APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perih Dicintai yang Tak Direstui

Perih Dicintai yang Tak Direstui

Lima tahun berpacaran membuat Luna yakin Arman adalah jodohnya. Namun demi menjaga kehormatan sang ayah yang sakit, ia terpaksa menikahi Reza, tunangan sepupunya. Di tengah pengorbanan itu, ia mendapati kenyataan pahit bahwa Arman berselingkuh dengan Nadia hingga memiliki anak. Kini, Luna harus menjalani pernikahan tanpa cinta bersama Reza yang tidak bekerja, sambil terus meratapi hancurnya impian masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 2

Luna membuka mata ketika sinar pagi menembus celah tirai. Suara kota yang mulai sibuk terdengar samar di kejauhan-knalpot motor, langkah kaki orang yang tergesa-gesa, dan bel sepeda anak-anak yang bermain di jalan. Di rumahnya, kesunyian terasa menekan. Reza masih tertidur di kamar sebelah, napasnya teratur, wajahnya yang lembut membuat Luna merasa bersalah. Rasa bersalah itu bukan karena ia tidak mencintai Reza, tapi karena hatinya masih terpaut pada Arman, pria yang kini berada di tempat lain, jauh dari genggaman.

Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan pelan ke jendela. Di luar, tetangga sedang menyiapkan halaman rumah mereka, menyapu daun-daun kering yang berjatuhan. Luna menghela napas, memikirkan keputusan yang ia buat. Menjadi istri Reza bukan sekadar tentang cinta atau perasaan; itu tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan menjaga harga diri keluarga. Namun, tanggung jawab itu juga menghadirkan tekanan yang semakin berat setiap harinya.

Di dapur, Luna menemukan tumpukan surat dan tagihan yang belum dibayar. Ia duduk, menatap angka-angka yang membuat kepala pusing. Reza selama ini mencoba mengatur keuangan seadanya, tapi pekerjaan yang tidak tetap membuat segalanya tak pasti. Luna tahu, ia tidak bisa terus bergantung pada kenyamanan semu yang Reza coba ciptakan. Ia harus ikut bertanggung jawab, meski rasanya hati ini ingin menyerah.

Bel pintu berdering. Luna bergegas ke depan, dan ia menemukan sosok yang tak ia harapkan: ibu Reza, Bu Ratna, berdiri dengan wajah tegas dan tatapan yang sulit ditebak.

"Luna... aku datang karena khawatir. Kau... kau terlihat berbeda belakangan ini," kata Bu Ratna, suaranya lembut tapi menuntut perhatian.

Luna mengangguk, menahan diri untuk tidak menunjukkan kepanikan. "Ibu, aku... hanya lelah. Banyak hal yang harus diurus."

Bu Ratna menatapnya lama. "Luna... kau harus jujur. Reza bukan anak yang sempurna, tapi ia berusaha. Dan aku melihat kau... kau menutup sesuatu darinya. Aku tahu kau memiliki masa lalu, tapi jangan biarkan itu merusak rumah tangga kalian."

Luna menunduk. Ia tahu Bu Ratna benar, tapi hatinya belum siap untuk membuka semuanya. "Aku... aku tidak ingin menyakiti siapa pun, Bu. Aku hanya... mencoba bertahan."

Percakapan itu selesai dengan ketegangan yang tak terdengar. Bu Ratna pergi dengan langkah pelan, meninggalkan Luna sendiri dengan pikiran yang berputar. Ia sadar, kehidupan ini tidak akan pernah sederhana. Rahasia, pengkhianatan, dan rasa sakit masa lalu terus mengikuti setiap langkahnya.

Siang itu, Luna menerima telepon dari kantor ayahnya. Suara sekretaris terdengar tegang. "Bu Luna... ayah sedang pingsan di rumah sakit. Dokter menyarankan agar segera ke sana."

Luna segera bergegas, meninggalkan rumah dengan perasaan campur aduk. Di mobil, pikirannya melayang ke Arman, ke Nadia, ke bayi yang tidak ia ketahui sebelumnya. Ia menyadari, hidupnya seperti bola salju yang terus menggelinding tanpa bisa ia kendalikan.

