APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel  Pernikahan Kontrak Sang Pendendam

Pernikahan Kontrak Sang Pendendam

Keira hancur saat Adnan, tunangannya, menghamili wanita lain menjelang pernikahan mereka. Kesetiaan Keira menjaga kesucian justru dibalas pengkhianatan pahit. Didorong rasa sakit hati, ia nekat melakukan pernikahan kontrak dengan Dion untuk membalas dendam. Demi melupakan masa lalunya, Keira mencoba bersikap agresif untuk menyerahkan kesucian kepada suami barunya. Namun, Dion menyambutnya dengan dingin dan tak acuh. Mampukah pelarian ekstrem ini menyembuhkan luka batin Keira?
Bab
Bagikan

Bab 3

Dua hari. Aku cuma punya waktu dua hari untuk berubah dari Keira yang polos menjadi Keira yang Dion tantang: seksi, agresif, dan tak tertahankan.

Aku berdiri di depan cermin besar, bukan cermin di kamarku dulu, tapi cermin di walk-in closet Dion yang ukurannya sebesar kamar kos-kosan. Di tanganku, tergantung gaun. Bukan gaun pengantin putih yang gagal kupakai, tapi gaun backless berwarna zamrud yang kupilih sendiri, didesain untuk menarik perhatian. Belahan kakinya tinggi, dan bagian atasnya membuatku terlihat... berbahaya.

"Lo beneran mau pake ini, Keira?" tanya Sarah, yang kupaksa menemaniku di tengah kesibukan mengurus pembatalan katering pernikahan.

"Kenapa? Terlalu seksi?" Aku memutar tubuh, melihat punggungku yang terbuka lebar.

Sarah mengembuskan napas panjang. "Nggak. Itu terlalu 'bukan lo'. Dan kalau lo pakai ini di depan Dion, dan dia tetap nggak bergerak, hati lo bakal lebih hancur dari yang kemarin."

Aku berjalan ke wastafel marmer, mencuci muka. "Justru itu. Aku harus buktikan. Kalau dia nggak turn on sama gaun ini, sama tatapan mata ini, berarti dia punya masalah. Dan kalau dia punya masalah, itu bukan salahku lagi."

Aku memutuskan: aku nggak akan lagi jadi korban. Hari ini, aku jadi pemain.

Aku menghabiskan waktu dua jam untuk merias diri. Aku fokus pada mata, membuatnya tampak lebih tajam, lebih menggoda. Aku menyemprotkan parfum yang selama ini kusimpan, yang katanya punya aroma 'perangkap'. Rambutku kubiarkan tergerai, sedikit berombak.

Saat Dion memanggilku dari luar, jantungku berdebar kencang. Ini bukan karena gugup mau ketemu calon mertua. Ini karena performance anxiety.

Aku keluar. Dion sudah menungguku di ruang tengah. Dia mengenakan tuksedo hitam, terlihat seperti pangeran dari film drama dingin-sempurna, tapi tanpa hati.

Dia menoleh, matanya menatap dari ujung kaki hingga ujung kepalaku. Diam. Lama. Aku merasakan sensasi yang aneh. Bukan nafsu, tapi... evaluasi.

"Gaun yang bagus," komentarnya datar.

"Hanya bagus?" tantangku. Aku berjalan mendekat, pinggulku sedikit bergoyang, seperti yang kulihat di film-film. Aku tahu aku cantik. Aku tahu aku seksi. Kenapa dia cuma bilang 'bagus'?

"Warnanya cocok dengan kulitmu," lanjut Dion. "Tapi performa di acara nanti yang lebih penting, Keira. Gaun ini hanya pembuka."

Aku berdiri tepat di depannya, mendongakkan kepala sedikit. Wajahnya terlalu dekat. Aku bisa mencium aroma maskulin dari sabunnya.

"Aku nggak akan mengecewakan lo," bisikku, sengaja merendahkan suaraku. "Aku bakal bikin semua orang percaya kalau aku cinta mati sama lo. Dan aku akan bikin lo percaya kalau aku layak buat lo sentuh."

Dion mendadak meraih pinggangku, cepat dan kuat, menarikku rapat ke tubuhnya. Sentuhannya mengejutkan, tapi di matanya masih tak ada gairah. Itu murni kontrol.

"Kalau begitu, mari kita berlatih," katanya, suaranya pelan dan mengancam. "Di depan umum, kamu bisa agresif. Tapi di sini, aku yang memegang kendali. Kamu harus terbiasa dengan sentuhanku, Keira. Agar kamu tidak kaget saat kita di hadapan banyak orang."

Dia mencondongkan wajah, dan aku berpikir, Ini dia! Tapi dia hanya membisikkan sesuatu di telingaku, suaranya sangat rendah.

