APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengabulan Doa Anak

Pengabulan Doa Anak

Di hari ulang tahunnya, Gilena mengucapkan permohonan agar Tante Jolin menjadi ibunya. Sang suami yang mengira sang istri tidak paham bahasa Jerman, mendukung keinginan itu dengan senyuman hangat. Namun, rahasia besar itu runtuh seketika. Sang istri yang mengerti arti ucapan mereka terkejut hingga menjatuhkan kuenya. Demi menutupi kepanikan dari pengkhianatan yang baru saja terungkap di depan matanya, ia terpaksa berbohong bahwa tangannya licinnya licin.
Bab
Bagikan

Bab 4

Saat itu juga, aku langsung sadar bawah ini adalah Tante Jolin yang mereka sebut. Dia sengaja menambahkanku buat cari gara-gara.

Kini aku cuman ingin menampar diriku sendiri.

Tadi kok aku bisa sesaat merasa iba pada mereka. Sampai kepikir buat tinggal dan melanjutkan hidup enak bersama mereka.

Bajingan tetap bajingan. Mereka cuman ditutupi oleh akting saja.

Aku nggak balas pesannya. Jolin juga nggak peduli. Dia mengirimiku sebuah foto.

Itu foto langsung dirinya dan Simon minum air dari gelas yang sama.

Dari pantulan kaca, aku melihat yang jepret foto adalah Gilena. Bahkan dari foto itu, terdengar suara.

“Ibu Jolin cocok sekali sama Ayah!”

Jolin mengirimiku pesan lagi: [Gimana? Foto pasangan kami cantik nggak?]

Bukan hanya ini saja, tapi masih banyak lagi.

Aku membalikkan ponselku di atas meja, lalu tanpa sadar terus muntah kering.

Menjijikkan sekali!

Aku muntah kering ke tong sampah sambil berpegangan pada meja.

Segera, derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekatiku. Simon menepuk-nepuk punggungku dan bertanya dengan cemas, “Kenapa Josie? Jangan takuti aku.”

Sudah lama aku muntah kering, tapi nggak ada yang keluar. Lalu aku berdiri dengan gemetaran dan berkata, “Mungkin gara-gara makanan tadi pagi agak berminyak.”

Gilena memberikan segelas air hangat padaku dan berkata, “Bu, minum air.”

Aku mendongak dan melirik segelas air itu, bayangan foto tadi langsung muncul di otakku.

Kutolak gelas itu dengan kasar, lalu muntah ke tong sampah untuk waktu yang lama.

Rok Gilena pun basah. Dia menyungutkan bibirnya dengan sedih, lalu menangis, “Aku benci Ibu!”

“Kau kok terus marah aku! Nggak kayak Ibu Jolin bisa bujuk aku! Kau kalah jauh dibandingkan sama Ibu Jolin!”

Tangisannya makin keras.

Namanya juga anak-anak, karena terlalu kalut, dia nggak sadar telah mengucapkan kata-kata yang nggak pantas dikatakan.

Mendengar ini, wajah Simon langsung berubah dan berteriak, “Gilena!”

Aku menarik tangan Gilena dan bertanya dengan pelan, “Apa kau bilang? Siapa Ibu Jolin?”

Gilena menangis tersedu-sedu. Aku pun berjongkok dan memandangnya dengan tenang.

Melihat putri yang kuperjuangkan mati-matian selama 9 bulan dalam kandungan, kini kusadari dia terasa asing bagiku.

Waktu umur 10 bulan, aku tahu dia suka menggambar. Aku sengaja habiskan gaji setengah tahun buat bikin ruang gambar pribadi di rumah.

Dia suka dengar cerita pengantar tidur. Secapek apa pun aku di siang harinya, aku pasti akan bacakan cerita baru di malam harinya. Kebiasaan ini terus berlanjut sampai sekarang.

Sejak kecil pencernaannya nggak bagus. Aku menghabiskan banyak waktu meneliti resep dan membuat makanan yang dirancang khusus untuknya.

