APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Paksa Dosen Killer

Pernikahan Paksa Dosen Killer

Demi sebuah tantangan, Aurelia Safira yang polos soal cinta nekat mendatangi tempat misterius. Namun, keputusan itu membawanya pada insiden tak terduga dengan pria asing. Kekacauan hidup gadis 19 tahun ini memuncak saat ia dipaksa menikahi Darius Aksara, dosen killer yang paling ia takuti. Setelah menikah, Lia baru menyadari bahwa suaminya menyimpan rahasia kelam dan profesi yang mengancam nyawa. Kini, ia terjebak dalam pernikahan penuh bahaya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Bau wiski yang tipis bercampur aroma kayu manis. Itu yang pertama kali Aurelia Safira cium saat matanya perlahan terbuka. Kepalanya berdenyut, bukan karena mabuk-dia ingat cuma minum mocktail-tapi karena kurang tidur dan mungkin, karena terlalu banyak adrenaline semalam.

Dia mengerjap. Langit-langitnya tinggi, dicat hitam pekat, dengan lampu kristal yang cahayanya dimatikan, hanya menyisakan bias lembut dari jendela besar yang tertutup tirai tebal. Dia ada di mana?

Ingatan itu langsung menghantamnya, bertubi-tubi seperti ombak ganas. Kamar 305. Elysium. Pria asing itu.

Lia langsung terduduk tegak di kasur yang entah kenapa terasa sepuluh kali lebih lembut dari kasurnya di rumah. Tubuhnya ditutupi selimut sutra yang entah milik siapa. Dia melirik pakaiannya. Pakaiannya masih lengkap-gaun hitam backless yang sama, bahkan lipstik merahnya pun masih sedikit menempel di bantal.

Tapi, tempat ini kosong.

"Pria itu... ke mana?" bisiknya pelan.

Dia melompat turun dari kasur, kakinya menjejak karpet tebal yang empuk. Lia celingukan mencari. Nggak ada tanda-tanda kehadiran pria itu lagi. Hanya ada botol Dom Pérignon yang masih tertutup, ice bucket yang sudah mencair, dan dua gelas kristal yang bersih.

Dia berjalan cepat ke meja nakas. Nggak ada catatan. Nggak ada kartu nama. Nggak ada apa-apa, kecuali jam tangan mahal yang dia lepaskan sebelum... sebelum semuanya terjadi.

Lia memegang dadanya. Jantungnya berdebar, tapi bukan lagi karena takut. Ada rasa aneh yang mengisi kekosongan di perutnya. Rasa... puas? Nggak, bukan puas. Tapi ada sesuatu yang terpecahkan. Ada kunci yang baru saja memutar gerendel yang sudah lama berkarat.

Malam itu. Malam itu sungguh gila. Pria itu nggak melakukan apa-apa yang kotor atau kasar. Justru, yang dia lakukan jauh lebih gila dari sekadar fisik.

Pria itu mengajaknya ngobrol. Obrolan yang panjang, gelap, dan sangat personal. Mereka bicara tentang ketakutan Lia, tentang kenapa dia nggak bisa jatuh cinta, tentang bagaimana Lia selalu membangun tembok tinggi di sekeliling perasaannya. Dan pria itu, tanpa Lia sadari, membongkar semua tembok itu hanya dengan kata-kata.

Dia bilang, "Kamu nggak jatuh cinta, bukan karena kamu nggak bisa, Aurelia. Tapi karena kamu nggak pernah mau. Kamu takut kalau kamu membuka hati, isinya cuma kehampaan."

Lia ingat, dia marah banget waktu itu. Tapi pria itu cuma senyum, dan kemudian dia melakukan sesuatu yang membuat Lia kaget dan nggak bisa bernapas. Dia mendekat, menempelkan dahinya ke dahi Lia, dan membisikkan sesuatu yang kini, di pagi yang dingin ini, masih bergetar di telinga Lia.

