikahan kami.

Kalau begitu, aku akan memenuhi keinginannya.

“Tentu saja serius. Kamu sehat walafiat, nggak ada penyakit. Ngapain juga ngabisin tempat tidur rumah sakit?”

Nando langsung bangkit dari ranjang, membuka lemari, dan mulai memilih baju bersih untuk dipakai.

Dia masih mengernyit kesal sambil bertanya padaku, kenapa jaket santai warna biru tua miliknya tidak terlihat di mana pun.

Aku menunduk, dan rasanya seperti ada pisau yang langsung menusuk ke dalam dadaku.

Jaket itu, aku yang membelikannya untuk dia.

Jadi sekarang, karena terlalu senang akhirnya bisa keluar dari rumah sakit, dia sampai lupa menutup celah dalam kebohongannya?

“Katanya kamu nggak kenal aku, tapi kenapa kamu masih ingat jaket yang aku belikan?”

Setelah bicara begitu, aku menatapnya dalam-dalam, mencoba menggugah sedikit saja nuraninya.

Tangan Nando sempat terhenti di udara selama setengah detik.

Lalu tiba-tiba dia menjatuhkan diri ke lantai sambil memegangi kepala, menjerit kesakitan.

“Aaakhhh! Sakit! Kepala aku sakit banget!”

Dokter segera datang dan butuh waktu cukup lama untuk menenangkannya.

Nando menatapku dengan pandangan penuh kebencian.

“Suruh perempuan ini keluar! Dia yang bikin kepala aku makin sakit!”

“Dia bukannya mau bantu aku sembuh, malah sengaja nyiksa aku!”

Aku hanya bisa tersenyum getir dan memejamkan mata sebentar, lalu tanpa sepatah kata pun, berbalik dan melangkah keluar dari ruang rawat.

Dokter menyusulku ke luar dan berusaha menasihatiku dengan pelan.

“Nona Rani, kondisi pasien saat ini masih belum stabil, sebaiknya jangan terlalu memberi rangsangan emosional berlebihan.”

Seketika aku mengerti maksudnya.

Aku mengangguk pelan, memberi isyarat bahwa aku paham.

“Saya mengerti, Dok. Tolong sampaikan pada dia. Mulai sekarang, saya nggak akan ganggu atau membuat dia kesal lagi.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Bersemi Setelah Perceraian
8.0
Lima tahun berbakti pada Darius, Cornelia justru diceraikan saat mengandung. Ia lalu menghilang setelah nyaris tewas dibunuh di hari melahirkan. Kini, Cornelia kembali sebagai pengusaha sukses yang mandiri. Saat para rivalnya bertumbangan, kebenaran kelam masa lalu pun terbongkar. Darius yang terpikat mencoba memenangkan kembali hati sang mantan istri. Walau Darius memohon atas nama anak mereka, Cornelia tidak lagi peduli pada pria yang pernah membuangnya.
Sampul Novel Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian
9.1
Tiga tahun Wenny Cladia merawat suaminya, Hendro Jamil, miliarder Kota Livia yang terbaring koma. Namun setelah siuman, Hendro justru berpaling pada cinta pertamanya yang baru kembali, membuat Wenny sadar bahwa ia hanya dimanfaatkan. Enggan terus dihina, Wenny melayangkan gugatan cerai dengan alasan sang suami impoten. Saat Hendro yang murka datang melabrak, ia terkejut mendapati Wenny yang dulu dianggapnya jelek kini menjelma menjadi dokter ahli medis yang menawan dan siap menantangnya.
Sampul Novel Dipaksa Melayani CEO-Cinta Satu Malam
9.1
Sefia, seorang Wedding Organizer sukses, harus menelan pil pahit saat memergoki Wisnu berselingkuh dengan asistennya tepat di malam sebelum pernikahan mereka. Terpukul oleh penghinaan itu, Sefia yang kalap nekat menawarkan diri kepada seorang pria asing di lift. Siapa sangka, pria bertubuh jangkung itu menanggapi serius dan membawanya ke ranjang. Kini, konsekuensi dari satu malam tersebut mengancam masa depannya tepat di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya.
Sampul Novel Istri Kontrak Mr Billionaire
8.6
Claudya terpaksa menikahi seorang miliarder Eropa demi melunasi biaya pengobatan ibunya. Alih-alih bahagia, kehidupan barunya justru dipenuhi siksaan batin karena sang suami menjadikannya pelampiasan atas luka masa lalu dari sang mantan kekasih. Meski sempat menaruh hati pada pria tersebut, Claudya akhirnya memilih menyerah. Ia memutuskan pergi jauh demi mengakhiri penderitaan dalam pernikahan kontrak tanpa cinta ini.
Sampul Novel Jodoh Palsu Sang Alfa, Perang Diam Sang Omega
9.2
Sebagai Omega, aku dikhianati oleh Alpha Baskara yang mandul demi wanita lain. Janin di rahimku dianggap aib dan aku dijadikan bahan taruhan. Setelah disiksa oleh Kirana serta dikhianati para prajurit, aku menelan ramuan terlarang untuk mematikan janinku demi membalas dendam. Ini adalah awal perang dingin dariku.
Sampul Novel Menjaga Jodoh Orang
8.0
Lima tahun menjalin hubungan tidak menjamin kesetiaan Terry pada Candice. Setelah menunda pernikahan mereka, Terry justru melamar Vivian dengan alasan memenuhi permintaan terakhir wanita yang sedang sakit itu. Terry sangat yakin Candice yang begitu mencintainya tidak akan pernah pergi. Namun, keyakinan itu runtuh di hari pernikahan Terry dan Vivian. Saat mencoba menyembunyikan pernikahannya, Terry justru mendapati kenyataan pahit bahwa Candice juga melangsungkan pernikahannya sendiri hari itu.