APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Permainan Cinta Dokter Muda

Permainan Cinta Dokter Muda

Melihat penderitaan adiknya, Sonya Anastasya trauma dan tidak lagi memercayai laki-laki. Di matanya, pria hanyalah perayu, tak terkecuali Dokter Tomy Surya Atmaja. Walau Tomy sudah beristri dan anaknya adalah murid Sonya, sebuah peristiwa tak terduga dalam semalam menyulut gairah terlarang. Kini, Sonya terjebak konflik batin antara akal sehat dan hasrat membara yang sulit ia tepis, meski sadar hubungan ini adalah kekeliruan besar.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi itu langit Jakarta suram. Matahari menggeliat dengan malas di balik awan mendung yang bergulung-gulung naik. Pukul tujuh tiga puluh lima. Sonya kembali memeriksa tasnya untuk memastikan jika dia tidak lupa membawa ponsel genggam dan buku komik detektif yang selalu dibawanya untuk menemani dia saat waktu istirahat tiba. Tapi, pagi ini Sonya tidak akan pergi ke sekolah tempat dia mengajar para siswa pengidap tuna rungu dan tuna wicara. Kemarin siang dia telah membuat janji temu dengan Dokter Sisca Melvina di sebuah kafe yang lokasinya sekitar dua puluh lima menit dari kediaman Sonya sekitar pukul setengah sembilan. Tapi, untuk menghindari kemacetan dan terlambat, Sonya memutuskan untuk berangkat lebih awal. Meskipun jarak perjalanan hanya memerlukan sekitar dua puluh lima menit.

Setelah memastikan semua barang yang dia butuhkan di dalam tas, Sonya pun mematikan pendingin ruangan, mengambil kunci mobil dan turun ke lantai bawah. Tepat pada saat Sonya selesai mengunci pintu rumahnya ponsel genggam Sonya berdering nyaring di dalam tas. Ternyata Dokter Sischa yang menelepon. Dengan perasaan sedikit khawatir Sonya pun menjawab panggilan itu.

“Halo, Dokter Sisca.”

“Halo, Nona Sonya. Anda di mana? Apakah Anda masih di rumah?” sahut Dokter Sisca. Latar belakang panggilan itu terdengar suara bising kendaraan.

“Saya masih di rumah, Dokter. Saya sudah mau berangkat,” jawab Sonya. “Omong-omong, ada apa, ya, Dokter? Apa Dokter Sisca mendadak ada acara dan tidak bisa datang ke tempat janjian?” tanya Sonya dengan antusias.

“Oh, tidak. Sama sekali bukan itu. Ini adalah satu hal yang sangat penting sekali. Besar artinya untuk saya. Tidak mungkin saya membatalkan janji temu dengan Anda, Nona Sonya. Tapi, memang, sepertinya kita tidak bisa bertemu di kafe yang telah kita sepakati sebelumnya. Sebab saya tiba-tiba ada urusan mendadak. Saat ini saya dalam perjalanan ke rumah Anda. Saya akan mampir sebelum saya pergi ke Bogor untuk satu urusan. Karena itulah saya menelepon Anda, Nona Sonya. Saya harap Anda bersedia menunggu saya,” ujar Dokter Sonya menjelaskan.

“Tentu saja, Dokter. Tentu saja. Saya justru merasa sangat terhormat sekali jika Anda ingin mampir ke rumah saya. Saya akan menunggu kedatangan Anda di rumah saya,” kata Sonya.

“Tapi saya mungkin sedikit terlambat. Jalanannya padat sekali.”

“Sama sekali tidak masalah, Dokter Sisca. Jakarta memang selalu macet. Apalagi ini adalah hari Senin dan masih jam pergi kerja. Saya dapat mengerti.”

“Anda baik sekali, Nona Sonya. Pantas saja Dokter Vena merekomendasikan Anda kepada saya. Kalau begitu, sampai bertemu di rumah Anda.”

Panggilan telepon terputus.

“Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan oleh Dokter Sisca? sepertinya ini penting dan mendesak sekali,” gumam Sonya sambil merogoh kunci rumahnya di dalam tas lalu memasukkan anak kunci ke lubangnya. Dia memutar anak kunci sampai terdengar bunyi klik dua kali lalu membuka pintu ke dalam dan masuk. “Sambil menunggu Dokter Sisca sebaiknya aku memasak untuk sarapan.”

