APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengorbanan Cinta Sang Letnan

Pengorbanan Cinta Sang Letnan

Dua tentara elit Kopassus berlatar intelijen, Rey dan Alex, telah menjalin persahabatan sejak masa kecil. Namun, hubungan erat mereka kini diuji oleh perasaan cinta pada wanita yang sama. Di sela-sela perjuangan dan pengabdian besar mereka untuk negara, konflik batin yang sengit pun mulai membayangi. Takdir menuntut mereka menentukan pilihan sulit antara loyalitas pada tugas negara atau ego pribadi. Akankah cinta yang menang, atau justru persahabatan mereka yang hancur?
Bab
Bagikan

Bab 3

Lara menatap Alex tak percaya.

"Ngomong apa barusan?!"

"Maksudku, siapa tau kamu mau trima aku jadi selinganmu, secarakan Rey waktunya hampir tidak ada buat kamu. Anggaplah sebagai pengisi waktu kosongmu," kata Alex dengan mimik lucu, menahan tawa.

"Kamu tu ya ... nggak ngotak tau nggak ... teman sendiri mau kamu tikung!"

"Ha-ha-ha ... Canda juga kali, serius banget. Dari tadi aku ngajak ngomong nggak nganggap pas ngomong gitu langsung kamu tanggapi." Alex terbahak-bahak memandang wajah Lara yang cemberut.

"Jadi kapan nih wak- "

"Emangnya kerjaan kamu udah selesai? Ngoceh aja dari tadi," potong Lara jengah yang merasa kerjaannya tidak bisa cepat selesai karena terganggu.

Padahal rencananya Lara ingin meyelesaikan semua tugasnya, biar bisa fokus untuk mengurus rencana pernikahannya nanti. Alex selalu usil, biasanya di tanggapi tapi kali ini Lara ingin kerjaannya cepat selesai.

Pria itu balik badan menuju mejanya menghadapi tumpukan kertas. Otaknya serasa tidak mau diajak kerja sama saat ini. Ada rasa yang mengganggu saat melihat Rey melamar Lara di restoran tadi.

Ada perasaan tak rela kerena Lara akan menjadi milik orang lain, cintanya untuk Lara tidak pernah hilang namun juga ada perasaan bersalah karena masih mencintai pacar sahabatnya sendiri.

'Kamu akan selalu memiliki tempat yang istimewah di hati ini, walaupun aku tidak bisa memilikimu. Akan aku pastikan kamu akan selalu berbahagia bersama Rey,' batin Alex sambil memandang wajah wanita pujaannya yang sedang serius dengan lembaran-lembaran kertas dihadapannya.

***

Lara melihat gawaynya berkali-kali namun masih sama, centang satu. Jam sudah menunjukan pukul 11 malam tapi ponsel Rey belum aktif juga.

"Selalu seperti ini," gerutu Lara.

"Lagi dan lagi!"

"Ya Tuhan apakah aku sanggup mendampingi seorang prajurit? rasa-rasanya aku tak sanggup, tapi aku begitu mencintainya, Tuhan," Lara bermonolog.

"Aku ingin habiskan tiap saat dengan dia, tidak seperti ini! Apakah aku sanggup menjalani hidupku dengan orang yang tidak akan selalu ada di sampingku." mata sendu itu memancarkan keraguan.

Lara mengusap wajahnya mencoba menghalau rasa yang berkecamuk di dada. Setelah siang tadi hatinya dibuat melambung tinggi dengan janji dan kata-kata romantis dari Rey, sekarang perasaannya seperti menggantung, dengan kehadiran Rey yang selalu tidak dapat diprediksi.

Dia mulai goyah untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, ketakutan terbesarnya adalah keselamatan Reyperasaan was-was itu selalu merengut rasa nyaman di hatinya. Namun rasa cinta yang begitu besar selalu mengalahkan perang batin dalam dirinya untuk tetap bertahan dengan lelaki yang memiliki keterbatasan waktu bagi dirinya.

Lara memeluk guling sambil menatap foto Rey yang terpajang di meja riasnya, sosok lelaki tampan dengan seragam lorengnya dilengkapi baret merah. Rasa rindu itu kian menyiksanya, setelah dilamar dadakan siang tadi, malam ini sudah tidak ada kabar lagi.

Padahal Lara ingin bermanja-manja meluapkan rasa bahagianya bersama Rey. Sambil merancang persiapan untuk pernikahan mereka nanti. Lara mengerti akan profesi Rey yang seorang prajurit, tapi ada sisi lain dalam dirinya yang menginginkan seorang kekasih seperti pasangan lainnya yang selalu menghabiskan waktu bersama.

Gadis itu menginginkan keluarga kecil yang bahagia, suami yang selalu ada disampingnya. Bersama-sama menghabiskan waktu membesarkan buah hati mereka. Impiannya itu tidak bisa tergapai bersama Rey.

Kini ada rasa yang membuatnya ragu untuk menikah dengan Rey. Ada kebimbangan di hatinya untuk memutuskan hal yang akan membuat perubahan besar dalam hidupnya.