"Jangan takut. Hati yang kosong itu cuma butuh keberanian buat diisi, bukan cinta. Dan aku, malam ini, aku kasih kamu keberanian itu."

Setelah itu, semuanya buram. Lia ingat dia tertawa, dia menangis, dia bahkan teriak. Dia meluapkan semua emosi yang selama ini dia tahan. Pria itu nggak menciumnya, nggak menyentuhnya dengan agresif, tapi kehadirannya, obrolannya, tatapan matanya... itu jauh lebih intim dan menghancurkan dibandingkan sentuhan fisik apa pun.

Lia meraih tas tangannya yang tergeletak di lantai. Ada ponsel di dalamnya. Pukul 06.15 pagi. Gila. Dia semalaman di sini.

Dia melihat refleksi dirinya di cermin kamar mandi. Matanya sembab, tapi ada kilatan aneh di sana, kilatan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Dia sudah membuka 'sesuatu' yang Rina maksud. Sesuatu yang gila, yang liar, yang nggak terduga. Adrenaline rush yang membuat dia lupa bahwa dia adalah Aurelia Safira yang kaku.

"Oke, tantangan selesai," gumamnya, bibirnya membentuk senyum kecil, senyum kemenangan yang bercampur rasa ngeri. "Sekarang, pulang."

Lia bergegas meninggalkan Kamar 305, tanpa menoleh lagi. Nggak ada yang tahu siapa pria itu, dan Lia memutuskan dia nggak perlu tahu. Itu hanyalah bagian dari tantangan gila yang dia menangkan. Malam itu sudah berakhir, dan dia sudah berhasil membuktikan bahwa dia bukan lagi 'Ratu Es'.

Aurelia sampai di rumah pukul tujuh pagi. Dia langsung lari ke kamarnya, berharap nggak ada yang lihat. Tapi terlambat.

Baru saja dia menutup pintu kamar, suara langkah kaki ibunya, Bu Ratih, sudah terdengar di lantai kayu.

"Aurelia Safira! Kamu dari mana jam segini?!" Suara Bu Ratih selalu terdengar tegas, khas seorang ibu yang punya standar tinggi.

Lia memejamkan mata. Mampus. "Maaf, Ma. Lia nginep di rumah Rina. Ngerjain tugas, terus ketiduran."

Dia mencoba berbohong sehalus mungkin, tapi Bu Ratih sudah berdiri di ambang pintu, matanya menyapu penampilan Lia dari atas ke bawah. Gaun backless yang lecek, rambut yang sedikit berantakan, dan wajah yang pucat.

"Tugas apa yang harus dikerjakan sambil pakai gaun mini dan lipstik merah begini, Lia?" Bu Ratih menunjuk lipstik yang sudah agak luntur itu dengan tatapan mengintimidasi.

Lia langsung merasa ciut. "Ehm... presentasi besok, Ma. Sekalian rehearsal," jawabnya asal.

"Cukup." Bu Ratih menghela napas panjang, tatapannya melembut, tapi suaranya tetap penuh otoritas. "Kamu mandi sekarang, pakai baju yang rapi. Jangan tidur. Kita ada tamu penting jam sepuluh."

"Tamu? Siapa, Ma? Lia capek banget."

"Calon mertua kamu," kata Bu Ratih datar, seolah dia baru saja mengatakan, 'besok kita sarapan nasi goreng.'

Lia terdiam. Calon mertua?

Dia menatap ibunya, mencoba mencari jejak bercanda atau senyum jahil di wajah wanita itu, tapi nihil. Bu Ratih benar-benar serius.

"Ma... Mama ngomong apa? Calon mertua siapa? Lia nggak punya pacar, Ma. Lia kan..."

"Terserah kamu nggak punya pacar atau nggak. Tapi Tante Anita, teman lama Papa, datang dari Jakarta. Mereka mau menjodohkan kamu dengan putra sulungnya."

Dunia Lia langsung runtuh. Ini bahkan lebih gila dari tantangan Elysium. Dijodohkan? Di zaman modern ini? Tanpa persetujuan dia?