Sekitar kurang lebih lima puluh lima menit kemudian Dokter Sisca pun menelepon lagi, memberitahu jika dia sudah hampir sampai rumah Sonya. Akan tetapi, dia terjebak macet total di sebuah persimpangan yang menuju ke komplek perumahan Kencana Citra. Sonya menenangkan Dokter Sisca jika tidak apa-apa dia menunggu. Tidak lupa dia juga menambahkan jika di jalan itu memang langganan macet parah. Karena merupakan jalan utama menuju perkantoran elite di kawasan sekitar. Setelah panggilan itu ditutup, Sonya yang sudah terbakar rasa penasaran akhirnya menelepon Dokter Vena. Dia ingin menanyakan apa sebenarnya yang diinginkan oleh Dokter Sisca dan mengapa dia seperti itu. Namun, meski sudah berkali-kali menelepon Dokter Vena, panggilan telepon Sonya tidak mendapat jawaban. Dokter Vena mungkin sedang mengurus pasiennya atau sedang ada keperluan lain yang tidak memungkinkan untuk menjawab telepon, batin Sonya sambil meletakan ponsel genggamnya di atas meja dan mengambil komik di dalam tasnya sambil menunggu Dokter Sisca sampai.

Dokter Vena Melisa merupakan teman lama dari mendiang Sonya Anastasya. Hubungan yang terjalin pasca kematian ibunya kian dekat karena Sonya menjadi guru tutor bagi putri sulung Dokter Vena, Rane Aurora, yang seorang penderita tunu rungu.

“Aku sangat puas sekali dengan kerjamu, Sonya. Berkat kau dan ketelatenanmu itu sekarang Rena menjadi jauh percaya diri lagi dan tidak minder seperti sebelumnya. Aku benar-benar berhutang budi banyak kepadamu, Sonya. Rasanya rasa terima kasih juga tidak cukup untukmu,” Dokter Vena memuji Sonya.

“Anda terlalu berlebihan, Dokter. Sungguh. Saya hanya berusaha melakukan apa yang sudah menjadi tanggung jawab saya sebaik mungkin. Mending ibu saya selalu berkata bahwa apa pun pekerjaan kita, harus dilakukan dengan sepenuh hati,” jawab Sonya sambil tersipu dan tersenyum malu.

“Kau benar-benar gadis berhati malaikat, Sonya. Aku merasa bangga sekali padamu. Aku yakin sekali Elshie dan Robert juga bangga melihatmu di surga.”

Sejak saat itu Sonya memang mendapat klien dari Dokter Vena. Beberapa orang teman dekat Dokter Vena atau pasiennya yang ingin mencari tutor untuk pengidap tuna rungu atau tuna wicara, selalu diberi rekomendasi Sonya. Dengan nama baiknya sebagai seorang dokter ahli bedah, maka mereka tidak akan merasa ragu sedikit pun dengan Sonya.

“Sebenarnya apa kepentingan dari Dokter Sisca? Sejauh yang aku tahu Dokter Sisca sama sekali tidak memiliki anak yang memiliki kelainan,” gumam Sonya sambil meletakan ponsel genggamnya dengan putus asa karena Dokter Vena tidak menjawab panggilannya.

Sonya menyandarkan kepala pada sandaran sofa. Tapi, baru saja beberapa saat dia menyandarkan kepala, terdengar suara mobil berdecit berhenti di luar. Di susul suara derap langkah kaki. Itu pasti Dokter Sisca telah sampai. Benar saja. Tidak lama kemudian terdengar ketukan di pintu. Sonya pun bergegas pergi membukakan pintu.

“Selamat pagi, Nona Sonya. Oh, saya minta maaf sekali karena membuat Anda lama menunggu,” kata Dokter Sisca begitu Sonya membukakan pintu. “Situasinya mendadak sekali. Ini soal—”

“Maaf, Dokter Sisca. Tapi, sebaiknya kita masuk dan duduk dulu. Setelah itu kita bicarakan segala sesuatunya,” potong Sonya. “Mari silakan masuk, Dokter. Silakan duduk.”

