APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel PERHIASAN TERKUTUK

PERHIASAN TERKUTUK

Kematian Budhe Sastro menyisakan misteri kelam. Orang-orang yang mengurus jasadnya kini menjadi sasaran teror gaib yang mengerikan. Roh mendiang kembali dari alam kubur, menghantui mereka hingga satu per satu kehilangan akal sehat dan tewas secara mengenaskan. Mengapa arwahnya begitu murka? Kesalahan fatal apa yang tak sengaja diperbuat oleh para pemulasar jenazah tersebut? Selidiki rahasia gelap di balik kutukan yang menuntut balas tanpa ampun ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

Bu RT menyeka keringat di dahinya. Kain kafan itu sudah tidak bisa dipanjangkan lagi. Bu Nur memperhatikan dengan seksama ketika Bu RT sedang berfikir bagaimana caranya memanjangkan kain kafan itu.

"Waduh, bagaimana ini?" tanya Bu Sas kebingungan.

Malam dingin terasa panas di ruangan sempit tertutup itu.

Bu RT, Bu Nur, Bu Sas dan Mbak Tum hendak mengkafani jenazah budhe Sastro yang meninggal tadi sore. Tetapi entah kenapa kain kafan yang hendak mereka gunakan jadi seperti kurang panjang, padahal mereka menggunakan kain yang sudah disediakan oleh RT dan sudah diukur dengan teliti.

Mbak Tum menelan ludah. Dari empat orang di ruangan itu, Mbak Tum lah yang mengenal Budhe Sastro luar dalam. Dia tahu pasti seperti apa keseharian Budhe Sastro.

"Gimana, Tum?" tanya Bu RT.

Mbak Tum menggelengkan kepalanya.

"Saya nggak tahu, Bu RT. Biasanya gimana?" Dia malah balik bertanya.

Mereka berempat berpandang-pandangan. Mereka harus bekerja cepat karena sebentar lagi jenazah Budhe Sastro hendak dimakamkan.

"Ya sudah, begini saja," kata Bu Nur memecah kesunyian, "kain mori, kan bisa ditarik biar agak molor, kita tarik ujungnya sampai ujungnya bertambah panjangnya. Kalau nanti belum berhasil kita harus minta bantuan Pak Modin," kata Bu Nur, suaranya terdengar tidak yakin.

Mereka sepakat dan melakukan apa yang diperintahkan Bu Nur, dan berharap semoga berhasil sehingga tidak ada orang lain yang tahu kejadian ini. Karena mereka tahu setiap ada kejadian aneh pada orang yang meninggal pasti menjadi gosip di kampung mereka yang masih kolot dan penuh kepercayaan mistis ini. Untunglah usaha mereka berhasil, walaupun terlihat agak aneh, tapi mereka berhasil mengkafani budhe Sastro juga. Sekilas tidak terlihat keanehan itu, kalau benar-benar diperhatikan bagian bawah kafan itu sangat pendek. Mereka berharap tidak ada yang memperhatikan kejanggalan itu.

*

Pagi itu tidak seperti biasanya. Tukang sayur di depan rumah Bu Sas terlihat ramai sekali dikelilingi ibu-ibu. Bu Sas melongok dari dalam pagar rumahnya. Ada apa gerangan kok ramai sekali. Dengan rasa penasaran dia segera bergabung.

"La, ini ada Bu Sas!" kata Bu Wiwik dengan penuh semangat.

"Ada apa, Jeng? Kok pagi-pagi sudah heboh?" tanya Bu Sas keheranan.

"Wah, Bu Sas ini ketinggalan berita. Tadi malam ada kehebohan," kata Bu Wiwik yang ditanggapi dengan persetujuan ibu-ibu yang lain.

Bu Sas keheranan.

"Heboh apa, sih?" tanyanya, dia benar-benar penasaran.

"Tadi malam Bu RT dikeloni Budhe Sastro!" jawab Bu Wiwik penuh kemenangan.

Ibu-ibu yang mengelilingi tukang sayur langsung bergidik, termasuk Bu Sas.

"Dikeloni?" tanya Bu Sas dengan kebingungan.

"Iya, bu. Dikeloni. Dikira guling sama Bu RT, ternyata pocongnya Budhe Sastro. Bu RT langsung teriak-teriak heboh. Bener-bener satu RT heboh semua. Emang Bu Sas nggak denger?" cerita Bu Wiwik berapi-api. Bu Sas menggelengkan kepalanya. Diam-diam dia merasa ada rasa dingin yang merayapi punggungnya. Dia gemetar. Pandangannya kosong tidak memperhatikan cerita Bu Wiwik lagi.

