
Perjalanan Menuju Cinta Sejati
Bab 4
Udara di dalam kamar terasa pengap, sepertinya dia sudah banyak merokok lagi.
Mendengar suara pintu terbuka, dia mengangkat wajahnya, matanya menatap ke arahku.
"Verin, kamu mau pindah?"
Aku mengabaikannya dan langsung berjalan ke lemari. Aku membuka laci, mengambil dokumen dan dompetku, lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Sedang apa kamu?"
Nada suara Handi jelas terdengar panik, dan suaranya serak.
"Untuk apa kamu bawa semua itu?"
Aku menjawab dengan datar, "Kamu akan segera menikah dengan Cinthia. Pagi tadi kalian sudah mengumumkannya, bukan? Kalau aku terus tinggal di sini, tentu nggak baik untuk kita semua."
Ketika aku hendak mengangkat koper di lantai, Handi mencengkeram pergelangan tanganku.
"Kamu tahu 'kan, masalah aliran dana perusahaan? Hanya keluarga Barata yang bisa membantu."
"Kamu pasti juga tahu, semua ini hanya sandiwara."
"Jangan begini, Verina."
Matanya memerah, dia menatapku lekat-lekat.
"Kita kembali seperti dulu, ya?"
Seperti dulu? Menjadi burung dalam sangkar, tanpa nama dan tanpa status.
Aku tidak berkata apa-apa, hanya mengangkat koper yang ada di lantai.
Di depan pintu kamar, aku menggelengkan kepala ke arahnya.
"Handi, kita sudah selesai. Aku nggak berutang padamu, dan kamu juga nggak ada utang padaku."
"Mulai sekarang, kita nggak perlu lagi saling berhubungan."
Aku melangkah pergi, tetapi tiba-tiba di belakangku terdengar suara kaca pecah karena ditendang.
"Verin." Handi memanggilku dengan suara tertahan.
"Ingat ini, kalau kamu pergi hari ini, aku akan langsung menghentikan pengobatan kakakmu."
"Dengan kondisimu sekarang, kamu nggak akan sanggup menanggung biaya yang sebesar itu sendirian."
Langkahku terhenti, dan aku membeku di tempat.
Ya, tujuh tahun lalu, saat aku hampir lulus kuliah, kakakku menemukan aku.
Selama ini aku mengira dia bersama Ayah dan Ibu telah meninggal dalam kecelakaan di luar kota.
Namun ternyata, selama ini dia terus mencariku.
Setelah aku pindah bersama keluarga Handi ke Kota Amandria, aku benar-benar putus kontak dengan orang-orang yang kukenal sebelumnya.
Kakakku akhirnya berhasil menemukanku, tetapi saat itu dia sudah menderita penyakit ginjal yang parah.
Dengan bantuan Handi, dia menjalani transplantasi ginjal. Namun, terjadi komplikasi selama operasi yang membuatnya berada dalam kondisi koma dan seumur hidup bergantung pada obat.
Semua obatnya adalah obat impor dan sangat mahal. Saat itu, sebagai seorang mahasiswa yang baru lulus, aku tidak mampu membiayainya. Tidak ada pilihan lain, aku pun menerima syarat Handi.
Yaitu menjadi wanitanya, mendampingi dia.
Dan itu berlangsung selama tujuh tahun.
Aku pikir suatu hari dia akan menikahiku, tetapi akhirnya aku sadar, di matanya aku hanyalah mainan yang bisa dipakai dan dibuang sesuka hatinya.
Bahkan mainan yang paling tidak berharga.
Aku menggigit bibir, lalu melangkah pergi.
Kali ini, apa pun yang terjadi, aku harus mencoba untuk membuat perubahan.
Namun, kenyataannya sangat kejam. Baru saja aku menaruh koper di hotel, aku menerima telepon dari rumah sakit.
Ternyata Handi benar-benar menghentikan obat dan infus kakakku.
Tanpa infus, tanda-tanda vital kakakku langsung mengalami masalah.
Aku tidak ingin kembali dan memohon pada Handi. Dalam keputusasaan, aku teringat pada Jeffry.
Aku menelepon nomor di kartu nama yang dia berikan padaku.
Jeffry langsung memindahkan kakakku ke rumah sakit lain dan mencari dokter terbaik di seluruh Amandria untuk memeriksanya.
Setelah keluar dari rumah sakit, Jeffry membawaku ke rumahnya di Kota Norda.
Ekspresi ragu di wajahku mungkin sudah cukup menunjukkan isi hatiku saat itu.
Jeffry membuka pintu dengan sidik jarinya, lalu memandangku. Suaranya dingin tanpa emosi sedikit pun.
Anda Mungkin Juga Suka





