
Permainan Kejam Suamiku
Bab 2
Monster
Wajahku memerah, seluruh tubuh terasa panas membara.
Apa yang yang dikatakan suamiku? Masa menyuruhku membantu Jack punya keturunan?
Untungnya dua orang polos di sampingku itu tidak mengerti apa-apa, jadi aku pun menghela napas lega.
Memangnya urusan ranjang laki-laki dan perempuan itu perlu diajarin? Bukankah itu sudah naluri alamiah para pria?
Aku langsung bilang ke Jack dan Rika, “Rika, nanti kalau Jack mulai menyentuh dan menciummu, jangan ditolak, ya? Nggak sakit kok, malah enak sekali.”
Dengan senyuman nakal dan ekspresi menggoda, aku mengantar mereka masuk ke kamar, lalu bersiap untuk berendam di kamar mandi.
Ini juga caraku untuk mengurangi tekanan, berendam bisa bantu meredam api di dalam dada.
Aku berbaring di dalam bak mandi, uap panas menyelimuti seluruh tubuh, membuat kulitku yang putih memerah, memberikan kesan setengah terbuka yang menggoda.
Aku menggigit pelan bibirku dan merapatkan kaki. Wajahku semakin memerah, sambil memejamkan mata, menikmati sepi yang membakar.
Pintu kamar mandi tidak dikunci, aku hanya menutupnya rapat. Tiba-tiba, Rika masuk sambil menangis dan berkata, “Tante Tina, ada monster besar di bawahnya Jack. Kelihatannya menyeramkan sekali.”
Bau amis samar tercium dari tubuhnya, entah kenapa justru membuat tubuhku semakin gerah.
Jangan-jangan, monster besar yang dimaksud itu….
“Rika, semua perempuan pasti bakal alami ini. Nanti kalau kamu sudah merasakan kasih sayangnya Jack, kamu bakal merasa terpuaskan dan bahagia!” ujarku berniat membujuk Rika buat balik ke kamar untuk bersama Jack.
Namun, dia tetap tidak mau, sambil menepuk-nepuk dadanya yang bergetar. Hal seperti ini memang tak bisa dipaksa, harus dibujuk pelan-pelan.
“Tante Tina, jangan bohongi aku. Aku sangat pintar. Aku baru mau main sama Jack, kalau tante main duluan sama dia,” katanya sambil menatapku dengan mata besarnya yang berkedip-kedip tajam.
Tanpa sadar, aku mengusap kedua pahaku. Jantungku pun berdegup semakin kencang, “Dasar kamu, asal bicara apa, sih?”
Setelah berhasil membujuk Rika keluar dari kamar mandi, tiba-tiba Jack masuk lagi sambil senyum-senyum. Aku buru-buru menutupi tubuhku dengan handuk, kulitku masih dipenuhi uap hangat dan keringat. Lidahku yang lembut reflek membasahi bibir, membuatku tampak semakin menggoda.
“Jack, apa yang kamu lakukan?” tanyaku spontan dengan nada menegur. Meski dia itu polos, tetap saja ada batasan antara laki-laki dan perempuan.
Jack tertawa bodoh dan menjawab, “Ibu, aku mau pipis!”
Lalu, dia mulai membuka celananya di depanku. Melihat bagian depannya yang menonjol, aku langsung melotot tak percaya.
Meskipun terhalang kain, tetap saja bisa terbayang bentuknya yang besar, menonjol besar seperti sebuah bandul besi.
Lebih hebat dari milik suamiku!
Selain itu, dia juga bertelanjang dada, otot perutnya terlihat, otot-otot di pahanya tampak bergerak-gerak seperti sekumpulan kelabang hidup, benar-benar terlihat sangat menggoda!
Aku sudah terlalu lama tak merasakan kebahagiaan, bahkan tak terpikir untuk mencari pria demi mengisi kekosongan ini. Kalau terus begini, diriku yang penuh gairah ini akan layu tanpa tersentuh….
Wajahku tak bisa menyembunyikan keinginan dalam hati, begitu ingin Jack menindihku dan meluapkan semuanya dengan kasar.
Namun, secercah kewarasan terakhir masih menahanku, “Jack, kamu keluar dulu. Ibu mau pakai baju.”
Jack merengek manja di depanku, kedua pahanya bergoyang-goyang, membuatku semakin tak tenang. Dia berkata, “Kumohon, jangan usir aku, ya? Kalau nggak pipis sekarang, aku bisa meledak.”
Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa pada si bodoh ini, akhirnya hanya bisa memalingkan wajah dan buru-buru menyelimuti tubuhku dengan handuk, tak berani menatapnya.
Namun, suara air yang jatuh perlahan itu, seperti bisikan setan yang menggoda, membuat tenggorokanku terasa semakin kering….
Setengah menit kemudian, sepertinya Jack sudah selesai buang air. Dia mengenakan celana boxernya, lalu langsung memelukku erat dari belakang.
Dada bidangnya yang panas, otot-ototnya yang kekar dan pahanya menempel erat dari belakang, ini sangat mirip dengan pose begituan.
Aroma maskulin yang penuh gairah menyerbu hidungku tanpa ampun, membuat tubuhku terasa seperti gunung berapi yang lama tertidur dan kini hampir meledak.
“Ibu, kamu wangi sekali, sedangkan Rika agak bau. Aku mau cium ibu….”
Tangan kasarnya tanpa sadar merayap ke pinggangku, bergerak-gerak seperti ulat bulu, menggesek lembut bagian lembek di sisi pinggangku.
Itu adalah salah satu bagian paling sensitif di tubuhku, sama sekali tak menahan godaan seperti itu.
Yang lebih keterlaluannya lagi, Jack membenamkan dirinya dalam pelukanku dan meneguknya seperti bayi yang sedang minum susu… sensasi geli yang belum pernah kurasakan sebelumnya menyerangku. Hampir membuatku gila.
Dengan suara lirih, aku bergumam, “Jangan… nggak boleh.”
Anda Mungkin Juga Suka





