APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengendali Sistem Terkuat

Pengendali Sistem Terkuat

Di dunia yang mewajibkan kebangkitan kekuatan khusus saat anak berusia tujuh tahun, Martis justru dianggap cacat. Hingga berumur lima belas tahun, ia tidak memiliki kemampuan apa pun dan kerap dihina teman-temannya. Walau dicemooh, pemuda dari keluarga sederhana ini mendapat kasih sayang penuh dari orang tuanya yang selalu siap membelanya. Di tengah tekanan sosial yang berat, Martis terus memegang keyakinan teguh bahwa dirinya bukanlah sosok yang lemah.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Martis..., coba kamu cerita pelan-pelan," ujar Marta.

"Benar Nak, coba pelan-pelan. Siapa tahu Ayah akan mengerti maksudmu," ucap Marten.

"Kalau tidak, kau bersihkan dan keringkan dulu tubuhmu. Ibu akan menyiapkan minuman dan sup hangat untukmu," ucap Marta.

"Kalau begitu baiklah, Ibu," jawab Martis.

Kemudian ketika di dalam kamar mandi, Martis memikirkan sesuatu.

"Apakah sistem tidak bisa diperlihatkan oleh orang lain?" gumam Martis sambil menatap kedua telapak tangannya.

"Sistem, tunjukkan kemampuan apa saja yang dapat aku gunakan?" ucap Martis.

"Dimengerti. Silahkan lihat semuanya," jawab sistem.

Martis yang berendam di bak air hangat membaca perlahan tulisan yang ada di depannya.

"Eh...? Banyak sekali? Aku malah jadi bingung sendiri. Apakah semua ini dapat aku lakukan? Atau..., ah aku coba saja," gumam Martis.

Cetrek!

"Berhasil! Ini berhasil! Bagus, bagus sekali! Hahaha...!" Martis kegirangan.

Rupanya ia menjentikkan jarinya lalu ada api yang menyala di bagian ujung jarinya. Tadi Martis membaca kalau ada sebuah kemampuan yaitu dapat mengontrol api. Dan di sana juga tertulis bagaimana cara melakukannya. Yang tidak Martis duga adalah caranya itu sangatlah mudah!

"Apakah ini sihir? Eh..., ini bukan sihir. Ini adalah sistem. Baiklah, aku akan tunjukkan kemampuan kecil ini pada Ayah dan Ibu!" gumam Martis. Kemudian Martis buru-buru menyelesaikan mandinya.

Ayah dan Ibu Martis telah menunggunya di meja makan.

"Martis, cepat habiskan ini. Nanti tubuhmu bisa terkena demam. Kau tadi malah hujan-hujanan seperti itu," ucap Marta.

"Iya Ibu. Oh iya, aku akan memperlihatkan sesuatu pada Ayah dan Ibu," ucap Martis.

Marta dan Marten saling menatap.

Kemudian Marten menyadari sesuatu di tangan Martis.

"Martis, dari mana kau mendapatkan jam tangan itu? Kalau dari tampilannya, itu terlihat seperti jam tangan yang sangat mahal. Kamu..., em..., kamu tidak...," ucap Marten.

"Tidak ayah! Aku tidak akan mencuri barang seperti ini. Ini adalah hadiah pertamaku dari sistem," jawab Martis.

Tak lama kemudian Martis selesai menghabiskan hidangan hangat yang Marta sediakan tadi.

"Lalu, apa maksudmu jam tangan mewah itu yang mau kau tunjukkan pada kami?" tanya Marten.

"Eh...? Tentu saja bukan, Ayah. Tapi jujur saja, aku juga merasa kalau jam tangan ini memiliki kemampuan. Karena sistem menyebut namanya adalah jam spesial," jawab Martis.

"Ceritakan lah pada kami, Nak," ucap Marta. Marta mengelus lembut kepala Martis.

Cetrek!

Martis menjentikkan jarinya dan di ujung jari Martis ada api kecil.

"Lihatlah ini Ayah, Ibu!" ucap Martis. Di raut wajah Martis tercetak jelas kalau ia merasa bahagia.

"I-ini..., ini...? Martis, bagaimana bisa kau melakukannya?" ucap Marta yang terkejut.

"Coba kau lepas semua pakaianmu, Martis," ucap Marten.

"Eh...? Ayah, kenapa begitu?" tanya Martis heran. Tentu saja ia malu. Karena usianya bukanlah anak kecil lagi. Yah..., walaupun usianya sudah mulai masuk dewasa, tapi kedua orang tuanya masih memperlakukannya seperti anak kecil. Itu karena kedua orang tua Martis sangat mencintainya.