"Mama nggak bisa seenaknya begini, dong! Lia udah 19 tahun, Ma! Lia berhak milih!"

"Pilihan apa yang kamu punya, Lia?" Bu Ratih kini kembali ke mode 'keras.' "Sejak dulu, semua laki-laki yang mendekat kamu tolak. Kamu bilang kamu nggak mau pacaran karena nggak ada 'rasa'. Sekarang, Mama dan Papa yang akan carikan laki-laki yang 'pantas' untuk kamu. Laki-laki ini mapan, cerdas, dan keluarganya terpandang."

"Tapi, Ma..."

"Nggak ada tapi-tapian, Lia. Ini urusan bisnis dan masa depan. Kamu mandi sekarang. Jangan buat Mama malu. Kalau kamu berani membuat masalah di depan tamu, Mama dan Papa nggak akan segan-segan mengirim kamu jauh-jauh dari sini."

Ancaman itu membuat Lia terdiam. Dia tahu, kalau Bu Ratih sudah melibatkan Papa, artinya ini serius dan nggak bisa diganggu gugat. Lia yang baru saja merasakan sedikit kebebasan semalam, kini merasa terkurung lagi dalam sangkar emas.

Dia masuk ke kamar mandi, dan air dingin di shower nggak bisa memadamkan api amarah dan rasa nggak berdaya di dadanya. Dijodohkan. Dengan siapa? Dengan pria asing yang mungkin sama kaku dan membosankan seperti batu?

Pukul sepuluh kurang sepuluh. Lia sudah duduk manis di sofa ruang tamu, mengenakan dress selutut berwarna mint yang sopan, rambutnya diikat rapi. Wajahnya cantik, tapi ekspresinya dingin. Jauh lebih dingin daripada Lia yang mereka tuduh 'Ratu Es' sebelumnya.

Papa, yang biasanya santai, tampak tegang. Dia sesekali melirik Lia, seolah memperingatkan agar Lia nggak bikin drama.

Tepat pukul sepuluh, bel berbunyi. Bu Ratih langsung menyambut hangat keluarga tamu itu.

Lia menatap mereka. Keluarga ini terlihat sangat terhormat. Ada sepasang suami istri paruh baya yang terlihat sangat elegan dan ramah. Bu Anita, si ibu, langsung memeluk Lia dengan hangat.

"Aduh, Aurelia! Kamu cantik sekali, Nak. Persis seperti Ratih saat muda," kata Bu Anita, nadanya lembut dan penuh kasih sayang.

Lia cuma bisa tersenyum kaku dan mengangguk.

"Maaf, Tante. Kok kita nggak pernah ketemu?" tanya Lia, berusaha tetap sopan.

"Oh, Tante sudah lama tinggal di luar negeri, baru pindah lagi ke Jakarta setahun terakhir. Kamu pasti sibuk kuliah, ya? Nak Darius juga begitu. Kerjaannya menumpuk," jelas Bu Anita sambil terkekeh.

Lia mendengar nama itu: Darius. Calon suaminya.

"Darius belum datang, Nak?" tanya Papa pada Bu Anita.

"Maafkan dia, Herman. Darius itu lagi ada urusan mendadak. Kamu tahu sendiri, kan, pekerjaan dia nggak mengenal waktu. Tapi sebentar lagi dia pasti datang. Dia sudah di jalan," kata Tuan Fernandez, ayah dari Darius, dengan wajah santai.

Pekerjaan apa? Lia mulai penasaran. Pejabat? Pengusaha? Tapi kenapa harus mendadak begini?

Mereka duduk mengobrol tentang banyak hal: bisnis, cuaca, sampai rencana pernikahan. Lia merasa semakin sesak. Rencana pernikahan? Padahal dia bahkan nggak tahu wajah suaminya.

