APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengkhianatan Dibalik Cinta Duda

Pengkhianatan Dibalik Cinta Duda

Alina Mahendra memilih menutup diri setelah dikhianati tunangannya. Namun, takdir mempertemukannya dengan Adriel Wicaksana, seorang pengusaha properti kaya raya. Alina yang selalu menghindar malah berakhir menjadi guru privat bagi anak Adriel, Naya, yang mengira Alina adalah ibu kandungnya. Di bawah pengaruh Adriel yang kuat dan bayang-bayang luka lama, relasi kerja mereka berkembang menjadi konflik batin yang rumit. Akankah hadirnya Adriel menyembuhkan trauma Alina atau kembali menorehkan luka?
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari pertama Alina bekerja di rumah megah Adriel Wicaksana dimulai lebih awal dari biasanya. Matahari belum sepenuhnya terbit ketika ia berdiri di depan cermin, memastikan dirinya tampak rapi dan profesional. Meski hatinya dipenuhi kegelisahan, ia memutuskan untuk menyingkirkan semua perasaan itu.

"Ini hanya pekerjaan, Alina. Fokus saja," katanya pelan, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Sesampainya di rumah Adriel, suasana pagi terasa hening. Pelayan-pelayan rumah berdiri berjajar dengan sopan, menyapanya dengan senyum kecil sebelum mempersilakannya masuk. Alina berjalan dengan langkah hati-hati, merasa seperti tamu yang tak diundang di dunia yang terlalu megah untuknya.

Ia dipandu menuju ruang belajar yang sudah disiapkan untuk Naya. Ruangan itu luas, dikelilingi rak-rak buku yang penuh dengan koleksi bacaan anak-anak dan beberapa buku ensiklopedia yang terlihat mahal. Di tengah ruangan, meja kayu besar dengan kursi-kursi kecil tampak rapi, seolah menunggu Alina untuk memulai pekerjaannya.

"Nona Mahendra, Naya sedang bersiap-siap. Dia akan segera datang," ujar seorang pelayan dengan sopan sebelum meninggalkan ruangan.

Alina menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia mengeluarkan beberapa buku yang sudah ia siapkan dari tasnya, memastikan semua materi pelajaran tersusun rapi.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan sebentar. Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, dan suara langkah kecil terdengar. Naya masuk, diikuti oleh Adriel yang berdiri di belakangnya.

"Selamat pagi, Kak Alina!" Naya menyapanya dengan ceria. Gadis kecil itu berlari menghampiri meja, duduk dengan antusias sambil tersenyum lebar.

"Selamat pagi, Naya," balas Alina, mencoba menyesuaikan diri dengan energi anak itu.

Adriel tetap berdiri di ambang pintu, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Tatapannya tajam, mengamati Alina seolah menilai setiap gerakannya. Hal itu membuat Alina sedikit tidak nyaman, tapi ia berusaha mengabaikannya.

"Kamu akan mengajar apa hari ini, Kak Alina?" tanya Naya penuh semangat.

Alina tersenyum. "Kita akan belajar membaca cerita, lalu menghitung. Bagaimana menurutmu?"

"Seru sekali!" Naya berseru sambil bertepuk tangan.

Adriel mendekat, berdiri di sisi meja. "Naya, ingat apa yang Papa katakan. Dengarkan apa pun yang Kak Alina ajarkan. Tidak ada alasan untuk bermain-main."

Naya mengangguk cepat, meski senyumnya sedikit memudar. "Iya, Papa."

Alina memandang Adriel, lalu Naya. Ia bisa merasakan ketegangan kecil di antara mereka. Adriel jelas seorang ayah yang tegas, dan mungkin sedikit terlalu keras untuk anak seusia Naya.

"Baik, Pak Adriel, saya akan memastikan Naya belajar dengan baik," ujar Alina, mencoba meredakan suasana.

Adriel mengangguk, lalu menatap Alina dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kalau begitu, saya serahkan Naya pada Anda."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Adriel meninggalkan ruangan. Tapi sebelum pintu tertutup, ia sempat berhenti dan berbalik. "Oh, satu hal lagi. Jika Naya mulai rewel, panggil saya."

Alina mengangguk cepat. "Tentu, Pak."

Setelah Adriel pergi, suasana di ruangan itu terasa lebih ringan. Naya segera menunjukkan antusiasmenya, dengan penuh semangat mengikuti setiap instruksi yang diberikan Alina. Gadis kecil itu cerdas, tapi seperti yang sudah Alina duga, Naya sedikit sulit fokus jika pelajaran berlangsung terlalu lama.

"Kenapa kita harus belajar matematika?" keluh Naya setelah satu jam. "Kenapa aku tidak boleh menggambar saja?"

Alina tersenyum. "Karena matematika itu penting. Kalau kamu pintar berhitung, kamu bisa membeli banyak es krim tanpa salah hitung."

Naya tertawa kecil. "Kalau begitu, aku mau belajar lagi. Tapi nanti Kak Alina harus belikan aku es krim!"

"Baiklah, itu janji," kata Alina, meski dalam hati ia tidak yakin apakah boleh membawa Naya keluar.

Ketika jam makan siang tiba, seorang pelayan datang untuk menjemput Naya. Gadis kecil itu tampak enggan meninggalkan Alina, tapi akhirnya menurut setelah diberi tahu bahwa ia harus makan.

