APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin

Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin

Clayden Ardhanesa, dahulu dikenal sebagai Bradford, rela melepas kejayaannya di puncak dunia demi menikahi wanita yang dicintai. Ia memilih melindungi sang istri dari balik layar hingga wanita itu sukses. Namun setelah berhasil, sang istri justru menganggap Clayden tidak berguna dan meminta cerai. Saat nama Clayden kembali bergema di panggung dunia, sang mantan hanya bisa bersimpuh menyesali keputusannya sambil menangis tanpa henti.
Bab
Bagikan

Bab 7

"Ahh!" Orion menarik napas dalam-dalam. Rasa sakit membuat amarahnya langsung sirna, berganti menjadi ketakutan dan perasaan hormat.

"Pergi sana." Bradford melepaskan sumpitnya, lalu membentak dingin.

"Memalukan! Minggir sana!" Robby pun menampakkan wajah murka, lalu menegur Orion dengan suara berat.

Sambil menahan luka di lengannya yang tertembus sumpit, keringat dingin bercucuran di wajah Orion. Dia hanya bisa menjawab dengan suara serak, kemudian berbalik meninggalkan tempat itu.

Setelah Orion pergi, Robby tersenyum meminta maaf. "Maafkan aku, bawahanku kurang disiplin. Nggak kusangka, kamu bukan cuma mengerti soal fengsui, tapi juga seorang ahli bela diri."

Bradford menggeleng pelan. "Nggak masalah. Ada lagi urusan lain?" Maksudnya jelas, kalau tidak ada urusan penting, jangan ganggu.

Robby segera mengangguk. "Nggak ada lagi. Kalau begitu, aku nggak akan mengganggu kalian lagi. Silakan nikmati hidangan." Dia pun berbalik pergi bersama Husein dan yang lain.

Namun tak lama setelah berjalan menjauh, Robby berhenti sejenak sambil termenung. Dari saku dalam pakaiannya, dia mengeluarkan sebuah kartu emas yang berkilau, lalu menyerahkannya kepada Husein.

"Pergi. Bawa kartu ini dan serahkan pada pemuda itu."

Kartu emas itu dihiasi dengan sembilan naga berukiran timbul yang memancarkan aura kemewahan luar biasa. Husein terbelalak kaget. "Tuan Robby, ini 'kan kartu anggota royal. Anda benar-benar ingin memberikannya pada pemuda itu?"

Robby menjawab dengan tenang, "Aku sudah bertemu banyak orang hebat dalam seumur hidup ini. Aku bisa merasakannya, pemuda itu jelas adalah orang yang luar biasa. Sebelum dia benar-benar menunjukkan semua kemampuannya, aku harus menjalin hubungan dengannya terlebih dahulu."

Usai bicara, Robby menatap Husein dengan tajam. "Jangan banyak bicara, segera laksanakan!"

"Baik! Akan saya lakukan sekarang."

Husein langsung mengangguk dan menerima kartu itu, lalu bergegas kembali menghampiri Bradford. Bradford menatapnya dengan wajah tak senang. "Kenapa kamu datang lagi?"

Husein membungkuk hormat, lalu berkata, "Begini, Tuan Robby menitipkan kartu anggota Royal ini untuk Anda. Dia berharap bisa berteman dengan Anda."

"Dengan memegang kartu ini, mulai sekarang setiap kali Anda datang ke Restoran Hardara untuk makan, semua akan gratis selamanya. Selain itu, Anda juga punya hak istimewa untuk makan di Paviliun Keraton di atas danaud an menikmati Paket Royal."

Husein mengangkat kartu itu dengan kedua tangannya penuh hormat, lalu menyerahkannya ke hadapan Bradford.

"Astaga ... kartu anggota royal?" Kimmy di sampingnya sampai terbelalak dan berseru kaget.

Bahkan dirinya dan Keenan saja tidak berani membayangkan bisa menerima kartu itu! Fakta bahwa Robby bersedia memberikannya pada Bradford, sudah cukup menunjukkan bahwa dia benar-benar ingin menjalin hubungan baik dengan Bradford dan bahkan sudah menempatkannya sebagai sosok yang sangat penting di hatinya.

