APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Suami di Rumah Mertua

Pernikahan Suami di Rumah Mertua

Kemala dikhianati oleh Herdian yang memilih wanita lain. Penderitaannya kian berat akibat kekejaman serta keserakahan sang mertua. Sempat terpuruk meratapi nasib, teguran ayahnya menjadi titik balik bagi Kemala untuk bangkit melawan. Di tengah situasi bersuamikan pria yang tunduk pada hasutan ibunya, ia dipaksa mengambil sikap tegas. Mampukah Kemala bertahan dan menghadapi segala penindasan di rumah mertuanya tanpa menyerah?
Bab
Bagikan

Bab 3

Sesampainya di rumah, Kemala segera masuk lalu mengunci dirinya di dalam kamar. Sebenarnya dia tak tahan dengan sikap Yana serta mengutuki perbuatan Herdian. Namun itulah kenyataan yang harus dihadapinya sekarang. Suami yang dua bulan lamanya tiba-tiba menghilang ternyata menikahi wanita lain. Dan dia menghadiri pernikahan terkutuk itu dengan keadaan sadar.

Di dalam kamar berukuran 3x3 meter itu dia menangis sejadi-jadinya. Dalam tangisan itu dia menyesal atas semua yang terjadi antara dirinya dan Herdian. Mengapa dia tidak dapat mempelajari apa yang sebenarnya diinginkan suaminya. Seharusnya dialah yang paling mengerti bukan Yana.

“Mas, mengapa kamu melakukan ini padaku!” pekiknya dalam hati, sambil membuka lembar demi lembar album foto pernikahannya.

Angannya melayang jauh ke beberapa tahun silam saat malam pertama mereka. Di hari dan bulan yang sama, mereka melangsungkan pernikahan secara sederhana di rumah orang tua Kemala.

“Saya terima nikah dan kawinnya, Kemala Larasati Binti Hartono dengan mas kawin berupa...” kalimat akad yang diikrarkan oleh Herdian di hadapan ayahnya selaku wali nikah.

“Bagaimana saksi? SAH?”

“SAH!”

Memang saat itu, Yana menentang pernikahan mereka karena Kemala hanyalah anak dari seorang pensiunan guru. Sementara Herdian yang nota bene adalah anak dari mantan Lurah yang kekayaannya jauh di atas keluarga Kemala.

“Kemala, aku akan menjagamu di sepanjang usiaku,” janji Herdian.

“Tapi...” Kemala tak meneruskan kalimatnya karena Yana menatap sinis padanya dari kejauhan.

“Tapi apa, aku sudah sah menjadi suamimu. Tak akan ada yang bisa memisahkan kita. Soal ibuku, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan selalu meyakinkan dia bahwa kamu adalah menantu dan istri yang baik.”

Kenangan masa lalu bersama Herdian seolah meracuni pikirannya. Air matanya semakin deras mengalir hingga kedua pipinya basah kuyup. Sedetik kemudian ia tersadar atas kekonyolannya. Kalimat yang diucapkan sang Ayah terngiang-ngiang di telinganya. Dan seketika itu pula Kemala menghapus butiran kristal bening yang telah melemahkannya.

Malam ini ia lalui seorang diri. Meski terkadang bayangan Herdian yang sedang menikmati malam pertamanya menyeruak dalam pikiran Kemala. Sakit dan pedih terasa menyayat hatinya. Dia bersenang-senang diatas penderitaan Kemala. Dengan susah payah ia menepis semua bayangan menjijikkan yang mungkin dilakukan Herdian dengan istri barunya, Mirna. Entah berapa lama Kemala bergulat dengan kegelisahannya hingga matanya terpejam.

_______

[“Mbak Kemala, jangan lupa kuenya saya ambil jam 8 pagi ya.”] sebuah pesan singkat yang dikirimkan seorang pelanggan.

Kemala mungkin hanya tidur sebentar, kepalanya masih terasa sangat berat. Namun tanggung jawab pekerjaan memaksanya untuk bangun. Sejak pukul 3 dini hari tadi selepas melakukan ibadah sepertiga malamnya, Kemala memulai aktivitasnya membuat kue. Tanpa seorang pun yang membantunya. Sejauh ini pekerjaannya masih bisa dihandle dengan baik.

Hari ini ada pesanan 2 buah red velvet chiffon cake dan 1 buah puding lumut yang akan diambil pukul 8 pagi. Sementara Kemala baru menyelesaikan 1 dari 2 buah chiffon cake nya sementara 1 yang lain masih di dalam oven, untuk puding lumut masih proses pembuatan lapisannya.

Tepat pukul 7 pagi, semua selesai dikemas. Hanya menunggu si empunya datang untuk mengambil. Tentu aktivitasnya tidak sampai disitu saja, dia akan melanjutkan pesanan kue yang lain. Ada dua pesanan lagi yang dua-duanya akan diambil sore hari.