Lara bangkit berdiri menuju meja rias, meraih foto Rey, memandangnya lekat-lekat. Air matanya jatuh mengenai wajah Rey di atas bingkai foto itu. Diusapnya bulir-bulir bening itu. Perasaannya seperti terkoyak, ada rasa tak rela untuk kehilangan lelaki yang begitu dicintainya.

Lara membuka laci lalu memasukan bingkai foto itu. Tak lagi memajangnya.

" Aku harus mengakhiri semua ini, sayang."

Sementara itu di apartemennya, Rey baru saja membaringkan tubuhnya di sofa., setelah mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Tubuhnya terekspos hanya boxer hitam yang menutupi bagian bawahnya.

Dia tadi dari bandara menjemput Ambar, Ibu Panti yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri beserta Nindy dan beberapa anak panti untuk mewakili sebagai keluarganya. Mereka datang atas permintaan Rey untuk acara lamaran. Saat ini tinggal di apartemen milik Rey yang lainnya. Apartemen yang sekarang merupakan tempat prifasinya yang tidak ada seorangpun datang kecuali team inteligennya. Sering juga di jadikan markas jika ada pertemuan mendadak.

Rey bangkit berdiri kembali, kakinya melangkah menuju sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding, yang ternyata dibaliknya ada sebuah brangkas kecil yang menempel di dalam tembok.

Tangannya memutar kode pada brangkas itu tak lama pintu kecil itu terbuka. Matanya tertuju pada dua amplop coklat di antara beberapa pucuk pistol yang tergeletak di atasnya. Tangannya terarah mengambil dua amplop itu, lalu berjalan menuju sofa kembali. Menghamburkan seluruh isinya di atas meja kaca di depannya.

Matanya tertuju pada beberapa kartu kecil yang merupakan identitas barunya, melihatnya sejenak lalu fokus dengan beberapa lembaran kertas putih. Mengisinya kembali ke dalam amplopnya.

Lalu membuka amplop berikutnya.

"Devin ...CEO ... hhmm ... menarik," gumam Rey sambil mengamati nama yang tertera pada kartu kecil itu. Penyamarannya kali ini menjadi seorang CEO dari perusahaan yang memproduksi alat berat.

Pandangannya beralih pada lembaran-lembaran putih yang berisi informasi tentang tugas yang akan di laksanakan, kemudian mata elang itu fokus mengamati beberapa foto targetnya, hingga tatapannya beralih pada salah satu foto seorang wanita cantik dengan gayanya yang glamour. Rey menghempaskan napasnya, baginya lebih mudah menjalankan misi yang berurusan dengan mafia atau terosis daripada berurusan dengan wanita apalagi sampai harus menggunakan pesonanya untuk menjerat targetnya.

Bayangan Lara tiba-tiba melintas di benaknya, ada rindu yang menyelinap untuk gadis itu. Ia kembali merapikan isi amplop dan menaruhnya ke tempat semula. Lalu meraih benda pipih di atas nakas samping ranjangnya. Namun layarnya gelap kehabisan batrei, di tatap arloji yang melingkar di tangannya, sudah menunjukan pukul satu malam.

"Aku merindukanmu sayang," bisik Rey sambil membaringkan tubuhnya di ranjang.

***

[Pagi sayang, lagi ngapain maaf pesanmu baru terbaca.] Rey mengirimkan pesan begitu terbangun. Namun tak ada balasan dari sebrang.

[Kok di baca aja? Lagi sibuk ya?]

[Malam aku ke rumah.]

Dibaca lagi tanpa dibalas. Rey menarik napas, di hempaskannya dengan kasar tak biasanya Lara mengacuhkan pesannya, 'apakah dia lagi sibuk?' batin Rey.

Dengan gayanya yang parlente, Rey menuju apartemen yang di tinggali Ambar dan Nindy, membawa kebutuhan yang diperlukan sekalian membahas rencana pinangan nanti. Selepas dari sana Rey kemudian menuju markas.

Langit telah memerah ketika Rey kembali ke apartemennya. Meletakan barang bawaan yang merupakan keperluan misinya nanti. Memeriksa ponselnya kembali, namun hasilnya masih sama.

"Ada apa denganmu sayang," gumam Rey.

Rey mematut dirinya di cermin, aroma tubuhnya memancarkan aroma maskulin, setelah di semprot pewangi kenamaan, sehabis mandi.

Pria berwajah karismatik itu memacu kuda besinya, menuju rumah Lara, dengan berbagai tanya yang berkecamuk di kepalanya. Tidak seperti biasanya Lara mengacuhkan pesannya.

Pria berwajah tegas itu turun dari motornya. Hendak memencet bel tapi pintu itu tiba-tiba terbuka. Gadis cantik dengan baju rumahan muncul di depan Rey, terkesan natural dan sangat menarik. Senyum terukir di bibir lelaki itu, keningnya mengeryit saat pelukan hangatnya ditolak, lagi-lagi tidak seperti biasanya. Tanpa mempedulikan penolakannya, Rey menarik tubuh seksi itu semakin erat dalam pelukannya.