Bradford yang juga cukup paham mengenai kartu anggota royal, ikut merasa tertegun. Namun sesaat kemudian, dia menggeleng dan berkata, "Aku nggak bisa menerimanya tanpa berbuat apa-apa. Ambil kembali saja kartu ini."

Robby kembali menghampiri dengan senyum ramah. "Anak muda, terima sajalah. Aku termasuk lumayan terkenal di tiga provinsi wilayah Hardara ini. Berteman denganku nggak akan membuatmu merasa direndahkan."

Melihat Robby begitu tulus ingin menjalin hubungan, Bradford pun tak enak hati untuk terus menolak. Dia menghela napas, lalu berkata, "Kalau begitu, baiklah. Aku terima. Nanti kalau orang yang kamu undang nggak bisa menyelesaikan masalah fengsui di sini, aku akan membantumu melihatnya."

"Bagus sekali!"

Robby tertawa lebar, lalu memanfaatkan momen itu untuk mengangkat gelas dan bersulang pada Bradford, kemudian mereka pun berbincang dengan akrab. Berhubung Kimmy ada di sana, Bradford tidak menyebut nama aslinya, melainkan tetap menggunakan nama Clayden. Robby pun memanggilnya dengan nama karena umurnya yang lebih tua.

Bradford membalas dengan memanggilnya "Tuan Robby".

Menyaksikan Bradford dan Robby bisa langsung menjadi seperti sahabat lama hanya dengan beberapa kalimat, Kimmy merasa kagum luar biasa.

Dalam hati dia membatin, 'Pak Clayden memang pantas dihormati, nggak heran sampai Pak Marva pun begitu hormat padanya!'

'Bahkan sosok sebesar Robby pun rela memperlakukannya setara, sampai-sampai memberikan kartu anggota royal dengan tangannya sendiri. Tampaknya, Pak Clayden bukan hanya ahli dalam pengobatan, tapi juga paham soal fengsui. Keluarga Taulany harus menjalin hubungan baik dengannya!'

Tak lama kemudian, seorang kakek berpenampilan seperti pertapa melangkah masuk ke dalam Restoran Hardara dengan ditemani seorang pria paruh baya berjas rapi.

"Tuan Robby, Master Higa sudah tiba." Pria paruh baya itu membawa sang kakek ke arah meja Bradford dan Kimmy, lalu melaporkannya kepada Robby dengan hormat.

Robby menoleh dan segera tersenyum lebar menyambutnya, "Master Higa, terima kasih sudah jauh-jauh datang lagi. Perjalanan ini pasti melelahkan, bukan?"

Mendengar ucapannya, Master Higa hanya mengibaskan tangan dan tersenyum tipis. "Tuan Robby terlalu sopan. Aku berlatih ilmu panjang umur. Jangankan naik pesawat dari Honka ke Kota Herburt, sekalipun harus melintasi gunung dan hutan dengan berjalan kaki sekalipun, aku nggak akan merasa letih."

Pria itu mengenakan jubah hitam panjang. Rambutnya diikat dengan sanggul, janggutnya terurai di dagu, dan wajahnya tampak angkuh. Cara bicaranya juga penuh kepercayaan diri.

Robby pun tertawa sambil memuji, "Master Higa memang udah seperti setengah dewa saja. Kalau aku yang harus menempuh perjalanan sejauh itu, pasti nyawaku sudah melayang."

Higa menggeleng pelan. "Tuan Robby jangan bercanda. Tuan hidup dengan serba nyaman, tentu berbeda dengan aku yang terbiasa hidup sederhana."

"Aku masih ada urusan penting. Setelah menyelesaikan masalahmu ini, aku harus segera berangkat ke tempat lain untuk memeriksa fengsui seorang taipan. Jadi sebaiknya jangan buang waktu, mari kita langsung lihat ke dapur."

Robby mengangguk, lalu menoleh pada Bradford. "Clayden, gimana kalau kamu ikut menemani Master Higa melihat-lihat?"

"Baik." Bradford mengangguk tanpa ragu, kemudian berdiri. Dia menoleh pada Kimmy. "Kamu tunggu di sini sebentar, aku segera kembali."

Higa sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya Bradford. Dia hanya melirik sekilas, lalu segera mengalihkan pandangannya.

