
Pernikahan Berlandaskan Kontrak
Bab 8
Malam ini, ada pesta tahunan perusahaan. Orang yang hadir perlu membawa seorang pendamping. Irene menggandeng tangan Adrian dan menghadiri pesta ini dengan mengenakan pakaian mewah.
Rebecca tidak menerima pemberitahuan, tetapi tetap menghadiri pesta tahunan ini. Sebab, dia ingin memberikan surat perjanjian penyerahan hak asuh anak kepada Sonia.
Pada saat ini, masih ada dua jam sebelum pesawat lepas landas. Waktu Rebecca sudah tidak banyak lagi. Dia mencari sosok Sonia ke sekeliling.
Ketika Rebecca sedang mencari orang, lampu di panggung tiba-tiba menyala. Di atas panggung, orang yang sedang berpidato adalah Adrian. Di sisinya, berdiri Aiden dan Irene.
Para karyawan pun mulai berdiskusi.
“Sepertinya, rumor di internet memang benar. Pak Adrian benar-benar setia. Yang dirumorkan bersamanya selama ini adalah orang yang sama.”
“Kalau nggak salah, aku kayaknya pernah dengar Pak Adrian sudah menikah deh?”
“Dia itu cuma seorang perempuan kampungan yang memalukan. Pak Adrian nggak menaruh perasaan apa pun terhadapnya. Dia dan Irene barulah cinta sejati.”
Rebecca tidak sempat mendengar gosip orang-orang. Dia naik ke tangga untuk mencari sosok Sonia. Setelah mencari sejenak dan tidak menemukan Sonia, dia pun hendak berbalik. Namun, tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya.
“Memangnya kamu ada terima undangan? Orang yang hadir cuma boleh bawa seorang pendamping. Sangat jelas, yang menang itu aku.”
Itu adalah Irene. Saat ini, ekspresinya terlihat garang. Dia sudah tidak lagi bersikap lemah lembut seperti ketika berada di depan Adrian. “Kamu percaya nggak? Di antara kamu dan aku, Adrian akan selalu memilihku?”
Rebecca menjawab dengan dingin, “Aku nggak punya waktu untuk temani kamu main permainan membosankan seperti ini.”
Irene tersenyum meremehkan. Selanjutnya, dia mendorong Rebecca dengan kuat.
Rebecca yang kehilangan keseimbangan langsung berguling menuruni anak tangga sebelum terempas kuat di lantai. Namun, dia masih memegang erat surat perjanjian di tangannya.
Rasa sakit langsung datang secepat kilat dan menjalar di sekujur tubuh Rebecca. Cedera baru yang bersinggungan dengan luka lama seketika membuat Rebecca meringis kesakitan.
Suara yang kuat ini telah menarik perhatian semua orang di lokasi. Ketika Adrian tiba di lokasi kejadian dan melihat Rebecca, dia buru-buru berlari mendekat. Kemudian, dia memapah Rebecca dengan hati-hati dan bertanya dengan cemas, “Kenapa kamu bisa jatuh?”
Rebecca menatap ke arah pelaku di belakangnya. Namun, Irene tidak menghindari tatapannya, malah berseru dengan tampang provokatif, “Adrian, kakiku sakit banget.”
Aiden langsung berseru, “Papa, cedera di kaki Bibi sangat parah. Cepat datang untuk periksa dia!”
Kali ini, Adrian merasa ragu. Dia menatap Rebecca dengan khawatir.
Namun, Rebecca malah mengerahkan seluruh tenaganya untuk bangkit sendiri. “Kamu nggak usah pedulikan aku.”
Adrian hanya bisa menyahut dengan cemas, “Aku pergi periksa dulu. Nanti, aku akan mencarimu.”
Rebecca akhirnya menemukan Sonia. Ketika melihat keadaan Rebecca, bahkan Sonia yang sudah terbiasa menghadapi berbagai macam situasi serius juga terkejut.
“Kenapa tampangmu begitu berantakan? Yang di bajumu itu ... bekas darah?”
Rebecca hanya menjawab dirinya tidak apa-apa, lalu langsung menyerahkan surat perjanjian itu kepada Sonia dengan jari gemetar. “Nih.”
Setelah membacanya, Sonia menghela napas panjang.
“Mungkin aku nggak seharusnya buat kesepakatan seperti itu denganmu dulu. Aku bukan cuma membuatmu terlibat dalam masalah ini, juga membuatmu berakhir seperti ini. Keluarga Pangestu yang berutang padamu. Pergilah. Mulai sekarang, kamu sudah nggak punya hubungan apa-apa dengan Keluarga Pangestu.”
Rebecca menjawab dengan suara gemetar, “Terima kasih.”
...
Rebecca akhirnya naik ke pesawat. Meskipun tampangnya terlihat menyedihkan, dia malah merasa sangat bahagia. Dia akhirnya bebas dan tidak terikat kontrak lagi. Hanya pada saat ini, dirinya barulah miliknya sendiri.
Di pagi hari, cahaya fajar pertama menyelinap masuk melalui jendela pesawat. Mulai sekarang, seluruh bayang-bayang kegelapan dalam kehidupan Rebecca sudah sirna dan digantikan oleh masa depan yang penuh harapan.
Anda Mungkin Juga Suka