"Jangan lupa tersenyum. Dan anggap aku adalah Adnan. Balas dendammu dimulai sekarang."

Acara amal itu diadakan di sebuah ballroom hotel bintang lima. Lampu kristal, musik orkestra, dan ratusan wajah-wajah penting Jakarta ada di sana. Ini adalah lingkungan alami Dion. Bagiku, ini kandang singa.

Saat kami memasuki ruangan, aku langsung menggandeng lengan Dion dengan posesif. Aku menyematkan diriku ke lengannya, seolah aku takut dia akan lari.

Seketika, bisik-bisik langsung terdengar. Tentu saja. Keira yang gagal menikah, sekarang muncul mendadak sebagai istri pengusaha dingin Dion.

"Ya ampun, itu Keira?"

"Loh, bukannya dia tunangan Adnan?"

"Cepat banget pindah. Tapi si Dion ini kan... ah, sudahlah."

Aku bisa mendengar semuanya. Tapi kali ini, bisikan itu nggak membuatku malu. Bisikan itu membuatku kuat.

"Tersenyumlah, Istriku," bisik Dion di telingaku.

Aku tersenyum, senyum paling manis dan paling palsu. Lalu, aku melakukan apa yang nggak pernah kulakukan di depan umum. Aku menoleh ke Dion, dan dengan sengaja, aku mengecup pipinya, lama, di depan semua orang.

"Aku rindu kamu," kataku, cukup keras agar orang-orang di sekitar kami mendengarnya.

Dion kaget. Matanya melebar sedetik, tapi dengan cepat ia menguasai diri. Dia membalas kecupanku di kening, dan tangannya yang tadinya hanya menggandeng lenganku, kini turun ke pinggangku, mencengkeramnya erat.

"Aku juga," jawabnya, suaranya seperti madu di telinga orang lain, tapi bagiku terdengar seperti ancaman. Pintar sekali bermain, Keira.

Kami berjalan menyapa beberapa kolega Dion. Aku memutar peran. Setiap kali ada wanita yang terlalu dekat dengan Dion, aku akan menyentuh lengan Dion, merapikan dasinya, atau berbisik sesuatu ke telinganya. Semua itu bahasa tubuh yang mengatakan: Dia milikku.

Lalu, mataku bertemu dengan mata yang paling kuhindari: Adnan.

Dia ada di sana. Bersama wanita yang dia hamili, yang sekarang jadi istrinya. Wanita itu, dengan perutnya yang mulai membesar, berdiri canggung di samping Adnan. Wajah Adnan terlihat kurus dan cemas, jauh dari kesan bahagia.

Saat Adnan melihatku, pandangannya terbelalak. Dia melihat Keira yang memakai gaun zamrud, yang tertawa lepas, dan yang dipeluk erat oleh Dion.

Aku nggak membuang muka. Aku malah menarik tangan Dion, dan dengan berani, aku mendekat ke Adnan.

"Adnan! Senang bertemu denganmu," kataku, suaraku riang dan penuh kemenangan. Aku menatap istrinya sekilas, lalu kembali ke Adnan. "Selamat ya atas pernikahan dan kehamilannya. Maaf kami nggak sempat kirim bunga, karena pernikahan kami juga mendadak."

Aku menyentuh dada Dion, seolah memujanya. "Aku sangat bahagia, Nan. Dion ini... dia tahu persis apa yang dibutuhkan wanita. Kami tidak bisa menunggu lebih lama."

Sengaja. Aku sengaja menekankan kata 'tidak bisa menunggu'. Itu kode untuk: Dia mengambil apa yang kau sia-siakan.

Wajah Adnan pucat pasi. Dia melihat ke arah tanganku yang menempel di dada Dion, lalu ke arah gaunku yang seksi. Dia melihat segalanya yang dulu dia bilang terlalu sulit untuk dia dapatkan.

"K-Keira..." Adnan terbata.

"Sudah ya, Sayang," potong Dion, suaranya lembut, tapi matanya dingin. Dia tahu aku sedang bermain api, dan dia harus jadi pemadamnya. Dia menarikku menjauh dengan genggaman di pinggang yang makin erat. "Kita harus menyapa Tuan Hartono. Maaf, Adnan."

Dion menarikku pergi, meninggalkan Adnan yang terlihat seperti baru saja melihat hantu. Kemenangan. Itu yang kurasakan. Balas dendamku baru dimulai.

Sisa malam itu berjalan seperti mimpi. Aku menjadi aktris terbaik yang pernah ada. Aku tertawa, aku bersandar pada Dion, aku memegang tangannya di bawah meja saat makan malam. Aku mencoba membangkitkan gairahnya, bukan dengan sentuhan eksplisit, tapi dengan kehadiran yang dominan dan intim.

