APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengantin Kecil Tuan Xavier

Pengantin Kecil Tuan Xavier

Nandini, gadis penjual bunga yang terasing dari keluarganya, harus menghadapi takdir tak terduga. Saat kakaknya kabur di hari pernikahan, Nandini dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk bersanding dengan Tuan Xavier. Kini, kehidupan sederhana yang ia jalani berubah drastis. Ia terjebak dalam pernikahan mendadak yang tidak pernah ia bayangkan, serta harus bertahan di tengah tekanan kehidupan barunya bersama sang miliarder.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Tuan Awas," teriak Nandini dari belakang tubuh kekar Xavier kala dia melihat seorang pria membawa pisau dan akan menusuk pria itu.

Nandini pun berlari dan mendorong tubuh Xavier dengan sekuat tenaga. Xavier terjatuh, terhuyung dan Nandini menahan pisau dari pria itu. Hingga darahnya menetes mengenai wajah Xavier. Bodyguard Xavier langsung bergerak meringkus pria itu, mereka kecolongan.

Karena yang akan menusuk Xavier adalah anak buahnya sendiri. Tangan Nandini terluka, dan sepertinya luka di tangan mungil itu cukup dalam. Xavier beranjak, dia mengusap wajahnya yang terkena tetesan darah Nandini.

"Apa yang kau lakukan!" suara pri itu terdengar menggelegar ketika membentak Nandini.

Gadis yang di bentaknya itu langsung menundukkan kepala. Tubuh itu bergetar mendengar bentakan yang keluar dari mulut Xavier. Orang-orang yang mendengar keributan di depan pun langsung berlari menghampiri mereka. Mereka kaget begitu melihat gadis itu berdarah.

"Kau mau berlagak jadi pahlawan hah," bentak Xavier sambil mencengkram tangan Nandini.

Gadis itu semakin ketakutan, bahkan tubuhnya bergetar. Seorang pria menghampiri mereka. Dia melepas kasar tangan yang sedang mencengkram tangan gadis itu.

"Jangan pernah membentaknya," desis Abrian menatap tajam Xavier pria yang berstatus sahabat, ipar, dan juga bosnya itu.

Xavier diam, lama dia menatap pria yang sekarang berani menatapnya dengan tajam. Bahkan dengan beraninya, pria itu menghempaskan dengan kasar tangannya. Sungguh tidak tahu malu.

"Pergilah, sekarang dia bukan tanggung jawabmu!Hidupnya ada di genggaman tanganku!" ucap Xavier tak kalah dingin dan menatap nyalang pria itu.

Laki-laki tersebut pun menatap tajam Xavier,dengan terpaksa dia mengalah. Dirinya tidak bisa menolong gadis kecil itu. "Semua sudah terlambat Abrian, kau dan Ibumu yang mengantarkannya pada penderitaan yang tak bertepi, tak puaskah kalian menyiksanya, menyisakan sebuah trauma yang mendalam. Merusak mentalnya. Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Menolongnya? TERLAMBAT!" Batinnya bersenandika.

Pria itu menatap nanar mobil yang kini perlahan meninggalkan halaman rumahnya. Bahkan tenda-tenda pun masih berdiri dengan gagahnya. Tangan pria tampan itu mengepal, menahan rasa sesak dan juga sakit.

"MEYLAN DI MANA KAU BERADA!" geram Abrian sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.

Laki-laki itu melihat ibunya sedang membuka hantaran yang di bawa oleh Xavier. Tersungging senyuman di bibirnya, tidak ada raut sedih atau menyesal dalam raut mukanya. Hanya ada kesenangan, perempuan itu sama sekali tidak khawatir terhadap keadaan sang putri.

Pria itu melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai atas tanpa menyapa ibunya. Kini dia menatap sebuah poto dimana dalam pigura itu ada sebuah senyuman yang tulus terukir di wajah sang ibu. Sejak kejadian itu berhasil merenggut semua kebahagiaan keluarga kecilnya. Tapi, sekali lagi dia bertanya, apakah patut Nandini di salahkan sedangkan gadis kecil itu tidak tahu apapun.

