APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Permainan gila suami dan adikku

Permainan gila suami dan adikku

Wulan didera kepedihan mendalam setelah memergoki suaminya menjalin hubungan gelap dengan adik tirinya sendiri. Namun, kesedihan itu segera berganti menjadi kemarahan yang menuntut pembalasan. Wulan pun merancang strategi balas dendam yang matang untuk menghancurkan mereka berdua. Ia bertekad membuat suami dan saudaranya membayar mahal pengkhianatan keji tersebut, hingga mereka benar-benar hancur dan terjebak dalam perangkap yang mereka buat sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Ya sudah. Nanti aku akan memberikan hadiah untuk kamu besok lusa. Bukankah besok lusa itu adalah hari pertentangan kamu sama pacar kamu?" Tanya Wulan sambil melirik ke arah Rio.

Rio yang mendengar itu tentu langsung berubah ekspresinya.

Dewi melihat ke arah Wulan.

"Betulkan? Apa aku salah?" Tanya Wulan. Ya betul sekali. Dewi memiliki kekasih. Tepatnya calon suami dan mereka akan bertunangan.

"Iya. Kaka benar besok lusa aku tunjangan sama Kevin. Ya udah Bu ayo kita pulang." Dewi langsung menarik tangan ibunya.

Tapi Lela malah melepaskan Tarakan tangan anaknya itu

"Apa sih Dewi. Ibu tuh laper. Lihat tuh Kaka kamu susah selesai masak. Jadi ayo kita makan dulu." Lela main duduk di kursi meja makan.

Wulan yang minat itu tentu menaikkan satu halisnya.

"Loh Bu. Ini makanan untuk suamiku, aku gak masak lebih." Ujar Wulan dengan wajah santainya.

"Loh kok kamu malah bilang seperti itu sih? Ini kan banyak makanannya. Kenapa ibu dan adik kamu tidak boleh makan di sini dan kamu kenapa bilang makanan ini hanya cukup untuk kamu dan suami kamu? Kamu itu kenapa sih. Hah? Biasanya juga kamu oke-oke aja kalau ibu sama adik kamu makan di sini. Ibu tuh ibu kamu ya. Meskipun Ayah kamu sudah meninggal, tapi ibu yang sudah membesarkan kamu."

"Sudahlah Bu. Ibu nggak usah ungkit-ungkit hal itu. Bukankah sudah kewajiban ibu untuk mengurus aku karena bukankah Ibu dulu yang sudah mengusik rumah tangga Ayahku?" tanya Wulan dengan berani. Mela yang mendengar itu tentu membulatkan matanya.

"Kamu kok bisa berkata kurang ajar seperti itu sama ibu. Hah? Siapa yang ngajarinnya? Kamu tahu dari mana hal itu hah?" tanya Lela dengan wajah merah.

"Sudahlah Bu. Jangan berteriak di sini, malu didengar Tetangga, lagian juga ada anakku yang sedang tidur Bu, aku tidak mau jika sampai dia bangun." ucap Mulan.

Ya Mulan memiliki anak seusia 6 tahun dan Ia baru masuk SD.

"Alah. Biarkan saja anak kamu itu bangun, lagian udah jam segini anak kamu masih tidur, jangan dibayarin kalau jadi anak tuh jam segini harusnya bangun, pergi ke mushola salat tadi ngaji, bukannya tidur." Ujar Lela dengan wajah sinisnya.

"Lalu Ibu ngapain ada di sini? Kalau misalkan Ibu menyuruh Maya untuk mengaji di mushola sedangkan ibu sendiri Ibu teriak-teriak di rumah orang. Apakah ibu nggak malu? Ibu juga sering kan memanjakan anak bungsu ibu itu, bahkan dulu aku masih ingat jika Ibu Terus saja membanding-bandingkan aku dengan anak kesayangan ibu."

Dewi yang mendengar itu tidak terima, ia langsung berjalan dan berdiri di hadapan ibunya.

"Maksud kakak apa sih? Hah? Kenapa Kakak berbicara ngelantur kayak gitu? Aku kan datang ke sini sama ibu hanya buat ngingetin Kakak, kalau aku mau minta hadiahku tapi kenapa kakak malah marah-marah? Apakah Kakak benci sama aku karena aku selalu merepotkan kakak?"