Setiap sentuhan yang kuberikan, dibalas Dion dengan sentuhan yang lebih kuat. Dia menciumku di depan Tuan Hartono yang penting, menciumku dengan intens, tapi anehnya, ciuman itu terasa seperti segel, bukan gairah. Dia menciumku untuk membuktikan pada dunia, bukan untuk merasakanku.

Ketika akhirnya kami meninggalkan acara itu, jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Kami masuk ke mobil, dan keheningan langsung menyelimuti kami. Kontras sekali dengan hiruk-pikuk dan drama yang baru saja kami jalani.

"Performa yang luar biasa," kata Dion, melepaskan dasi kupu-kupu-nya.

"Terima kasih. Aku dapat Oscar untuk kategori 'Istri yang Mencintai Suami Mati-matian'," sahutku, tertawa hambar.

"Kamu berhasil membuat Adnan menyesal. Dan kamu berhasil membuat semua orang percaya pernikahan kita didasari gairah yang membara."

"Lalu?" tanyaku, nadaku berubah serius. Jantungku mulai berdebar kencang lagi. Ini sudah lewat tengah malam. Batas waktu 48 jam yang dia tetapkan untuk 'malam itu' sudah semakin dekat.

"Lalu... kita kembali ke penthouse. Sekarang, giliranmu membuktikan padaku, bukan pada publik."

Begitu tiba di penthouse, aku bahkan nggak sempat menyalakan lampu. Aku langsung mendorong Dion ke dinding lorong dekat pintu masuk.

"Waktu sudah habis, Tuan Dion," bisikku, tanganku merayap ke kerah kemejanya. "Aku sudah lakukan tugasku. Aku seksi di depan publik. Aku agresif di depan Adnan. Sekarang, aku mau kamu memenuhi janjimu."

Aku menarik kerahnya, menciumnya dengan liar, semua amarah dan dendamku kutumpahkan di bibirnya. Aku ingin dia merespons, aku ingin dia membalas ciuman ini dengan gairah yang sama liarnya.

Dion merespons. Dia membalas ciumanku, tangannya memeluk pinggangku, menekan tubuh kami rapat-rapat. Ciumannya dalam, tekniknya sempurna. Tapi, tetap saja, terasa aneh. Ada penghalang, seperti ada dinding kaca di antara kami.

Aku menjauh, terengah-engah. Mataku menatap matanya. Matanya gelap, tapi anehnya, kosong.

"Kenapa?!" tanyaku, setengah berteriak. "Kenapa tatapan mata lo nggak pernah ikut saat lo cium gue, Dion?! Lo nggak tertarik sama sekali?!"

Dion menahan napas. Dia melepaskan pelukannya, langkahnya mundur sedikit, memecah keintiman yang baru saja kubangun.

"Aku tertarik, Keira," katanya, nadanya rendah, serius. "Aku akui kamu wanita yang sangat menarik. Kamu agresif. Kamu berhasil membangkitkan sesuatu."

Aku merasa lega. Hampir menang.

"Lalu kenapa?" tanyaku.

Dion menoleh ke samping. Tiba-tiba, ia merobek kemeja yang baru saja kupeluk tadi, tepat di bagian dada kirinya. Kancingnya mental. Aku terkejut.

Di bawah kemeja itu, aku melihat sesuatu. Bukan otot six-pack yang kubayangkan. Tapi ada bekas luka sayatan, tipis dan panjang, membentang dari bahu hingga ke tulang rusuknya. Luka lama, tapi terlihat menyakitkan.

"Kamu mau aku mengambil mahkota yang kamu jaga, Keira," kata Dion, menatap luka itu, bukan aku. Suaranya berubah. Ada kepahitan di sana. "Aku tahu kamu melakukan ini karena dendam. Aku nggak mau kamu menyalahkan diriku, atau menyalahkan momen ini, setelah kamu sadar bahwa itu tidak menyembuhkan lukamu."

Dia kembali menatapku, matanya kini dipenuhi rasa sakit yang mendalam, bukan dingin.

"Aku sudah bilang, aku nggak janji akan bergairah," katanya. "Aku menerima tantanganmu. Tapi malam ini, aku menolaknya, karena kamu belum siap."

Aku terperanjak. Aku melihat luka di dadanya, luka yang mematahkan seluruh bayanganku tentang Dion yang sempurna.

"Luka apa itu?" bisikku.

Dion hanya menyeringai kecut. "Luka yang membuatku tidak lagi menganggap sentuhan fisik sebagai sesuatu yang biasa. Dan luka yang membuatku harus menunda malam yang kamu inginkan itu, sampai kamu mengakui padaku, bahwa kamu melakukan ini bukan lagi untuk Adnan, tapi untuk dirimu sendiri."

