
Penyiksaan Cinta
Bab 2
"Turun!"
Surya tiba-tiba menginjak rem, lalu menarikku turun dari kursi penumpang.
"Kamu hubungi sopir dulu buat jemput, nanti aku jelasin."
Sambil menatap punggung Surya yang pergi dengan sikap dingin, aku menyentuh dahiku yang memar karena terbentur.
Begitu melihat Chika, aku langsung tahu hubungannya dengan Surya pasti tidak biasa.
Terutama senyuman gadis itu yang terang-terangan menantang dan tatapan jahatnya yang tidak bisa ditutupi.
Dulu, Surya selalu menempatkan aku sebagai prioritas utama, kapan pun itu.
Bahkan di awal usahanya, saat ada kontrak penting, dia rela terlambat demi mengantarku pulang terlebih dahulu.
Namun sekarang, demi perempuan lain, dia tega meninggalkanku di pinggir jalan tanpa peduli keadaanku.
Meski sedih, aku langsung naik taksi menuju ke sekolah Kiky.
Saat ini, tidak ada yang lebih penting dari Kiky.
Namun, begitu aku sampai, gurunya bilang Kiky sudah dijemput sejak tadi.
Aku buru-buru menelepon rumah, tetapi tidak ada yang mengangkat.
Aku mencoba menghubungi ibunda Surya, meski aku tahu kecil kemungkinan Kiky ada di sana.
"Bu, apa Kiky ada di tempat Ibu?"
"Nggak ada! Buat apa aku bawa dia ke sini? Anak sial itu, sama seperti kamu, bawa nasib buruk! Melihatnya saja sudah bikin kesal! Dengar ya ...."
Aku tidak punya waktu untuk mendengar omelannya lagi, langsung kututup teleponnya.
Aku minta pihak TK memeriksa rekaman CCTV.
Yang menjemput Kiky bukan sopir yang biasa, Pak Lukman, tetapi seorang pria muda bertubuh kurus dan punggungnya bungkuk.
Pria itu memeluk dan memasukkannya ke mobil Surya.
Meski Kiky menangis, pria itu langsung saja melemparkannya ke kursi belakang.
Saat pria itu membuka pintu pengemudi, aku melihat wajahnya.
Itu adik Chika, Yudha Baskara.
Aku menyimpan rekaman CCTV itu dan langsung menuju kantor polisi.
Di dalam taksi, aku terus mencoba menelepon Surya, tetapi tidak satu pun diangkat.
Akhirnya, dia malah mematikan ponselnya.
Saat jam pulang kerja, jalanan macet total, dan aku terjebak di tengah kemacetan.
Ketika Bibi Lydia menelepon dan mengabarkan Kiky belum pulang, aku tidak bisa menunggu lagi.
Aku melepas sepatu hak tinggiku dan berlari di tengah jalanan yang ramai.
Akhirnya, setelah kakiku penuh luka dan berdarah, aku sampai di kantor polisi.
Namun, mereka bilang aku tidak bisa membuat laporan sebelum 24 jam.
Sementara itu, telepon Surya masih tetap tidak bisa dihubungi.
Aku pergi ke rumah sakit, dan di sana aku lihat Surya sedang membujuk lembut Chika yang berbaring di ranjang.
Anak perempuannya hilang, tetapi dia malah asyik memeluk perempuan lain dengan penuh kasih.
Kemarahan dan keinginan untuk menghancurkan mereka memenuhi pikiranku, dan terus melonjak.
Brak!
Dengan satu tendangan, aku membuka pintu kamar itu, menghancurkan suasana mesra di dalamnya.
Surya menatapku dengan terkejut, bibirnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu.
Namun, sebelum dia sempat bicara, Chika sudah lebih dulu memanggilnya dengan penuh perasaan, "Kak Surya."
Tanpa berkata apa-apa, Surya berdiri di depan Chika, menghalangi pandanganku yang tertuju pada gadis itu.
Seolah-olah hanya dengan berdiri diam saja, tatapanku bisa menghancurkan Chika.
Ketika tangan Surya yang besar membelai wajahku, barulah aku menyadari bahwa wajahku sudah penuh air mata.
"Jangan menangis, Sayang. Maaf, aku bisa jelaskan. Ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan ...."
Dengan panik Surya mengusap air mataku, tetapi air mata itu tidak berhenti.
Akhirnya dia memelukku erat-erat, berusaha menenangkanku dengan suara lembut.
Sambil tetap melindungi Chika dari pandanganku.
Aku mendorongnya, lalu dengan penuh kemarahan, aku menamparnya sekuat tenaga.
Wajah Surya yang tampan langsung menjadi merah dan bengkak.
Anda Mungkin Juga Suka