"Nggak. Aku nggak benci, kamu adalah adikku, kamu tidak salah apapun mungkin hari ini aku sedang lelah dan juga kepikiran uang yang dicopet sama Pencopet, karena itu uang untuk acara tunangan kamu juga." Dewi dan juga Lela yang mendengar itu tentu membulatkan matanya. Wulan sengaja mengatakan itu agar Dewi dan juga ibu tirinya bisa membuat acara tanpa ikut campur tangannya, karena memang seminggu yang lalu Lela dan juga Dewi memohon kepada Wulan untuk membantu mereka menyiapkan pertunangan besok lusa dan menyerahkan semua tanggung jawab kepada Wulan, mulai dari dekorasi dan juga biaya yang lainnya, padahal yang akan tunangan itu adalah Dewi, tapi karena Dewi bilang jika Dewi hanya memiliki saudara Wulan sendiri, jadi Wulan mau tidak mau dan juga merasa kasian kepada adiknya, makanya Wulan mau membantunya.

"Apa? Jadi uang yang dicopet itu uang buat keperluan tunangan aku? Kok bisa gitu sih Kak? Kenapa Kakak ceroboh sekali? Kenapa uang itu Kakak bawa keluar? Uang itu kan banyak."

Rio yang mendengar itu pun ikut terkejut "jadi uang yang dicopet itu bukan hanya uang buat beli kue Dewi?"

Wulan menganggukan kepalanya dan duduk dengan santai di kursi. Dan di saat itu pintu kamar anaknya terbuka. Wulan merasa beruntung di saat suaminya dan juga adiknya melakukan hubungan itu di saat anaknya sedang masuk sekolah, entahlah mungkin saja Maya tahu tentang hubungan ayah dan juga adik ibunya sendiri, tapi sepertinya Maya tidak bisa mengungkapkan itu kepada bulan.

"Ibu Maya lapar." ujar Maya sambil berjalan ke arah Wulan, semua orang tentu langsung terdiam. Wulan tersenyum, ia merentangkan tangannya untuk memeluk anak semata wayangnya itu.

"Ayo Sayang, kamu mau lapar, ini ada ayam goreng sama Cumi Asin. Kamu suka kan makanan seperti ini? Bukankah makanan ini kesukaan kamu?" Maya langsung menganggukkan kepalanya, dia langsung duduk di samping ibunya.

Sedangkan Rio, Dewi dan juga Lela mereka harus menahan rasa amarahnya, karena mendengar ucapan Wulan, tapi mereka tidak bisa marah karena di hadapannya ada anak kecil.

"Ah udahlah Bu. Ayo kita pulang, kita makan rumah aja, nanti kita datang lagi ke sini, aku nggak mau pokoknya pertunangan aku harus berjalan dengan lancar, aku nggak mau jika ada sesuatu yang gagal dan juga berantakan." ujar Dewi sambil melirik ke arah Wulan dengan tajam.

Tapi di saat Lela dan juga Dewi hendak keluar dari rumah itu Wulan langsung memanggil mereka.

"Ibu Dewi tunggu!" ucap Wulan sambil menatap ke arah wanita yang hendak membuka pintu rumahnya

"Ada ap" tanya Lela.

"Ada yang ingin aku bicarakan Bu." Lala dan juga Dewi saling menatap.

"Aku hanya ingin bilang. Tolong tutup lagi pintunya Bu, karena ini mau Menjelang magrib. Aku takut jika ada dedemit yang masuk." Lela dan juga Dewi yang mendengar itu tentu langsung menghentakkan kakinya. Mereka langsung keluar dari rumah dan menutup pintu itu dengan keras.

Brak.

"Ibu kenapa nenek kok malah nutup pintu rumah kita dengan keras? Kan nanti kalau rusak bagaimana?" tanya Maya dengan polosnya. Wulan tersenyum ke arah anaknya.

"Tidak apa-apa sayang, pintu itu nggak mungkin rusak kalau misalkan hanya ditutup satu kali seperti itu, kamu lanjutkan saja makannya, ayo Mas kamu juga makan." ajak Wulan kepada suaminya itu. Rio hanya terdiam ia memandang makanan yang ada di depannya dengan sendu.

