APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengabdian dan Cinta

Pengabdian dan Cinta

Dua polisi tangguh, Ardi dan Bara, berjuang keras merubuhkan sindikat mafia yang kebal hukum. Namun, misi mereka gagal total setelah Bara tertembak dalam aksi pengintaian. Di tengah situasi kacau itu, Ardi menemukan kenyataan pahit bahwa gembong kriminal yang mereka incar, Arkana, adalah ayah kandungnya. Kini, ia terjebak di antara ikatan darah dan kewajibannya sebagai aparat. Demi hukum dan pengabdian, Ardi akhirnya terpaksa melepaskan tembakan fatal.
Bab
Bagikan

Bab 2

Selamat Membaca

Pov Rheinata

Pagi menjelang siang, aku dan Langit sampai di depan sebuah rumah. Bangunannya kecil, tetapi halam dan dinding-dinding rumah itu seolah terawat dengan rapi. Pemiliknya pasti begitu telaten.

Aku bisa merasakan kedamaian dengan hanya berdiri mematut sekeliling. Mataku menjamah setiap rumput dan bunga yang tertata rapi. Ingin rasanya kupetik setangkai mawar untuk diletakkan di kamar tidur.

"Ayo masuk." Ardi mengajakku untuk masuk ke kediaman keluarganya. Tepatnya, tempat dia dan sang ibu hidup dengan saling mengasihi.

Tanpa ragu, kuayun langkah santai. Aku akan bertemu dengan ibu dari laki-laki yang mungkin kusuka. Artinya, aku akan filihat sebagaimana yang orang tua harapkan untuk mendampingi putranya.

Wah, apa lagi yang bersarang di kepalaku. Pikiran-pikiran nakal tentang rencana hidup bersama Ardi. Aku harus sadar, bahkan Ardi tentu saja membawaku kemari karena ia selalu bercerita soal perempuan bernama Sera. Perluku ingat, ternyata aku itu pun bukan kekasihnya. Hal ini perlu digaris bawahi.

"Rheina?" Panggilan lembut Langit membuyarkan lamunan. Rupanya diriku belum melangkahkan kaki. Bagaimana bisa aku tidak menyadari.

"I, iya, Ardi ," balasku gugup. Sejujurnya aku dilema antara malu dan bingung.

"Kenapa melamun, Rhein " Kali ini Langit bertanya seraya mengernyitkan dahi.

"Eh, tidak apa-apa, kita jadi masuk?" Mlah aku yang bertanya. Padahal sedaei tadi Langit juga sudah mengajakku ke dalam. Kenapa tiba-tiba diriku jadi tidak jelas begini.

Setelah sepakat untuk masuk ke rumah, kami mulai menaiki satu per satu anak tangga. Sessekali kamu saling melempar senyum. Kemudian, aku mebghela napas panjang.

"Ciee, ibu sibuk-sibuk menyiapkan makanan. Sudah seperti menunggu calon mantu saja." Apa, aku mendengar Ardi sedang mencandai sang ibu. Dengan jenakan dirinya menggoba ibu. Dia bilang, ibusudah seperti menunggu calon mantu saja sampai sibuk-sibuk sendiri.

Aku tau bahwa wajahku sedang bersemu merah. Hal ini kusadari saat kurasakan hawa panas menjalar di kedua pipi. Andai saja itu benar.

"Eh, kalian sudah datang, ayo masuk dulu." Ibunda Ardi segera menyongsong kami ke pintu. Wajahnya berseri dihiasi senyum teramah yang pernah kutemui setelah orang tuaku. Paling tidak, senyum orang tuaku itu pernah kulihat semasa aku kecil. Sewaktu Ardi mengenalku sebagai gadis berkepang dua.

"Jadi ini yang namanya Rheinata ? Duh, cantik sekali." Ibunda Langit menangkup pipiku menggunakan dua telapan tangannya. Aku hanya tersenyum. Namun, dia seolah mengisyaratkan sesuatu pada Ardi . Pada saat mengatakan bahwa aku cantik, ibu memandang ke arah Langit dengan memainkan ekor mata.

"Terima kasih, Bu." Tidak sopan sekali aku jika setelah dipuji, tapi tidak mengucapkan terima kasih.

Kucium punggung tangan wanita itu saat kami bersalaman. Aku merasa sedang menyalami ibuku sendiri. Tidak hanya itu, kami berdua berpelukan begitu hangat. Aku tahu, di saat yang bersamaan, Langit justru terharu melihat aku dan ibunya berpelukan.

