APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perjodohan Tidak Diinginkan

Perjodohan Tidak Diinginkan

Di usia 22 tahun, Nadira terpaksa menikahi Adrian, seorang pengusaha sukses yang rupanya telah memiliki istri bernama Rania. Pernikahan ini sebenarnya adalah rencana kakek Adrian guna menutupi rahasia kelam sang istri pertama demi menjaga nama baik keluarga mereka. Terjebak dalam kemelut rumah tangga yang rumit dan penuh tekanan, Nadira kini menghadapi ketidakpastian. Akankah Adrian akhirnya menerima kehadirannya, ataukah konflik membara dengan Rania justru akan menghancurkan hidupnya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Hari-hari setelah pernikahan terasa seperti penjara bagi Nadira. Dia tidak hanya harus menghadapi sikap dingin Adrian, tetapi juga tekanan dari Rania yang selalu mencari cara untuk menjatuhkannya. Setiap langkah yang diambil Nadira terasa diawasi, dan setiap kata yang diucapkan seolah selalu salah di mata Rania.

Suatu pagi, Nadira sedang menyiapkan sarapan di dapur. Dia tahu ini bukan tugasnya, tetapi memasak adalah satu-satunya pelarian dari tekanan yang dia rasakan. Ketika dia sedang menuangkan kopi, Rania masuk dengan langkah cepat.

"Kau pikir kau bisa merebut perhatian Adrian dengan cara ini?" Rania berkata sinis sambil melipat tangan di dada.

Nadira menoleh perlahan, berusaha tetap tenang. "Aku hanya ingin membantu. Aku tidak berniat mengambil apa pun darimu, Rania."

Rania tertawa kecil, tapi tidak ada humor di matanya. "Membantu? Jangan berpura-pura. Kau tidak dibutuhkan di sini. Kalau kau benar-benar ingin membantu, pergilah. Tinggalkan rumah ini dan hidup seperti seharusnya, jauh dari kami."

Nadira menatap Rania, matanya mulai memerah karena menahan air mata. "Aku juga tidak ingin berada di sini, tapi aku melakukannya untuk keluarga dan untuk memenuhi kewajiban yang diberikan padaku."

"Omong kosong!" Rania mendekat, menatap Nadira dengan penuh kebencian. "Kau hanya seorang gadis muda yang naif. Kau tidak tahu apa-apa tentang pernikahan, apalagi tentang cinta. Adrian tidak akan pernah mencintaimu, dan aku akan memastikan itu."

Konflik dengan Adrian

Malam itu, Adrian pulang lebih awal dari biasanya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi masih membawa aura otoritas yang membuat siapa pun merasa segan. Dia langsung menuju ruang tamu, di mana Nadira sedang membaca buku.

"Kenapa kau di sini?" tanya Adrian dengan nada datar.

Nadira menutup bukunya dan berdiri. "Aku hanya ingin bersantai. Kalau ini mengganggumu, aku bisa pergi."

Adrian menghela napas, lalu duduk di sofa tanpa menghiraukannya. Namun, saat Nadira hendak pergi, dia memanggilnya.

"Nadira."

Nadira berhenti dan berbalik, menunggu Adrian melanjutkan.

"Aku ingin kau tahu satu hal," katanya, menatap lurus ke arah Nadira. "Pernikahan ini hanyalah formalitas. Jangan berharap lebih dariku."

Nadira merasa hatinya remuk, tetapi dia mencoba tetap kuat. "Aku tidak pernah meminta apa pun darimu, Adrian. Aku hanya ingin menjalankan kewajibanku tanpa mengganggu hidupmu."

Adrian mengangguk kecil, lalu berkata dengan nada dingin, "Bagus. Kalau begitu, pastikan kau tetap berada di batasmu. Jangan coba-coba ikut campur dalam urusanku dengan Rania."

Nadira menelan ludah, menahan emosi yang meluap di dadanya. "Aku mengerti."

Namun, malam itu, Nadira tidak bisa tidur. Kata-kata Adrian terus terngiang di kepalanya, membuatnya merasa semakin terasing.

Kemarahan Rania Memuncak

Beberapa hari kemudian, situasi memanas saat Rania menemukan Adrian berbicara dengan Nadira di taman. Sebenarnya, percakapan mereka hanyalah tentang tugas rumah tangga, tetapi Rania melihatnya sebagai ancaman.

"Adrian!" teriak Rania sambil menghampiri mereka. "Apa yang kau lakukan di sini bersamanya?"

Adrian, yang sedang berdiri di bawah pohon, menoleh dengan ekspresi bingung. "Kami hanya berbicara."

"Berbicara? Jangan bohong padaku!" Rania memotong dengan nada tinggi. Dia lalu menatap Nadira tajam. "Kau tidak punya hak mendekati suamiku. Kau lupa siapa aku?"

Nadira mencoba menjelaskan. "Aku tidak bermaksud apa-apa, Rania. Aku hanya-"

"Diam!" bentak Rania, wajahnya memerah karena amarah. "Kau tidak punya tempat di sini. Kau hanyalah istri kedua. Ingat itu!"

Adrian akhirnya angkat bicara, suaranya tegas. "Rania, cukup! Aku tidak ingin ada drama di sini."

Namun, Rania tidak peduli. Dia mendekat ke Adrian, menunjuk Nadira. "Kalau kau biarkan dia terus seperti ini, jangan salahkan aku kalau aku kehilangan kendali!"

Nadira mundur perlahan, merasa tidak punya tempat untuk berlindung. Dia tidak ingin memperkeruh suasana, tetapi dia juga tidak tahu bagaimana harus bertahan.