"Maafkan aku Ayah, aku tidak bisa menjaga adik kecilku. Aku sudah membuatnya hancur yah, ya secara tidak langsung aku juga ikut andil dalam penderitaannya," lirih pria itu.

*

*

Sepanjang perjalanan menuju Mansion Xavier, pria itu hanya diam menatap tajam jalanan. Dia juga sudah menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki latar belakang salah satu bodyguard yang sudah berkhianat padanya. Sedangkan Nandini, dia meremas tangan yang terus berdarah, tidak ada rintihan atau air mata. Karena baginya, ini sudah biasa, bahkan dia pernah mendapatkan siksaan yang lebih dari ini.

Xavier sesekali melirik gadis di samping dia dengan ekor matanya. "Kenapa gadis ini sama sekali tidak merasa kesakitan?" tanya Xavier dalam hati.

Gadis kecil itu menahan rasa sakit di tangannya. "Tuhan, bolehkah aku meminta, tolong beritahu aku kehidupan seperti apa yang akan aku jalani. Apakah hidupku hanya akan terus menderita?" batin gadis itu menangis.

Tak lama kemudian, mereka pun sampai di sebuah Mansion yang sangat megah. Mansion yang mempunyai halaman yang sangat luas. Bahkan rumah Nandini saja kalah.

"Turun!"

Gadis kecil itu pun turun, dan melangkah perlahan mengikuti langkah lebar pria di depannya. Kaki kecil itu bahkan berjalan dengan cepat, terseok-seok hingga hampir terjatuh. Seorang pria paruh baya menyambut kedatangan Tuannya bersama sang istri.

"Selamat Datang Tuan," ucapnya sembari menundukkan kepala.

"Hmm," jawab Xavier singkat.

Dia pun kembali berjalan, namun tak lama berhenti dan membalikkan tubuh kekarnya itu. Pria itu menatap tajam gadis yang masih memakai baju pengantin, baju yang sudah berubah warna. Laki-laki itu pun menatap pria paruh baya yang masih setia mengekorinya.

"Bawa dia, dan obati tangannya. Tunjukkan gudang yang akan dia tempati di paviliun belakang!" suara datar itu mengalun di pendengaran Nandini.

"Baik Tuan," jawab pria paruh baya.

"Dan, berikan dia seragam maid. Beritahu juga tugasnya apa saja! Ah dan dia hanya akan bertugas mengurusku!" ucapnya kemudian melangkahkan kaki menuju ke kamar yang berada di lantai atas Mansion itu.

Lalu pria paruh baya itu menatap gadis kecil yang penampilannya sudah kacau. Namun, kecantikannya masih terpancar meski baju pengantin itu sudah tidak berbentuk. Pria paruh baya itu menatap iba, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

"Mari Nona, saya akan obati lukamu dan menunjukkan kamar milikmu," ucapnya sopan.

Nandini hanya mengangguk dan melangkah mengikuti langkah kaki pria itu. Sepanjang perjalanan menuju gudang yang berada di paviliun yang letaknya jauh di belakang, Nandini hanya diam saja. Tak mengeluarkan suaranya barang sedikit pun.

"Mari Nona, maaf ini gudang yang akan anda tempati . Dan saya akan meminta bantuan salah satu maid untuk membantu Anda mengobati luka Anda," tutur pria itu.

"Baik Paman, dan panggil saja saya Nandini Paman, tidak perlu memanggil saya Nona," jawab Nandini lembut.

Pria paruh baya itu pun tersenyum tipis dan berlalu dari sana. Nandini memperhatikan gudang yang akan dia tempati. Gudang itu masih kotor dan terlihat berdebu.

"Permisi Nona," sapa seorang wanita.

Nandini pun mengalihkan atensinya dan menatap seorang wanita paruh baya yang berada di hadapannya. Lalu mempersilahkannya masuk. Wanita itu pun masuk, dan sedikit meringis kala melihat tempat kotor itu.

"Saya mau mengobati luka Anda," ucap wanita paruh baya itu.