"Aku sangat merindukanmu." bisik Rey sambil mendusal hidungnya di rambut gadis itu. Lara terdiam menahan gemuruh di dadanya tiap kali berdekatan dengan Rey.

Hening.

"Hhmm ... maaf kemarin seharian sibuk di markas, terus ngantar Ibu ke apartemen, tidak sempat balas chat kamu, karna ponselku padam. Mami dan Papi ke mana, kok sunyi?" ujar Rey sambil menelisik wajah gadis di depannya, wajah imut yang selalu terbayang.

Lara tiba-tiba meraih tangan Rey lalu meletakkan sesuatu di sana. Mata lelaki itu melebar, ditatapnya benda bulat bertahta berlian di telapak tangannya, lalu kembali menatap sepasang netra bening di depannya.

Senyum khas yang semula terukir di bibir lelaki itu, menjadi kaku, perlahan menghilang.

"Apa maksudmu?!" Suara Rey tegas, tatapannya menghujam manik di depannya. Tujuannya datang ke sini untuk menyampaikan maksud kedatangan keluarganya nanti hendak meminang Lara pada orang tuanya namun gadis itu malah menyambut sebaliknya.

"Maaf ... aku sudah memutuskan sebaiknya kita akhiri hubungan kita."

Rey ternganga.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bertahan Hidup di Dunia Komik
7.8
Delisha terbangun di zaman abad pertengahan sebagai putri bangsawan pasca kecelakaan tragis. Nahas, ia menjadi tokoh figuran yang baru menikah dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri. Sang suami rupanya merupakan sosok antagonis utama yang sangat licik dalam sebuah komik kerajaan. Demi menghindari ajal yang mengancam, Delisha harus berjuang bertahan hidup di dunia baru ini sembari menyusun rencana matang untuk menceraikan sang villain.
Sampul Novel Dia Kehilangan Segalanya
8.5
Ketika sahabat masa kecil Timo hamil, ia memilih menikahinya demi menjaga nama baik wanita itu. Timo mengabaikan kekasihnya yang juga tengah mengandung anaknya sendiri, dengan alasan bahwa sang sahabat tidak sekuat dirinya. Di tengah cemoohan publik yang menuduh bayinya sebagai anak haram, kekasihnya hanya menerima tatapan dingin dari Timo. Sadar bahwa dirinya tidak lagi menjadi prioritas, ia akhirnya memilih menggugurkan kandungannya dan merelakan Timo pergi demi mendampingi sahabat masa kecilnya tersebut.
Sampul Novel Kelahiran Kembali
9.1
Dianggap bodoh dan lemah, nona keempat keluarga Lu tewas tragis di tengah saudara-saudaranya yang berbakat. Namun, takdir berubah saat jiwa pembunuh bayaran abad ke-21 merasuk ke raganya. Terjebak di zaman kuno yang penuh konflik kekaisaran, ia harus bertahan hidup dengan prinsip membunuh atau dibunuh. Di tengah intrik istana yang rumit dan berbahaya ini, sebuah kisah romansa yang sangat unik pun dimulai.
Sampul Novel MANDUL
9.7
Bertahun-tahun membina rumah tangga tanpa kehadiran buah hati membuat hidup Izza dipenuhi tekanan. Setiap hari, ia harus tabah menghadapi cemoohan orang sekitar. Beban batinnya kian berat saat pihak keluarga mulai membandingkan dirinya dengan Asih, menantu baru yang langsung berbadan dua di bulan pertama pernikahan. Di tengah runtuhnya rasa percaya diri dan tuntutan keluarga yang menghimpit, sanggupkah Izza bertahan? Simak perjuangan batin Izza demi menjemput impiannya.
Sampul Novel Mengejar Cinta Pak Dosen
8.2
Agatha percaya cinta sejati datang sendiri, tapi takdir menyeretnya ke perjodohan dengan Bintang. Walau sang pria sempat menolak keras rencana ini, Agatha pantang menyerah untuk merebut hatinya. Namun, rintangan berat menghadang ketika sosok Aera, cinta pertama Bintang, terus membayangi pernikahan mereka. Sanggupkah perjuangan tulus Agatha meluluhkan perasaan Bintang, atau dia hanya akan berakhir sebagai pelampiasan dan pengganti yang tak pernah diharapkan?
Sampul Novel Tujuh Tahun Menikah, Hanya Sia-Sia!
9.3
Pernikahan Aksara Sanjaya dan Nareswari yang berjalan tujuh tahun terasa hampa tanpa kehadiran anak. Sang istri enggan mengandung karena takut merusak penampilan fisiknya, memicu keretakan dalam hubungan mereka. Di tengah situasi dingin ini, Aksara, sang CEO Sanjaya Corp, justru menemukan kenyamanan pada Rumi Kamila. Kepedulian serta kecerdasan sang sekretaris dalam mengurus segala kebutuhannya membuat hati Aksara luluh, hingga hubungan kerja mereka akhirnya melewati batas.