APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perangkap Cinta Tuan CEO

Perangkap Cinta Tuan CEO

Rafael Valentino bertekad membalas dendam setelah dikhianati oleh Edgar Marvelo yang membawa kabur dana perusahaannya. Karena sang pelaku menghilang, Rafael melimpahkan amarahnya kepada Aurora, putri Edgar yang baru kembali dari Paris. Gadis tak bersalah ini dipaksa menebus kesalahan ayahnya hingga kehilangan kebebasan. Terperangkap dalam jerat sang CEO yang kejam, mampukah kebencian dan kepedihan di antara mereka berubah menjadi cinta?
Bab
Bagikan

Bab 3

Aurora berdiri mematung di depan sebuah rumah mewah berarsitektur klasik modern, terletak di kawasan elit Kensington. Pilar-pilar tinggi menopang balkon lantai dua, jendela-jendela besar menghadap taman yang begitu tertata rapi hingga tampak seperti lukisan.

Namun yang paling membingungkannya bukan kemegahan rumah itu, melainkan fakta bahwa ia kini berdiri di depan pintu utamanya, tanpa tahu bagaimana bisa sampai ke sini.

"Kenapa aku di sini?" gumamnya pelan.

Sebuah suara berat dan dalam menyelinap tepat di telinganya, membuat tubuhnya seketika merinding.

"Karena mulai hari ini, kau akan tinggal di sini, Aurora."

Aurora berbalik cepat dan mendapati Rafael berdiri sangat dekat di belakangnya, dengan senyum tipis yang mengandung terlalu banyak rahasia.

"Apa maksudmu?" Aurora menyipitkan mata, curiga. "Kau... mau menjadikanku tawanan?"

Rafael terkekeh, tawa rendah dan tajam yang terdengar jauh lebih sinis daripada menyenangkan. "Oh, Aurora. Jangan lebay. Ini bukan penjara. Tapi... rumah baru untukmu."

Ia membuka pintu besar itu dan memberi isyarat agar Aurora masuk. Ragu-ragu, Aurora melangkah masuk dan mendapati interior rumah yang tak kalah mewahnya. Marmer putih, lampu gantung kristal, dan tangga spiral yang menjulang tinggi.

Namun semua rasa kagum lenyap ketika Rafael berjalan ke arah sofa, mengambil sesuatu, lalu melemparkannya ke arah Aurora. Gadis itu nyaris tak menangkapnya, lalu menatap benda itu dengan kening berkerut.

Itu... seragam pelayan?

"Apa ini?" tanyanya tajam.

"Seragam kerjamu. Mulai hari ini, kau adalah asisten rumah tangga pribadiku." Rafael melipat tangan, menyandarkan punggung ke dinding dengan senyum puas.

Aurora melotot tak percaya. "Kau gila."

"Bisa jadi," Rafael menjawab ringan. "Tapi kau tenang saja, aku akan memberimu kamar yang layak, ranjang empuk, dan dua kali makan sehari. Sarapan dan makan malam di rumah. Untuk makan siang, kau akan makan di kantor."

Aurora mengepalkan tangannya. "Aku pegawai marketing, bukan... pembantu."

"Pegawai yang digaji setengah, yang menanggung utang ayahnya, dan tidak punya tempat tinggal yang layak," sahut Rafael, mendekat. "Kau bisa menolak, tentu saja. Tapi kalau begitu, silakan kembali ke kamar sempitmu dan hidup dengan mi instan setiap malam."

Aurora terdiam. Tawanya kering.

"Kau benar-benar ingin mempermalukanku, ya?"

"Aku hanya memastikan kau belajar arti tanggung jawab," jawab Rafael. "Mulai besok, jam lima pagi, kau harus menyiapkan sarapan. Jam enam, pakaian kerjaku harus sudah siap. Dan malam hari, makan malam hangat di meja. Jangan terlambat."

Aurora menatapnya penuh benci, tapi ia tahu tak ada jalan keluar.

"Kau pikir aku akan menerima semua permainanmu? Jangan harap! Meski aku harus tinggal di jalanan, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah ini dan menyiapkan sarapan untukmu!" ucap Aurora dengan lantang dan pergi dari sana.

Meninggalkan Rafael yang tersenyum licik, seolah akan ada kejutan lain yang harus diterima oleh Aurora.

***

Aurora tiba di kamar sewanya di pinggiran kota. Namun, langkahnya terhenti saat melihat dua koper besarnya digeletakkan begitu saja di depan gerbang rumah kos. Aurora berlari kecil, matanya membelalak tak percaya. Belum sempat ia membuka mulut, pintu rumah kos terbuka. Ibu kos yang bertubuh tambun dan berkacamata keluar, menenteng dompet di tangan.