Nandini tersenyum, dan mengangguk lalu mempersilahkan wanita itu masuk ke dalam gudang. Lalu wanita itu membantunya melepaskan gaun yang sudah kotor akibat darah. Nandini hanya diam saja ketika perempuan itu membantunya.

"Kenapa anda menahan luka ini, kenapa anda tidak meminta Tuan untuk mengobati anda terlebih dahulu sebelum menuju ke Mansion," ucap wanita itu ketika melihat luka di tangan mungil Nandini.

Nandini hanya tersenyum. Tidak menjawab apapun. Wanita paruh baya itu pun ikut tersenyum.

"Istirahatlah Nona, nanti bila waktunya makan malam tiba, saya akan membangunkan Anda," ucapnya lembut.

"KASIHAN SEKALI DIA, AKAN ISTIRAHAT DI MANA DIA? SEDANG TEMPAT INI BEGITU KOTOR," batin wanita itu menatap iba gadis kecil tersebut.

Nandini pun mengangguk dan mencoba mencari alas yang akan di pakainya untuk sekedar merebahkan tubuhnya yang lelah. Tubuh kecil nan kurus itu sekarang terduduk di lantai dingin itu. Perlahan mata lelah itu menutup, menjemput sang mimpi.

Byurrr

Seember air meluncur bebas membasahi tubuh ringkih itu. Gadis yang masih terlelap menyelami mimpinya di tarik paksa menuju kenyataan. Dia mengerjapkan mata yang terasa perih dan juga hidung yang terasa sakit akibat kemasukan air.

Uhuk uhuk uhuk

Dia terbatuk, merasakan perih dan sesak di dada. Sambil berusaha menetralkan penglihatan, dia terus memukul-mukul dadanya yang terasa sakit.

"Bangun!" suara bariton nan dingin menyapa indera pendengaran Nandini.

Gadis itu berusaha memfokuskan pandangannya. Bola mata berwarna hazel itu seketika melotot tatkala melihat siluet seorang pria yang berdiri di sebelahnya.

"Ah, m--maaf s--saya t--terlambat b--bangun," ucap Nandini terbata dan ketakutan ketika melihat mata tajam itu menatap bak seekor elang yang hendak menangkap mangsanya.

Xavier menatap dingin gadis kecil di hadapannya. Lalu dia pun melirik Kepala Pelayan. Pria paruh baya itu pun mengerti dan dia pun mendekati gadis yang masih setia menundukkan kepalanya.

"Maaf, Nona bisa mengganti pakaian Nona dengan seragam maid yang ada di rumah ini," ucap Pria paruh baya itu.

Deg!

Dada Nandini seketika sesak dan sakit. Maksud suaminya apa, menyuruhnya untuk mengganti pakaian dengan seragam pelayan di Mansion mewah itu. Padahal status dirinya jelas. Yaitu Istri dari Seorang Xavier Romanov.

Gadis itu pun memberanikan menatap mata tajam itu. Wajah yang sangat dingin tidak ada senyum sama sekali yang tersungging dari bibirnya. Nandini terus menatap seolah dia bertanya lewat tatapan matanya 'Apa Maksud Dari Semua Ini!'.

"Kalian urus dia. Dan antar dia ke hadapan saya dalam waktu kurang dari sepuluh menit," ucap Xavier dan langsung berlalu dari sana tanpa mendengarkan jawaban dari para pelayan yang berada di sana.

Pria paruh baya itu menatap salah seorang wanita yang umurnya mungkin sekitar 45 tahun. Dan memintanya untuk membantu Nandini mengganti bajunya yang basah. Akibat di siram oleh Xavier.

"Urus dia, ingat dalam waktu sepuluh menit, dia harus sudah siap menghadap Tuan," ucapnya datar meski sebenarnya dia sedih melihat perlakuan majikannya terhadap gadis itu. Lalu ia pun berlalu meninggalkan gudang yang di huni oleh Nandini.

Wanita paruh baya itu pun mengangguk dan menghampiri Nandini yang masih diam menatap pintu yang perlahan menutup. Dia menatap nanar punggung yang berlalu dari hadapannya.