Di rumah sakit, ayahnya terbaring lemah. Wajahnya pucat, napasnya tersengal-sengal. Luna menggenggam tangan ayahnya, air mata menetes. "Ayah... aku di sini. Aku akan tetap kuat untukmu," bisiknya.

Namun di balik itu, ia juga memikirkan Reza yang menunggu di rumah. Ia tahu bahwa ketika ayahnya pulih, ia harus kembali ke rumah dan menghadapi pernikahannya yang penuh ketidakpastian. Hatinya merasa terbelah, antara cinta pada masa lalu dan tanggung jawab pada masa kini.

Malamnya, Reza pulang lebih awal dari biasanya. Ia membawa dokumen pekerjaan dan beberapa bahan makanan. Mata mereka bertemu, dan ada keheningan yang aneh. Reza menaruh dokumen di meja, lalu duduk di sofa.

"Luna... kau terlihat... berbeda hari ini," katanya, suaranya rendah. "Aku bisa merasakan ada yang mengganggu pikiranmu."

Luna menarik napas panjang. "Reza... aku hanya... lelah. Banyak hal terjadi hari ini. Ayahku... hampir pingsan. Aku takut kehilangan kendali."

Reza mengangguk, menahan emosi yang berkecamuk di dalam dada. Ia ingin memeluk Luna, ingin menenangkan hatinya, tapi ia tahu Luna belum siap. Ia hanya bisa duduk di sana, menjadi penopang diam yang Luna butuhkan.

Hari-hari berikutnya, tekanan hidup semakin berat. Reza mulai menghadapi masalah di pekerjaan sampingannya, Luna harus mengurus ayahnya, dan rahasia tentang Arman dan Nadia semakin sering menghantui pikirannya. Ia mulai menerima surat-surat aneh, panggilan misterius, bahkan bisikan tetangga yang menanyakan tentang bayi yang dikandung Nadia. Semua itu membuat Luna merasa seperti berada di tengah badai yang tak pernah reda.

Suatu sore, Luna memutuskan untuk pergi berjalan-jalan. Ia membutuhkan udara segar dan waktu sendiri. Di taman kota, ia duduk di bangku kayu, menatap anak-anak bermain, orang-orang yang tertawa, dan dunia yang tampak begitu normal. Namun di dalam dirinya, semuanya berantakan. Ia memikirkan Reza, Arman, dan Nadia. Ia memikirkan bagaimana ia harus menghadapi semuanya, bagaimana ia harus tetap tegar meski hatinya terus hancur.

Tiba-tiba, seseorang duduk di bangku yang sama. Suara itu lembut, tapi cukup untuk membuat Luna menoleh.

"Luna... aku tahu ini sulit. Aku tidak di sini untuk menyakiti, hanya ingin kau tahu... ada jalan keluar."

Luna menatap pria itu. Ternyata Arman. Mata mereka bertemu, dan dunia seakan berhenti sejenak. Luna merasakan campuran emosi: sakit, marah, rindu, dan kebingungan.

"Arman... kau seharusnya tidak di sini," kata Luna dengan suara bergetar. "Aku... aku sudah menikah. Aku harus setia pada Reza."

Arman menghela napas. "Aku tahu... tapi aku tidak bisa diam. Aku tidak bisa melihatmu tersiksa. Luna... ada hal-hal yang harus kau ketahui, keputusan yang harus kau buat, sebelum semuanya terlalu jauh."

Luna menatapnya, merasa hatinya terguncang. Ia tahu Arman benar. Rahasia yang ia sembunyikan dari Reza, rahasia yang Nadia simpan, semuanya akan mengubah hidupnya lebih drastis jika terus dipendam. Namun ia juga takut. Takut jika kebenaran itu akan menghancurkan semua yang sudah dibangun, termasuk rumah tangga yang rapuh ini.

Di rumah, Reza mulai merasakan perubahan sikap Luna. Ia mencurigai ada sesuatu yang disembunyikan, tapi tidak bisa menanyakan secara langsung. Ia memutuskan untuk memantau dan memahami, bukan menekan. Ia ingin memberi ruang, tapi sekaligus tetap dekat, agar Luna tidak merasa sendiri.

