APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pendekar Pedang Terhebat

Pendekar Pedang Terhebat

Zero, anak yatim piatu berumur sepuluh tahun, sering menjadi sasaran perundungan akibat mimpinya menjadi pendekar pedang luar biasa walau bakatnya sangat minim. Latar belakangnya yang misterius di bawah bimbingan Master Pedang pun kerap memicu kecemburuan rekan-rekannya. Begitu mengetahui bahwa ayah kandungnya merupakan sosok pendekar legendaris, tekadnya langsung berkobar. Zero kini harus berjuang keras melewati rintangan demi membuktikan kelayakannya meraih gelar tertinggi.
Bab
Bagikan

Bab 1

Prak!

Bruk!

"Argh...! Sial!" Terdengar seorang bocah berumur sepuluh tahun mengumpat bernama Koziki Zero.

"Hahaha." Setelahnya, terdengar banyak suara orang-orang yang tertawa.

Lagi-lagi, ketika berlatih Zero mengalami kekalahan. Ini sudah yang kesekian puluh kalinya Zero dikalahkan oleh lawan berlatihnya.

"Lihatlah dia teman-teman. Apakah kalian percaya kalau dia adalah Anak dari master pedang?" Pertanyaan yang dilontarkan salah satu teman Zero ini hanyalah untuk menghinanya. Dan jawaban dari pertanyaan itu hanyalah gelak tawa lagi.

Namun Zero tidak terpengaruh dengan hinaan dari teman-temannya itu. Di dalam hatinya, Zero tetap yakin kalau suatu saat ia akan memiliki kemampuan hebat seperti yang dimiliki ayahnya. Zero kerap mendengar banyak cerita tentang kehebatan sang ayah dari ibunya. Namun sayang, satu tahun yang lalu ibunya jatuh sakit dan kemudian meninggal. Kini Zero hidup di perguruan Pedang Aslah. Guru ayahnya lah yang mengambil alih hak asuhnya setelah ia kehilangan kedua orang tuanya.

Sejak usia tujuh tahun Zero sudah mulai ikut berlatih di salah satu perguruan bela diri pedang yang dulu sangat terkenal. Namun kini nama perguruan yang terkenal ini menjadi redup karena beberapa master pedang mereka yang menghilang secara misterius. Dan salah satu master pedang hebat yang menghilang itu termasuk ayah Zero, Koziki Odin.

Kejadian yang dialami Zero hari ini membuatnya kembali termenung. Ketika Zero sedang duduk termenung sendirian di halaman belakang, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara seseorang yang terdengar asing baginya.

"Hei, Zero. Jangan khawatir, kau itu adalah seorang penerus pendekar pedang terhebat di masa depan. Ambilah kitab ini, kitab ini akan membantumu untuk meraih mimpimu!" Suara itu terdengar amat jelas di telinga Zero.

Bruk!

Satu kitab yang terlihat cukup tebal jatuh tepat di hadapan Zero.

"Si-siapa...? Anda siapa? Dan lagi..., kitab apa ini?" Zero bangkit dari duduknya seraya memandang area sekitarnya guna menemukan orang tersebut. Namun tidak ada seorang pun yang ia temukan di sana.

Beberapa saat kemudian, karena merasa penasaran akhirnya Zero meraih Kitab itu dan langsung membukanya.

'Kitab macam apa ini? Kenapa halamannya setebal ini, namun hanya ada tiga lembar di bagian depannya saja yang memiliki gambar serta tulisan,' gumam Zero heran.

Zero akhirnya memutuskan untuk memperhatikan kitab itu sejenak, dan berniat akan langsung berlatih sendirian mengikuti arahan dari kitab yang ia baca.

Suara pedang kayu yang ditebaskan ke sebatang pohon besar terdengar menghempas kesunyian malam.

Dari kejauhan, ternyata ada seseorang yang kerap memperhatikan Zero berlatih. Yah, orang itu tak lain adalah guru dari ayahnya sekaligus gurunya saat ini.

"Hiyat...! Hiyak!" Keringat yang sudah membasahi seluruh tubuh Zero tidak menghentikan latihannya. Tekadnya lebih besar dari rasa lelah yang ia rasakan.

Namun tiba-tiba saja muncul tiga orang anak seusia Zero. Ternyata mereka adalah tiga bersaudara, Yuji, Erji, dan Saniji. "Hey Zero, apa yang kau lakukan malam-malam begini?"

Lalu Yuji tiba-tiba maju dan menyerang Zero menggunakan pedang kayu.

"Aduh...! Apa yang kau lakukan?!" Zero terjatuh karena ia diserang secara mendadak.

"Tentu saja mau bertarung melawan Anak Master pedang!" Kemudian bocah itu tertawa lebar sebelum kemudian matanya menatap ke sebuah benda yang ada di dekat Zero. "Tapi tunggu, kitab apa itu?" Lalu ia mengambilnya.

Zero yang mencoba mencegah Yuji untuk mengambil kitabnya ternyata dihadang oleh Erji.

Prak!

Bam...!

Dua pedang kayu diayunkan dan saling beradu. Itu adalah suara pedang kayu Erji dan Zero.

Kemudian Erji menendang perut Zero sehingga membuat Zero pun akhirnya terpental. Tak berhenti di sana, Erji terus memukulkan pedang kayunya pada tubuh Zero yang sedang tersungkur di tanah. "Jangan bermimpi kau akan menjadi Master Pedang! Cih!"

Sekuat tenaga Yuji memukulkan pedang kayunya ke tubuh Zero. Zero hanya bisa meringkuk dan menahan rasa sakit yang ia rasakan dari tiap pukulan pedang yang Yuji lakukan. Tak lama, ketiga bocah itu secara brutal menyerang tubuh Zero secara bersamaan.