Setengah jam berlalu. Lia sudah mulai bosan mendengarkan obrolan orang tua yang membahas harga tanah dan saham. Dia melirik jam tangannya. Darius ini nggak sopan banget. Udah tahu mau ketemu calon istri, malah ngaret.

"Maaf, Om, Tante. Saya boleh permisi ke dapur sebentar, ambil minum?" Lia meminta izin.

Bu Ratih langsung menatapnya tajam, tapi Lia nggak peduli. Dia butuh udara segar.

Lia baru saja menuangkan air dingin ke dalam gelasnya di dapur, ketika tiba-tiba dia mendengar suara mobil berhenti mendadak di depan rumah. Suara itu begitu keras, sampai dia yakin itu bukan suara mobil biasa.

Bu Anita langsung sumringah. "Nah, itu dia! Dasar anak itu, selalu datang dramatis!"

Lia yang penasaran langsung berjalan ke ruang tamu, membawa gelas minumannya.

Di ambang pintu, berdiri seorang pria.

Lia berhenti di tengah-tengah ruang tamu, gelas di tangannya terasa sangat dingin. Jantungnya, yang baru saja dia yakini sudah 'terbuka' semalam, kini terasa seperti dihantam palu godam, kembali tertutup dan membeku dalam sekejap.

Dia menatap pria itu.

Tinggi, sangat tinggi. Posturnya tegap, mengenakan kemeja biru tua yang mahal dan celana bahan yang presisi. Dia nggak tersenyum. Raut wajahnya dingin, bahkan terkesan kejam. Matanya hitam, tajam, dan penuh dominasi.

Itu Darius Aksara.

Bukan cuma Darius Aksara yang akan dijodohkan dengannya. Tapi, Darius Aksara, si dosen killer di kampusnya. Dosen mata kuliah Pengantar Hukum Bisnis yang selalu membuat kelas hening dan aura kelas terasa seperti ruang sidang. Dosen yang terkenal dengan julukan 'Malaikat Maut' karena nggak segan-segan ngasih nilai E total kalau mahasiswanya terlambat semenit doang, atau salah satu koma dalam tugas.

Dan yang paling parah... Lia merasakan sensasi aneh. Entah kenapa, aura Darius, postur tubuhnya, cara dia menatap ruangan... terasa familiar.

Sangat familiar.

Tiba-tiba, mata Darius menangkap sosok Lia yang mematung di tengah ruangan. Tatapan itu menyapu Lia, dari ujung rambut sampai ujung kaki, berhenti sebentar di wajah Lia, lalu di mata Lia.

Di sana, di tatapan Darius, Lia nggak menemukan kehangatan atau senyum kaku calon pengantin. Yang Lia temukan cuma sebuah kilatan... pengakuan.

Kilatan itu hanya sepersekian detik, tapi cukup bagi Lia untuk membaca seluruh pesan tersembunyi. Seolah mata Darius berkata, 'Aku tahu kamu. Aku tahu siapa kamu, dan aku tahu apa yang kamu lakukan.'

Bukan cuma itu. Wajah Lia mendadak panas. Tiba-tiba, semua detail tentang pria asing di Elysium semalam kembali menghantamnya. Kemeja hitam, postur tinggi, suara bariton yang dalam... Aroma kayu dan mint.

Ya Tuhan. Jangan bilang....

Napas Lia tercekat. Dia menjatuhkan gelasnya.

Pyar!

Gelas itu pecah berkeping-keping di lantai marmer, membuat semua orang di ruangan itu kaget dan menoleh.

Bu Ratih langsung panik. "Aurelia! Astaga!"

Lia nggak peduli. Matanya hanya terpaku pada Darius. Rasa dingin menjalar di seluruh tubuhnya, bukan karena air di lantai, tapi karena kesadaran yang mengerikan.

Pria yang semalam membongkar habis semua pertahanan emosinya di Kamar 305, pria yang menjadi bukti kemenangannya atas tantangan 'Ratu Es', adalah Darius Aksara. Dosen killer-nya. Calon suaminya.