“Mungkin sebaiknya aku manfaatkan waktu barang satu jam untuk tidur,” monolognya.

Wajah Kemala memang tampak sangat pucat dengan kedua netranya yang memerah. Kepalanya juga terasa pusing. Setelah yakin telah mematikan kompor, dia pun segera tidur. Belum ada lima menit dia memejamkan kedua netranya, seseorang menggedor-gedor pintu rumahnya dengan sangat kasar.

“Siapa sih, belum juga tidur,” gerutu Kemala, dia berjalan keluar dari kamar menuju pintu bagian depan rumahnya.

“Iya, sebentar!” teriaknya dari dalam sambil membuka kunci.

Dan begitu pintu rumah terbuka, seorang tamu istimewa datang dengan membawa serantang buah-buahan. Seketika rasa kantuknya hilang. Kemudian wanita itu menerobos masuk sebelum dipersilahkan oleh Kemala.

Tamunya memeriksa seluruh rumah, lalu pandangannya tertuju pada tiga kotak kue yang sudah siap diambil pelanggan. Kemudian ia melirik ke dapur yang dipenuhi bahan-bahan kue dan memang belum di rapikan karena Kemala masih akan membuat kue pesanan lainnya.

“Ada perkembangan juga kamu. Dari istri yang bisanya cuma minta-minta sama suami, sekarang harus banting tulang untuk cari nafkah sendiri.” Dia membuka kotak kue di atas meja makan, lalu berkata, “Wow...kelihatannya enak ya, bagaimana kalau saya cicipi sedikit. Siapa tahu saya cocok dengan rasanya.”

Kemala menjadi sangat emosional ketika Yana berniat mendaratkan sendok untuk kue pesanan orang tersebut. Secara refleks, tangan Kemala menahan tangan jahil Yana seraya berkata, “Ibu mertuaku sayang, jangan yang ini. Saya sudah siapkan yang jaaauh lebih enak daripada ini. Khusus untuk menyambut tamu istimewa sepertimu.” Cengkeraman tangan Kemala semakin kuat hingga Yana terlihat meringis kesakitan.

Ditutupnya kembali kotak kue tersebut oleh Kemala. Sementara sebelah tangannya yang masih mencengkeram pergelangan tangan Yana. Setelah menutup rapat kotak kuenya, Kemala menyeret paksa Yana menuju ke ruang tamu.

“Kemala, lepas! Sudah gila kamu ya,” ujar Yana sambil menahan rasa sakit pada pergelangan tangan mulusnya. “Lepas, Kemala! Atau saya akan teriak.” Yana mengancamnya, tapi ancamannya tak membuat Kemala takut.

“Teriak saja, Ibu mertuaku tersayang. Kupastikan aku akan memotong lidahmu sebelum teriakanmu terdengar orang lain.” Kedua mata Kemala melotot geram ke arah Yana yang sedang menghindari tatapannya.

“Ternyata tajam juga lidahmu, DASAR JALANG PEMBAWA SIAL!” dadanya kembali terlihat kembang kempis menahan amarah.

Dan dengan santainya Kemala pun mendekat lalu berbisik di telinga Yana, “bukankah aku belajar semua ini dari Ibu, apakah Ibu lupa?”

Kemala sama sekali tak menaikkan nada bicaranya, dia tetap berbicara dengan nada dasarnya. Tetapi dengan kalimat yang menusuk dan mungkin juga mencabik-cabik harga diri Yana. Dan memang itu yang Kemala inginkan.

“Katakan apa maksud kedatanganmu kemari!” seru Kemala agak datar, “apakah kau berniat menceritakan betapa hebatnya menantu barumu? Apakah putra kesayanganmu menceritakan apa saja yang sudah mereka lakukan semalam?”

“Kemala! Jaga mulutmu!” teriak Yana.

Kemala kembali mendekat dan berbisik, “pelankan suara Ibu, jangan sampai harga diri Ibu ternoda hanya karena ketahuan berteriak padaku.” Kemala memperhatikan detail penampilan Yana dari ujung rambut sampai ujung kaki lalu kembali bersuara, “biasanya di usia seperti ini akan mudah terserang stroke, jadi kontrol emosi Ibu. Tentu aku tak ingin melihat Ibu meninggal sekarang. Aku...masih ingin melihat Ibu menderita sepertiku.”

“Kurang ajar!” Yana mengangkat tangan kanannya untuk menampar wajah mulus Kemala tapi lagi-lagi Kemala menangkap tangannya.

“Sudah Kemala bilang, jaga emosi Ibu. Memangnya Ibu tidak ingin melihat cucu Ibu lahir? Aku lupa bilang, kalau aku sedang mengandung anak dari putra kesayanganmu. Namun jangan berani-berani mengaku bahwa ini adalah cucumu atau anak Herdian. Aku tak akan pernah mengijinkan kalian bertemu apalagi menyentuhnya nanti,” ancam Kemala.

