APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengkhianatan Istriku

Pengkhianatan Istriku

Danu ditinggalkan begitu saja oleh Sakira, istrinya yang lebih memilih mengejar lelaki bergelimang harta dan tega membuang bayi mereka. Namun, takdir berbalik kejam pada Sakira. Usai didepak oleh suami barunya, ia kini hidup melarat sembari berjuang melawan kanker paru-paru yang menggerogoti tubuhnya. Impian akan kemewahan sirna tak bersisa, menyisakan penyesalan teramat dalam di tengah kondisi fisiknya yang kian ringkih dan kehancuran finansial yang total.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku seketika menoleh ke belakang, saat mendengar suara yang tidak asing lagi memanggil. Melihat melihat Naina berdiri di samping mobil.

Naina adalah anak—Pak Haji Agus. Pemilik tempat penampungan barang bekas. Pak Haji Agus adalah orang terkaya di kampung ini. Usahanya telah dikenal oleh masyarakat desa sekitar. Dahulu, dia juga merintis usaha rongsokan dari nol. Lama kelamaan menjadi maju, hingga bisa mengantarkan semua anak-anaknya sampai sekolah sarjana.

"Naina?!"

"Kamu mau apa malam-malam begini ke sini, Danu? Dan anakmu kelihatannya sudah kedinginan." Naina menatap heran. Mungkin sedang berpikir kenapa ada laki-laki gembel sepertiku masih berkeliaran malam-malam. Sedangkan takbiran sudah tiba. Semua orang merayakan dengan keluarga, tetapi aku malah di jalanan seperti gembel.

"Aku ingin menjual botol bekas hasil pencarian hari ini. Tapi kata Mang Damin sudah tutup. Jadi, botol bekasnya mau dibawa pulang lagi, Neng."

"Memang Mang Damin ke mana? Kok gudangnya ditutup?"

"Aku gak tahu, Neng. Dia cuma bilang mau merayakan takbiran keliling. Aku cuma disuruh balik saja. Kalau mau jual barang rongsokan datang satu Minggu lagi setelah selesai lebaran idul fitri. Kata Mang Damin tadi begitu.

"Astagfirullah, Mang Damin. Kunaon atuh. Abah meminta untuk membagi-bagikan sembako kepada para pengepul. Kenapa malah pergi, ya?"

Naina terlihat kesal. Jujur, aku tidak mengerti apa yang dia maksud. Naina hanya menggelengkan kepala saja. Kemudian, dia masuk membuka pintu gudang itu dengan menggunakan kunci cadangan.

"Danu, kalau kamu mau jual barang bekas ayo masuk. Aku akan menimbangnya dan membayar upahmu."

"Beneran masih bisa di buka, Neng Naina?"

"Benar, Danu. Sok atuh masuk! Anak kamu juga sudah kedinginan itu. Kasihan kalau dibiarkan di luar saja."

"Iya, Neng. Makasih sudah mau bantu aku."

"Sama-sama."

Naina menimbang karung yang kubawa berisi botol bekas dan juga kardus. Gadis di depanku sungguh rupawan. Selain cantik, dia juga baik hati. Lembut dan berbicara sopan. Beruntung pria yang mendapatkan dirinya. Wanita kaya dan juga soleha. AH, aku mulai berkhayal. Jangan sampai berandai-andai. Bisa kecewa bila tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Benar bukan?

"Ini uangnya, Kang Danu," ucap Naina menyodorkan uang lembaran merah.

Aku masih memperhatikan wajahnya nan ayu. Senyumnya membuat hati berdetak dengan kencang. Andai ….

Tuh, kan aku mulai lagi berkhayal.

"Kang Danu, kenapa melamun atuh? Ini saya sudah kasih uang dari tadi kenapa tidak terima?"

"Eh, maaf atuh, Neng. Ini kebanyakan dari harga barang rongsokan yang saya jual. Biasanya, gak segitu."

"Ndak apa-apa, Kang Danu. Anggap saja ini bonus untuk Rafa."

"Tak usah, Neng. Merepotkan saja. Harga barang rongsokan itu hanya lima puluh ribu. Tapi Neng Naina memberikan dua ratus ribu. Itu kebanyakan Neng."

"Kan tadi saya sudah bilang kalau ini bonus untuk Rafa. Terima, ya, Kang?"

Naina memaksa untuk menerima uang pemberiannya. Jujur, aku malu bila harus menerima uang dari seorang wanita. Selama ini, Naina sudah banyak membantu. Dari mulai membelikan obat untuk ibu ataupun membelikan barang kebutuhan untuk Rafa. Entah bagaimana aku akan membalasnya.

Naina gadis manis yang baik hati. Siapa pun pria yang melihat kepribadiannya pasti akan jatuh cinta. Selain cantik dia juga anak orang terkaya di kampung ini. Siapa yang tidak kenal dengan Juragan Agus. Pria yang sukses menjadi pengusaha. Walau usaha yang dijalankan hanya menampung barang-barang bekas.