Darius melangkah masuk, nggak peduli pada pecahan gelas di lantai. Dia berjalan ke ayahnya, menyalami sebentar, dan kemudian menoleh lagi ke Lia. Wajahnya kini datar total, seperti nggak terjadi apa-apa. Nggak ada jejak senyum dingin yang dia tunjukkan di Elysium. Yang ada cuma ekspresi profesional yang membuat Lia makin ngeri.

"Maaf atas keterlambatan saya," kata Darius, suaranya dalam dan berwibawa, persis seperti di kelas. Dia nggak meminta maaf karena gelas pecah. Dia hanya meminta maaf atas keterlambatan.

Bu Anita tersenyum. "Nggak apa-apa, Nak. Kenalkan, ini Aurelia Safira. Calon istrimu."

Darius mengangguk kaku, kemudian mengulurkan tangannya ke Lia. "Darius Aksara. Senang bertemu denganmu, Aurelia."

Suaranya sangat formal, sangat dingin, dan sama sekali nggak menyinggung pertemuan semalam. Dia bertindak seolah mereka baru pertama kali bertemu.

Lia, tangannya gemetar, menyambut jabatan tangan Darius. Kulitnya dingin, tapi genggamannya kuat. Sama persis seperti genggaman di Elysium.

"Aurelia Safira," balas Lia, suaranya bergetar. Dia merasa tangannya kini dipegang oleh dua identitas yang berbeda. Satu adalah dosen yang siap memberinya nilai E, dan satu lagi adalah pria asing yang mencuri jiwanya semalam.

Setelah bersih-bersih pecahan gelas, suasana kembali formal, tapi bagi Lia, ruangan itu terasa seperti kuburan.

Bu Ratih dan Bu Anita sudah mulai membahas tanggal baik dan konsep pernikahan. Lia dan Darius didorong untuk duduk bersebelahan di sofa.

Lia menunduk, menghindari tatapan Darius, tapi dia bisa merasakan tatapan pria itu menusuknya. Dia nggak tahan lagi.

Lia berbisik, sangat pelan, hanya untuk didengar Darius. "Kamu... kenapa kamu nggak bilang?"

Darius nggak bergerak. Matanya tetap fokus pada percakapan antara kedua orang tua mereka, tapi dia membalas bisikan Lia, suaranya nyaris nggak terdengar. "Bilang apa? Bahwa kita pernah bertemu? Atau bahwa aku tahu kamu bolos kuliah minggu lalu?"

Lia langsung terkesiap. Dia tahu tentang Elysium, tapi Lia nggak menyangka Darius akan menyentil urusan kuliahnya.

"Aku nggak bolos," balas Lia. "Aku cuma... nggak masuk."

"Sama saja. Dan untuk yang semalam..." Darius memajukan wajahnya sedikit ke Lia. Aroma kayu manis dan mint itu kembali tercium, membuat Lia nggak bisa bernapas. "Apa yang terjadi di Elysium, tinggal di Elysium. Anggap itu... kelas praktek yang kamu ambil secara ilegal."

"Kelas praktek?" Lia mendongak, matanya penuh amarah dan penghinaan.

"Ya. Kamu bilang kamu butuh 'keberanian' untuk mengisi kekosongan. Sudah aku kasih. Sekarang, kamu punya tantangan yang lebih besar: menjadi istriku."

"Aku nggak akan mau! Aku akan bilang ke Mama kalau aku menolak perjodohan ini!" Lia berbisik, suaranya sudah seperti geraman tertahan.

Darius akhirnya menoleh sepenuhnya ke Lia. Tatapannya itu... itu bukan tatapan dosen ke mahasiswa. Itu tatapan predator ke mangsa.

"Kamu pikir kamu punya pilihan, Aurelia? Pertama, nama baik keluargamu sudah dipertaruhkan. Kedua, kamu pikir setelah yang semalam, kamu bisa bilang ke semua orang kalau kamu nggak mau menikah denganku?"