Selama ini kukira didikanku berhasil, makanya dia bisa menghiburku di saat aku sedih.

“Jadi, di dalam hatimu, selama ini Ibu terus memaksamu?”

Simon segera jawab, “Bukan gitu. Anak ini asal ngomong.”

“Apaan Ibu Jolin? Itu cuman karakter yang dia dapatkan saat penampilan di sekolah.”

“Gilena, cepat jelaskan pada Ibu.”

Waktu itu emosi Gilena lagi kacau, jadi dia nggak bisa dengar perkataan apa pun.

Dia melepaskan tangannya dari genggamanku dengan kasar dan berteriak, “Apa yang aku ngomong itu benar. Aku benci Ibu!”

“Ayah, kau ‘kan janji mau gantikan ibu baru untukku setelah aku ulang tahun. Aku nggak mau tunggu lagi.”

Simon segera menutup mulut Gilena dan berkata, “Jangan asal ngomong, Nak.”

Dia langsung gendong Gilena ke arah kamar sambil berkata, “Sudahlah, dia mungkin sudah ngantuk.”

Aku pelan-pelan bangun, lalu menarik ujung baju Simon dan berkata, “Kalau dia mau ganti ibu baru, aku kabulkan permintaannya saja.”

Mendengar ini, Simon tercengang. Dia tampak panik dan berkata, “Josie, jangan ngomong gitu. Aku nggak bisa tahan penderitaan kehilanganmu.”

“Aku bawa anak ke kamar dulu. Kau tunggu aku.”

Simon langsung menggendong anak ke kamar sambil menutup mulutnya supaya dia nggak bersuara.

Seketika aku merasa kehilangan tenaga dan hanya terduduk lemas di sofa.

Mentalku yang tadi berniat membongkar semua sekalian juga langsung lenyap.

Aku bahkan berpikir untuk menggunakan kesempatan ini untuk bertengkar dengan mereka, lalu cerai dengan Simon dan pulang ke rumah di Jerman.

Tapi aku juga khawatir Simon nggak mau membiarkan aku pergi.

Tenggelam dalam pikiranku, entah sejak kapan Simon sudah duduk di sampingku dan menggenggam tanganku sambil berkata, “Josie, kau jangan marah lagi.”

“Kau juga tahu, GIlena baru berumur 5 tahun. Mungkin dia kedengaran kata-kata yang nggak patut didengar, makanya sedih.”

“Kau tenang saja. Nanti dia bangun, aku pasti nasehatin dia.”

“Jadi …”

Simon tiba-tiba menggenggam tanganku dengan erat dan melanjutkan perkataannya, “Tadi hanya ucapan marah, ‘kan?”

Pandangannya terlihat hasrat posesif yang hampir nggak wajar.

Aku langsung merinding.

Aku tahu dengan jelas, kalau aku terang-terangan bilang aku mau meninggalkannya, dia pasti nggak akan membiarkan aku pergi. Padahal dalam hatinya, dia dan Gilena lebih suka sama Jolin.

Aku tarik napas dalam-dalam, mengeluarkan suara “hmm”, lalu meregangkan senyum.

“Iya, aku cuman terlalu marah.”

Mendengar ini, kelihatan sekali Simon merasa lega.

Beberapa hari ke dpean, Simon jadi lebih sensitif dan terus berada di sisiku.

Gilena kelihatan nggak senang. Namun, entah apa yang dibisikkan Simon, sampai dia tersenyum paksa setiap kali berhadapan denganku.

Aku biasa-biasa saja. Aku pura-pura nggak tahu dia nggak senang.

Biasanya mereka pergi setiap dua tiga hari.

Sekarang Simon kerja pun berada di sampingku.

Setiap kali ponsel Simon berdering, mata Gilena langsung bersinar sebentar. Itu pasti nada dering khusus Jolin.