“Hamil...? Bukankah kau mandul?”

“Siapa bilang? Aku hanya belum beruntung dan baru kali ini Tuhan mempercayakannya padaku. Kau, tunggu saja cucu dari menantu barumu.” Kemala berdecak kesal, “Ish...jangan bilang kau tidak tahu bahwa menantu barumulah yang mandul. Apakah sudah kau telusuri silsilah keluarganya?”

Yana merasa ketir mendengar hinaan Kemala. Dirinya berniat datang untuk memaki Kemala tapi kini situasinya terbalik. Kemala yang habis-habisan menelanjanginya dengan kalimat yang diucapkan lembut tapi terasa pedih di relung hatinya. Hingga ia bertekad untuk membalas perlakuan Kemala padanya, entahlah apa yang akan dia lakukan. Dia masih memutar otak untuk menjatuhkan Kemala.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BLIND HEART
9.7
Demi membiayai wisuda dan meringankan beban sang ayah, Silvana mengambil pekerjaan tak biasa. Mahasiswi akhir ini harus mengasuh Max Elgort, miliarder tunanetra yang terkenal sangat pemarah. Meski kerap menghadapi sikap kasar Max, Silvana justru mulai jatuh hati. Sayangnya, Max masih terjebak kenangan mendiang kekasihnya yang tewas dalam kecelakaan penyebab kebutaannya. Sanggupkah Silvana bertahan di tengah kesetiaan Max pada janji masa lalu?
Sampul Novel Cinta Yang Tak Pernah Padam
8.3
Dua tahun Nayara terjebak pernikahan tanpa cinta karena paksaan ibu Ravian. Bagi Ravian Aditya Maheswara, bos dingin itu, pernikahan ini cuma kewajiban. Namun, saat Nayara menyerah dan meminta cerai, sikap Ravian justru berubah drastis. Alih-alih melepaskannya, ia malah mempermainkan perasaan sang istri. Ravian menjebaknya dalam teka-teki hati yang membingungkan, tepat di saat Nayara ingin pergi menjauh dari kehidupannya.
Sampul Novel Dari Istri Tercampakkan Menjadi Pewaris Berkuasa
9.3
Hidup Kirana hancur setelah Bima Nugraha, suaminya, memamerkan kehamilan selingkuhannya secara terbuka. Demi bisnis, Bima bersekongkol dengan keluarga angkat Kirana untuk mengurungnya di rumah. Ia difitnah tidak waras dan dipaksa menggugurkan bayinya. Namun, mereka tidak menyadari siapa Kirana sebenarnya. Hanya dengan satu telepon, Kirana menghubungi Antony Suryoatmodjo, ayah kandungnya yang merupakan konglomerat kuat, siap menghancurkan Bima tanpa sisa.
Sampul Novel Derita Penantian Cinta
8.6
Almira, sarjana desa yang bekerja di perusahaan swasta, menghadapi tekanan berat dari sang ayah untuk segera menikah. Hal ini dipicu oleh pertunangan adiknya, yang menurut sang ayah akan menjadi aib jika melangkahi kakaknya karena bisa membuat Almira sulit jodoh. Meski dipaksa menjalani berbagai perjodohan, Almira menolak semua pria tersebut karena tidak merasa cocok. Penolakan ini memicu kemarahan ayahnya, yang kini melabelinya sebagai gadis sombong dan pemilih.
Sampul Novel GODAAN PAK DOSEN
8.8
Naina Alexandra terpaksa menikahi Arhan Bramantio, dosen pembimbing skripsinya yang terkenal dingin dan angkuh. Pernikahan tanpa cinta ini harus ia jalani demi memenuhi wasiat terakhir mendiang sang ibu. Di tengah rasa benci terhadap sikap kaku Arhan, Naina harus berjuang menghadapi berbagai ketegangan dan ujian emosional dalam rumah tangga mereka. Akankah Naina sanggup bertahan hidup bersama pria tersebut demi menjaga janji suci masa lalu?
Sampul Novel Pembalasan Carly Hamilton
8.5
Carly Hamilton menjalani hidup miskin sebagai mantan penjaga bar sebelum terjebak pernikahan paksa dengan wanita dari keluarga kaya raya. Setiap hari, ia terus menerima hinaan serta caci maki yang menyakitkan dari orang-orang sekelilingnya. Berbagai cobaan berat tiada henti menghantam hidup Carly. Namun, titik balik besar akhirnya datang saat keberuntungan berpihak padanya. Carly pun bangkit untuk membalas dendam dan memaksa mereka yang dulu meremehkannya berlutut memohon ampun.