"Ya Allah inikah jalan hidupku, mengapa engkau tidak mengizinkan diri ini hidup bahagia. Setelah keluar dari siksaan Ibu sekarang aku masuk ke kehidupan yang sama sekali tidak aku inginkan," batin Nandini bersenandika.

"Mari Non, saya bantu melepas gaun pengantin Nona," ucapnya lembut.

Nandini pun mengangguk dan beralih berjalan menuju kamar mandi bersama dengan wanita itu. Pikirannya menerawang jauh, pandangannya kosong.

"Ayo Non, waktu kita hanya sebentar lagi, jangan sampai Tuan Muda marah, jika Tuan marah, semua yang berada di rumah ini akan kena semprot," tutur wanita paruh baya itu sambil membuka resleting yang berada tepat di belakang.

Delapan menit sudah berlalu, kini Nandini sudah siap dengan pakaiannya. Dia menatap dirinya di kaca. Dan tersenyum kecut.

"Malang sekali nasibmu," ucapnya dalam hati mengasihani diri sendiri.

Tiba-tiba wanita itu mendekat, "Non, cepat waktunya tinggal dua menit lagi," ucap wanita paruh baya itu panik.

Dia menggeret tangan Nandini bahkan terlihat menggusur tubuh kecil itu. Nandini harus menyesuaikan langkah kakinya. Jalan yang terseok-seok tidak menghentikan langkah wanita paruh baya itu. Kini keduanya sudah tiba di hadapan sang Tuan Rumah.

"Sepuluh menit lebih tiga puluh detik," ucapnya datar sambil menatap jam mewah yang ada di tangannya.

Wanita paruh baya itu menunduk takut, "M-maafkan kami Tuan, tadi ada sedikit insiden di dalam kamar mandi," ujarnya berbohong untuk menyelamatkan diri dan juga gadis yang tangannya masih dia pegang.

Ya wanita itu lebih memilih berbohong dari pada dia kena marah juga dengan yang lainnya. Xavier mengibaskan tangannya, kini yang ada di sana hanya Xavier, Nandini juga Kepala Pelayan. Yang sama-sama datarnya seperti sang Majikan.

"Jelaskan tugas-tugas dia di rumah ini," ucap Xavier.

Kepala Pelayan pun mengangguk dan membaca poin-poin tugas untuk Nandini.

* Harus bangun awal setidaknya pukul 04.00 pagi.

* Mengurus segala keperluan Tuan Muda.

* Membereskan Kamar Utama.

* Tidak boleh bermalas-malasan.

* Di Perbolehkan beristirahat hanya ketika Tuan Muda tidak ada di Mansion.

* Tidak di perbolehkan memasuki satu ruangan yang letaknya paling ujung, jika dengan sengaja memasukinya maka siap-siap akan mendapat hukuman.

* Tidak boleh tidur duluan jika Tuan Muda belum pulang.

* Tidur di gudang paviliun belakang.

Deg!

Poin terakhir yang membuat Nandini meringis. Dia tidak mau jika harus tertidur di gudang yang gelap juga pengap. Nandini trauma, ya dia trauma akan kegelapan.

"M--maaf, b-bisakah poin terakhir di ganti? Saya tidak keberatan melakukan semua pekerjaan yang ada di sini, tapi.. Bisakah poin yang terakhir Anda ganti? Saya tidak masalah tidur di kamar sempit, tapi jika.. Di gudang saya tidak bisa," ucap Nandini pelan.

Kepala Pelayan melirik Tuannya, terlihat dia sudah marah. Karena baru kali ini ada yang berani membantahnya.

Brakk

Meja kaca yang ada di hadapan Xavier seketika melayang karena di tendang olehnya. Dia menatap nyalang gadis yang berdiri itu, kaca berhamburan bahkan ada sebagian pecahan yang mengenai kaki Nandini. Tampak darah menetes.Gadis itu sedikit meringis, merasakan perih di kakinya.

"Siapa kau hah? Siapa kau berani-beraninya kau membantah perintahku!" suara itu menggelegar seakan memecahkan gendang telinga setiap orang yang mendengarnya.