*

Tum bernama lengkap Tumini. Seorang wanita bersuamikan buruh pabrik di kota besar sana. Sehari-hari dia sendirian di rumahnya karena belum memiliki momongan. Dia pernah dua kali hamil dan melahirkan, sayangnya kedua anaknya itu sudah terlebih dahulu dipanggil Tuhan. Dulu Budhe Sastro kasihan dengan Tumini. Dia menawari Tumini untuk bekerja bersih-bersih rumah dan menemaninya.

Tumini yang biasa dipanggil Tum setuju, karena dia merasa perlu perubahan.

Setahun, dua tahun semua berjalan normal. Tapi pada tahun ketiga ada sedikit kejanggalan pada diri Budhe Sastro. Menurut Tum, Budhe Sastro seperti terlihat lebih sehat dan seperti lebih cantik. Tetapi Tum menyimpan itu semua dalam hati. Dia tidak banyak berkomentar. Dia tahu dia hanya teman kesepian Budhe Sastro.

Dan kemudian pada suatu sore Budhe Sastro meninggal mendadak.

Siang sebelum meninggal Budhe Sastro berpesan kepada Tum agar dimasakkan sayur lodeh dan sambal bawang. Dan tidak seperti biasanya, budhe Sastro meminta Tum untuk membuatkan kopi pahit untuknya. Dua gelas lagi!

Setelah semua siap, Tum diminta pulang dan kembali sorenya untuk menyetrika baju. Tum patuh melaksanakan semua kehendak Budhe Sastro. Tetapi sore itu, sebelum Tum datang sudah terdengar pengumuman Budhe Sastro meninggal.

Apakah Tum sedih?

Iya, ada sedikit rasa sedih teman sepinya itu kini telah pergi. Tapi sebagai seorang yang terbiasa efektif dalam bekerja dia mengesampingkan semua emosi itu. Dia sudah terbiasa menunda menangis untuk nanti. Sekarang saatnya menolong Budhe Sastro untuk yang terakhir kalinya.

*

Pintu kamar mandi Tum diketuk dari luar.

"Tum... Tum..." Tumini yang sedang mandi menghentikan kegiatannya.

"Ya, siapa?" tanyanya mematikan air keran.

"Masih lama nggak, Tum?"

Tumini bersungut-sungut, pasti Mbak Dilah tetangga sebelahnya, yang kadang menumpang kamar mandinya yang memang berada di luar rumah.

"Bentar lagi, Mbak lagi mandi."

"Oh, ya udah. Kalau udah selesai aku dibuatin kopi pahit, ya. Aku mau tiduran dulu."

Di dalam kamar mandi Tumini terhenyak. Kok, seperti suara Budhe Sastro. Apa iya Mbak Dilah minta dibuatin kopi? Bulu kuduk Tumini meremang.

*

Bu Nur membuat kopi seperti biasa untuk suaminya. Suaminya sedang sibuk memandikan burung kesayangannya. Bu Nur melengos melihatnya. Bu Nur masuk lagi ke dapur.

"Eh, siapa itu?" Teriak Bu Nur ketika melihat kelebat bayangan ke luar dari dapurnya.

Bu Nur mengejarnya. Pasti kucing garong lagi. Di luar sepi tidak ada tumbuhan atau daun yang bergoyang karena ada hewan atau manusia yang lari. Bu Nur masih penasaran dan melihat berkeliling. Hanya ada pohon-pohon yang cukup tinggi karena kekurangan cahaya matahari. Selebihnya semua normal seperti biasa. Sepi. Bu Nur masih penasaran. Apa iya, ada orang yang masuk ke rumahnya, ya?

"Lagi apa, Nur?"

Langkah Bu Nur terhenti. Dia tidak berani menoleh. Bulu kuduknya meremang, karena dia tahu pasti ada yang tidak beres. Rumah tetangganya berjarak hampir lima ratus dari rumahnya. Rumah mereka dibatasi kebun dan tanah kosong yang terbengkalai. Jarang sekali mereka saling berkunjung.

Dan tiba-tiba dia mendengar suara itu. Tanpa ragu Bu Nur langsung mengambil langkah seribu. Entah kenapa dia tahu yang memanggilnya itu adalah Budhe Sastro atau arwahnya.

*

Entah kenapa Bu RT selalu dicekam ketakutan. Entah siang entah malam dia selalu merasa merinding sejak kejadian memeluk pocong Budhe Sastro itu. Mengingat wujudnya, mengingat baunya, dia menggigil ketakutan. Bu RT langsung ke luar rumah. Mencari panas matahari sambil mencari teman agar tidak sendirian. Anehnya pagi itu rasanya lebih sepi dari biasanya. Biasanya ada orang lalau lalang, atau ada anak-anak berlarian ke sana kemari. Kali ini terasa sepi.