"Terima kasih, Neng Naina. Semoga Allah membalas kebaikanmu."

"Aamiin. Sama-sama Kang Danu."

"Maaf, Neng. Saya mau pamit pulang. Rafa ingin istirahat."

"Eh, tunggu Kang Danu!" Sergah Naina.

"Ada apa, Neng?"

"Ini ada oleh-oleh untuk Emak. Mudah-mudahan Emak suka, ya?"

Naina menyodorkan parcel berisi kue lebaran dan juga makanan lainnya. Ada juga minuman dalam botol yang biasa disuguhkan di hari lebaran.

"Apa ini, Neng?"

"Ini hadiah dari saya buat Emak, Kang. Ada beras, gula, minyak dan juga kue lebaran. Semua pemulung juga mendapatkannya tadi. Sudah dibagi sama Mang Damin."

"Subhanallah. Makasih, Neng. Semoga keluarga selalu diberi kesehatan dan rezeki yang berlimpah."

"Aamiin. Makasih atas doanya, Kang."

"Aku pamit, Neng."

"Gimana Akang pulang sambil menggendong Rafa dan bawa sembako ini?"

"Aku bisa gendong Rafa dan bawa sembako ini pulang, Neng. Gak usah khawatir. Aku orang kuat."

"Mari aku antar pulang aja, Kang. Kasihan rumah Akang jauh dari sini. Bawa Rafa dalam gendongan dan sembako pasti itu sangat melelahkan."

"Ndak usah, Neng. Aku malu kalau ngerepotin terus."

"Ndak apa-apa atuh, Kang. Manusia tolong menolong itu sudah kewajiban."

Aku bergeming. Masih terus menolak kebaikan Naina, untuk mengantarkan pulang. Tidak mungkin terus merepotkan dengan meminta bantuan. Dia sudah baik memberi uang dan sembako. Mana mungkin aku terus menerima bantuannya lagi.

Namun, dia terus memaksa hingga aku tidak bisa menolak dengan berbagai alasan. Kemudian, aku dan Rafa yang sudah basah kuyup langsung naik ke dalam mobil mewahnya.

"Duduk di samping sini atuh, Kang. Kenapa di belakang. Nanti saya dikira sopir lagi."

"Eh, iya, Neng. Tapi maaf bajuku basah. Nanti takut Neng Naina gak merasa nyaman karena duduk berdekatan denganku."

"Gak apa-apa, Kang."

Dengan malu-malu aku langsung duduk di depan. Naina menyetir dengan pelan meninggalkan gudang penampungan barang bekas. Mobil sedan berwarna merah langsung melesat menyusuri jalan. Jarak dari rumahku ke tempat penampungan sekitar lima kilometer. Bila ditempuh berjalan kaki tentu akan sangat melelahkan. Ditambah menggendong Rafa sepanjang jalan. Rasanya punggung ini hampir patah menanggung beban.

Setiap hari, aku bekerja dengan membawa Rafa. Bukan hal yang baik membawa anak balita semiran dia untuk diajak bekerja. Namun, dengan siapa dia harus kutinggalkan bila tidak ikut. Ibu tak mungkin bisa menjaganya.

Sejak Rafa ditinggal Sakira pergi, aku selalu membawanya. Ke mana pun Rafa pasti ikut walau sedang bekerja. Meski mandor tempatku melarang untuk membawa anak kecil, tetapi tidak peduli.

Bagiku, Rafa adalah segala-galanya. Dia tumbuh di lingkungan yang kurang sehat. Menjadikan pertumbuhannya kurang kuat. Tubuh kurus seperti kurang gizi. Jangankan untuk membelikan susu, untuk memberikan makanan bergizi pun aku tak sanggup.

"Danu! Anak kamu nangis tuh di ayunan!" Teriak bang mandor.

Segera aku berlari menghampiri Rafa yang masih berumur empat bulan. Kuberikan air gula yang sudah dipersiapkan dari rumah. Rafa tidak lagi menyusu pada ibunya. Sakira tanpa perasaan telah meninggalkan Rafa yang malang. Seharusnya, dia masih mendapatkan ASi dari ibunya. Namun Sakira tak mau menyusui. Dia malah memilih pergi dengan mantan kekasihnya orang kaya.

"Cup! Anak—Ayah, kamu jangan nangis, ya?" kutimang Rafa dengan lembut sembari menyanyikan lagu Nina bobo. Tak lama kemudian, dia tertidur kembali.

Seolah mengerti keadaan ayahnya yang susah. Bayiku kembali tertidur dengan nyenyak setelah puas minum air gula. Tidak memungkinkan aku untuk menggendongnya. Bila Rafa bangun dan tak ingin tidur lagi, terpaksa dia kuletakkan di atas punggung. Kubawa sambil bekerja di bawah teriknya matahari. Kadang, kala hujan turun pun dia tetap harus menamani ayahnya bekerja.