Nandini semakin menunduk ketakutan, tangannya memilin-milin kain yang menempel di tubuh ringkih itu. Xavier beranjak berdiri dan menghampiri Nandini. Pria itu menunduk menatap gadis yang berstatus istrinya itu.

Sret

"Aww,"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dulu Istri Bodoh, Sekarang Obsesi Abadi
8.0
Tiga tahun Cathryn bertahan dalam pernikahan dingin demi Liam, sebelum dikhianati bersama adik tirinya saat sang ibu tiada. Muak, ia memilih cerai meski dicibir. Tak disangka, Liam menyesal dan bersujud memohon di bawah hujan agar kembali. Namun, desas-desus rujuk itu diabaikan Cathryn. Kini, seorang taipan kuat berdiri di sisinya, siap melindungi istri tercintanya dan menghancurkan siapa saja yang berani mengusiknya.
Sampul Novel Gairah Pewaris Hanya Untuk Pengantin Penggantinya
8.2
Demi melunasi biaya medis sang tante, Selena Hart bersedia menjadi pengantin pengganti untuk Damian Jorch dengan imbalan satu juta dolar. Wajah Selena yang sangat serupa dengan Elsie Sonata, tunangan Damian yang hilang, membuat rencana ini tampak mudah. Selena hanya perlu berpura-pura di altar pernikahan. Namun, segalanya berubah rumit saat Damian kehilangan kendali dalam kondisi mabuk dan menyentuhnya. Kesepakatan bisnis mereka kini berubah menjadi hubungan penuh gairah yang tak terduga.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Kasih sayang mendalam sebagai ibu memaksa Neva Zetrix mengesampingkan harga dirinya demi melindungi sang anak yang tak berdosa. Setiap hari, ia harus tunduk dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson yang sangat dominan. Neva terpaksa bertahan hidup di tengah tekanan batin yang begitu menyiksa. Hubungan yang penuh ketimpangan ini menuntut pengorbanan luar biasa dari Neva, yang rela melakukan apa saja demi keselamatan buah hatinya tercinta.
Sampul Novel Istri Sang CEO (After Married)
8.7
Niat awal Sella untuk mencari pekerjaan berubah drastis saat ia justru terjebak dalam pernikahan kontrak. Dirinya terpaksa menjadi istri pengganti bagi Rishan, seorang CEO yang menikah hanya demi menepati janji pada ibunya. Tanpa ada rasa cinta, hubungan mereka diwarnai ego dan aturan sepihak dari Rishan yang dominan. Di tengah tuntutan aneh sang suami, Sella harus kuat bertahan dan berjuang mengendalikan perasaannya yang kian goyah dalam ikatan pernikahan paksaan ini.
Sampul Novel Kakak Tiriku adalah Pasanganku
8.0
Masuk ke dalam lingkaran keluarga konglomerat setelah pernikahan ibunya dengan pria kaya raya seharusnya menjadi awal kehidupan yang menyenangkan bagi sang protagonis. Namun, keberadaan kakak tiri yang tampan sekaligus bersikap dingin merusak segalanya. Pria itu menyimpan kebencian mendalam, dengan tatapan yang kian hari terasa semakin janggal. Puncaknya terjadi ketika sang kakak pulang dalam kondisi mabuk suatu malam, memaksa adik tirinya memanggilnya dengan sebutan sayang hingga fajar tiba.
Sampul Novel Kau Ceraikan Aku, Tetapi Anakku Akan Menjadi Pewaris
9.3
Akibat tekanan ibu mertua yang merendahkan status sosialnya, Lara terpaksa berpisah dari Elara. Suaminya yang dulu hangat kini berubah dingin dan membiarkan pernikahan rahasia mereka hancur. Setelah malam keliru yang dikira Elara bersama Elena, ia bertunangan dengan wanita itu. Lara yang terluka memilih pergi ke desa untuk merintis usaha sabun organik. Di sana, ia memulai hidup baru tanpa menyadari bahwa dirinya sedang mengandung anak yang akan menjadi pewaris takhta Elara.