Bu RT bergidik ngeri.

Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke musholla saja. Dia memutuskan untuk sholat Dhuha dan membaca al Quran agar hatinya tenang. Dia berwudhu dan masuk musholla, menunaikan sholat dhuha dua rakaat dan berdzikir, memohon agar diberi perlindungan kepada Allah. Suasana musholla yang sejuk dan sunyi membuat Bu RT tenang dan merasa geli sendiri kenapa mesti takut siang-siang begini.

Tiba-tiba ada orang yang duduk di sampingnya dan menowel tangannya.

"Bu RT, minta bantuannya. Mbok nitip pesen buat si Sas biar minta maaf sama saya, saya sedih, lo!" kata orang itu seperti hendak menangis.

Bu RT menoleh. Menelan ludah. Dan langsung pingsan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AMARAH DALAM SELUBUNG
9.5
Riana pernah terjebak pernikahan penuh dusta dengan pria beristri yang memanfaatkannya lewat ilmu hitam. Setelah berhasil melawan dan menolak cinta suaminya yang telat tumbuh, ia mengusir pria itu. Riana lalu berjuang sendirian membesarkan putranya hingga sukses dan menjadi wanita kaya. Kini, saatnya pembalasan tiba. Secara perlahan dan rahasia, Riana memakai kekuatan gaibnya untuk menghancurkan seluruh kejayaan mantan suaminya hingga tak bersisa.
Sampul Novel Ayah Pembawa Masalah
9.3
Uang gaji karyawan sebesar empat ratus juta rupiah yang dititipkan atasan raib karena dipinjamkan oleh ayah kepada tetangga. Alih-alih dibela, seluruh keluarga justru menyalahkan kelalaianku. Setelah dipecat dan dituntut mengembalikan uang tersebut, ayah menjerumuskanku ke pekerjaan baru sebagai pengasuh lansia. Di sana, aku dilecehkan dan akhirnya tewas dipukuli akibat kesalahpahaman. Namun, maut bukanlah akhir. Aku terbangun kembali di hari fatal saat ayah menyerahkan uang itu.
Sampul Novel REVEAL
9.6
Demi menemukan sahabat kecilnya, Rasen memutuskan kuliah. Di sana, ia malah bertemu Eleena, gadis unik yang terus mendekatinya hingga mereka bersahabat erat. Namun, hubungan manis ini goyah ketika sesosok hantu wanita hadir dan mengklaim sebagai sosok yang dicari Rasen. Perubahan sikap Rasen yang drastis pun membuat Eleena cemas. Mampukah Eleena membawa Rasen kembali, atau sang hantu justru sukses menjauhkan mereka demi membongkar rahasia kelam masa lalu?
Sampul Novel Selamat Tinggal, Haris Gunawan
8.3
Aku tewas mengenaskan di tempat Haris Gunawan dan Lea Linata berselingkuh. Lea memanipulasi Haris untuk membedah perutku demi merebut bayi kami, lalu memfitnahku agar Haris berhenti mencariku. Setelah mengetahui kebenaran mengerikan bahwa jasad yang ia bedah adalah aku, Haris didera penyesalan. Namun, ia tetap menikahi Lea. Di hari pernikahan, Haris membongkar semua dosa Lea, lalu melompat bersamanya dari gedung. Lea tewas seketika, sementara Haris menjadi vegetatif seumur hidup.
Sampul Novel TEROR GADIS RAMBAI
9.7
Rasa penasaran menyelimuti Soni saat melihat benda ganjil dikerumuni lalat di danau. Meski Rudi bersikeras itu cuma kayu biasa, Soni mengabaikan peringatan tersebut dan memilih mendekat. Didorong rasa ingin tahu yang kuat, ia nekat menyelidikinya hingga akhirnya Rudi pun terpaksa ikut membantu. Namun, kengerian melanda saat mereka mencoba menarik objek misterius itu ke darat. Sesosok kepala wanita mendadak muncul dari dalam air, lalu menyeringai lebar ke arah mereka.
Sampul Novel WURAKE
8.3
Wurake adalah penganut ilmu hitam yang mengincar janin, bayi, serta ibu hamil dan nifas demi memuaskan dahaga mereka. Berbeda dengan Kuyang, sosok Wurake bisa berupa pria maupun wanita, dengan ancaman nyata yang mengintai siapa saja tanpa memedulikan umur atau gender korban. Kisah misteri berbalut horor fantasi ini merupakan karya fiksi belaka, sehingga jika terdapat kesamaan nama tokoh ataupun lokasi, hal tersebut hanyalah unsur ketidaksengajaan.