APKDock Logo
Sampul Novel Penyesalan Suami Setelah Kematianku

Penyesalan Suami Setelah Kematianku

8.5 / 10.0
Napas terakhirku berembus di meja operasi setelah ginjal milikku diambil paksa untuk Chika, cinta pertama suamiku, Handi. Saat Handi merayakan kesembuhan Chika, kedok wanita itu terbongkar sebagai penipu yang mengincar asuransi. Penyesalan mendalam membuat Handi nekat menggali kuburanku dengan tangan kosong. Namun, berkat bantuan Feri, batu nisan itu kini berstatus sebagai istri pria lain. Meski Handi akhirnya bunuh diri demi menebus dosanya, semua sudah terlambat.

Penyesalan Suami Setelah Kematianku Bab 1

Tentu, saya akan menambahkan POV (Point of View) ke setiap bab sesuai dengan permintaan Anda, tanpa mengubah format atau konten lainnya.

Di meja operasi yang dingin, napas saya berhenti selamanya.

Suami saya, Handi, bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah jasad saya.

Dia sibuk memeluk cinta pertamanya, Chika, merayakan keberhasilan transplantasi ginjal yang dia rampas paksa dari tubuh saya yang sekarat.

Bagi Handi, kematian saya hanyalah harga murah demi keselamatan "bidadari" palsunya.

Namun, karma datang lebih cepat dari dugaannya.

Seorang perawat dengan sinis memberitahunya:

"Selamat, Tuan. Anda baru saja membunuh istri Anda sendiri demi seorang penipu."

Kebenaran terbongkar. Chika ternyata hanya mengincar uang asuransi kematian saya.

Handi hancur. Dia meraung, mengemis untuk melihat makam saya.

Tapi sahabat saya, Feri, sudah menyembunyikan jasad saya jauh-jauh.

Yang Handi temukan hanyalah nisan bertuliskan "Istri Feri".

Gila karena penyesalan, Handi menggali tanah dengan tangan kosong di samping nisan itu.

Dia mengiris nadinya sendiri, berharap darahnya bisa menebus dosa.

Sayangnya, bahkan kematiannya pun tidak lagi berarti bagi saya.

Bab 1

Riana POV

Kaki saya terikat, pergelangan tangan saya diborgol, dan mulut saya disumpal. Dingin sekali, sampai ke tulang. Saya tahu ini adalah akhir. Tidak ada yang datang menyelamatkan.

Selang-selang menancap di tubuh saya, alat monitor berbunyi berirama. Setiap bunyi "bip" terasa seperti detak jarum jam menuju kematian. Saya mencoba berteriak, tapi suara saya tidak keluar. Hanya air mata yang mengalir dari sudut mata.

Tiba-tiba, bunyi "bip" itu menjadi panjang dan solid. Garis hijau di monitor berubah menjadi garis lurus. Dingin memenuhi saya, bukan hanya dari meja operasi, tapi dari dalam. Ini dia.

Kemudian, suara dokter terdengar, samar-samar tapi jelas. "Operasi Nona Chika berhasil! Ginjalnya berfungsi sempurna." Dunia saya gelap total. Betapa ironisnya.

Lampu di atas saya meredup, perlahan-lahan. Saya menutup mata, merasakan kegelapan menelan saya. Tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi harapan.

Tapi kegelapan tidak bertahan lama. Saya merasa melayang, ringan seperti kapas. Sebuah dorongan menarik saya ke suatu tempat. Ke arahnya.

Di sebuah kamar mewah, Handi memeluk Chika erat-erat. Wajahnya penuh kelegaan, mata Handi berkaca-kaca. Chika membalas pelukannya, tersenyum lemah. Tubuh saya menegang, meskipun saya tidak punya tubuh lagi.

Rasa sakit yang baru menghantam saya. Lebih dalam dari luka pisau bedah. Ini adalah rasa sakit karena diabaikan, dilupakan. Kehilangan yang tak terlukiskan.

Apakah dia pernah peduli sedikit saja? Tentang hidup saya, atau kematian saya? Hanya sebuah pertanyaan kosong di kehampaan.

Jawabannya jelas. Tidak. Dia tidak pernah peduli.

Handi telah menuntut saya untuk Chika. Menuntut agar saya mendonorkan ginjal saya. Padahal saya sekarat.

Dia menyewa pengacara terbaik di Jakarta. Untuk memastikan saya tidak punya jalan keluar. Tidak ada celah hukum.

Saya kalah. Sejak awal, saya tidak punya kesempatan. Hukum tidak berpihak pada orang lemah.

Pisau bedah terasa dingin di perut saya. Rasa sakit itu, bahkan setelah saya mati, masih melekat. Setiap jahitan di tubuh Chika adalah luka baru di jiwa saya.