"Apa maksudmu?"

"Aku nggak pernah main-main, Aurelia. Dan aku nggak pernah melakukan sesuatu tanpa hasil. Semalam, kamu sudah menunjukkan kelemahanmu. Kamu sudah menunjukkan craving kamu pada kegilaan dan bahaya. Dan kebetulan, aku adalah paket lengkap dari semua itu."

Darius menyandarkan bahunya ke sofa, santai, seolah dia baru saja membahas cuaca. "Jadi, kamu mau mempermalukan kedua keluarga kita dengan bilang 'tidak', atau kamu mau mengambil 'tantangan' ini, dan melihat sejauh mana hidupmu bisa berubah bersamaku?"

Lia benar-benar speechless. Dia dijebak! Pria di Elysium itu sengaja membiarkan Lia melampiaskan emosinya, sengaja nggak mengenalkan dirinya, karena dia sudah tahu bahwa ini akan terjadi. Dia sengaja datang larut, membiarkan Lia berada di ambang keputusasaan sebelum mengungkapkan bahwa dia adalah dosen paling mengerikan di kampus.

"Aku nggak ngerti kenapa kamu mau dijodohkan. Kamu kan dosen. Kamu pasti punya banyak pilihan wanita," kata Lia, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Aku butuh stabilitas di publik. Aku butuh istri yang nggak rewel, yang bisa menjaga citraku sebagai dosen yang berwibawa. Dan kebetulan, kamu adalah pilihan terbaik. Karena kamu nggak punya perasaan, jadi kamu nggak akan mengganggu pekerjaanku."

Kata-kata Darius itu menampar Lia keras-keras. Nggak punya perasaan. Ternyata Darius sudah tahu semua tentang dia, bahkan dari sebelum malam di Elysium.

Darius melihat ke Lia, senyum tipis-senyum Elysium-itu kembali muncul sebentar di sudut bibutnya, sebelum hilang lagi.

"Anggap ini seperti proyek akademik yang nggak bisa kamu tolak. Kita akan menikah. Kamu akan jadi Nyonya Aksara. Kamu harus patuh pada aturan di rumah. Dan di kampus, aku akan tetap jadi Malaikat Maut-mu. Kamu nggak akan dapat perlakuan spesial, kecuali... kamu yang memintanya."

Dia mencondongkan tubuhnya lagi, suaranya sangat rendah dan penuh janji yang berbahaya.

"Dan jangan khawatir. Aku pastikan, kehidupan rumah tangga kita nggak akan pernah membosankan. Apalagi setelah kamu tahu... pekerjaanku yang lain."

Lia menatap matanya. Di sana, di balik tatapan dingin dosen itu, ada janji bahaya yang mengerikan, janji petualangan yang semalam dia rasakan di Elysium. Dan tanpa sadar, Lia merasakan 'sesuatu' itu berdesir lagi di dalam dirinya. Itu bukan cinta, itu bukan nafsu. Itu adalah keinginan untuk tahu lebih banyak. Keinginan untuk mengintip ke dalam dunia gelap Darius Aksara.

Lia menghela napas, kekalahan terasa pahit di lidahnya, tapi ada semacam antisipasi yang manis.

"Oke," kata Lia, suaranya nyaris nggak terdengar. "Aku terima tantangan ini, Profesor Aksara."

"Bagus, Aurelia," jawab Darius, dan kali ini, senyumnya nyata, tapi sangat kejam. "Selamat datang di neraka. Sekarang, tersenyumlah. Mereka sedang melihat ke arah kita."

Lia menarik napas, memaksakan senyum paling palsu di wajahnya, lalu menoleh ke orang tua mereka yang sedang tersenyum bahagia.