Dia mengambil selimut dari sofa, melemparkannya ke arahku.

"Istirahat, Istriku. Kamu sudah bekerja keras malam ini. Besok, kita mulai hidup sebagai suami istri sungguhan. Tapi tidak di ranjang yang sama."

Dion masuk ke kamar, mengunci pintunya.

Aku berdiri sendirian di lorong penthouse, masih dengan gaun zamrud, gaun yang seharusnya memberiku kemenangan. Aku dicampakkan lagi. Kali ini, bukan karena aku suci, tapi karena aku terlalu fokus pada dendam.

Dan yang paling membuatku bingung, bukan penolakannya. Tapi luka di dadanya itu. Apa yang sudah dialami pria sedingin Dion? Dan apakah aku, dengan dendamku ini, bisa menembus benteng pertahanannya yang sempurna?

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bismillah, Aku Ikhlas
8.2
Pernikahan yang didambakan harmonis justru berujung pilu akibat lisan tajam sang ibu mertua. Setiap hari, seorang istri harus menahan tuduhan mandul dan cercaan atas pernikahan mereka, sembari memikul beban urusan domestik yang tiada henti. Tekanan batin kian berat saat ia terus dituntut segera menghadirkan cucu. Di tengah perlakuan semena-mena ini, ia kini berada di titik krusial untuk menentukan pilihan: tetap berjuang bertahan atau menyudahi segalanya.
Sampul Novel Budak Cinta
8.4
Saat sedang hamil, aku harus menghadapi kenyataan mengerikan. Selama tiga tahun ini, Liam Barnes yang merupakan kekasihku sendiri, membiarkan kembarannya, Lucas, meniduriku. Pengkhianatan kejam ini dilakukan Liam sebagai bentuk balas dendam demi cinta pertamanya, Vivian Quinn. Namun, reaksi berbeda ditunjukkan Lucas saat aku mengonfrontasinya. Di hadapanku, ia justru berlutut khidmat, mencium kakiku, dan bersumpah bahwa kesetiaannya kini sepenuhnya hanya milikku.
Sampul Novel Cincin Dendam : Janji di Balik Rahasia
9.4
Akibat cemburu, Lara tak sengaja merusak hubungan adiknya dengan Leon, menyeretnya ke dalam rahasia kelam keluarga Ariatama Marten. Leon yang menyimpan rencana tersendiri justru menawarkan pernikahan kontrak demi membalas pengkhianatan itu. Demi menjaga nama baik keluarga dan perasaan cintanya yang tersembunyi, Lara pun menerima tawaran tersebut. Akankah pernikahan tanpa cinta ini menumbuhkan rasa sejati, atau justru membongkar luka lama serta misteri berbahaya yang mengancam mereka?
Sampul Novel Cinta Yang Sesungguhnya
9.1
Demi lepas dari siksaan suami dan keluarganya, Dayana Ekavira Sanjaya kabur dari Jakarta dan memakai nama Kana Zanitha. Di tengah pelariannya, ia pingsan di kebun lalu diselamatkan oleh Elvan Ravindra Dewangga, pemilik vila yang introvert. Meski Kana sempat didera ketakutan, perlahan tumbuh rasa cinta di antara mereka. Sayang, ketenangan itu terusik saat sang suami berhasil melacak tempat persembunyiannya. Kini, Kana harus memilih: melarikan diri lagi atau bertahan menghadapi masa lalunya.
Sampul Novel Hanya Istri Kedua
9.3
Demi menyelamatkan sang ayah dari ancaman kebangkrutan, Anyelir rela mengorbankan impian masa depannya. Ia bersedia menjadi istri kedua dari Serkan Alvaro, seorang pengusaha muda sukses yang dikenal sangat dingin. Namun, alasan sebenarnya di balik keputusan Serkan menikahi Anyelir dengan imbalan bantuan keuangan masih menjadi misteri. Anyelir pun harus menjalani kehidupan pernikahan yang penuh teka-teki. Sanggupkah ia menemukan kebahagiaan sejati dalam rumah tangga ini?
Sampul Novel Harga Seorang Ratu Mafia
9.5
Pernikahan politikku dengan Marco Ricci demi menyatukan dua klan besar Jakarta hancur setelah aku memergokinya bermesraan dengan Angelia, gadis yatim yang diklaim sebagai adiknya. Menyadari diri ini hanya alat kekuasaan sementara cinta Marco milik wanita lain, aku memilih berontak. Kubatalkan pertunangan kami, lalu kuputuskan menikahi Dante Wiryawan, rival terberat keluarga kami. Aliansi baru yang tak terduga kini resmi dimulai.