Malam itu, Luna menulis di jurnalnya: "Aku berada di persimpangan jalan. Masa laluku terus mengejarku, masa depanku penuh ketidakpastian. Aku tidak tahu siapa yang harus kupercayai, siapa yang harus kuikuti. Tapi satu hal pasti: aku harus kuat. Untuk ayahku, untuk diriku, dan... untuk pernikahanku yang rapuh ini."

Di luar, hujan mulai turun, menetes di jendela kamar. Suara tetesannya seperti irama yang mengiringi ketegangan batin Luna. Ia tahu, badai yang lebih besar akan datang, dan ia harus bersiap untuk menghadapi semua rahasia, pengkhianatan, dan pilihan yang akan menentukan hidupnya.

Dan malam itu, ia sadar satu hal: pernikahan hanyalah permukaan dari masalah yang jauh lebih dalam. Rahasia yang tersembunyi, hubungan yang terlarang, dan tanggung jawab yang menumpuk akan segera memaksa Luna menghadapi kebenaran yang tidak bisa ia hindari.

Luna membuka mata, menatap plafon kamar dengan pandangan kosong. Suara kota di luar terdengar samar—orang-orang mulai beraktivitas, kendaraan lalu lalang, anak-anak berteriak gembira. Tapi di dalam dirinya, Luna merasakan keheningan yang menekan. Hari-hari pernikahannya dengan Reza kini terasa lebih rumit daripada yang ia bayangkan.

Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan ke jendela, menatap halaman rumah. Reza belum bangun. Selama beberapa minggu terakhir, rutinitas mereka berubah drastis. Reza pulang larut, sibuk dengan urusan pekerjaan sampingan, sementara Luna harus menghadapi tanggung jawab keluarga, terutama ayahnya yang masih lemah. Tapi lebih dari itu, ada ketegangan yang tidak bisa ia abaikan: rasa bersalah karena masih memikirkan Arman, dan rahasia yang ia ketahui tentang Nadia dan bayinya.

Pagi itu, Luna memutuskan untuk keluar rumah. Ia membutuhkan udara segar dan ruang untuk berpikir. Ia berjalan kaki menuju taman kota, melewati jalan yang ramai dengan pedagang dan orang-orang yang bergegas. Tiba di taman, ia duduk di bangku kayu, menatap orang-orang yang beraktivitas. Anak-anak bermain, orang dewasa berbincang, pasangan berjalan berpegangan tangan. Semua tampak normal, tapi Luna merasa dunianya berantakan.

Tiba-tiba, teleponnya berdering. Nomor yang tidak dikenal muncul di layar. Luna menghela napas, menekan tombol jawab.

“Luna… kau tidak boleh menyepelekan ini,” suara pria di seberang terdengar tegas dan penuh kepanikan. “Ada yang memantau gerak-gerikmu. Mereka tahu kau mengetahui rahasia besar.”

Luna menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. “Siapa ini? Apa maksudmu?”

“Aku tidak bisa menjelaskan lewat telepon. Temui aku di gedung tua di pinggir kota. Cepat, sebelum terlambat.” Suara itu memutuskan komunikasi.

Luna berdiri dengan gemetar. Gedung tua? Rahasia besar? Ia tidak tahu siapa yang dimaksud, tapi satu hal jelas: bahaya semakin dekat. Ia memutuskan untuk pergi, meninggalkan taman tanpa menoleh.

Di sisi lain kota, Reza mulai curiga. Selama beberapa hari terakhir, Luna sering pergi tanpa memberi tahu tujuan, sering menatap ponsel dengan wajah tegang, dan tampak gelisah. Ia tidak menanyakan secara langsung, tapi perasaan yang menekan membuatnya waspada. Sebagai suami, ia ingin melindungi Luna, tapi ia juga tidak ingin menjadi sumber tekanan baru.

Luna tiba di gedung tua itu, sebuah bangunan yang tampak tak terpakai, dindingnya retak, jendela pecah, dan cat yang mengelupas. Di dalam, lampu redup menyorot sosok seseorang yang sudah menunggu.