"Sudahlah, lakukan saja apa kata Ayah," jawab Marten.

Akhirnya Martis melepaskan semua pakaiannya tanpa tersisa.

Marten hanya ingin memastikan apakah ada sebuah tanda di tubuh Martis. Namun nyatanya, tidak ada tanda apapun di tubuh Martis.

"Ini..., bagaimana ini bisa? Kau tidak memiliki tanda apapun di tubuhmu, Martis. Tapi..., bukankah tadi yang kau tunjukkan adalah bukti kalau kekuatanmu sudah bangkit?" ucap Marten.

"Entahlah Ayah. Aku pikir, Ayah tahu tentang sistem," jawab Martis.

"Nah, aku juga penasaran dengan maksudmu tentang sistem-sistem itu. Ayah tidak mengerti Martis," ucap Marten.

Kemudian mereka membicarakan hal aneh yang terjadi pada Martis.

Martis juga tidak hanya menunjukkan satu kemampuan saja. Martis membaca sistem sejenak kemudian langsung menggunakan kemampuan-kemampuan lainnya.

Air, angin, tanah, besi, dan banyak lagi lainnya. Martis memiliki banyak sekali kemampuan.

"I-ini..., ini gila! Tidak! Ini bagus! Bagus sekali Anakku!" Marten memeluk tubuh Martis sambil menangis karena terharu. Begitu juga dengan Marta. Mereka bertiga saling berpelukan dan menangis bahagia. Suasana menjadi terasa hangat.

Beberapa jam kemudian, barulah mereka kembali seperti semula.

"Ngomong-ngomong, mana belanjaan kamu?" tanya Marten.

"Astaga..., Ayah! Maafkan aku. Aku sampai lupa." Martis menepuk jidatnya sendiri.

Kemudian Martis menceritakannya kepada Marten apa yang terjadi tadi.

"Ternyata mereka lagi ya. Martis, kalau lain hari mereka masih mengganggumu, kau gunakan saja kekuatan sistem milikmu itu. Tapi ingat, jangan berlebihan. Entah kenapa, aku merasa kalau kekuatan yang kau miliki itu tiada taranya," ucap Marten.

"Baiklah Ayah. Tapi Ayah, jujur saja aku masih belum mengerti semua tentang sistem ini. Dan lagi, sistem ini sebenarnya dapat berbicara. Tapi aku yakin kalau suara itu hanya bisa didengar olehku saja," jawab Martis.

"Yah..., kau harus banyak-banyak mempelajarinya Nak. Ayah akan membantumu bila kau membutuhkannya," ucap Marten.

"Tapi Suamiku, aku rasa mungkin sebaiknya kita harus merahasiakan tentang kekuatan Anak kita ini. Entah kenapa, aku memiliki firasat buruk jika ini diketahui banyak orang," ucap Marta.

"Benar juga apa katamu. Martis, rahasiakan ini semua ya? Jangan kau ceritakan pada siapapun. Aku rasa ini yang terbaik untukmu," ucap Marten.

"Baik Ayah. Kalau begitu, aku mau ke kamar dulu ya Ayah, Ibu. Aku mau membaca untuk mempelajari sistem terlebih dahulu. Siapa tahu saja ada hal lain yang bisa aku lakukan," ucap Martis.

Marta dan Marten pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

"Kalau lapar, katakan pada Ibu ya Nak," ucap Marta yang mengelus kepala Martis dengan lembut. Kemudian Marta juga mengecup kening Martis.

"Baik, Ibu. Tenang saja."

Saat di dalam kamar, Martis fokus dengan membaca banyak informasi yang ada pada sistem.

"Apa ini? Tugas? Tugas apa maksudnya?" gumam Martis.

Martis membuka bagian tugas. Di sana tertulis banyak sekali tulisan-tulisan.

"Ternyata ada juga hal seperti ini. Jika aku mampu menyelesaikan tugasnya, aku akan mendapat hadiah? Hem..., dan tugas-tugas ini juga memiliki banyak tahapan dan tingkatan ternyata. Statusku masih pemula, berarti aku hanya dapat mengambil tugas-tugas ringan saja. Kalau levelku sudah meningkat, akan ada banyak tugas yang dapat aku selesaikan. Oke, aku lakukan yang ini saja dulu," gumam Martis.