Mereka beramai-ramai berjalan menuju dapur. Robby awalnya ingin berjalan di tengah untuk menemani Higa dan Bradford. Namun, Bradford malah mundur beberapa langkah, membiarkan Robby mendampingi Master Higa. Sementara dirinya hanya berjalan di belakang bersama Husein dan yang lain.

Melihat hal itu, Higa merasa cukup puas. Dia mendengus pelan sambil berpikir dalam hati, 'Cuma anak muda rendahan, mana pantas berjalan sejajar sama aku dan Robby?'

Dapur Restoran Hardara sangat besar, nyaris tak ada bedanya dengan dapur hotel bintang lima. Namun karena beberapa hari terakhir banyak pekerja dapur jatuh sakit, suasananya malah tampak sepi. Jumlah staf yang bekerja jauh berkurang.

Begitu mereka masuk, terlihat seorang koki sedang bekerja sambil memegangi lehernya. Wajahnya menahan sakit dan mengeluarkan suara rintihan.

Belakangan ini, semua staf dapur yang sakit mengalami gejala serupa. Nyeri di bagian leher, seakan-akan ditebas dengan kapak atau pisau besar. Namun anehnya, setiap kali mereka periksa ke rumah sakit, hasilnya nihil.

Sebagian terpaksa cuti untuk beristirahat, sementara sebagian lain memaksakan diri tetap bekerja meski kesakitan.

"Ah, tambah lagi seorang koki yang sakit lehernya," seru Husein pelan.

Robby segera menoleh ke arah Higa. "Master Higa, apakah Anda bisa melihat apa masalahnya?"

"Aku harus periksa dulu."

Higa meneliti sekeliling dapur dengan saksama, lalu menghampiri koki yang sedang kesakitan itu. Dia bertanya soal rasa sakit di lehernya, lalu mengamati rona wajahnya.

Setelah itu, wajahnya menunjukkan keyakinan seolah sudah menemukan jawabannya. Dia berkata pada Robby dengan tenang, "Menurutku, para pekerja ini telah menyinggung Dewa Dapur, sehingga mendapat hukuman. Masalah ini memang nggak kecil, tapi aku punya cara untuk menyelesaikannya."

Robby sempat melirik Bradford, tetapi melihat dia tidak memberi komentar apa pun. Maka, Robby pun berkata, "Kalau begitu, silakan Master Higa turun tangan. Selama masalahnya bisa diatasi, soal bayaran tentu nggak akan sedikit."

Higa terkekeh, lalu membuka tas yang dibawanya. Dari dalam, dia mengeluarkan beberapa lembar jimat kuning dan sebilah pedang kayu persik.

Higa terlebih dulu melafalkan mantra beberapa saat. Lalu, dia tiba-tiba melemparkan beberapa lembar jimat ke udara dan meniupkan satu embusan napas. Seketika, jimat-jimat itu terbakar.

Setelah itu, dia mengayunkan pedang kayu persik di udara beberapa kali. Ketika jimat-jimat itu jatuh ke lantai, semuanya sudah berubah menjadi abu.

"Sudah. Aku telah menenangkan murka Dewa Dapur. Masalah ini sudah selesai. Dalam beberapa hari ke depan, leher para pekerja itu nggak akan sakit lagi."

"Sudah selesai begitu saja?"

Robby tampak ragu, dia menoleh sekilas ke arah Bradford.

Yang dilihatnya hanyalah Bradford menggeleng tanpa kata, lalu berkata pelan, "Masalah ini nggak ada hubungannya dengan Dewa Dapur. Yang dia lakukan hanyalah menyingkirkan energi negatif yang jahat di sini."

"Memang, beberapa hari ke depan para pekerja itu akan merasa baikan, tapi itu cuma menutup gejala, bukan mengatasi sumber masalah. Nggak lama lagi, energi negatif itu akan tumbuh kembali."

Mendengar hal itu, wajah Higa langsung menjadi kaku. Dia menatap tajam pada Bradford dan membentak, "Anak muda, kamu tahu apa?!"

Bradford hanya tersenyum samar tanpa menjawab. Dia mengangkat tangannya, seolah-olah menggenggam udara. Lalu dengan gerakan ringan, dia melemparkan sesuatu yang tak kasatmata ke arah Higa.

Dalam sekejap, Higa langsung menjerit kesakitan dan memegangi lehernya. "Anak sialan! Apa yang kamu lakukan padaku? Rasanya sakit sekali!"