“Jangan takut,” kata pria itu sambil melangkah maju. Wajahnya tertutup bayangan, tapi sorot matanya tajam. “Aku tahu kau berada di tengah masalah besar, dan kau harus membuat keputusan segera.”

Luna menatapnya curiga. “Siapa kau? Apa maksud semua ini?”

Pria itu mengeluarkan amplop tebal, menyerahkannya pada Luna. “Ini bukti. Bukti tentang Arman, Nadia, dan bayi mereka. Kau perlu tahu semuanya sebelum terlambat.”

Luna membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Foto-foto, pesan teks, catatan rahasia—semua yang ia curigai kini nyata di depan matanya. Tubuhnya gemetar, jantungnya terasa seperti berhenti sejenak. Selama ini ia mencoba bertahan, menahan rahasia itu sendiri, tapi kini semuanya berada di tangannya.

Keesokan harinya, Luna kembali ke rumah dengan kepala berat. Reza menatapnya, curiga. “Luna… kau terlihat berbeda. Ada sesuatu yang ingin kau katakan?”

Luna menelan ludah, memutuskan untuk menunda pembicaraan. “Tidak… hanya lelah, itu saja,” jawabnya singkat.

Tapi Reza tahu ia berbohong. Ia bisa merasakan sesuatu yang besar sedang terjadi. Sebagai suami, ia ingin membantu, tapi ia juga tahu Luna harus membuka diri sendiri. Malam itu, setelah Reza tertidur, Luna menulis di jurnalnya: “Segalanya semakin rumit. Rahasia yang aku simpan, rahasia yang aku ketahui, semuanya menekan. Aku tidak tahu harus berbuat apa, tapi aku harus menghadapi ini. Tidak ada jalan mundur lagi.”

Hari-hari berikutnya, ketegangan di rumah meningkat. Reza semakin sering pulang larut, membawa wajah tegang. Ia mulai menyadari bahwa keuangan rumah tangga semakin berat, dan beban yang ditanggung Luna lebih besar daripada yang ia sadari. Ia memutuskan untuk berusaha lebih keras, tapi sekaligus memberi ruang bagi Luna untuk menenangkan diri.

Suatu sore, Luna memutuskan untuk menghadapi Nadia. Ia mendatangi rumah sepupunya, ketukan pintu terdengar seperti detak jantung yang tak menentu. Nadia membuka pintu, tampak kaget melihat Luna.

“Kau… kau datang…” suara Nadia terdengar ragu.

“Aku datang untuk bicara, Nadia. Tentang bayi yang kau kandung, tentang Arman, tentang semua rahasia yang selama ini kau sembunyikan,” kata Luna tegas.

Nadia menunduk, menahan air mata. “Aku… aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak ingin kau tersakiti, Luna. Tapi Arman… ia…” Suaranya terputus.

Luna menarik napas panjang. “Aku tidak ingin menyalahkanmu, Nadia. Tapi aku perlu kebenaran. Aku harus tahu semuanya sebelum terlambat. Hidupku, pernikahanku, semuanya… tergantung bagaimana aku menghadapi ini.”

Pertemuan itu memunculkan ketegangan baru. Nadia mengakui semuanya—hubungannya dengan Arman, bayi yang dikandung, bahkan tekanan dari keluarga mereka. Luna mendengar semua dengan tenang, meski hatinya hancur. Ia tahu satu hal: ia tidak bisa mengabaikan masalah ini lagi.

Di rumah, Reza mulai curiga dengan sikap Luna yang berubah. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik, setiap tatapan, setiap kata yang terucap. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan, tapi ia tidak bisa menekan. Ia memutuskan untuk mempersiapkan diri menghadapi apa pun yang akan terungkap.

Malam itu, Luna menatap bulan dari jendela kamar. Hujan turun pelan, menetes di kaca, seperti irama yang mengiringi ketegangan batinnya. Ia sadar bahwa badai yang lebih besar akan datang. Rahasia yang tersembunyi, hubungan yang terlarang, tanggung jawab yang menumpuk, semuanya akan segera memaksa Luna menghadapi kebenaran yang tidak bisa ia hindari.