Sebelum operasi, saya mencoba menelepon Handi. Suara saya serak, hampir tidak terdengar. Ini adalah upaya terakhir saya.

"Handi, tolong... hentikan," saya berbisik ke telepon. "Saya tidak kuat. Saya merasa... saya akan mati." Setiap kata adalah gelembung udara terakhir saya.

Saya tidak pernah memohon padanya. Tidak pernah menundukkan kepala. Bahkan ketika dia memperlakukan saya seperti pembantu.

Saat itu, saya rela melakukan apa saja. Mengatakan maaf, mengakui kesalahan yang tidak saya perbuat. Asal saya bisa hidup.

Di ujung telepon, hanya ada desahan. Lalu, tawa dingin yang menusuk. Itu adalah tawa Handi.

"Akhirnya kau sadar, Riana," suara Handi dingin. "Kau pikir kau bisa lolos begitu saja setelah menyakiti Chika?"

"Mendonorkan ginjalmu untuk Chika adalah kehormatan bagimu," katanya. "Chika adalah pahlawan yang tidak kau pahami." Pahlawan? Saya hampir mati.

"Jangan harap kau bisa main-main," ancamnya. "Ini belum selesai."

"Donor ginjalmu ini tidak akan menghapus dosamu," lanjut Handi. "Chika menderita karena ulahmu."

"Setelah Chika pulih, kita akan bicara lagi," katanya. "Aku akan pastikan kau membayar semua perbuatanmu."

"Sekarang, minta maaf pada Chika," perintahnya. "Sebelum terlambat." Sebelum terlambat? Saya sudah berada di ambang kematian.

Saya ingin membantah, ingin berteriak. Tapi tenggorokan saya tercekat. Hanya air mata yang bisa menjawab.

"Aku muak dengan sandiwaramu, Riana," suara Handi penuh kebencian. "Dasar wanita egois."

Klik. Telepon terputus. Dunia saya runtuh. Jatuh ke dalam jurang yang gelap dan dingin.

Lima tahun pernikahan. Cinta yang saya berikan tanpa syarat. Hancur dalam sekejap.

Dulu, dia pernah berjanji. "Aku akan selalu mencintaimu, Riana." Kata-kata itu kini seperti racun.

Chika kembali, dan saya dilupakan. Semudah membalikkan telapak tangan. Saya tidak pernah ada baginya.

Di kamar itu, Handi membelai rambut Chika. Begitu lembut, begitu penuh kasih. Sentuhan yang tidak pernah saya rasakan.

"Syukurlah, kau selamat, Chika," Handi berbisik. "Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu."

Matanya bengkak, kantungnya gelap. Dia pasti tidak tidur semalaman. Khawatir akan Chika.

Apakah dia pernah memikirkan saya? Bahkan sedetik pun, setelah saya mati? Tidak ada jawaban.

"Handi, bagaimana dengan Riana?" tanya Chika lembut. "Apa dia baik-baik saja?" Senyumnya terlihat begitu tulus, tapi saya tahu itu palsu.

Chika berusaha bangkit, seolah ingin mencari saya. Gerakannya terlalu lambat, terlalu dramatis. Sandiwara kelas kakap.

Handi menahan Chika, mendorongnya kembali ke bantal. "Jangan pikirkan dia, Sayang," katanya lembut. "Prioritasmu sekarang adalah sembuh."

"Riana yang salah," Handi menambahkan. "Kau tidak perlu khawatir. Kau tidak bersalah."

Seorang perawat masuk, membawa nampan. Dia tersenyum melihat Handi dan Chika. "Tuan Handi dan Nona Chika, kalian memang pasangan serasi," katanya. "Sama-sama baik hati."

"Tuan Handi sudah menjaga Nona Chika semalaman, tidak tidur sedikit pun," perawat itu bercerita. "Cinta sejati memang luar biasa."

Chika tersipu, menundukkan kepala. Handi hanya tersenyum tipis, tidak menyangkal. Dia menerima pujian itu.

Perawat itu lalu menghela napas. "Kasihan sekali pasien di meja operasi satunya," gumamnya. "Meninggal sendirian."

"Tidak ada keluarga yang menjenguk, apalagi mengurus jenazahnya," lanjut perawat itu. "Nanti biar rumah sakit yang urus." Jantung saya hancur.

Handi tiba-tiba berhenti bergerak. Wajahnya mengeras, sedikit mengerutkan dahi. Apakah dia... apakah dia mengenali saya? Sebuah harapan kecil bersemi di dada saya.

Handi, tolong. Lihat saya. Uruslah jenazah saya, setidaknya. Saya istrimu.

Detik-detik berlalu, terasa seperti berjam-jam. Handi hanya menghela napas panjang. Sebuah desahan yang kosong.