Bradford berdiri tegak dengan tangan bersedekap di belakang punggung dan berkata pelan, "Aku hanya membiarkanmu merasakan sendiri, seperti apa sakit di leher yang dialami para pekerja di sini. Bagaimanapun juga, semua ini terjadi karena ilmumu yang masih kurang matang."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 MINGGU MENGEJAR CINTA
8.7
Perjalanan bisnis Anya mendadak kacau karena kendala teknis yang memaksanya tinggal selama tiga minggu. Masalah kian pelik saat keponakan rekan bisnisnya melamar secara tiba-tiba, bahkan mengancam nyawa Anya setelah penolakan tersebut. Di tengah bahaya, Dastan yang merupakan mantan teman sekelasnya hadir menyelamatkan. Namun, Anya mulai mencurigai motif asli Dastan. Apakah ini ketulusan masa lalu atau ada niat lain? Anya harus menyelesaikan semua sebelum waktunya habis.
Sampul Novel Antara Cintanya dan Hartaku
9.2
Saat hendak menyetor uang ke bank, sebuah unggahan media sosial mengubah hidupku. Seorang netizen mengaku telah menikah diam-diam dengan cinta pertamanya, sementara pacarnya yang naif terus mengisi rekening bersama mereka hingga mencapai 1,3 miliar rupiah. Sang pengunggah bahkan berencana menguras habis uang itu saat mencapai 1,6 miliar. Begitu memeriksa saldo yang bernilai sama persis, aku menyadari kenyataan pahit bahwa kekasihku sendiri yang telah melakukan pengkhianatan besar ini.
Sampul Novel Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak
8.4
Dua pewaris takhta terkaya di New York, sang pembalap F1 dan genius investasi, telah bersahabat sejak kecil dan setia mengenakan lencana tembaga buatan Mia selama sepuluh tahun. Namun, kehadiran Ella, putri konglomerat baru, mengubah segalanya. Ketika kedua pria itu membuang lencana Mia demi emblem kain pemberian Ella, persahabatan mereka retak. Kecewa dengan pengkhianatan ini, Mia yang menyembunyikan identitas aslinya memutuskan menyerah dan menghubungi ayahnya di Sisilia untuk menerima pernikahan politik demi keluarganya.
Sampul Novel Kumpulan Cerita Pendek dengan Alur Ringan dengan Akhir yang Bahagia
9.7
Antologi fiksi romantis modern ini menyuguhkan rangkaian kisah cinta yang menyejukkan jiwa. Hadir dengan plot mandiri dan judul berbeda di setiap bab, buku ini menawarkan pengalaman membaca yang selalu segar. Di tengah peliknya dinamika kehidupan nyata, kumpulan cerita pendek ini dirancang khusus sebagai ruang nyaman bagi pembaca. Fokus utama dari setiap jalinan kisahnya adalah menjamin akhir yang bahagia dan manis bagi seluruh karakter di dalamnya.
Sampul Novel PERNIKAHAN KONTRAK TUJUH MILIAR
9.7
Demi melunasi utang sebesar lima ratus ribu dolar, Selena Watson terpaksa mendatangi kantor Cristian. Meski sempat terhina oleh gurauan sang pria, ia terpaksa menerima tawaran kerja tersebut. Setelah sebuah insiden memalukan yang melibatkan mantan kekasihnya, Selena justru dihadapkan pada kesepakatan besar. Cristian menawarkan uang berlimpah dengan satu syarat yang sangat mengejutkan. Alih-alih pekerjaan biasa, ia meminta Selena untuk menjadi istrinya.
Sampul Novel Sangat Salah Jatuh Cinta dengan Saudara Asuhku
9.5
Selama tujuh tahun, Rosalyn Wright mengorbankan hubungannya dengan keluarga demi mengejar cinta Saul, saudara asuhnya. Namun, amarah besar Saul hanya karena sebuah barang rusak akhirnya menyadarkan Rosalyn bahwa perasaannya tak terbalas. Menolak bertahan dalam ilusi, sang pewaris kaya ini memilih menyerah dan menggugat cerai. Ia memutuskan menghubungi ayahnya untuk pulang dan memimpin bisnis keluarga, meninggalkan pernikahan yang semu.