"Oh iya, Bu, Rhein punya sesuatu untuk ibu." Setelah melepaskan pelukan, kuserahkan sebuah bingkisan cantik.

"Apa ini, Nak?" tanyanya padaku.

"Ini khusus Rhein buatkan intuk ibu." Aku tersenyum manis.

"Ehm, jadi orang istimewa itu ibu, padahal aku sudah terlalu PD, lho." Kami berdua hampir lupa, bahwa di dekat kami berdiri, masih ada Ardi sebagai pengamat.

Aku dan ibu hanya tertawa mendengar celotehannya. Kami saling meledek. Pada akhirnya, lagi-lagi melahirkan tawa.

"Kita duduk dulu, yuk." Kami bertiga pun duduk. Tidak di sofa tamu. Bukan juga di meja makan. Akan tetapi, kami duduk di atas karpet yang terbentang. Di tengahnya terletak sebuah meja osin bundar.

Sederhana memang, tapi aku mememukan kenyamanan di tengah-tengah mereka. Hidup berdua, tetapi harmonis. Kurasa rumah ini jauh dari kata sepi, meskipun hanya dihuni dua makhluk Tuhan yang istimewa.

"Dibuka dong, Bu, hadiahnya. Itu Sera sendiri yang buat. Semoga ibu suka." Perlahan ibu membuka tutup kotak yang dihiasi bunga warna biru muda itu.

"Wah, bagusnya." Ibu mengeluarkan sebuah syal. Benda itulah yang kurajut semalam suntuk.

Kurain syal itu dari tangan wanita tua yang tidak lain adalah ibu dari lelaki terdekat denganku saat ini. Lipatannya kuurai. Setelah itu kupasangkan secara melingkar di lehernya. Kami tersenyum. Dia pun untuk kesekian kalinya membelai pipiku.

"Terima kasih ya, Cantik, ini sangat berguna bagi ibu yang sudah tua." ucapnya lembut.

"Rhein juga berterima kasih atas makanan-makanan yang ibu kirimkan di saat Rhein sakit. Makanan-makanan itu lezat, Bu." Sepantasnya aku berterima kasih atas makanan-makanan itu. Wanita yang kantung matanya sudah turun ini terlalu baik, bahkan di saat kamu belum pernah bertemu atau berkenalan secara langsung.

"Syukurlah kalau kamu suka masakan ibu, Nak. Oh iya, tadi ibu juga membuat beberapa camilan untuk kita." Bergegaslah wanita tua itu pun bergegas mengambil camilan-camilan yang ia maksud.

Wanita itu menyajikan makanan itu di meja osin tempat aku, ibu, dan Langit duduk. Baru saja terletak di meja, langung saja tangan Langit bersiap. Seketika itu pula ibu menahan tangannya.

"Biar tamu kita dulu yang ambil." Ibu melototi putra sematawayangnya. Melihal hal tersebut, aku jadi tertawa.

"Tidak apa-apa, Bu." Aku tidak keberatan jika Ardi ingin mengambilnya terlebih dahulu. Biarkan saja, sebab melihat kedekatan dan kehangatan antara ibu dan anak ini, aku jadi terhibur.

Diiringi canda tawa, kami asyik mengunyah dalam rangka menghabiskan kudapan yang disajikan ibu. Cerita-cerita kami tidak terlepas dari Ardi kecil, ayah yang meninggalkan keluarga , dan keluarga ini secara umum. Tidak ketinggalan juga ibu mengisahkan kenakalan kanak-kanak bernama Langit.

Kami tertawa geli ketika tiba pada momen-momen lucu yang dikisahkan dari mulut ibu. Sampai akhirnya, waktu makan siang hampir tiba. Ibu mngajakku ikut memasak di dapur bersama.

"Memangnya kamu bisa masak?" ledek Ardi seraya menjawil lenganku.

"Idih, belum tahu dia." Kami berdua tertawa. Duh, rumah ini nyatanya umpama bonaza bagi kehidupan siapa pun yang tinggal dan singgah.

Tidak membiarkan ibu menunggu, aku segera mengikutinya ke dapur. Dapurnya saja sebersih itu. Pantaslah ibu sangat senang melakoni aktivitas masak memasak.

Sambil memasak, kami mengobrolkan banyak hal. Aku juga merasa lapang setelah mengutarakan hal-hal pribadi dalam hidupku. Dia juga memintaku agar menganggapnya sebagai ibuku sendiri.