"Apa ini? Kenapa koper saya di luar?" tanya Aurora cepat.

Ibu kos menghela napas pendek, lalu menyodorkan amplop kecil berisi uang. "Ini uang sewamu. Aku kembalikan. Maaf, aku tak bisa biarkan kamu tinggal di sini lagi."

Aurora terperangah. "Apa maksudnya? Kenapa? Ini satu-satunya tempat yang bisa aku bayar! Aku nggak punya tempat lain!"

"Aku tak bisa menjelaskan," kata si ibu kos singkat, lalu memutar tubuh hendak kembali ke dalam rumah.

"Bu, tolong! Aku sudah kerja sekarang, walau hanya mendapatkan setengah gaji, tapi aku masih bisa bayar."

Ibu kos berhenti sejenak di ambang pintu. "Aku tak ingin masalah. Maaf, Aurora. Lebih baik kau pergi saja."

Tanpa penjelasan lebih lanjut, pintu ditutup.

Aurora berdiri terpaku. Matanya menatap kosong pada koper-kopernya yang kini seperti simbol betapa hidupnya sudah benar-benar kehilangan pijakan. Wajahnya tertunduk, merasakan napasnya berat tapi lagi-lagi, tak setetes pun air mata keluar.

Hari menjelang malam. Suhu mulai dingin dan perutnya mulai perih. Ia berdiri dengan lelah, menarik koper pelan, dan berjalan menyusuri jalanan kota yang tak lagi ramah.

Saat ia melewati sebuah restoran kecil dengan aroma masakan yang menggoda, perutnya kembali berkeroncong. Ia ragu sejenak di depan pintu, lalu masuk. Tidak ada pilihan lain. Ia masih punya sisa uang receh di dompet, cukup untuk makan sederhana malam ini.

Aurora duduk di pojok ruangan. Memesan sup kentang dan sepotong roti. Saat pelayan meninggalkan meja, seseorang terburu-buru masuk ke dalam restoran dan menabraknya dengan keras. Aurora terhuyung sedikit, pria itu sempat bergumam minta maaf, tapi wajahnya tertutup hoodie besar dan masker. Ia langsung berlalu dan keluar dari pintu lain tanpa memberi waktu Aurora untuk mencermati.

Aurora menggeleng kecil. "Orang-orang semakin aneh," gumamnya. Ia kembali menikmati makanannya dengan lahap.

Namun begitu makanan habis dan tagihan datang, ia membuka tas kecil di pangkuannya... lalu membeku.

Dompetnya tak ada. Aurora mengaduk isi tas, menyibak saku jaket, bahkan meraba-raba saku belakang jeansnya.

Kosong, bahkan uang sewa kosnya pun hilang.

"Tidak... tidak mungkin," bisiknya panik. Nafasnya tercekat.

Pelayan menunggu dengan ekspresi tak sabar. "Maaf, Nona. Pembayaran Anda?"

Aurora menatap pelayan dengan wajah hampir menangis, tapi dia tak sanggup untuk bicara.

Kini Aurora di kantor polisi. Ia duduk di kursi plastik dingin, memeluk tas kecilnya yang nyaris kosong. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan. Seorang polisi muda sedang menanyainya, sementara pemilik restoran berdiri di dekatnya, bersilang tangan dengan ekspresi kesal.

"Aku tidak mencoba kabur," jelas Aurora untuk kesekian kalinya. Suaranya lirih tapi tegas. "Dompetku dicopet, seseorang menabrakku sebelum aku selesai makan. Aku bisa buat laporan kehilangan."

"Ah, alasan klasik," gumam si pemilik restoran dengan nada mencibir. "Sudah makan, terus pura-pura dompet hilang. Jangan-jangan itu memang niat awalmu."

Aurora menunduk. Pipinya panas. Jantungnya nyeri, bukan karena takut, tapi karena harga dirinya diinjak-injak.

Lalu, suara langkah terdengar di luar ruangan. Tegas, mantap, dan mengisi udara dengan aura dominasi. Pintu terbuka perlahan, dan berdirilah Rafael Valentino dengan setelan jas rapi dan senyum samar di bibir.

"Saya akan bayar makan malam nona ini. Dan tambahan kompensasi karena waktu Anda terbuang," katanya sambil menatap Aurora dengan penuh kemenangan.

Si pemilik restoran langsung melunak, senyumnya muncul tiba-tiba. "Ah... terima kasih, Tuan. Kalau begitu saya tidak akan perpanjang urusan ini." Ia pun keluar dengan cepat, menghindari masalah.