Martis menekan tugas yaitu latihan olahraga. Dan tugas itu ada cukup banyak. Martis pun memilih push-up seratus kali.

"Kalau ini, mungkin aku bisa melakukannya," ucap Martis.

Beberapa puluh menit kemudian, Martis akhirnya menyelesaikan latihannya yaitu push-up seratus kali. Martis merasa cukup kelelahan.

Tring...!

"Selamat! Tugas pertama telah Martis selesaikan. Silahkan terima hadiahnya."

Tring...!

Di hadapan Martis, ada sebuah kotak lagi. Itu sama persis dengan saat ia menerima jam tangan yaitu hadiah pertamanya.

Kemudian ia membuka kotak hadiah yang ada di hadapannya.

"Apa ini?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Terlarang Sang Raja Alfa, Dendam Diamku
9.5
Tiga tahun mendampingi Alpha Kaelan, aku hanya dianggap sebagai pengganti bibiku, Lyra. Saat ayahku tiada, Kaelan justru pergi ke Paris demi wanita itu. Di ruang rahasianya, aku menemukan fakta bahwa seluruh hubungan kami hanyalah rekayasa. Dalam kondisi mengandung anaknya, aku memutuskan membalas dendam. Menggunakan sihir untuk menyembunyikan kehamilan serta surat penolakan resmi, aku pergi selamanya ke benua baru.
Sampul Novel Dia Mimpi Burukku
9.3
Dihantui mimpi buruk tentang pengkhianatan suami dan kematian anaknya, Achlys mencoba menata hidup dengan bekerja di Kynleigh. Namun, ia syok saat menyadari bos barunya, Duke Julian yang dingin, sangat mirip dengan pria dalam mimpinya. Khawatir nasib buruk itu menjadi nyata, Achlys berniat mundur dan menjauh. Siapa sangka, upaya menghindar ini justru memantik rasa penasaran sang Duke yang terkenal tidak punya perasaan.
Sampul Novel Luna Tak Terikat
8.0
Lima tahun memimpin suku, Kaitlin tetap menjaga kesuciannya. Ketika Rosalyn, kakaknya, pulang tanpa keturunan, Phillip Elliott mendadak menuntut seorang pewaris. Hati Kaitlin hancur saat mengetahui niat busuk Phillip yang hanya ingin menjadikannya rahim pengganti untuk menyokong posisi Rosalyn. Merasa dikhianati, Kaitlin memilih pergi dan kembali ke orang tua angkatnya. Tak disangka, Phillip yang biasanya bersikap dingin kini justru memohon padanya untuk kembali dengan penuh keputusasaan.
Sampul Novel Mr. Devil
8.1
Hidup Ellena hancur setelah ayah kandungnya sendiri tega menjualnya demi ambisi bisnis yang kotor. Kini, ia menjadi tawanan di mansion megah milik Hogue, sosok vampir kejam dengan hasrat menyimpang yang kerap menyiksa fisiknya. Diperlakukan layaknya budak tanpa harga diri di bawah kekuasaan pria sadis tersebut, Ellena terjebak dalam penderitaan yang tiada akhir. Mampukah ia bertahan hidup menghadapi segala kekejaman Hogue?
Sampul Novel Pendekar Pedang Terhebat
9.1
Zero, anak yatim piatu berumur sepuluh tahun, sering menjadi sasaran perundungan akibat mimpinya menjadi pendekar pedang luar biasa walau bakatnya sangat minim. Latar belakangnya yang misterius di bawah bimbingan Master Pedang pun kerap memicu kecemburuan rekan-rekannya. Begitu mengetahui bahwa ayah kandungnya merupakan sosok pendekar legendaris, tekadnya langsung berkobar. Zero kini harus berjuang keras melewati rintangan demi membuktikan kelayakannya meraih gelar tertinggi.
Sampul Novel Tak Ada Obat Penyesalan
8.0
Setelah tewas akibat diracun oleh mantan suaminya, Axel Anderson, dan dikhianati oleh adiknya sendiri, sang protagonis mendapat kesempatan kedua untuk mengulang hidup. Di masa lalu, obsesinya pada Axel membawa penderitaan batin yang fatal. Kini, saat diminta memilih calon suami dari jajaran cucu Keluarga Anderson, ia menolak Axel dan justru memilih Jeremy Anderson. Keputusan ini mengguncang semua orang, namun saat ia mencoba menjauh, Axel justru menjadi gila setelah mendengar kabar pertunangannya.