"Memang kasihan," gumam Handi, suaranya datar. Tidak ada emosi. Hanya simpati yang dangkal.

Harapan saya padam, secepat ia menyala. Saya tertawa, tawa hampa yang pahit. Tawa seorang hantu.

Kenapa saya masih berharap? Bukankah saya sudah tahu? Dia tidak pernah peduli.

Handi mendorong kursi roda Chika keluar kamar. Meninggalkan saya, sekali lagi. Sendirian.

Mereka melewati pintu ruang operasi yang tertutup. Di mana tubuh saya terbaring. Dingin dan tak bernyawa.

Handi berhenti sejenak, melirik ke dalam. Matanya kosong. Tidak ada pengakuan.

Tubuh saya terbungkus selimut putih. Wajah saya tertutup. Hanya keheningan yang tersisa.

Tapi ada satu hal yang tidak tertutup. Bekas luka lama di pergelangan kaki kiri saya. Garis putih, tipis, tapi jelas.

Bekas luka itu ada di sana karena saya menyelamatkannya. Dari kecelakaan lima tahun lalu. Bekas luka itu berteriak. Tapi Handi tidak mendengar.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Penyesalan Suami Setelah Kematianku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Ayah Beranak Tiga yang Hebat
9.1
Usai patah hati, Yasmin Tanoto tidak menyangka satu malam bersama pria yang dikira model bar akan mengubah hidupnya. Dua tahun kemudian, ia kembali dan mengetahui pria itu adalah Daniel Guntur, penguasa Kota Imperial sekaligus anak tiri tantenya. Di luar negeri, Yasmin rupanya telah melahirkan anak kembar tiga dari pria dingin tersebut. Rahasia ini mulai terkuak saat putri kecil mereka mendatangi kantor Daniel dan mengenali kemiripan wajahnya. Sang miliarder pun kini bangga akan keturunannya.
Sampul Novel Jerat Janda Terhormat
8.2
Kehilangan suami memaksa Serena Aqulea Abraham berjuang mandiri demi putri kecil dan ibu kandungnya yang sakit. Di tengah impitan ekonomi dan pandangan miring masyarakat terhadap status jandanya, ia dituntut berubah dari wanita lemah menjadi sosok yang tangguh. Tanpa tempat bersandar, Serena bekerja keras menghadapi segala rintangan demi bertahan hidup. Mampukah ia terus bertahan melewati hinaan sekitar, ataukah takdir akan mempertemukannya dengan pria baru yang tulus?
Sampul Novel Mantan Tapi Menikah
8.8
Pertemuan dengan King di reuni tahunan membuka kembali luka lama Emily. King, sang mantan kekasih yang selalu ia hindari, tiba-tiba datang membawa lamaran pernikahan yang tak terduga. Walau Emily pernah bersumpah enggan kembali padanya, sebuah kejadian besar mengubah segalanya. Kini, ia terpaksa menerima tawaran tersebut dan harus bertahan menjalani rumitnya bahtera rumah tangga bersama pria yang sempat sangat dibencinya.
Sampul Novel PIALA UNTUK KAKAK
9.5
Dengan hati yang hancur, Adrian memasuki kamar mendiang adik perempuannya, Riana. Di dalam ruangan sunyi itu, rasa penyesalan yang mendalam mulai menyelimuti dirinya. Sambil memandangi foto masa kecil mereka yang terpajang di meja belajar, Adrian bersimpuh dalam kesedihan. Ia pun membisikkan kata maaf dengan tulus, meratapi semua kesalahan di masa lalu yang kini tidak akan pernah bisa ia perbaiki lagi setelah kepergian Riana selamanya.
Sampul Novel TERSESAT DI SARANDJANA
9.8
Pendakian gunung perdana Anang Syah berujung petualangan menegangkan ketika dirinya terlempar ke dimensi gaib. Ia tersesat dan terjebak di dalam kemegahan Sarandjana, sebuah negara misterius yang tak kasat mata. Di dunia asing yang penuh keajaiban sekaligus rintangan ini, Anang harus berjuang keras bertahan hidup. Akankah ia berhasil menemukan jalan pulang ke dunia nyata, atau justru terjebak selamanya di negeri tersebut?
Sampul Novel Tiga Puluh Nasi Bungkus
9.5
Penghasilan fantastis Mas Edi sebagai ojek online membuat istrinya curiga. Kecurigaan itu kian mendalam ketika ia diperintahkan membuat tiga puluh bungkus nasi bermenu seragam setiap hari. Suaminya berdalih bahwa semua uang dan tugas itu merupakan berkah dari Tuhan. Namun, rutinitas ganjil tersebut justru memicu tanda tanya besar. Rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan Mas Edi di balik tumpukan uang tunai yang ia bawa pulang tiap malam?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan