APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Penuh Rahasia

Pernikahan Penuh Rahasia

Demi melunasi utang mendiang ayahnya, Nara terpaksa menjalani pernikahan kontrak selama 90 hari dengan Kieran, seorang pewaris kaya. Kieran yang dingin menganggap Nara hanya putri petani yang memalukan dan menegaskan pernikahan ini hanyalah tuntutan ayahnya. Meski Nara memendam perasaan, ia harus menghadapi kebencian dan rahasia di rumah mereka. Kini, Nara harus bertahan di tengah patah hati sambil mencari tahu apakah ada harapan tersisa dalam waktu mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, sinar matahari yang menembus celah jendela rumah tua itu seolah membangunkan Nara dari mimpi buruk yang berulang. Ia duduk di tepi ranjang, memandang sekelilingnya dengan pandangan kosong. Suara kicau burung di luar sana tak mampu mengusir rasa hampa yang mengisi dadanya. Beberapa jam lalu, Kieran meninggalkan rumah dengan ekspresi yang sama seperti malam sebelumnya-dingin, tanpa emosi. Tetapi, kali ini, Nara merasakan ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuat hatinya semakin bingung.

Ia menghembuskan napas berat, mencoba menenangkan diri. Untuk pertama kalinya, ia merasa ingin berbicara. Ia harus menemukan jawaban, entah apa pun yang akan terjadi. Tanpa menunggu lama, Nara bergegas mengenakan pakaian sederhana, gaun biru muda yang dulu sering dipakai ayahnya saat masih hidup. Ia memandang ke cermin, melihat bayangan dirinya yang tak begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya, hanya kali ini matanya lebih tajam, penuh tekad.

Suara pintu yang terbuka membuatnya terkejut. Kieran sudah kembali, dan kali ini, ia berdiri di ambang pintu seperti seorang raja yang tak bisa diganggu. Nara bisa merasakan hawa dingin yang menyertai kehadirannya. Tanpa berkata apa-apa, Kieran melewati Nara, menuju meja makan di sudut ruangan. Matanya menyapu sekeliling, seolah-olah memeriksa, memastikan semuanya tetap seperti seharusnya.

Nara merasa hatinya seperti dibekukan es. "Kieran, bisa kita bicara?" Suaranya terdengar lebih tenang dari yang dirasakannya, meskipun jantungnya berdegup keras.

Kieran menoleh dengan ekspresi yang sulit dibaca. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mendesah, lalu duduk di kursi yang menghadap jendela. "Kita tidak punya apa-apa untuk dibicarakan," katanya dengan suara datar, seolah-olah kata-katanya adalah hukum yang tidak bisa diganggu gugat.

Nara merasa kata-kata itu menampar wajahnya, namun ia tetap bertahan. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian. "Kieran, mungkin aku tidak tahu banyak tentang hidupmu. Mungkin aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu. Tapi, setidaknya beri aku kesempatan untuk mengetahui siapa dirimu, sebelum semuanya berakhir."

Kieran menyeringai sinis, mata hitamnya menatap Nara dengan penuh kebencian yang dalam. "Sebelum apa? Sebelum perjanjian ini selesai? Nara, aku tidak punya waktu untuk permainan ini. Aku sudah cukup terjebak dalam dunia yang penuh dengan perjanjian dan aturan yang dibuat oleh orang-orang yang tidak pernah memahami apa itu kebahagiaan."

Perkataan itu seperti pisau yang mengiris jantungnya, membuat Nara terdiam. Ia ingin bertanya, apa sebenarnya yang membuat Kieran sekeras itu? Mengapa ia menolak untuk membuka hati? Tapi, seolah-olah ada dinding tak terlihat di antara mereka, dinding yang dibuat dari kemarahan dan kebencian yang tak bisa dihancurkan.

"Kenapa kau selalu seperti ini, Kieran?" tanyanya, suaranya bergetar. "Apa kau benar-benar tidak peduli tentang kita?"

Kieran menatapnya lama, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Angin pagi masuk, mengibaskan tirai, membawa aroma bunga liar dari kebun belakang rumah. Suasana itu begitu kontras dengan perasaan Nara yang sesak di dadanya. Kieran diam, seolah-olah kata-katanya akan menghancurkan segalanya.

"Apa yang kau harapkan, Nara?" Suaranya kini lebih lembut, seolah-olah menyesal telah mengucapkan kata-kata yang membuatnya begitu jauh dari dirinya. "Kau hanya seorang gadis desa yang terjebak dalam perjanjian yang tak bisa kau ubah. Aku..." ia terdiam, tampak ragu sejenak sebelum melanjutkan, "Aku tidak ingin menghancurkanmu lebih dari yang sudah terjadi."

Nara menatapnya dengan mata basah. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak takut, bahwa ia bisa menghadapi kenyataan, tetapi perasaannya sudah berada di luar kendali. "Kieran, aku tahu ini sulit. Tapi jika kita terus seperti ini, kita hanya akan semakin jauh."

Kieran menoleh, kali ini tatapannya tidak sekeras biasanya. Ia terlihat lelah, seolah beban hidupnya terlalu berat untuk dipikul sendirian. Untuk sejenak, Nara bisa melihat secercah keraguan di matanya, seolah-olah ia mempertimbangkan sesuatu yang belum pernah dipikirkannya sebelumnya.

"Jangan membuat aku berharap, Nara," kata Kieran, suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Aku tidak ingin kau terluka lebih dalam."

Nara merasa seperti ada api yang menyala di dalam dirinya, mengusir kegelapan yang selama ini membekap hatinya. "Aku tidak akan terluka, Kieran, jika kau mau memberiku kesempatan untuk membuktikan bahwa kita bisa lebih dari sekadar perjanjian ini. Aku ingin tahu siapa dirimu, apa yang membuatmu begitu terluka, dan kenapa kau begitu takut untuk mencintai."

Kieran menutup matanya, seolah-olah mencoba menenangkan pikirannya yang sedang berkecamuk. Ia tahu, jika ia membiarkan Nara terus berbicara, ia akan kehilangan kendali atas segalanya. Ia tak pernah membiarkan siapa pun mendekat, apalagi mencoba memahami dirinya. Namun, di dalam hatinya, ada sesuatu yang menolak untuk ditepis. Sesuatu yang ingin ia sembunyikan, sesuatu yang mungkin bisa mengubah segalanya.

"Mungkin aku memang takut, Nara," kata Kieran akhirnya, dengan suara yang begitu pelan hingga Nara hampir tidak mendengarnya. "Tapi aku juga takut kehilanganmu."

Nara terdiam, perasaannya seperti terhempas angin yang kencang. Kata-kata itu, yang keluar begitu tiba-tiba, membuatnya merasakan sesuatu yang selama ini tak pernah ia rasakan. Sebuah harapan, sebuah perasaan yang melawan logika, sebuah rasa ingin tahu yang tumbuh di antara dinding kesedihan dan kebekuan di dalam dirinya.

"Jika kau takut kehilangan, maka kita masih punya peluang, Kieran," bisik Nara, suaranya penuh keyakinan. "Mari kita mulai dari awal. Beri aku kesempatan untuk membuatmu percaya bahwa kita bisa lebih dari ini."

Kieran menatap Nara, matanya memancarkan cahaya yang samar-samar, seperti pagi yang berusaha menembus malam yang gelap. Meskipun hatinya masih penuh dengan kebingungan, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Ia tidak tahu bagaimana perasaan ini akan berakhir, tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa ingin mencobanya.

Malam masih panjang, dan bayangan di antara mereka masih luruh di udara, tetapi di dalam diri mereka berdua, ada secercah harapan yang sulit diungkapkan-sebuah harapan yang mungkin bisa mengubah nasib mereka selamanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dulu Kau Permainkan Aku, Kini Aku Istri Sultan
8.3
Kiana terkejut saat mengetahui pernikahan tiga tahunnya dengan Yovan palsu, dan sahabatnya adalah istri sah yang sebenarnya. Pengkhianatan ini terjadi setelah Kiana mandul akibat menyelamatkan Yovan. Menolak diperdaya, Kiana membalas dendam dengan menikahi tuan muda miliarder yang menjadikannya pihak berkuasa atas proyek mereka. Pernikahan mewahnya menggemparkan kota, dan ia berhasil melahirkan anak kembar. Saat Kiana berniat mundur demi cinta sejati suaminya, sang tuan muda justru memohon agar ia tetap tinggal.
Sampul Novel Married to the Scandalous Billionaire
9.5
Pasca berseteru dengan sang ibu tiri, Beverley Holmes tak menyangka namanya tertulis di undangan pernikahan sendiri. Ia rupanya telah dijual untuk melunasi utang bernilai jutaan dolar. Brent Oliver, sang suami miliarder, awalnya bertekad mengabaikan pesona Beverley. Namun, kepolosan sang istri perlahan mulai meruntuhkan pertahanannya. Kini Brent terjebak dalam dilema besar: tetap setia pada kekasih rahasianya atau sepenuhnya menyerah pada daya tarik Beverley.
Sampul Novel Semalam Penuh Gairah
7.9
Allura menghabiskan malam penuh gairah dengan pria tak dikenal di kelab malam. Seminggu berlalu, sahabat yang ia cintai justru berniat menjodohkannya. Di tengah keraguan untuk menuntut pertanggungjawaban atau pasrah dijodohkan, sebuah fakta gelap pun terbongkar. Peristiwa intim malam itu rupanya merupakan aksi balas dendam atas dosa masa lalu orang tua Allura kepada ibu sang pria misterius. Hubungan dewasa ini pun diselimuti drama pelik.
Sampul Novel Tak Ada yang Kedua
8.3
Pernikahan lima tahun dengan Anto hancur setelah perselingkuhannya dengan Vior terungkap. Di kehidupan lalu, penolakanku untuk bercerai berujung depresi berat, fitnah perselingkuhan yang dirancang Anto, hingga aku mengakhiri hidup. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Saat Anto kembali menyodorkan surat cerai demi melindungi Vior dengan dalih membalas budi mendiang profesornya, aku tidak lagi menangis atau memohon. Tanpa ragu, aku langsung menandatangani kesepakatan cerai tersebut.
Sampul Novel Tiga Puluh Delapan Perceraian, Satu Pengkhianatan
8.0
Lima tahun pernikahan diisi 38 kali tuntutan cerai dari Bram demi Clara, sahabatnya. Puncaknya, Bram melenyapkan bukti CCTV saat Clara mencelakaiku. Penderitaanku genap ketika Bram mengabaikan telepon daruratku di tengah penculikan. Berjuang lolos dari van penculik dalam kondisi terluka, aku menyadari pengkhianatannya telah sempurna. Tidak akan ada kesempatan ke-39 untuknya. Kini, aku memutuskan untuk pergi dan menghilang selamanya.
Sampul Novel WHEN I START
8.0
Ikatan pernikahan kontrak menyatukan seorang CEO yang menyembunyikan kekasih rahasia dengan anggota Mafia yang mengalami gangguan jiwa setelah kehilangan tunangannya. Di balik kesepakatan formal tersebut, ada misteri besar serta masa lalu kelam yang harus mereka selesaikan. Apakah misi pribadi mereka akan tuntas lalu berpisah, atau mereka justru terjerat cinta tak terduga? Di tengah dunia penuh tipu daya, kepura-puraan dan kecerdasan adalah kunci untuk bertahan hidup.