Kehidupan yang Terusik

Hari-hari berikutnya semakin berat bagi Nadira. Rania mulai menunjukkan sikap yang lebih ekstrem, termasuk memerintahkan pelayan untuk mengabaikan kebutuhan Nadira. Dia bahkan melarang Nadira memasuki beberapa ruangan di rumah itu, seolah-olah Nadira hanyalah tamu yang tidak diinginkan.

Suatu malam, saat Nadira mencoba tidur, dia mendengar pintu kamarnya diketuk. Ketika dia membuka pintu, Adrian berdiri di sana dengan wajah serius.

"Kita perlu bicara," katanya tanpa basa-basi.

Nadira mengangguk dan membiarkannya masuk.

"Aku tahu kau sedang mengalami masa sulit di sini," Adrian memulai, nada suaranya sedikit melunak. "Tapi aku perlu kau bertahan. Jangan biarkan Rania memprovokasimu."

Nadira mengangkat alis, terkejut dengan nada perhatian yang jarang ditunjukkan Adrian. "Aku tidak berniat memprovokasinya. Tapi, Adrian, aku juga manusia. Aku punya batas kesabaran."

Adrian mengangguk kecil. "Aku tahu. Aku hanya minta satu hal darimu: bertahanlah. Untuk Kakekku, untuk keluarga kita."

Nadira menatapnya, matanya berkaca-kaca. "Dan untuk dirimu? Apa aku punya tempat di hatimu, Adrian?"

Adrian terdiam, lalu berbalik tanpa menjawab. Jawabannya yang tidak terucap lebih menyakitkan daripada kata-kata apa pun.

Nadira tertidur dengan air mata membasahi pipinya. Di rumah besar itu, dia merasa seperti orang asing. Dengan Rania yang penuh kebencian dan Adrian yang sulit ditebak, dia bertanya-tanya apakah ada jalan keluar dari pernikahan yang dipaksakan ini.

Tapi di sudut hatinya, ada harapan kecil yang masih menyala. Akankah waktu mengubah segalanya? Ataukah dia akan terus hidup dalam bayang-bayang wanita lain?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Affair
8.8
Dinginnya hubungan pernikahan saat ini membuat kenangan manis bersama Hany, sang mantan kekasih, kembali membayangi hari-hariku. Nostalgia masa lalu itu terus hadir hingga menjadi beban berat yang mengancam keutuhan rumah tangga yang sedang kujalani. Di tengah godaan memori indah yang tak kunjung sirna, mampukah pernikahan ini bertahan dari kehancuran?
Sampul Novel Kembalinya Istriku
8.0
Demi menyelamatkan keluarganya dari krisis keuangan dan musibah sang suami, Maharani rela bekerja keras sebagai TKW di negeri orang. Malang, pengorbanan tulus itu justru dikhianati oleh Rudi yang tega menipunya. Luka hati Rani kian menganga saat putra tunggalnya wafat akibat kelalaian keluarga suaminya. Kini, berbekal kepedihan yang mendalam, Rani bersiap menuntut balas kepada setiap orang yang telah menghancurkan hidup dan masa depannya.
Sampul Novel Matahari di Atas Benua
8.2
Saat menuju resor mewah di Swiss, penulis muda ambisius bernama Bella dipertemukan dengan Alex, fotografer sinis yang tidak lagi percaya cinta. Di balik petualangan tak terduga yang menyatukan mereka, keduanya memendam rahasia besar. Bella menghadapi tekanan karier dari keluarganya, sedangkan Alex terus dibayangi masa lalu yang kelam. Di tengah pesona pegunungan Alpen, mereka kini dihadapkan pada pilihan sulit: berani bertaruh demi cinta sejati atau membiarkan kesempatan itu pergi selamanya.
Sampul Novel Menjalani Sisa Hidup Sendiri
8.6
Pernikahan Colby dengan Ruben, sang pewaris Grup Gibson, terhalang restu keluarga. Brenda, nenek Ruben, menantang cinta mereka lewat taruhan tiga tahun. Jika berhasil bertahan, hubungan mereka akan direstui. Namun jika gagal, Colby harus mundur demi wanita yang sepadan. Colby sangat percaya diri karena Ruben bersedia mengorbankan apa pun demi dirinya. Sayangnya, di tahun ketiga yang krusial, keyakinan itu runtuh saat Ruben justru berkhianat.
Sampul Novel MENOLAK NAFKAH BATIN
9.4
Setelah melahirkan anak pertama, Vania harus menghadapi penolakan nafkah batin dari Prabu, suaminya. Sikap misterius sang suami memicu kecurigaan, hingga Vania menemukan pesan rahasia antara Prabu dan mahasiswinya, Marsya. Walau kepergok berduaan, Prabu berdalih semua itu hanya kebetulan. Merasa dikhianati dan hancur, Vania tidak tinggal diam. Ia menyusun rencana balas dendam demi memberi sanksi sosial bagi dosen tersebut sekaligus membuat suaminya menyesali perbuatannya.
Sampul Novel Obat Posesif Untuk Ratu Es
8.4
Sebagai Ratu Es, aku memendam rahasia kelainan PGAD yang menyiksa. Ketika menghadiri gathering di Puncak tanpa membawa obat penekan hormon, aku justru terjebak dalam kamar sempit bersama bosku yang kaku, Dhimas Pakpahan. Di tengah gairahku yang mendadak tak terkendali, Dhimas hadir memberikan sentuhan intim serta menghajar rekan mesum yang nyaris melecehkanku. Namun kini, ketakutan baru melandaku saat Dhimas dengan posesif mengklaim bahwa hanya dirinyalah satu-satunya obat bagi tubuhku.