Jujur, aku tidak sanggup bila harus membayar sewa pengasuh. Gajiku sebagai buruh hanya pas untuk makan. Itu pun masih kurang bila harus membeli obat untuk ibu. Jika sudah begini, terpaksa kami harus menahan lapar. Pun dengan Rafa hanya puas minum air gula. Uang yang digunakan untuk membeli beras harus rela dipergunakan untuk membeli obat ibu.

"Ayah, kita jadi gak beli baju?" tanya Rafa tiba-tiba mengagetkan lamunanku.

"Em … ini sudah malam, Nak. Tokonya mungkin sudah tutup. Besok saja gimana?"

"Tapi besok lebaran, Yah. Rafa gak punya baju baru kayak teman-teman yang lain."

Aku terdiam. Ya Tuhan! Ayah seperti apa aku ini yang tidak bisa mengabulkan permintaan anaknya. Rafa tak pernah meminta baju yang mewah. Asal ada untuk dipakai di hari lebaran itu pun jadi. Namun, untuk mengabulkannya aku belum bisa. Sakitnya tuh di sini.

"Sabar ya, Nak. Nanti kalau ada toko yang buka kita pasti beli," ujarku menghiburnya. Barangkali Rafa mau mengerti. Jika tidak ada baju lebaran esok hari.

"Iya, Yah."

Mobil kembali meluncur. Semakin jauh meninggalkan tempat penampungan barang bekas. Naina terlihat tersenyum memperhatikan Rafa. Entah apa yang ada di dalam benak perempuan cantik itu. Sejak dari tadi mencuri pandang memperhatikan Rafa.

***

Bersambung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dinikahi Kakaknya
9.3
Keisha didera nestapa saat Rafael, sang kekasih selama lima tahun, absen di hari pernikahan mereka. Demi menyelamatkan kehormatan keluarga Keisha dari kehancuran, Dion yang merupakan kakak kandung Rafael maju menggantikan posisi sang adik. Tanpa ada landasan cinta dan hampir tidak saling mengenal, Keisha terpaksa menyetujui pernikahan darurat ini. Kini, ia harus mengarungi bahtera rumah tangga yang tak pernah diduga. Akankah pernikahan tanpa rasa ini sanggup bertahan?
Sampul Novel Derita Cinta Sang Pelakor
8.7
Via tega meninggalkan Jason demi mengejar kemewahan bersama Dimas, seorang miliarder yang telah beristri. Meski Dimas berdalih pernikahannya tanpa cinta, ia tetap panik saat Via menuntut kejelasan hubungan. Rumitnya jalinan asmara terlarang ini kian memuncak ketika sebuah rahasia besar terbongkar: Dimas ternyata kakak ipar Via sendiri. Kenyataan pahit ini memicu pergolakan batin hebat yang siap menghancurkan hidup mereka.
Sampul Novel Kumpulan Kisah Dewasa
8.8
Antologi romansa modern ini mengupas dinamika hubungan dewasa melalui sudut pandang tokoh-tokoh dari bermacam profesi dan kelas sosial. Setiap karakter menyajikan perspektif berbeda dalam menghadapi keintiman, konflik perasaan, serta pasang surut kehidupan. Lewat pergulatan para protagonis dan antagonis, pembaca akan diajak menyelami sisi terdalam dari kisah cinta mereka, sekaligus memetik pelajaran berharga dari setiap peristiwa yang terjadi.
Sampul Novel Love
9.2
Love
Di tengah padatnya rutinitas kota modern, sebuah hubungan asmara yang tulus mulai bersemi secara perlahan. Kisah ini menyoroti arti kasih sayang mendalam di balik kesibukan urban. Lewat momen pertemuan tak terduga, dua individu saling berjuang memahami hati masing-masing demi merajut ikatan emosional yang kokoh. Perjalanan penuh kehangatan ini menjadi bukti nyata tentang keindahan dari sebuah ketulusan cinta sejati.
Sampul Novel Saving My Two Sons Mentally
9.1
Seorang ibu mengambil langkah berani untuk bercerai demi melindungi masa depan kedua putranya. Kini, ia harus berjuang sendirian menghadapi kerasnya realitas kehidupan. Tanpa kenal lelah, dirinya bekerja keras dari pagi hingga malam demi memenuhi kebutuhan harian serta biaya sekolah buah hatinya. Kisah menyentuh ini menyoroti perjuangan dan pengorbanan luar biasa seorang wanita yang rela melakukan apa saja demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak tercintanya.
Sampul Novel Selir Harem Memelihara Monster Perkasa
7.9
Di tengah dinginnya harem karena Kaisar yang jarang berkunjung, keanehan justru terjadi saat para selir tampak begitu bahagia dan berseri-seri setiap hari. Rasa penasaran sang protagonis akhirnya terjawab ketika ia berhadapan langsung dengan sesosok makhluk misterius berekor yang menyerupai manusia. Keberadaan entitas aneh inilah yang ternyata menjadi rahasia besar di balik kegembiraan para wanita harem, yang kini selalu menantikan datangnya malam dengan penuh harap.