Perempuan berusia kurang lebih empat puluh sembilan tahun yang memiliki postur tubuh kecil, kurus, dan rambutnya mulai kelabu itu tersipu malu saat Sonya membimbangnya ke ruang tamu. “Terima kasih,” jawab Dokter Sisca setelah dia duduk. “Sebenarnya, Nona Sonya. Saya benar-benar tidak punya waktu. Hanya saja karena ini adalah sebuah urusan yang sangat penting sekali maka saya harus bicara sendiri dengan Anda. Baiklah, saya tidak ingin banyak bicara. Langsung saja pada intinya. Kemarin siang saya bertemu dengan Dokter Vena dan saya meminta rekomendasi untuk tutor tuna rungu dan tuna wicara yang pernah menjadi guru untuk putrinya. Lalu Dokter Vena merekomendasikan Anda, Nona Sonya.”

Sonya tersenyum. Itu adalah kata-kata yang sering sekali dia dengar akhir-akhir ini dan semuanya meluncur dengan tanpa keraguan dari para calon kliennya. Tapi meskipun begitu Sonya tidak menyela kata-kata Dokter Sisca, hanya mengangguk kecil dan tersenyum sebagai isyarat jika dia sudah dapat menebak apa maksud kedatangan dari Dokter Sisca dan akan ke mana arah pembicaraan mereka.

Dokter Sonya kembali melanjutkan, “Jadi begini, Nona Sonya, saya memiliki seorang keponakan yang memiliki masalah dalam pendengaran dan dalam berbicara. Nama anak gadis itu adalah Jenifer Pradita Atmaja. Dia anak berusia sekitar enam tahun yang sangat memilukan. Ayahnya adalah seorang dokter ahli bedah yang sangat sibuk sekali. Sedangkan ibunya, setelah dia tahu anak itu mengalami tuli parsial, dia mencampakkan anak itu begitu saja. Bahkan benar-benar tidak peduli. Selama ini Jenifer diasuh oleh pengasuh anak yang dipekerjakan secara pribadi oleh Dokter Tomy di rumahnya. Tapi, seiring berjalannya waktu, seiring bertambahnya usia, maka Jenifer pun harus sekolah dan mulai belajar hidup dalam lingkungan sosial yang lebih luas lagi. Karena itulah, Nona Sonya, saya datang kepada Anda. Tentu saja atas rekomendasi dari Dokter Vena sahabat baik saya. Saya yakin setelah saya menjelaskan semuanya dengan panjang lebar ini Anda pasti mengerti maksud kedatangannya. Saya mohon, Nona Sonya. Anda bersedia untuk menjadi tutor pribadi bagi Jenifer. Dia sebenarnya anak gadis yang sangat baik dan manis sekali. Hanya saja, ya, nasibnya benar-benar sangat tidak beruntung. Ayahnya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk Jeni. Tapi, tetap saja itu belum cukup.”

Sonya benar-benar tersentuh dengan cerita Dokter Sisca. Selama ini Sonya selalu berpikir jika rasanya hampir mustahil ada seorang ibu yang tega menyakiti anaknya sendiri, mencampakkannya begitu saja. Rasanya benar-benar tidak masuk akal. Sebab bagaimanapun juga anak itu darah dagingnya. Apalagi anak-anak yang lahir dengan kebutuhan khusus. Seharusnya mereka mendapat perhatian yang lebih besar. Agar mereka dapat hidup seperti orang-orang pada umumnya yang tidak kurang sesuatu hal apa pun. Dan terutama agar mereka memiliki kepercayaan diri.

“Saya merasa sangat tersentuh sekali dengan cerita Anda, Dokter. Memang, menerima kenyataan memiliki anak dengan kebutuhan khusus itu kadang-kadang sulit. Maksud saya, semua orang tua pasti ingin memiliki anak yang tak kurang satu apa pun. Akan tetapi, semua itu juga bukan kehendak si anak. Semua itu sudah menjadi kehendak Tuhan. Jika haru memilih, saya yakin sekali jika si anak pasti akan lebih memilih tidak dilahirkan ke dunia,” kata Sonya dengan penuh emosi. Saat dia menyadari jika dia sudah sedikit berlebihan karena terbawa suasana hatinya, Sonya pun berusaha memperbaiki sikap dengan tersenyum malu dan kembali berkata, “Saya minta maaf, Dokter. Saya sudah sedikit berlebihan. Saya terbawa emosi. Saya menerima tawaran pekerjaan yang Anda tawarkan itu dan saya berjanji kepada Anda jika saya tidak akan mengecewakan Anda.”

