APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Penderitaan yang Dipaksa Tersenyum

Penderitaan yang Dipaksa Tersenyum

Hidup Liana hancur setelah Revan, suaminya, menjual dirinya kepada bos mafia Eropa yang kejam, Dominic Valente, demi melunasi utang judi. Di balik sifat dinginnya, Dominic justru terpikat oleh ketulusan Liana hingga malam kebersamaan mereka menghasilkan sebuah kehamilan. Namun, sebelum Dominic sempat menolongnya, Revan kembali menyeret Liana untuk disiksa sebagai budak. Di saat Dominic mengerahkan segalanya untuk mencari Liana, wanita itu berjuang bertahan hidup demi bayi di kandungannya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Udara pagi menampar lembut kulit Liana yang pucat saat ia berjalan terseok di halaman belakang rumah Revan. Jemarinya menggenggam ember berisi air sabun yang hampir tumpah. Tubuhnya belum pulih sepenuhnya dari luka-luka semalam, tapi suara bentakan ibu mertuanya menggema di kepalanya - perintah yang tak boleh diabaikan, sebab satu kesalahan saja bisa berujung cambukan atau piring pecah yang melayang ke tubuhnya.

"Cepat! Dasar perempuan tidak tahu diri!" bentak suara parau dari dalam rumah. "Kalau tidak suka di sini, pergi saja! Tapi ingat, kau tak punya tempat pulang, pelacur murahan!"

Liana menggigit bibirnya kuat-kuat. Kata-kata itu menusuk, tapi bukan hal baru. Ia sudah kebal mendengar caci maki seperti itu. Satu-satunya yang membuatnya masih berdiri adalah janin di dalam rahimnya - satu-satunya bukti bahwa ia masih hidup, masih berarti.

Ia jongkok, menggosok lantai teras dengan kain pel dan sabun, matanya nanar. Pikirannya melayang pada malam itu - malam yang tak pernah bisa ia hapus dari ingatan. Bukan karena trauma, tapi karena malam itu juga memberi harapan aneh dalam dirinya. Sosok lelaki asing yang memandangnya bukan sebagai barang, melainkan sebagai manusia. Tatapan mata Dominic Valente yang penuh ketenangan, meski tersembunyi di balik kegelapan kekuasaan.

Namun sekarang semua terasa seperti mimpi jauh. Ia terkurung dalam kehidupan yang lebih kelam dari penjara.

Suara langkah berat terdengar di belakangnya. Liana menoleh sekilas, dan napasnya tercekat. Revan berdiri di ambang pintu dengan mata merah dan wajah tak bercukur. Di tangannya ada sebatang rokok yang masih menyala.

"Kau belum juga selesai?" suaranya berat dan sinis. "Sampah macam kau ini bahkan tidak bisa membersihkan lantai dengan benar?"

"Aku... aku baru saja mulai, Mas," jawab Liana pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Revan mendekat, lalu dengan cepat menendang ember di samping Liana hingga air sabun muncrat ke segala arah. Ia mencengkeram rambut Liana, menariknya kasar hingga perempuan itu menjerit.

"Jangan panggil aku 'Mas'!" bentaknya. "Kau pikir masih pantas jadi istriku setelah menjual tubuhmu untuk lelaki lain?"

Liana menggigit bibirnya agar tidak menangis. Ia tahu, berdebat hanya akan memperparah keadaan. Ia tahu, Revan tidak akan mendengarkan apa pun. Bagi Revan, ia hanya alat pelampiasan amarah, bukan manusia.

"Aku dijual olehmu sendiri," lirihnya akhirnya, dengan suara hampir bergetar.

Tamparan keras mendarat di pipinya.

"Kau yang memancingnya!" Revan memukul meja hingga gelas jatuh pecah. "Kau yang menggoda dia, makanya dia mau bayar mahal untuk tidur denganmu!"

Liana terjatuh, pelipisnya membentur lantai. Pandangannya berkunang, tapi hatinya berteriak. Ia ingin marah, ingin menampar balik, ingin berteriak bahwa semua yang terjadi bukan keinginannya. Tapi lidahnya kelu. Ia hanya mampu memeluk perutnya, melindungi janin yang mungkin menjadi satu-satunya alasan ia harus bertahan hidup.

Dari arah dapur, ibu mertua Liana muncul dengan wajah masam. "Apa lagi ini ribut-ribut pagi-pagi? Sudah kubilang, perempuan ini pembawa sial. Sejak datang ke rumah ini, tidak ada satu pun hal baik terjadi."

Revan mendengus kesal, lalu melangkah pergi, meninggalkan Liana tergeletak di lantai. Ibu mertuanya menatapnya tajam, penuh kebencian.

"Bangun, dasar tidak tahu malu! Bersihkan ini semua! Dan nanti setelah selesai, masak untuk makan siang. Kalau tidak, kau tidur di luar malam ini!"

Tanpa kata, Liana berusaha bangkit. Kepalanya pusing, tubuhnya gemetar, tapi ia tetap memaksa diri berdiri. Ia menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu mengambil kain pel yang terjatuh.

Sementara itu, jauh di tempat lain, Dominic Valente duduk di balik meja kerjanya di markas besar Valente Group - kedok bisnis raksasa yang menutupi jaringan mafia paling berpengaruh di dunia.

Ia menatap layar komputer yang menampilkan foto-foto laporan intelijen. Foto seorang perempuan dengan wajah pucat, rambut panjang, dan mata teduh.

"Liana Ardelia," gumamnya pelan.

Sudah berminggu-minggu ia mengerahkan anak buah untuk mencarinya. Semua jejak mengarah ke satu nama - Revan, suami sah yang menjualnya. Tapi setelah transaksi malam itu, Revan menghilang dari radar. Dominic menatap wajah Liana di foto itu lebih lama. Ada sesuatu di dalam dirinya yang bergolak setiap kali melihat perempuan itu. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya - bukan sekadar keinginan memiliki, tapi semacam... dorongan untuk melindungi.

"Bos," suara seorang anak buahnya memecah keheningan. "Kami dapat kabar, perempuan itu masih di rumah suaminya. Tapi dijaga ketat. Orang-orang di lingkungan itu bilang dia sering dipukuli."

Dominic menatap tajam. "Alamatnya."

Anak buahnya menyerahkan kertas kecil. Dominic berdiri perlahan, menyesap rokoknya sekali, lalu mematikan bara di asbak kristal.

"Persiapkan mobil. Malam ini aku akan menjemputnya sendiri."

Anak buahnya menatap tak percaya. "Sendiri, Tuan?"

Dominic menatapnya dingin. "Kau kira aku akan mempercayakan hidup perempuan itu pada orang lain?"

Sore itu, hujan turun deras. Liana duduk di dapur dengan tangan bergetar, mencoba menyalakan kompor. Tapi gas habis. Ia takut melapor, takut disalahkan lagi. Ia menatap ke luar jendela, ke arah halaman belakang yang becek oleh lumpur. Hujan membawa kenangan - tentang malam ketika ia diserahkan ke tangan pria asing dengan mata kelam namun penuh kehangatan yang aneh.

Dominic.

Nama itu berulang di kepalanya seperti mantra yang ia takutkan sekaligus rindukan. Entah kenapa, hanya mengingatnya saja membuat dada Liana terasa hangat. Mungkin karena untuk pertama kalinya dalam hidup, seseorang menatapnya bukan dengan jijik, tapi dengan rasa ingin tahu.

Suara langkah berat terdengar di ruang tamu. Ibu mertuanya memanggil. "Liana! Cepat ke sini!"

Liana berlari kecil ke ruang tamu dengan kepala tertunduk. "Ya, Bu?"

Di sana sudah berdiri dua pria asing berjas hitam. Tatapan mereka dingin dan tajam. Salah satunya berbicara sopan, tapi tegas. "Kami datang atas perintah Tuan Valente. Kami mencari Nyonya Liana Ardelia."

Ibu mertuanya tersentak. "Untuk apa? Dia bukan siapa-siapa! Perempuan itu hanya pembantu di rumah ini!"

Liana menatap pria itu bingung. "Ada apa dengan Tuan Valente?" tanyanya dengan suara pelan.

Pria itu menunduk sedikit. "Beliau ingin memastikan keselamatan Anda. Kami diperintahkan untuk menjemput Anda."

Namun sebelum Liana bisa menjawab, ibu mertuanya menampar wajahnya keras. "Jangan coba-coba kabur, dasar tidak tahu diri! Kau pikir bisa hidup mewah setelah menjual diri?!"

Salah satu pria itu menarik napas panjang, lalu menatap ibu mertuanya tajam. "Saya sarankan Anda tidak menghalangi. Tuan Valente tidak suka kalau perintahnya diabaikan."

Wajah ibu mertuanya memucat. Ia hendak bicara lagi, tapi langkah kaki berat terdengar dari depan pintu. Semua menoleh.

Dominic Valente berdiri di ambang pintu, dengan mantel hitam basah oleh hujan. Tatapannya tajam, tapi bukan pada siapa pun kecuali Liana.

Liana terpaku. Tubuhnya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena tidak percaya.

"Liana," ucap Dominic dengan suara rendah. "Ikut aku."

Air mata Liana jatuh tanpa bisa ditahan. Dalam sekejap, semua rasa sakit, luka, dan ketakutan bercampur menjadi satu - berubah menjadi harapan kecil yang ia pikir sudah mati.

Ibu mertuanya mundur dua langkah, wajahnya pucat pasi. "S-siapa kau sebenarnya?"

Dominic menatapnya datar. "Orang yang pernah kau hina, dan sekarang datang untuk mengambil kembali apa yang jadi milikku."

Ia menggenggam tangan Liana. Dingin hujan menyatu dengan hangatnya kulit mereka. Liana ingin bicara, ingin bertanya, tapi suaranya tak keluar.

Dominic menatapnya lembut, sesuatu yang tak pernah dilihat siapa pun dari pria itu. "Mulai sekarang, tak ada seorang pun yang bisa menyentuhmu lagi."

Hujan deras mengguyur saat mereka melangkah keluar. Di balik gemuruh langit, Liana tahu - hidupnya baru saja berubah lagi. Tapi kali ini, mungkin untuk pertama kalinya, perubahan itu bukan kutukan, melainkan awal dari sesuatu yang ia sebut: pembebasan.

Dan di balik tatapan Dominic, tersimpan janji yang belum ia ucapkan - bahwa siapa pun yang telah menyakiti Liana... akan membayar dengan darah.

Mobil hitam itu meluncur pelan menembus hujan malam. Jalanan kota yang basah memantulkan cahaya lampu seperti kilau kaca yang remuk. Liana duduk di kursi belakang dengan tangan yang bergetar halus di pangkuannya. Jari-jarinya saling menggenggam erat, berusaha menahan gemuruh di dadanya. Di hadapannya, Dominic duduk diam dengan pandangan menatap keluar jendela.

Tak ada suara selama perjalanan, hanya deru mesin dan rintik hujan yang beradu di kaca. Bagi Liana, hening itu menegangkan. Ia belum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Yang ia tahu, lelaki yang dulu hanya ia temui semalam kini datang menjemputnya seperti menjemput sesuatu yang sangat berharga.

Beberapa kali ia mencoba membuka mulut untuk bertanya, namun setiap kali matanya menangkap bayangan wajah Dominic di kaca, suaranya tertelan lagi. Ada sesuatu dalam tatapan pria itu — dingin, tegas, tapi penuh rasa yang tidak bisa dijelaskan.

Mobil berhenti di depan gerbang tinggi dengan penjagaan ketat. Dua orang berpakaian hitam membungkuk begitu Dominic turun dari mobil. Mereka membuka gerbang besar itu, memperlihatkan halaman luas dengan taman dan air mancur di tengahnya.

Rumah itu — atau lebih tepatnya, istana itu — berdiri megah dengan dinding batu dan kaca. Lampu-lampu di sepanjang koridor memantulkan cahaya lembut ke seluruh halaman. Liana terpaku, tak pernah membayangkan bisa melihat tempat seindah itu, apalagi setelah hari-hari kelam yang baru saja ia lewati.

“Masuklah,” kata Dominic pelan sambil menoleh padanya.

Liana menunduk, lalu melangkah perlahan. Udara di dalam rumah itu terasa berbeda. Hangat, namun juga menyimpan aura kekuasaan yang sulit dijelaskan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah lantai marmer itu menuntut keyakinan yang belum ia punya.

Seorang perempuan tua berpakaian rapi muncul dari arah tangga. “Tuan Valente,” sapanya sambil menunduk hormat. “Kamar tamu sudah disiapkan.”

Dominic mengangguk. “Dia tidak tamu. Dia tinggal di sini mulai malam ini. Pastikan semua kebutuhannya tersedia.”

Liana tersentak, menatapnya dengan bingung. “T-tuan, maksud Anda… saya akan tinggal di sini?”

Dominic menatapnya dengan sorot yang dalam. “Kau pikir aku akan meninggalkanmu di rumah itu lagi?” katanya tenang, namun suaranya cukup untuk membuat udara di sekitarnya berhenti. “Mulai sekarang, kau di bawah perlindunganku.”

Liana menelan ludah. Perlindungan. Kata itu terasa asing, nyaris seperti dongeng.

Kamar yang disiapkan untuk Liana begitu luas. Dindingnya berwarna krem, dengan jendela besar menghadap taman di belakang rumah. Ada ranjang empuk, lemari tinggi, bahkan meja rias dengan lampu putih di sekelilingnya. Tapi semua itu terasa terlalu mewah untuk seorang seperti dirinya.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap lantai yang bersih hingga bisa memantulkan bayangan wajahnya. Pikirannya campur aduk — antara ketakutan, rasa bersalah, dan pertanyaan yang tak henti muncul: mengapa Dominic melakukan ini?

Ketika pintu kamar diketuk, Liana buru-buru berdiri. Perempuan tua tadi — yang belakangan ia tahu bernama Marina, kepala pelayan — masuk membawa baki berisi sup hangat dan roti.

“Silakan dimakan, Nona,” ucapnya lembut. “Tuan menyuruh saya memastikan Anda makan malam sebelum beristirahat.”

Liana mengangguk sopan. “Terima kasih, Bu.”

Marina tersenyum tipis. “Jangan takut, Nona. Tuan Valente mungkin terlihat dingin, tapi beliau tak akan menyakiti Anda. Setidaknya… tidak Anda.”

Kalimat terakhir itu membuat Liana menatapnya penasaran, tapi Marina sudah menunduk sopan dan keluar dari kamar sebelum ia sempat bertanya.

Malam semakin larut, tapi mata Liana tak bisa terpejam. Ia berjalan ke jendela, memandangi taman yang diterangi cahaya lampu taman. Bayangan sosok pria berdiri di dekat air mancur — tegap, dengan mantel panjang, wajahnya nyaris tak terlihat dari jarak itu. Tapi ia tahu siapa orang itu.

Dominic.

Entah kenapa, langkahnya bergerak sendiri menuju pintu. Ia membuka dengan hati-hati, menuruni tangga, dan melangkah keluar ke taman. Angin malam menyentuh wajahnya lembut, membawa aroma hujan yang masih tersisa.

Dominic menoleh begitu mendengar langkahnya. “Kau belum tidur.”

“Aku… tidak bisa,” jawab Liana jujur. “Aku tidak terbiasa tidur di tempat seperti ini.”

Dominic menatapnya lama, lalu berjalan pelan ke arah bangku taman. Ia duduk, memberi isyarat agar Liana ikut duduk di sampingnya.

Hening. Hanya suara air mancur yang memecah malam.

“Aku ingin tahu,” kata Liana akhirnya, pelan tapi tegas, “kenapa kau mencariku?”

Dominic menoleh sedikit, wajahnya diterangi cahaya lembut dari taman. “Karena aku menyesal membiarkanmu pergi malam itu.”

“Menyesal?”

“Ya.” Suaranya datar, tapi ada getaran di sana. “Aku terbiasa mengambil, menghancurkan, lalu melupakan. Tapi entah kenapa, sejak malam itu, wajahmu tidak pernah hilang dari kepalaku.”

Liana menunduk, hatinya berdebar tak karuan. “Aku… tidak mengerti. Aku bukan siapa-siapa. Kau bisa memiliki siapa pun.”

Dominic menghela napas, menatap air mancur. “Mungkin itu yang membuatmu berbeda. Kau tidak melihatku seperti mereka. Tidak takut, tidak tunduk karena uang atau kekuasaan. Kau hanya diam… tapi tatapanmu tidak pernah menghakimi.”

Liana menatapnya perlahan. “Aku takut, Dominic. Tapi bukan padamu.”

Dominic memalingkan wajahnya, dan senyum samar muncul di ujung bibirnya — sesuatu yang jarang muncul dari wajah keras itu. “Kau bahkan bisa membuatku merasa manusia.”

Keduanya terdiam. Ada sesuatu yang menggantung di udara, tidak perlu dijelaskan tapi bisa dirasakan.

Liana akhirnya berdiri. “Aku akan mencoba tidur,” katanya pelan. “Terima kasih… karena sudah datang malam itu.”

Dominic tidak menjawab, hanya memandang punggungnya yang menjauh. Dalam keheningan itu, ia tahu satu hal: perempuan itu bukan lagi sekadar sosok yang mengusik pikirannya. Ia adalah titik balik — sesuatu yang bisa mengubah arah hidup yang sudah lama ia biarkan tenggelam dalam kegelapan.

Keesokan paginya, Liana bangun dengan kepala berat. Namun kali ini, ada sedikit kedamaian yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia turun ke ruang makan dan mendapati meja panjang dengan makanan lengkap. Dominic sudah duduk di ujung meja, membaca laporan sambil menyeruput kopi.

“Duduklah,” katanya tanpa menoleh.

Liana duduk pelan di kursi seberang. “Aku bisa bantu di dapur,” ucapnya gugup. “Aku tidak terbiasa makan seperti ini tanpa bekerja lebih dulu.”

Dominic menutup dokumennya, menatapnya langsung. “Kau tidak bekerja di sini. Kau istirahat.”

“Tapi—”

“Tidak ada tapi,” potongnya dingin. “Tubuhmu masih lemah. Dan…” ia menatap perut Liana sesaat, lalu kembali menatap wajahnya, “kau sedang mengandung.”

Liana membeku. Wajahnya memucat, napasnya tersendat. “A-apa maksudmu…?”

Dominic berdiri, berjalan ke arahnya, lalu berhenti tepat di depan kursinya. Tatapan matanya tajam tapi penuh keyakinan. “Aku tahu sejak pertama kali melihatmu malam itu. Aku tidak salah. Aku bisa lihat dari cara kau menyentuh perutmu saat tidur di kamarku.”

Air mata Liana menetes tanpa bisa ditahan. Ia menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. “Aku bahkan tidak tahu harus bahagia atau takut,” bisiknya.

Dominic meletakkan tangannya di bahunya. “Tak perlu takut. Aku akan menjagamu. Kalian berdua.”

Kalimat sederhana itu membuat seluruh dinding pertahanan Liana runtuh. Setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan, ada seseorang yang akhirnya mengucapkan janji yang terdengar seperti keajaiban.

Namun di balik ketenangan pagi itu, di luar sana, bahaya sedang mendekat. Revan, yang kehilangan sumber uang dan kendali, mulai mencium kabar bahwa istrinya kini berada di rumah Dominic Valente. Ia tidak akan tinggal diam.

Sementara itu, di markas polisi bawah tanah yang memantau pergerakan mafia, nama Liana Ardelia mulai muncul di laporan. Seorang perempuan biasa yang tiba-tiba menjadi pusat perhatian dari pemimpin sindikat paling berbahaya di dunia.

Tak ada yang tahu, badai yang sesungguhnya baru akan datang.

Dan kali ini, bukan hanya hidup Liana yang akan berubah — tapi juga hati Dominic, lelaki yang selama ini tak percaya bahwa cinta bisa menyembuhkan sesuatu yang sekelam dirinya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DANCING WITH DESTINY
8.2
Jane Miles sangat menikmati hari-harinya yang tenang sebagai dokter hebat. Namun, kecelakaan tragis masa lalu merenggut seluruh memorinya akibat Amnesia Retrograde. Kehidupan damai Jane seketika sirna begitu Rafael Klein hadir. Pria tersebut datang membawa kekacauan demi mendesak Jane agar bersedia menerima takdirnya sebagai pewaris tunggal dinasti Klein yang sangat berpengaruh. Hubungan romansa dewasa ini diwarnai oleh benturan konflik dan misteri masa lalu.
Sampul Novel Istri Dadakan
9.5
Akibat skandal satu malam yang terbongkar oleh ayahnya, Dave terpaksa menikahi Rachel secara tiba-tiba. Pernikahan paksa ini membuat Dave sangat membenci Rachel karena merasa kebebasannya telah direnggut. Di sisi lain, Rachel sebenarnya sudah mempunyai kekasih sebelum mereka dipaksa bersatu. Terjebak dalam kebencian dan situasi tanpa pilihan, sanggupkah rumah tangga Dave dan Rachel yang tanpa dilandasi rasa cinta ini bertahan melewati berbagai rintangan?
Sampul Novel Perempuan Bersuami Tiga
8.1
Kegagalan pernikahan pertama akibat benturan kepribadian membawa Maya ke pelarian ekstrem. Ia nekat menikahi tiga lelaki berbeda secara rahasia. Namun, kebohongan rumit ini mulai goyah saat para suaminya mencium kejanggalan. Begitu kedoknya terbuka, Maya harus bersiap menerima konsekuensi fatal atas pengkhianatan tersebut. Di tengah hancurnya rasa percaya, ia kini dipaksa menentukan jalan hidup dan mempertanggungjawabkan semua tindakannya.
Sampul Novel Sweet Mistake
8.1
Pasca malam kelam yang merusak hidupnya, Valerie kini berada di bawah ancaman Gio yang berniat menyebar bukti pelecehan dirinya. Hubungan penuh benci ini perlahan berubah saat kebaikan Gio mulai menyentuh hati Valerie, meski ego besar menghalangi keduanya untuk saling jujur. Demi melindungi nyawa sang gadis dan bersatu tanpa bayang-bayang maut, Gio pun harus menuntaskan rahasia masa lalunya yang penuh bahaya.
Sampul Novel Terjebak Pernikahan dengan CEO Misterius
8.8
Pasca kematian ayahnya, hidup Aurora Vallen berubah drastis akibat desakan pernikahan kontrak dari CEO misterius, Kael Vireaux. Kael hanya memanfaatkan Aurora sebagai alat balas dendam masa lalunya. Namun, keberanian tak terduga dari Aurora perlahan mengikis rencana dingin tersebut. Di balik pernikahan formal ini, keduanya kini bimbang antara terjebak oleh dendam lama yang menyakitkan atau memilih tunduk pada benih asmara yang mulai tumbuh di antara mereka.
Sampul Novel Tunanganku Menikah dengan Adikku
8.6
Tiga bulan sebelum menikah, sang protagonis mendapati tunangannya telah menikahi adik angkatnya yang hamil. Alih-alih merasa bersalah, sang tunangan justru memintanya mengalah demi status sementara dan menuntutnya melahirkan anak laki-laki sebelum mereka bisa mendaftarkan pernikahan mereka sendiri. Menolak diperlakukan semena-mena, ia menghapus semua kenangan masa lalu di media sosial dan langsung mengunggah pengumuman untuk mencari calon suami baru yang siap menikahinya saat itu juga.