Karena ia memikirkan uang yang hilang, karena uang itu tidak sedikit karena uang yang akan dijadikan biaya pertunangan Dewi itu adalah hasil dari tabungan milik Rio dan juga Wulan, mungkin sekitar 50 juta, padahal tabungan itu digunakan untuk keperluan dan juga biaya sekolah Maya nanti di masa depan. Namun karena desakan Lela dan juga Dewi Wulan terpaksa mengambil tabungan itu di bank beberapa hari yang lalu. Untung saja Wulan mengetahui kebusukan mereka secepat mungkin sebelum uang itu lenyap digunakan oleh mereka.

"Kamu kenapa sih Mas kok sejak tadi diam terus? Apa kamu masih memikirkan uang yang hilang?" tanya Wulan dengan wajah biasa saja.

"Ya jelaslah Aku memikirkan uang itu, uang itu kan besar, uang itu kita kumpulkan beberapa tahun ini. Lagian kamu kenapa bisa sampai ceroboh dan hilang? Kalau sudah kayak gini siapa yang repot? Mana pertunangan Adik kamu itu sebentar lagi."

"Biarkanlah Mas, uang bisa dicari tapi keselamatan aku tidak bisa dicari, kamu lebih mementingkan uang itu daripada aku? Lagian yang mau tunangan itu Dewi kenapa harus aku yang mengeluarkan uang banyak, biarkan mereka berusaha sendiri, kalau kamu punya uang ya kamu bantu aja mereka. Toh Bukannya kamu lebih sayang kepada adik tiriku daripada kepadaku." ujar Wulan dengan wajah sinisnya. Baru kali ini Wulan menunjukkan wajah seperti itu kepada suaminya. Rio tentu langsung gelagapan. "Enggak, bukan seperti itu. Kamu nggak usah berpikir yang aneh-aneh, aku nggak lapar kalian lanjutkan saja makannya." beliau langsung bangkit dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Wulan tersenyum sambil menatap ke arah suaminya dan sambil mengelus kepala anaknya.

"Akan aku pastikan jika aku akan membalas semuanya, aku akan mengambil semua yang kalian ambil dariku. Aku tidak mau jika sampai kalian menikmati semua hasil dari jerih payah." Ucap Wulan karena memang semua barang-barang yang ada di rumah ibu tirinya itu adalah barang-barang yang dibeli oleh Wulan semasa Wulan bekerja dulu.

Di rumah Lela sejak tadi Dewi terus marah-marah iya bahkan membanting vas bunga yang ada di atas meja hingga membuat lele terkejut.

Brak. Pray.

"Ya ampun Dewi kamu kenapa malah membanting pas bunga ini? Ini mahal loh. Ini dibelikan Kakak kamu waktu dulu waktu dia masih kerja, kenapa malah dibanting kalau dia tahu bagaimana?"

"Ah sudahlah Bu, aku nggak mau ngambil pusing tentang vas bunga ini, kita bisa beli lagi nanti, yang aku pusing kan bagaimana caranya kita mengumpulkan uang banyak untuk melakukan pertunangan itu, pertunangan itu besok lusa loh Bu. Harusnya itu hari ini semua dekor sudah datang, tapi karena Kak Wulan yang ceroboh jadinya semuanya berantakan, nanti kalau dekor itu datang ke sini. Siapa yang bayar?" tanya Dewi dengan wajah cemasnya. Lela langsung duduk.

"Ibu juga tidak tahu, tapi coba kita paksa Wulan agar dia mau menjual barang-barangnya, agar kita tidak mengeluarkan uang sepeserpun, ibu yakin jika kita berbicara kepadanya dan juga memohon seperti kemarin kakak kamu mau memberikan uangnya kepada kita, pasti Kakak kamu masih memiliki uang simpanan, karena dulu Kakak kamu itu Gajinya besar dan juga pasti gaji dari suaminya pun selalu digunakan secukupnya saja,"

"Ibu benar kita harus membujuk Kaka." Dewi tersenyum penuh kelicikan.

Malam harinya di mana di saat Wulan dan juga Rio sudah ada di dalam kamar, Wulan sejak tadi tidak bisa tidur, ia memikirkan dan juga membayangkan permainan gila antara suami dan adiknya itu di kamar, di mana saat ini ia tempati.

Namun Wulan tiba-tiba memiliki sebuah ide.

