
Perjalanan Menuju Cinta Sejati
Bab 3
Dia bilang, bahwa antara aku dan dia tidak pernah ada hubungan di luar pekerjaan. Orang yang dia cintai adalah Chintia, dan selamanya dia hanya akan mencintai Chintia.
Setetes air mata jatuh dari mataku.
Aku tahu, sekarang waktunya aku harus mengambil keputusan.
Aku memikirkan banyak hal.
Terbayang kembali bagaimana Handi dulu sepertinya sangat memperhatikanku.
Saat aku dinas ke luar negeri, dia rela terbang setengah dunia untuk merayakan ulang tahunku.
Saat aku sakit demam, dia begadang semalaman tanpa tidur.
Namun sekarang, semua kebaikan itu sudah dia tarik kembali dan diberikan ke gadis lain.
Cinta atau tidak cinta, sebenarnya sangat jelas terlihat.
Kalau begitu, Handi, lebih baik kita berpisah baik-baik. Jangan saling menghubungi lagi di masa depan.
Aku pergi ke sebuah waduk dan melemparkan untaian gelang manik-manik cendana itu jauh ke dalam air.
Saat aku hendak pergi, tiba-tiba hujan turun dengan deras.
Sambil tersenyum tipis, aku menggunakan jaket untuk menutupi kepala, lalu berjalan menembus hujan.
Hujan deras dan angin kencang menerpa tubuhku dan membuatku merasa sangat kedinginan.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depanku.
Jendela mobil itu perlahan turun.
Tampaklah sebuah wajah dingin dengan ekspresi keras.
Itu adalah Jeffry Reswara, CEO grup properti terbesar di Kota Amandria.
Kabarnya, dia sempat kuliah di Amerikana dan baru-baru ini kembali ke negara ini.
Dia dikenal sebagai sosok yang tegas dan tanpa kompromi.
Sumber daya dan bisnisnya tidak kalah dari Grup Wenas.
Beberapa hari lalu, aku sempat melihatnya saat menemani Handi di sebuah acara.
"Naiklah, di tempat ini nggak ada taksi," katanya dengan nada santai.
Aku melihat aplikasi taksi di ponselku.
Memang tidak ada satu pun yang menerima pesananku.
Aku mengucapkan terima kasih dengan pelan, lalu membuka pintu dan masuk ke mobilnya.
Jeffry melirikku dan melemparkan sebuah handuk kecil.
"Keringkan rambutmu," katanya singkat.
Dia berbicara santai sambil memegang setir dengan tangan kiri, dan tangan kanannya memegang ponsel, seperti sedang mencari rute di navigasi.
"Mau diantar ke mana?"
Pertanyaan itu sebenarnya agak sulit untuk dijawab.
Selama ini aku tinggal di vila milik Handi.
Namun, semua barangku masih ada di sana. Kalau ingin benar-benar menyelesaikan semuanya, aku harus mengambil barang-barangku.
Aku berkata, "Barang-barangku belum kuambil. Tolong antar aku ke kompleks vila Pak Handi."
Tanpa berkata apa-apa, Jeffry mengemudikan mobil sampai tiba di depan vila Handi.
Saat aku bersiap turun, tiba-tiba dia memanggilku.
"Nona Verin, bagaimana kalau kita bekerja sama? Aku bisa membantumu lepas dari Handi, dan kamu juga bisa membantuku dengan satu hal."
Jeffry berbicara begitu santai, seolah-olah sedang membahas cuaca hari ini.
"Aku butuh pasangan untuk menikah agar bisa menghentikan omelan para orang tua di keluargaku."
Aku menatapnya dengan mata terbelalak.
Bahkan sesaat aku tidak bisa bereaksi.
"Pasangan untuk menikah?"
"Ya." Jeffry mengangguk mengonfirmasi.
Aku berpikir sejenak, lalu tersenyum tipis. "Maaf, Pak Jeffry, sepertinya aku nggak cocok. Tanpa Handi, aku tetap bisa mengurus diri sendiri."
Setelah mengatakan itu, aku berniat untuk langsung membuka pintu dan turun.
Jeffry tidak melanjutkan pembicaraan, tetapi menyerahkan sebuah kartu nama.
"Kalau begitu, semoga sukses ya, Nona Verin."
"Kalaupun kerja sama kita tidak berhasil, kita masih bisa berteman. Ini kartu namaku. Kalau kamu butuh sesuatu, silakan hubungi aku kapan saja."
Aku berpikir sejenak, lalu akhirnya menerima kartu namanya.
Setelah itu, aku turun dari mobil dan berjalan menuju vila Handi.
Di dalam vila itu, suasananya kosong dan sangat sunyi.
Sulit dipercaya bahwa tempat ini biasanya ramai dan penuh kegembiraan.
Ketika kepala pelayan melihatku, dia langsung berkata.
"Nona Verin, Anda kembali ...."
Aku mengangguk, tidak banyak bicara, dan langsung naik ke lantai dua menuju kamarku.
Namun, ketika pintu kamar dibuka, aku melihat Handi ada di sana.
Dia duduk di depan beberapa koper besar yang sudah kupersiapkan tadi pagi sebelum pergi, sambil memegang ponsel, seperti sedang menunggu pesan atau telepon dari seseorang.
Anda Mungkin Juga Suka