Di satu malam, Aurelia Safira sudah kehilangan status Ratu Es, dan di pagi hari berikutnya, dia menemukan dirinya terjebak dalam sangkar emas, menikah dengan Malaikat Maut yang menyimpan rahasia pekerjaan paling berbahaya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ibu Tiri yang Buta Hati
9.1
Kiara kehilangan satu mata demi melindungi ayahnya, Ditya Danaraja, dari serangan perampok yang menewaskan ibunya. Sejak itu, sang ayah yang bipolar melindunginya secara ekstrem dari siapa pun yang mengusik Kiara. Setelah menjalani operasi pemulihan mata di luar negeri, Kiara pulang untuk menyambut pernikahan baru ayahnya. Namun, ibu tiri yang diklaim lembut justru menculik Kiara ke pabrik kosong. Menuduhnya ingin merebut suami orang dan mencuri perhiasan mendiang istri pertama, sang ibu tiri kini mengancam akan mengulitinya hidup-hidup.
Sampul Novel Istri Jaminan Sang Laksamana
8.2
Demi mengamankan data rahasia negara yang krusial, Admiral Shawn Miller, Jenderal bintang satu termuda di AS, terpaksa menyetujui kesepakatan gelap dengan gembong mafia Yousef Kanishka. Ia harus menikahi putri Yousef, Kiran, sebagai jaminan dengan syarat mutlak tidak boleh menyentuhnya. Namun, Shawn sangat terkejut saat mengetahui bahwa jaksa cantik di pengadilan militer yang belum pernah ia temui sebelumnya ternyata adalah wanita yang kini sah menjadi istrinya.
Sampul Novel Pedang Naga Siluman
9.5
Dibesarkan secara sederhana oleh Mbah Wiguna, Satya Wiguna tumbuh menjadi pemuda tangguh nan bersahaja. Bersama para sahabatnya, ia melakukan perjalanan lintas waktu ke masa lalu untuk menumpas kebatilan. Ketika kekuatannya berada di titik tertinggi, entitas alam gaib mengangkatnya sebagai panglima perang. Membawa kekuatan dahsyat Pedang Naga Siluman, Satya memikul tugas krusial demi menjaga dimensi moksa dan bumi dari ancaman invasi besar Raja Iblis yang haus kekuasaan.
Sampul Novel Pembalasan Dendamnya, Hidupnya yang Hancur
9.1
Dunia forensik yang kucintai hancur saat putraku tewas dan sistem justru melindungi pelaku. Jaksa Budi Santoso menolak bukti dariku dan memanipulasi kasusnya menjadi bunuh diri. Demi keadilan, aku menculik putrinya, Dinda, lalu menyiksanya secara langsung di depan publik. Dr. Gunawan dan Amanda mencoba memengaruhiku dengan surat wasiat palsu, tetapi aku justru menemukan kode rahasia berisi jeritan minta tolong putraku. Dikepung aparat pun, dendam ini takkan pernah padam.
Sampul Novel Pengorbanan Cinta Sang Letnan
9.6
Dua tentara elit Kopassus berlatar intelijen, Rey dan Alex, telah menjalin persahabatan sejak masa kecil. Namun, hubungan erat mereka kini diuji oleh perasaan cinta pada wanita yang sama. Di sela-sela perjuangan dan pengabdian besar mereka untuk negara, konflik batin yang sengit pun mulai membayangi. Takdir menuntut mereka menentukan pilihan sulit antara loyalitas pada tugas negara atau ego pribadi. Akankah cinta yang menang, atau justru persahabatan mereka yang hancur?
Sampul Novel Perundungan Dibayar Kontan
8.6
Teror misterius yang melanda kota selama berbulan-bulan sempat dianggap acak oleh polisi, hingga pola yang sama akhirnya terdeteksi. Melalui penyelidikan mendalam, semua tersangka ternyata terhubung pada satu orang: Eve. Dia adalah seorang psikiater sekaligus pacar dari detektif yang menangani kasus ini. Kini, pertanyaan besar pun muncul. Apakah Eve merupakan otak kriminal di balik semua aksi keji tersebut, atau dia hanyalah korban yang dijebak dalam rencana jahat orang lain?