APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perceraian & Kesuksesan Amara

Perceraian & Kesuksesan Amara

Tiga tahun Siska Amara terjebak pernikahan semu dengan Rafael Prabowo, mengorbankan keluarga dan kariernya demi cinta. Setelah resmi bercerai, ia memilih bangkit dan menata hidup baru. Siska berhasil membuktikan kekuatannya dengan menjadi desainer ternama sekaligus investor sukses yang disegani. Ketika Rafael kembali hadir membawa penyesalan dan memohon kesempatan kedua di saat dirinya berada di puncak kejayaan, Siska dengan tenang menganggap mantan suaminya itu tak lebih dari orang asing.
Bab
Bagikan

Bab 2

Ruangan itu seakan terhenti, waktu pun berhenti berputar saat Siska menatap Rafael, yang kini berdiri dengan ekspresi seperti patung, matanya kosong dan sulit dibaca. Suasana di antara mereka terasa begitu tegang, seolah setiap detik yang berlalu menambah beban di pundak Siska. Seperti angin malam yang tiba-tiba berubah menjadi badai, pikiran-pikirannya bergejolak, mempertanyakan segala sesuatu yang terjadi. Bagaimana dia bisa berdiri di sini, memandang pria yang telah menggoreskan luka terdalam dalam hidupnya?

"Siska...," Rafael akhirnya membuka mulut, suaranya begitu lemah hingga hampir tak terdengar. "Aku tahu... aku tahu aku salah. Tapi aku harus tahu, apakah kau benar-benar bahagia sekarang? Apakah semua yang kau raih sekarang benar-benar membuatmu merasa utuh?"

Pertanyaan itu, meskipun sederhana, memotong dalam-dalam. Siska menatap pria di hadapannya, merasakan aliran darah yang semakin cepat mengalir di tubuhnya. Sudah berapa lama dia berusaha melupakan rasa itu? Sudah berapa lama dia mendewasakan dirinya dan berdiri tegak di atas kakinya sendiri, tanpa bantuan siapa pun, bahkan tanpa Rafael? Apakah kebahagiaannya sekarang, yang telah dibangun dengan usaha dan air mata, benar-benar murni? Atau, entahlah, adakah satu sisi dari dirinya yang masih mengharapkan sesuatu yang lebih?

Dia mengalihkan pandangan, menatap langit Jakarta yang gelap, di mana bintang-bintang nyaris tak tampak. Suara bising lalu lintas di bawah sana seolah ikut mengisi kekosongan di dalamnya. "Rafael, dulu aku percaya kita bisa melewati semuanya. Aku percaya pada kata-kata yang kau ucapkan, pada janjimu. Tapi, kenyataannya, semua itu hanya tinggal kenangan. Aku tidak bisa kembali."

Rafael menggerakkan tubuhnya, mendekat dengan langkah ragu-ragu. Mata cokelatnya yang dulu penuh semangat kini dipenuhi penyesalan dan keputusasaan. Siska bisa melihatnya, betapa dalamnya penderitaan yang ia alami, tapi itu tak cukup untuk membuatnya mengubah keputusannya. Dia tidak bisa, tidak sekarang.

"Aku tahu, Siska. Aku tahu aku tidak layak berada di sini. Tapi lihat aku-aku sudah berubah. Aku tidak akan memintamu untuk kembali, hanya... aku ingin kau tahu bahwa aku menyesal. Aku menyesal telah membiarkanmu pergi begitu saja, menyesal telah menjadi orang yang tidak mampu menjaga kebahagiaanmu."

Siska menutup matanya sejenak, merasakan sakit yang sudah lama tertahan. Rasanya seperti petir yang menyambar, menghidupkan kembali setiap kenangan yang ingin dia lupakan. Ada masa-masa saat dia terjaga di malam-malam sepi, menunggu Rafael pulang, hanya untuk mendapati dia terlarut dalam dunia yang jauh dari dirinya. Ada suara pertengkaran yang memekakkan telinga, kata-kata tajam yang menorehkan luka di hatinya. Semua itu, seakan diceritakan kembali oleh Rafael dengan wajah penuh penyesalan di hadapannya.

"Kenapa sekarang?" katanya, suaranya begitu lembut, hampir seperti bisikan angin. "Kenapa baru sekarang kau muncul, setelah aku membangun semuanya sendiri?"