Polisi yang tadi memeriksa hanya mengangguk kecil. "Kalau begitu, kami anggap selesai. Tapi sebaiknya Nona tetap melapor soal pencopetan."

Aurora masih terpaku. Matanya menatap Rafael tajam, penuh rasa tak suka. "Apa kau menguntitku?"

Rafael terkekeh pelan. "Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya memastikan investasi baruku tidak kelaparan atau tidur di sel semalaman."

"Kau pikir ini lucu?" bisik Aurora, suaranya gemetar. "Kau pikir aku senang menjadi orang yang harus diselamatkan olehmu, setelah semua yang kau lakukan?"

Rafael mencondongkan tubuh, menatapnya langsung. "Aku hanya membantu. Tapi jika kau lebih suka kelaparan, aku bisa pergi sekarang," ucapnya lalu berjalan pergi meninggalkan Aurora yang dilema.

Bersambung ...

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Baby Twins Billionaire
7.9
Kehidupan Freya Amalia hancur seketika akibat ulah seorang pria tak dikenal, meninggalkan luka mendalam saat ia mendapati dirinya hamil anak kembar. Sementara itu, Vero Brance Harison terus didera penyesalan besar atas kesalahan masa lalunya. Bertekad bertanggung jawab, Vero mencari wanita tersebut untuk dinikahi. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, sanggupkah Vero menebus dosanya, dan akankah Freya membuka hati untuk memaafkan ayah dari bayi-bayinya?
Sampul Novel Cabe-cabean Kekasih Vice President
7.8
Pertemuan tidak terduga di sebuah kelab malam mempertemukan Alexander Richard dengan Soraya, gadis berusia 19 tahun yang polos dan apa adanya. Walau perbedaan usia mereka terpaut delapan belas tahun membuat sang Vice President awalnya mengira hubungan ini tidak serius, ia justru jatuh hati teramat dalam. Sayangnya, masa lalu Soraya menyimpan rahasia yang berhubungan dengan luka lama Alexander. Kini, ia mesti berjuang mengatasi trauma besarnya demi mempertahankan cinta sang gadis impian.
Sampul Novel CEO Mengejar Cinta Adik Mafia
8.0
Rio terperangkap dalam dendam yang menjelma jadi cinta dan penyesalan mendalam. Walau perasaan mereka sangat kuat, ego harus dikorbankan demi melindungi keselamatan wanita yang dicintainya. Kisah ini membuktikan cinta tak pernah salah, meski perjuangan bersama tidaklah mudah. Kini, Rio harus menerima kenyataan pahit bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki.
Sampul Novel Cinta Mati Bersama Kepergian Buah Hati
8.5
Pernikahan transaksi Scarlett hancur saat Devan memilih menyelamatkan wanita lain dalam kecelakaan, membuat Scarlett kehilangan bayinya. Sadar cintanya sia-sia, ia meminta cerai. Tiga bulan kemudian, Scarlett bangkit menjadi wanita sukses di atas panggung. Devan yang menyesal mencoba mengklaimnya kembali sebagai istri di depan publik. Namun, Scarlett dengan dingin menyodorkan surat cerai, membuat sang miliarder yang biasanya tenang kini kehilangan kendali karena enggan melepaskannya.
Sampul Novel Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak
8.4
Dua pewaris takhta terkaya di New York, sang pembalap F1 dan genius investasi, telah bersahabat sejak kecil dan setia mengenakan lencana tembaga buatan Mia selama sepuluh tahun. Namun, kehadiran Ella, putri konglomerat baru, mengubah segalanya. Ketika kedua pria itu membuang lencana Mia demi emblem kain pemberian Ella, persahabatan mereka retak. Kecewa dengan pengkhianatan ini, Mia yang menyembunyikan identitas aslinya memutuskan menyerah dan menghubungi ayahnya di Sisilia untuk menerima pernikahan politik demi keluarganya.
Sampul Novel En-PD153
8.9
Kekasih lama yang kusangka sudah mati tiba-tiba kembali bersama seorang wanita hamil yang katanya telah menolongnya. Dengan lancang, dia menyuruhku tinggal bersama mereka dan menjanjikan pesta pernikahan formal sebagai ganti atas keputusannya menikahi perempuan itu. Statusku sebagai putri bangsawan dan menantu konglomerat membuatku menolak keras menjadi simpanan. Jika dia memilih melepaskan kemewahan, aku akan membuat hidupnya hancur hingga dia jatuh miskin.