Alina memanfaatkan waktu itu untuk beristirahat. Ia duduk di ruang belajar, memeriksa catatan yang sudah ia buat untuk pelajaran berikutnya. Namun, ketenangannya terganggu oleh suara pintu yang terbuka.

Ketika ia menoleh, Adriel berdiri di sana, membawa dua cangkir kopi. "Saya pikir Anda butuh ini," katanya, menyerahkan salah satu cangkir pada Alina.

"Terima kasih, Pak," ujar Alina, sedikit terkejut. Ia menerima cangkir itu dengan hati-hati, merasa canggung berada di dekat pria itu.

Adriel duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Naya. Ia menatap Alina dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. "Bagaimana hari pertama Anda? Apakah Naya terlalu sulit diatur?"

"Tidak, Pak. Naya anak yang cerdas dan menyenangkan," jawab Alina jujur.

Adriel mengangguk pelan. "Bagus kalau begitu. Tapi saya tetap ingin Anda waspada. Naya punya kebiasaan... terlalu cepat terikat pada orang lain. Itu sering membuatnya kecewa."

Alina terdiam. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang lebih dalam di balik kata-kata itu. Tapi ia tidak berani bertanya.

"Jadi, saya harap Anda tidak membuat janji yang tidak bisa Anda tepati," lanjut Adriel, tatapannya kini langsung menembus mata Alina.

"Tidak, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik," jawab Alina dengan suara tenang, meski di dalam hatinya ia merasa ada sesuatu yang aneh dalam hubungan ini.

Adriel mengangguk, lalu berdiri. "Bagus. Selamat menikmati kopi Anda."

Saat Adriel pergi, Alina hanya bisa duduk diam. Ia memandangi cangkir kopi di tangannya, sambil merenung. Dunia ini, rumah ini, dan terutama keluarga ini-semuanya terasa seperti misteri yang belum sepenuhnya ia pahami.

Namun, satu hal yang ia tahu pasti: hidupnya tidak akan pernah kembali seperti dulu.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARJUNA MENCARI CINTA
9.3
Arjuna Levin, CEO sombong di Jakarta, terbiasa memanfaatkan kekuasaan untuk mempermainkan hati wanita tanpa komitmen. Namun, dominasinya runtuh saat ia bertemu Jane Calista Cintania, gadis lembut dan lugu yang berhasil memikatnya. Sang miliarder kini justru berbalik mengejar dan memohon ketulusan dari Jane. Akankah Arjuna sukses menaklukkan hati gadis tersebut, atau ia harus merasakan kepedihan akibat penolakan?
Sampul Novel Bujang Kaya Jadi Budak Cinta
9.4
Erhan, miliarder ramah namun ceroboh dalam asmara, kerap memicu pertikaian keluarga karena gemar merayu kekasih para sepupunya. Namun, hidupnya berubah saat ia jatuh cinta pada seorang wanita dingin yang sinis terhadap pernikahan. Kini, sang bujangan kaya harus berjuang keras membuktikan ketulusan hatinya. Sanggupkah Erhan meyakinkan wanita tersebut bahwa ia telah sepenuhnya menjadi budak cinta sejatinya?
Sampul Novel Cinta satu malam dengan boss
9.0
Seorang wanita terkejut saat bos miliardernya mengajukan penawaran tak biasa. Tanpa dilandasi cinta, pria berkuasa yang dikelilingi banyak wanita itu secara dingin menegaskan bahwa dia hanya menginginkan tubuhnya demi kepuasan fisik semata. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit dalam hubungan tanpa status yang murni transaksional ini, terus mempertanyakan alasan di balik keputusan sang bos memilih dirinya sebagai pemuas hasrat pribadi.
Sampul Novel Hasrat Cinta Terlarang CEO
8.8
Hati Rachael hancur dan ia tak lagi memercayai cinta setelah ditinggal pergi oleh kekasihnya di hari pernikahan mereka. Di tengah keputusasaan itu, takdir mempertemukannya kembali dengan Andrew Collins, putra dari sahabat ayahnya. Merasa tidak memiliki harapan lagi dalam hal asmara, Rachael akhirnya setuju untuk menikahi pria tersebut. Tanpa ia sadari, keputusan besar ini menjadi awal dari rencana takdir yang akan mengubah pandangannya tentang hubungan dan masa depannya.
Sampul Novel Istriku Mengkhianatiku Dengan Pria Lain
8.4
Pernikahan Zevan yang tampak sempurna selama dua tahun hancur seketika saat perselingkuhan istrinya, Clara, terbongkar. Di tengah amarah dan rasa sakit yang mendalam, ia meluapkan emosinya di dalam kamar yang gelap. Namun saat pagi tiba, Zevan terkejut karena sosok di ranjangnya bukanlah Clara, melainkan Amanda, sang pelayan baru. Kini ia terjebak di antara pengkhianatan sang istri dan kesalahan fatalnya sendiri. Haruskah ia menuntut balas, atau menghadapi kerumitan ini?
Sampul Novel Kau Milikku
9.4
Pertemuan pertama dengan Will Greyson langsung membuat Hanna muak karena sikap lancang miliarder angkuh tersebut. Kekesalan Hanna memuncak saat Will mendadak melamarnya hanya untuk dijadikan alat terapi pribadinya. Walau mendapatkan penolakan keras, pria sombong itu tidak tinggal diam. Hanna yang telanjur geram pun bertekad memberi pelajaran, sementara Will justru semakin tertantang untuk menaklukkan hati gadis yang berani menentangnya.