Rafael tidak menjawab. Dia hanya menatap Siska, seolah ingin mengatakan sesuatu yang tak bisa diucapkan. Wajahnya yang dulu tampak penuh kepercayaan diri kini terukir dengan keriput kecil, tanda bahwa waktu telah menelannya, menjadikannya lebih manusiawi, lebih rapuh.

"Aku hanya ingin tahu, apakah kau masih ingat aku," Rafael akhirnya berkata, suara yang penuh dengan kegetiran.

Siska membuka matanya, menatap pria di hadapannya, mencoba membaca perasaan yang tersembunyi di balik ekspresinya. Apakah ini hanya rasa bersalah semata, ataukah ada sesuatu yang lebih dalam? Hatinya berdebar, seperti dibawa arus yang tak bisa dihindari. Dia ingat betul bahwa ada masa-masa di mana dia merindukan Rafael, di mana dia berpikir tentang pria itu sambil menangis diam-diam di malam hari. Namun, semua itu telah lama terkubur di balik lapisan kebanggaan dan luka. Ia memilih untuk tidak lagi mengingatnya, memilih untuk maju.

"Aku... aku tidak bisa, Rafael," ujar Siska, suaranya bergetar. Dia merasakan ketegangan di sekujur tubuhnya, sebuah ketidakpastian yang hampir membuatnya kehilangan keseimbangan. "Kau sudah memilih jalanmu, dan aku sudah memilih jalanku. Aku sudah menemukan siapa aku sekarang, tanpa harus bergantung pada siapa pun, termasuk kau."

"Tidak adakah kesempatan kedua, Siska?" tanya Rafael, suaranya terdengar seperti suara sepi yang hilang di malam. "Aku tahu aku telah menghancurkan segalanya, tapi aku juga tahu bahwa kau masih memiliki tempat di hatimu untukku, bahkan hanya sedikit."

Siska menarik napas dalam-dalam, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia merasa lelah, seakan seluruh dunia menekan dadanya. Hatinya yang dulu rapuh kini kuat, tapi ada bagian kecil yang tetap berdebar, seolah ingin mempertahankan apa yang sudah lama hilang. "Tempat di hatiku sudah diisi oleh diriku sendiri, Rafael. Aku belajar bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan oleh orang lain. Itu adalah sesuatu yang harus aku temukan dalam diriku sendiri."

Rafael menutup matanya, seolah mencoba menyembunyikan rasa sakit yang melanda. Ketika dia membuka mata, matanya bersinar dengan kesedihan yang tak terkatakan. "Aku hanya ingin tahu bahwa aku tidak membuat kesalahan terbesar dalam hidupku ketika melepaskanmu. Aku hanya ingin tahu bahwa kau bahagia."

Kata-kata itu membuat Siska terdiam. Dia ingin berteriak bahwa dia bahagia, bahwa dia tidak memerlukan siapa pun untuk mengisi kekosongan di dalam dirinya. Tapi, dalam hati yang terdalam, ada keraguan yang mulai muncul, seolah menuntut jawaban. Apakah dia benar-benar bahagia? Atau apakah kebahagiaannya hanyalah sebuah topeng yang ia kenakan untuk menutupi rasa takut akan kesepian?

Siska menatap Rafael, dan untuk sejenak, ada keheningan yang mendalam di antara mereka. Hati Siska berdebar kencang, tetapi dia tahu bahwa ini adalah waktunya untuk membuat pilihan yang benar, bukan hanya berdasarkan emosi semata, tetapi berdasarkan keberanian.

"Rafael," katanya, suara tegas yang menggema di ruang itu. "Aku tidak bisa memberimu jawaban yang kau cari. Aku sudah meninggalkan masa lalu itu, dan aku tidak bisa kembali. Mungkin, suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi dalam kondisi yang berbeda, tapi bukan sekarang. Sekarang, aku harus melanjutkan hidupku tanpa bayang-bayang itu."

Rafael menatapnya dengan mata yang dipenuhi air mata, tapi dia tidak menangis. Dia hanya mengangguk, seolah menerima kenyataan yang pahit. Ada keheningan yang menyelimuti mereka, dan saat itulah Siska tahu bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukan, selain melepaskan.

Rafael berbalik, melangkah ke pintu, dan sebelum dia keluar, dia menoleh sekali lagi ke arah Siska, senyuman kecil terukir di wajahnya, meskipun penuh dengan kesedihan. "Terima kasih, Siska, untuk segala kenangan itu. Aku tidak akan melupakanmu."