Tapi setiap kalinya Simon akan ambil ponselnya, lalu melihat sekilas dan langsung menolak teleponnya. Khawatir aku nggak senang, dia bahkan berkata, “Ini telepon gangguan dari perusahaan saingan, bukan orang lain.”

Tingkah lakunya ini membuatku nggak punya kesempatan untuk kemas koper dan pergi.

Hari keberangkatanku ke luar negeri tinggal 1 minggu lagi.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Cari "B94765" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B94765
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Om Duda
7.9
Sebagai CEO sukses dan duda satu anak, Rehan Hadinata merindukan kehadiran sosok wanita di hidupnya. Di tengah banyaknya wanita yang mencoba mendekat, belum ada satu pun yang mampu memikat hatinya. Suatu ketika, Rehan mencoba peruntungan melalui aplikasi kencan daring dan terpikat oleh profil Nesya Cintia Ayu. Ia pun memutuskan berkirim pesan untuk memulai perkenalan. Akankah obrolan ini membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius?
Sampul Novel Gairah Gadis Penghuni Kos
8.5
Di usia 35 tahun, arsitek bernama Aldi Reynaldi sibuk mengelola rumah kos eksklusif wanita berkapasitas 30 kamar yang selalu terisi penuh. Sikapnya yang tulus dalam membantu berbagai masalah para penyewa membuat hubungan mereka sangat akrab. Sebagai bentuk balas budi atas kebaikannya, para gadis penghuni kos mulai menaruh perhatian besar pada seluruh kebutuhan hidup Aldi, bahkan hingga menyentuh ranah intim yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Sampul Novel Invisible Rich Man
9.5
Demi mencari ketulusan cinta, Davin yang merupakan pewaris takhta bisnis global rela menyamar menjadi petugas kebersihan. Di Jakarta, takdir mempertemukannya dengan Vania, sosok wanita yang menerimanya tanpa peduli status sosial. Vania pun sukses membuktikan kesetiaannya melalui berbagai ujian dari Davin. Namun, hubungan mereka kini terancam hancur saat keluarga konglomerat Davin datang menentang keras dan mencoba memisahkan keduanya secara paksa.
Sampul Novel Istri yang menjadi Gundik
9.1
Niat bahagia mendaftarkan calon bayinya ke asuransi kantor suami berujung petaka bagi seorang wanita. Di sana, ia menemukan dokumen yang mencantumkan Vivi Wisnutama sebagai istri sah suaminya, lengkap dengan dua anak berusia tujuh tahun. Kenyataan pahit terungkap bahwa pria yang ia cintai selama lima tahun ini telah berkeluarga dengan seorang pewaris bisnis hotel. Kini, ia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya hanyalah gundik dan anak di kandungannya terancam menjadi anak haram tanpa pengakuan.
Sampul Novel Kepentok Cinta Sang Idol
8.2
Nasib malang menimpa jurnalis bernama Adara. Ia dituduh menyebarkan gosip miring tentang aktor populer, Benard. Fitnah tersebut tak hanya membuat sang bintang murka, tetapi juga menyudutkan posisi Adara. Di tengah ketegangan konflik itu, getaran asmara perlahan tumbuh di antara keduanya secara tak terduga. Kini, Adara terjebak dalam dilema besar yang menguji profesionalitasnya: ia harus memilih antara mempertahankan karier jurnalistiknya atau mengikuti kata hatinya untuk mencintai Benard.
Sampul Novel The Confidential : Love And Ravange
9.3
Sejak menempati kediaman barunya, Keysia terus didera teror mengerikan dan rangkaian kematian misterius. Berbagai rahasia sengaja disembunyikan darinya, memaksa Keysia untuk memecahkan teka-teki rumit demi mengungkap kebenaran yang terkubur. Di tengah situasi yang mengancam nyawa, ia juga harus menghadapi pergulatan batin antara perasaan cinta dan hasrat menuntut dendam. Mampukah Keysia bertahan melewati perjalanan emosional yang penuh ketegangan ini?