Setelah menu makan siang siap disajikan, kami menatanya sedemikian rupa pada meja yang tadinya ditempati kudapan. Ini untuk pertama kalinya kami makan bersama. Namun, hatiku merasa ingin momen ini tetap ada bersamanya.

Selesai makan siang dan sejenak mengobrol, satu kuapan hadir. Tidak lama kemudian, disusul lagi kuapan kedua. Oh, aku mulai mengantuk.

Awalnya aku ingin pulang saja. Namun, Ardi sedang pergi keluar. Katanya tadi hanya sebentar.

Seringnya kuapan dan didukung mata merah, ibu paham bahwa aku mengantuk. Sambil menunggu Langit, ibu menyilakanku beristirahan siang di sana. Wanita baik hati itu memperlakukanku bagai seorang anak gadisnya, bahkan aku sampai diambilkan bantal agar dapat beristirahat dengan nyaman.

Bersambung

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Duka Sang Putri Tertawan
8.8
Tiga tahun setelah malam bersama Vincent, sang pewaris mafia, hidupku hancur saat cinta pertamanya kembali. Demi wanita itu, Vincent tega mencelakaiku, membuang pusaka ibuku, hingga menjebloskanku ke penjara. Namun, setelah aku bebas dan terbang ke Arunika untuk menikahi pria lain dalam kondisi tak berdaya, Vincent justru murka. Ia nekat mengobrak-abrik seluruh Mandala Jaya demi merebutku kembali ke pelukannya.
Sampul Novel Jerat Cinta Tuan Mafia Salvatore
8.4
Felix Salvatore didera dendam kesumat kepada Veronica Reager. Ia menuduh putri musuhnya itu sebagai dalang atas tewasnya sang ibu. Lewat ancaman mati, Felix memaksa Veronica untuk menikahinya. Meski berniat menyiksa sang istri, pertahanan Felix goyah saat perasaan cinta perlahan tumbuh di antara mereka. Akankah kebenaran tentang kesalahpahaman masa lalu terungkap sebelum amarah Felix telanjur menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Kisah Cinta Naomi
9.0
Naomi Clara mengalami kemalangan besar setelah Adrian, sang suami, menjual dirinya demi bisnis hingga ia terperangkap dalam jaringan perdagangan manusia di Hongkong. Di sana, takdir mempertemukannya dengan Zhou Tian, seorang pemimpin mafia berdarah dingin. Hidup Naomi semakin rumit ketika seorang playboy ternama juga mulai menaruh hati padanya. Kini, ia terjebak dalam cinta segitiga berbahaya yang mengancam perasaan serta masa depannya.
Sampul Novel PANTHER & DEA
9.0
Sejak kecil menjadi pembunuh bayaran yang menghabisi orang tuanya sendiri, Panther jenuh dan ingin pensiun. Namun, hartanya dikuras habis oleh mafia Edward Elmund. Demi bertahan, ia menculik Natalia, putri Edward, tapi sang ayah enggan membayar tebusan. Di tengah pelarian, Sophie yang dicintainya malah berkhianat demi harta. Saat terpojok, Dea, informan lamanya, datang membantu meraih kebebasan. Layakkah Panther hidup normal setelah masa lalunya?
Sampul Novel Saat Pewaris Mafia Mematahkan Hatiku
8.1
Tepat di hari ulang tahunku yang ke-22, duniaku hancur berkeping-keping. Di balik pintu sebuah klub, aku tidak sengaja mendengar pengakuan mengejutkan dari Dante Adipradana. Logo perusahaan rancanganku, yang seharusnya menjadi lambang masa depan kami, terlepas begitu saja dari genggamanku. Ternyata, pertunangan kami hanyalah sebuah kepalsuan demi menyingkirkanku dari hidupnya. Di tengah bisingnya musik, aku harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta dan kesetiaanku dibalas pengkhianatan.
Sampul Novel Satu-PD184
8.9
Niat baikku mengantar Lee ke Thailand demi cinta pertamanya justru dibalas dengan pengkhianatan kejam. Malam itu juga, ia menculik kedua orang tuaku sebagai sandera untuk memeras informasi tentang keberadaan wanita tersebut. Lewat layar monitor, aku dipaksa menyaksikan ayah dan ibuku tergantung terbalik dari sebuah pesawat. Saat perintah diberikan, sebutir peluru ditembakkan ke tali pengikat yang mulai rapuh. Kini, nyawa mereka benar-benar berada di ambang kematian.