Siska memandangnya pergi, merasakan setiap langkah yang diambilnya membawa Rafael lebih jauh dari dirinya. Dia tahu, setelah malam ini, tidak ada lagi yang sama. Tapi entah mengapa, di tengah segala kebingungan dan rasa sakit itu, Siska merasa ada angin baru yang berhembus, membawa harapan yang baru.

Terkadang, untuk benar-benar maju, seseorang harus belajar melepaskan, bahkan jika itu berarti meninggalkan potongan-potongan hati yang paling berharga.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Billionare and His Secret Wife
8.8
Demi bertahan hidup, Michelle terbiasa memanfaatkan pesona fisiknya. Namun, malam itu ia terperangkap dalam bahaya setelah tidak sengaja mendengar niat jahat para kliennya. Di bawah pengaruh obat, Michelle melarikan diri dan menyusup ke kamar pria asing untuk memuaskan gairah yang membakar dirinya. Pertemuan tidak terduga tersebut menjadi awal baru yang mengubah seluruh hidup Michelle. Saksikan bagaimana takdir membawa mereka ke dalam hubungan penuh intrik dan romansa panas.
Sampul Novel Ciuman Sang Ular: Balas Dendam Seorang Istri
9.0
Dikhianati hingga tewas terbakar oleh keluarga Adhitama, aku menyadari hanya Gilang, sang paman yang dingin, yang tulus melindungiku. Saat terbangun seminggu sebelum tragedi itu, aku bertekad mengubah nasib. Demi merebut warisan triliunan rupiah dan membalas dendam pada tiga kakak yang culas, aku menolak rencana pernikahan dengan mereka. Di hadapan pengacara, aku justru memilih Gilang sebagai suamiku. Kini, pembalasan dendamku resmi dimulai.
Sampul Novel Dendam Seorang Adik
8.6
Kematian tragis Danisa meninggalkan luka batin yang mendalam bagi Amara. Mengetahui sang kakak mengakhiri hidup akibat dikhianati keluarga Pramudya, Amara bersumpah menuntut balas. Berbekal pesona memikat, ia menyusup ke lingkaran mereka untuk menghancurkan reputasi serta kekayaan mantan suami, mertua, hingga ipar kakaknya. Namun, saat rencana penghancuran ini berjalan, muncul perasaan tak terduga yang mengancam misi utamanya. Mampukah Amara tetap menjaga hatinya agar tetap dingin?
Sampul Novel Diawali Dengan Penceraian
8.2
Lima belas tahun hidup miskin setelah diusir oleh Keluarga Wilton, nasib Gerald kian terpuruk. Selama dua tahun pernikahan, ia dicap sebagai menantu tak berguna hingga akhirnya Clarisa menceraikannya. Namun, perpisahan pahit ini justru menjadi titik balik terbesar. Kehidupan barunya dimulai dengan penuh kejutan tak terduga setelah ia tidak lagi menyandang status sebagai suami. Kisah perjalanan baru Gerald pun dimulai pasca perceraian.
Sampul Novel Godaan Cinta Sejati
8.6
Yulia terpaksa menikahi Billy, putra keluarga Jayendra yang sedang koma. Begitu tersadar pasca-pernikahan, Billy yang tidak mengenali Yulia bersikap sangat dingin dan ingin segera bercerai. Namun, saat Yulia diketahui berbadan dua dan berniat pergi secara diam-diam, sikap Billy berbalik drastis. Pria kaya itu menolak keras perceraian, menjadi sangat posesif, dan mendekap erat Yulia demi memastikan bahwa sang istri tidak akan pernah bisa pergi darinya.
Sampul Novel Jadilah Milikku, Nona Sekretaris
8.9
CEO tampan dan kaya, Julian Evans, harus menghadapi penolakan dari sekretarisnya, Mia Sanders. Walau saling mencintai, status Mia sebagai anak pelayan di keluarga Evans membuatnya memendam perasaan demi membalas budi. Mia merasa perbedaan sosial membuat hubungan mereka mustahil. Namun, Julian tidak tinggal diam. Ia bertekad menantang keraguan Mia demi membuktikan ketulusannya. Sanggupkah perjuangan gigih Julian meyakinkan Mia bahwa cinta mereka pantas dipertahankan?