“Saya tahu Anda pasti tidak akan mengecewakan saya, Nona Sonya. Akan tetapi, ada satu hal lain yang harus Anda ketahui. Yaitu, pengasuh anak yang biasa mengasuh Jenifer saat ini sedang sakit. Dia akan menjalani operasi besok siang karena usus buntu. Jadi, untuk sementara waktu, Anda harus tinggal bersama dengan keluarga Dokter Tomy. Saya harap ini bukan masalah untuk Anda, Nona Sonya. Saya harap Anda tidak akan keberatan tinggal sementara dengan keluarga Dokter Tomy. Sampai dengan pengasuh Jenifer sembuh dari sakitnya,” kata Dokter Sisca menjelaskan situasinya lebih detail lagi.

Tanpa pikir panjang Sonya pun langsung menyetujuinya. Dia sama sekali tidak tahu jika profesionalitas dan perasaan kasih sayangnya yang begitu besar kepada anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus akan membawa dirinya ke dalam satu keadaan yang tak pernah dia bayangkan, bahkan dalam mimpi paling liar sekalipun.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Cuma Rommate
8.4
Gyda, seorang gadis ekstrovert pencinta pesta yang selalu tampil modis, terpaksa tinggal satu atap dengan Delmar, pria introvert super cuek dan pemalas. Meski memiliki standar tinggi dan hanya menyukai lelaki tampan, Gyda harus menerima kenyataan berbagi kamar dengan pria yang jauh dari kriteria idamannya itu. Gyda sangat yakin dirinya tidak akan pernah terpikat oleh Delmar. Namun, perbedaan kontras di antara keduanya justru menumbuhkan benih asmara yang tak terduga.
Sampul Novel Luka Batin Istriku
9.0
Seorang suami terkejut saat mendapati Tari menyuguhkan minuman mencurigakan kepada bayi mereka, Adel. Ketakutan menyergap Tari hingga ia hanya bisa menangis membisu tanpa sanggup membela diri. Kemarahan sang suami kian memuncak begitu tahu stok susu anak mereka telah habis. Ia pun nekat membanting botol susu yang tersisa setengah demi memaksa sang istri bicara jujur. Di balik tangisan histeris yang pecah, sebuah rahasia yang menyayat hati akhirnya mulai terkuak.
Sampul Novel Mantan Pacar
8.4
Demi kehidupan mewah, Clara mendatangi kebun anggur tunangannya. Sialnya, sang calon suami malah hilang misterius dua hari sebelum pernikahan. Saat mencari keberadaannya, Clara justru terlibat hubungan rumit dengan saudara laki-laki tunangannya yang kaku tetapi sangat memikat. Di tengah pusaran rahasia gelap keluarga dan godaan terlarang, ia sadar bahwa kebenaran yang terungkap bisa menghancurkan hidupnya atau justru memberinya kekuasaan besar yang ia dambakan.
Sampul Novel Mau Dimadu Demi Membalas Suami Peselingkuh
8.3
Fiona Larasati rela melakukan apa saja demi membahagiakan suaminya, mulai dari merawat diri hingga mengurus dapur. Sialnya, pengorbanan itu dibalas dengan pengkhianatan keji saat ia mendapati sang suami berselingkuh dengan iparnya sendiri. Alih-alih membela, ibu mertuanya malah merestui hubungan gelap itu. Merasa hancur dan enggan terus ditindas, Fiona menolak pasrah. Ia kini mulai merancang sebuah rencana balas dendam yang rapi demi menghancurkan hidup mereka.
Sampul Novel Nafsu Kakak Tiriku
9.6
Nando memendam obsesi kelam pada Laily, adik tirinya yang santun. Suatu malam, ia nekat mencoba melecehkan Laily saat gadis itu hendak beribadah. Beruntung, Abdi yang sedang mabuk datang menolong. Namun nasib malang menimpa Abdi ketika ia justru difitnah sebagai pelaku asusila tersebut. Akibat salah paham yang berkembang, Abdi pun terpaksa menikahi Laily demi bertanggung jawab atas tuduhan keji yang menjerat dirinya.
Sampul Novel Setulus Cinta Ana
8.2
Upaya keras Ana untuk melupakan perasaannya pada Aris akhirnya menemui jalan buntu. Meski berulang kali mencoba menjauh, takdir selalu mempertemukan mereka kembali dalam berbagai momen tak terduga. Menyerah pada keadaan, Ana pun memutuskan untuk menyambut cinta Aris. Kini, ia mulai berpikir apakah rentetan kebetulan ini merupakan isyarat nyata bahwa mereka memang digariskan bersama dalam ikatan kasih yang tulus.