"Kok kamar ini bau parfum Dewi ya? Perasaan Dewi enggak pernah masuk ke kamar ini deh?" tanya Wulan memancing suaminya yang sedang membelakanginya. Rio tentu langsung membulatkan matanya dan langsung melihat ke arah istrinya. "Maksud kamu apa bau parfum apa? Sejak tadi aku tidak mencium bau apapun di sini."

"Ini loh aku tahu bahwa parfum Dewi itu bagaimana dan aku tidak mungkin memakai parfum dan kamu pun sama, tapi kenapa di kamar ini begitu menyengat sekali bau parfum adikku, apa jangan-jangan dia masuk ke sini?"..

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Dua Hati
8.8
Kecewa karena lamarannya ditolak Maida akibat perbedaan status sosial, Razi memilih menikahi Hana, gadis desa pilihan sang ibu. Konflik dimulai ketika Razi memboyong istrinya menetap di Jakarta. Maida yang rupanya memendam rasa kini terobsesi merebut Razi kembali. Keadaan kian rumit dengan campur tangan kakak angkat Maida yang memperkeruh suasana. Di tengah badai ujian dan gangguan ini, mampukah rumah tangga Razi dan Hana bertahan dari kehancuran?
Sampul Novel Diselingkuhi Suami Dibucinin Berondong
8.9
Kehidupan Ratih Apsari hancur setelah memergoki suaminya berselingkuh. Pasca bercerai, ia tidak sengaja masuk ke mobil Derryl Dariawan dan melewati malam bersama karena suatu kesalahan fatal. Kejutan berlanjut saat Derryl ternyata menjadi CEO baru di tempat kerjanya. Ratih sempat curiga dirinya dijebak, tetapi interaksi mereka justru memicu benih cinta. Kini, ia dilema karena perbedaan status sosial dan usia Derryl yang tujuh tahun lebih muda. Haruskah ia membuka hati atau kembali ke pelukan mantan suami?
Sampul Novel Miliarder Mendadak!
8.4
Demi wasiat keluarga, Vera Dianthe terpaksa menikahi Dorian Ashford, sang CEO kapal pesiar mewah. Merasa terikat tanpa kehendaknya, Dorian pun mengajukan kesepakatan yang menyulitkan Vera. Namun, keteguhan dan keberanian Vera dalam menghadapi Dorian justru mulai memikat hati sang suami. Konflik semakin rumit saat Isabella Moreau, kekasih Dorian, mulai melancarkan serangan demi merusak hubungan mereka. Di tengah intrik kekuasaan ini, mampukah benih cinta sejati tumbuh?
Sampul Novel Salahkah Aku Mendua
9.2
Astrid terperangkap dalam pernikahan dingin tanpa cinta akibat perjodohan. Pengabaian konstan dari sang suami, Tristan, menorehkan luka batin yang begitu dalam baginya. Merasa tak pernah dihargai, Astrid memilih berpaling kembali kepada Deon, mantan kekasihnya. Di balik pencarian kenyamanan tersebut, ia merancang skenario balas dendam untuk memberi pelajaran pada Tristan. Astrid bahkan nekat mengancam akan mencari lelaki lain jika Deon menolak membantunya dalam rencana ini.
Sampul Novel Sepupu Tapi Nafsu
8.8
Kisah romansa modern ini menguak takdir tak terduga yang memaksa para tokoh menghadapi pilihan sulit. Di tengah dinamika hubungan kekeluargaan, batas-batas norma sosial mulai dipertanyakan. Setiap keputusan yang diambil membawa konsekuensi mendalam, menyingkap hasrat tersembunyi manusia di balik ikatan keluarga. Pembaca akan diajak menelusuri lika-liku asmara yang penuh tantangan serta menguji komitmen mereka dalam menghadapi konsekuensi hidup yang rumit.
Sampul Novel Tiga Tahun Menjadi Pengganti, Satu Hari Hancur
9.4
Arina menghabiskan tiga tahun dalam pernikahan dingin sebagai sosok pengganti tanpa rasa bahagia. Asa yang ia pupuk akhirnya hancur saat Rafael memilih menceraikannya demi sang mantan kekasih, Nadira, yang tiba-tiba kembali. Walau dulu pergi tanpa kabar, Rafael tetap bersikeras menikahi Nadira. Kini, Arina harus memilih: terus bertahan dalam hubungan tanpa cinta atau merelakan sang suami kembali ke pelukan masa lalunya.