Dan malam itu, satu hal menjadi jelas: pernikahan hanyalah permukaan dari masalah yang jauh lebih dalam. Rahasia yang tersembunyi, hubungan yang terlarang, dan tanggung jawab yang menumpuk akan segera memaksa Luna menghadapi kebenaran yang tidak bisa ia hindari. Ia tahu bahwa hidupnya akan berubah drastis, dan setiap pilihan akan menentukan masa depan yang tak bisa diprediksi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Hilang, Dia Mencariku Kemana-mana
9.1
Menjadi kekasih rahasia sekaligus restorator seni bos mafia Denis Sanggu adalah cara mahasiswi miskin sepertiku bertahan hidup. Namun, hubungan lima tahun ini retak saat Denis bertunangan dengan Bella Rosana. Aku tidak hanya dipaksa mengalah saat Bella melukaiku, tetapi Denis bahkan memaksaku menggantikan Bella bermain Rolet Rusia yang mematikan. Setelah mempertaruhkan nyawa demi membalas budi masa lalu, aku pun lenyap, meninggalkan sang mafia yang kini kehilangan akal sehatnya mencariku.
Sampul Novel FINDING MOM
9.1
Seorang gadis nekat menjadi buruh migran di luar negeri demi melacak keberadaan ibu kandungnya. Di tanah rantau, pesonanya memikat beberapa pria, tanpa menyadari salah satu di antaranya adalah kekasih sang ibu. Di sisi lain, ibunya telah lama membuang masa lalu demi kebebasan. Takdir menjadi rumit saat sang gadis dilamar oleh kekasih ibunya tersebut, memicu pergolakan batin hebat di tengah pencarian jati diri dan cinta.
Sampul Novel Godaan kakak iparku
9.5
Aku terjebak dalam situasi rumit akibat sikap posesif kakak iparku yang bersikap layaknya kekasih. Perhatiannya kepadaku bahkan melampaui kepedulian terhadap istrinya sendiri. Di balik perlakuan tidak wajar dan melampaui batas ini, ada sebuah rahasia gelap yang menyelimuti hubungan kami. Kini, aku berada di tengah misteri besar yang memicu keraguan mendalam untuk memercayai kenyataan yang ada.
Sampul Novel Penikmat Sepupu Sendiri
8.7
Bagi miliarder Casanova Ethan Eduardo, wanita hanyalah hiburan di sela bisnis legal dan ilegalnya. Namun, dinginnya hati Ethan mulai terusik oleh ketulusan cinta sang sepupu, Ruby Seraphina Vogue. Hubungan terlarang mereka menghadapi jalan buntu karena restu keluarga tidak berpihak pada mereka. Terlebih, orang tua Ruby telah menyiapkan perjodohan dengan pria lain. Akankah Ethan bersedia membuka diri dan memperjuangkan Ruby di tengah rintangan keluarga?
Sampul Novel Sinar di Balik Pengkhianatan
8.6
Tiga tahun membina rumah tangga dengan gembong jaringan gelap Kota Beirus, Suryanto Pradana, membuat Julianti Sahara harus lolos dari maut sebanyak enam puluh delapan kali. Musuh-musuh suaminya mengincar Julianti sebagai kelemahan terbesar Suryanto. Setelah sebuah ledakan bom hampir merenggut nyawanya, Julianti terbangun di rumah sakit dengan pendengaran yang mendadak pulih. Di sanalah ia mendengar rahasia kejam: pernikahannya hanyalah siasat Suryanto untuk menjadikan dirinya tameng demi melindungi wanita lain yang dicintainya.
Sampul Novel Tetap mencintaimu
9.6
Ketulusan Keyzia Khanza dalam mencintai Yahya Al-Zayyan begitu menguras energi. Bersama dukungan para sahabat, ia akhirnya menyadari bahwa berharap pada manusia hanya akan menggoreskan luka. Bagi mereka, pernikahan adalah ikatan suci yang jauh lebih tinggi daripada pacaran, dengan takdir Tuhan sebagai penentu akhir. Walau badai dan perpisahan mengintai, Keyzia dan Yahya memilih saling menjaga rasa lewat diam dan doa, berharap cinta mereka abadi hingga ke jannah tanpa melukai siapa pun.