
Penyesalan yang Terlambat
Bab 5
Ternyata dia masih gadis kecil yang hanya bisa menangis saat menghadapi masalah yang tidak bisa dia selesaikan. Hanya saja sekarang ada orang lain yang ingin dia andalkan.
Hatiku masih terasa perih, tetapi aku akan menarik kembali perasaanku, dan aku akan mendoakan dia menemukan kebahagiaannya.
Saat aku berpikir untuk pergi dulu, pintu ruang IGD terbuka.
Yuna dan ibunya segera menghampiri dan bertanya tentang keadaan ayah Yuna.
Dokter mengatakan bahwa ayah Yuna berhasil diselamatkan, tapi cedera luar yang diderita menyebabkan kerusakan permanen pada otaknya. Ini akan menyebabkan koma yang tidak dapat disembuhkan, atau yang dikenal dengan sebutan pasien vegetatif. Mungkin dia tidak akan bisa sadar lagi.
Ibu Yuna langsung terjatuh ke belakang dan aku cepat-cepat menyokongnya. Yuna juga tampak tidak percaya dan menarik lengan dokter, memohon agar dia bisa menyelamatkan ayahnya.
Orang yang tadi masih sehat, tiba-tiba saja dinyatakan menjadi pasien vegetatif.
Aku juga merasa sangat sedih, karena dia adalah sosok yang selalu penuh kasih, yang membesarkan aku sejak kecil, yang selalu berharap agar aku dan Yuna bisa bersama, dan menganggapku sebagai calon menantunya.
Dulu, aku kira Yuna sudah mantap dengan pemikirannya tentang pentingnya pernikahan yang sepadan, dan ingin membangun rumah tangga yang baik bersamaku, makanya dia mau menikah denganku. Aku juga akan menjaga dia dengan baik, serta memanfaatkan jaringan dan kekuatan keluargaku untuk membantu Keluarga Cahyadi keluar dari kesulitan.
Entah kenapa, sekarang malah jadi begini.
Ayah Yuna dipindahkan ke kamar rawat inap, dan Charli juga datang. Yuna menangis dan melompat ke pelukan Charli, mengadukan semua rasa takut dan kesedihannya.
Aku pun pergi dengan diam-diam.
Keesokan harinya, ibu Yuna meneleponku. Dia sudah mengatur perawat untuk menjaga ayah Yuna, tapi dia berharap aku bisa membantu mengelola perusahaan, setidaknya untuk beberapa hari ke depan.
Tanpa banyak berpikir, aku langsung menyetujui.
Aku berencana untuk menghubungi relasiku dengan mengatasnamakan proyek Keluarga Cahyadi, berharap bisa menarik investasi untuk menyelesaikan masalah keuangan ini.
Lagi pula, aku masih menantu Keluarga Cahyadi, jadi keberadaanku di sini saat ini memang terasa tepat.
Aku menghubungi beberapa pengusaha yang aku kenal, yang mungkin tertarik, dan mengundang mereka untuk hadir di acara kecil yang aku siapkan.
Tanpa disangka, Yuna yang mendengar kabar ini entah dari mana, langsung datang.
Dia marah besar dan bertanya dengan tajam kepadaku, "Berani sekali kamu! Ayahku masih hidup, dan kamu sudah mau ambil alih proyek keluarga kami!"
Aku terkejut, tapi yang pertama kali terpikir adalah menjelaskan padanya.
Belum sempat aku berbicara, ibu Yuna masuk dan dengan sopan menyapa tamu yang hadir, mengatakan bahwa anaknya tidak mengerti. Lalu dia menarik Yuna dan menyuruhnya untuk tidak membuat keributan.
Aku minta ibu Yuna membawanya masuk, sementara aku tetap berada di pintu untuk menyambut tamu. Tiba-tiba, aku melihat sosok yang sudah tidak asing lagi, yaitu Charli.
Yuna melepaskan diri dari ibunya dan berlari seperti burung kecil ke sisi Charli, menggandeng lengannya.
Dia bahkan dengan sengaja menatapku dengan angkuh, menggandeng Charli ke tengah ruang acara, dan dengan keras berkata, "Sandy, kamu nggak bisa mewakili Keluarga Cahyadi."
Lalu dia menunjuk Charli di sampingnya dan berkata kepada semua orang. "Dia, Charli Johandri, adalah menantu dan pewaris Keluarga Cahyadi."
Setelah itu, dia menatapku dengan pandangan merendahkan dan berkata, "Aku sudah bilang, semuanya ini milik Charli. Apa kamu nggak mau pergi saja, Sandy?"
Anda Mungkin Juga Suka