"Apakah kau masih bermimpi menjadi Master Pedang, Hah?!" Entah kenapa, Erji sangat terlihat kesal. Dan ia melampiaskan kekesalannya dengan cara memukuli Zero.

"A-aku..., aku pasti akan menjadi Master Pedang!" Itulah jawaban Zero.

Boom!

Yang tak disangka oleh ketiga orang bersaudara itu ternyata tubuh Zero tiba-tiba meledakkan energi yang sangat kuat. Alhasil, ketiga orang itu langsung terpental.

"Kembalikan kitabku! Kalian akan menyesal jika menggangguku berlatih!" Tatapan mata Zero yang setajam pedang memancarkan aura kekuatan sejati seorang pendekar pedang.

"Kurang ajar! Kau, memang tidak tahu malu Zero! Makan ini!" Yuji bangkit dan mencoba untuk menyerang Zero.

Bam!

Namun bukannya Zero yang diserang justru malah sebaliknya, tubuh Yuji lah yang kembali terpental akibat tebasan pedang kayu dari Zero.

"Kakak, apakah kau baik-baik saja?" Saniji langsung berlari mendekati Yuji. Dan kitab yang diambil Yuji tadi pun terjatuh ke lantai.

Kemudian Zero langsung berjalan untuk mengambil kembali kitab yang tadi sempat diambil oleh Yuji. Dan ketika Zero mengalihkan pandanganya ke arah ketiga orang itu, tubuh ketiganya langsung merinding.

"Ayo cepat kita pergi dari sini!" Yuji mengajak kedua adiknya pergi karena tiba-tiba merasa takut ketika melihat Zero yang seperti saat ini.

Setelah ketiga orang itu benar-benar pergi, tak lama kemudian tubuh Zero akhirnya ambruk ke tanah. Entah kenapa, Zero jadi tak sadarkan diri. Dan ternyata dari kejauhan, gurunya langsung bergegas mendekatinya.

"Sepertinya ketiga bocah itu akan aku hukum nanti!" ujar Sang Guru.

Zero yang tengah tak sadarkan diri kemudian di bawa ke dalam kamar oleh gurunya.

Ternyata saat Zero tidak sadarkan diri, jiwanya sempat ditarik ke dimensi lain oleh sesuatu. Di dalam dimensi itu, Zero mencoba meraih Kitab Dua Pedang yang ada di hadapannya. Namun saat ia menyentuhnya, tiba-tiba jiwanya kembali ke tubuhnya.

"Eh? Apa yang terjadi?" Kedua mata Zero kembali terbuka. Dan ia melihat bahwa saat ini tubuhnya sudah berada di dalam kamarnya. Zero mencoba mengingat kembali apa yang terjadi. Ia ingat bahwa tadi ia diganggu oleh ketiga bersaudara ketika tengah berlatih.

'Tapi..., kenapa aku bisa berada di kamarku? Siapa yang membawaku kemari?' Zero penasaran siapa orang yang telah membantunya kembali ke kamarnya.

Di tengah malam ini, perut Zero merasa lapar. Dan ketika ia ingin bangkit untuk mencari makanan di dapur, tangannya yang menyentuh bagian ranjang menyentuh sesuatu.

"Eh? Bukannya ini...," ujar Zero heran. Kemudian Zero barulah ingat tentang kitab yang tadi ia dapatkan.

Zero kembali membuka tiga lembar halaman kitab itu. Namun saat ia membuka lembar yang keempat dan seterusnya kitab itu tetap kosong . Sama seperti saat pertama kali ia membukanya tadi.

"Zero? Ternyata kau sudah bangun?"

Zero dikejutkan dengan suara gurunya yang muncul secara tiba-tiba."Gu-guru??" Zero menghela nafasnya sambil memegangi dadanya.

"Hem..., apa kau ingat kalau tadi kau pingsan karena kembali dijahili oleh ketiga anak nakal itu?" tanya guru Zero sekaligus guru ayahnya, Kioda.

"Iya Guru, aku ingat kok. Ternyata Guru yang membawaku ke kamar ya? Terima kasih Guru!" Zero bangkit dan membungkukkan tubuhnya.

"Tunggu Zero, bolehkah aku bertanya padamu?" Sang guru kemudian menatap penuh pada muridnya. Ia sungguh ingin tahu perihal kitab yang dipeluk Zero saat bocah itu pingsan tadi. "Kitab apa itu?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Brontak Dalam Sempak
9.0
Ujang yang berusia dua puluh tahun meluapkan amarahnya demi membuktikan kekuatan terpendam dengan menantang Datok. Ia mengerahkan teknik Tisu Magic yang melapisi tubuhnya bagai baja kokoh. Datok pun bersiap menghadang lewat jurus Telo Rasa Meki yang menyemburkan uap panas membara. Keduanya langsung melesat secepat kilat, hingga benturan ajian pamungkas mereka di udara memicu ledakan yang sangat dahsyat.
Sampul Novel Cinta Terlarang Sang Raja Alfa, Dendam Diamku
9.5
Tiga tahun mendampingi Alpha Kaelan, aku hanya dianggap sebagai pengganti bibiku, Lyra. Saat ayahku tiada, Kaelan justru pergi ke Paris demi wanita itu. Di ruang rahasianya, aku menemukan fakta bahwa seluruh hubungan kami hanyalah rekayasa. Dalam kondisi mengandung anaknya, aku memutuskan membalas dendam. Menggunakan sihir untuk menyembunyikan kehamilan serta surat penolakan resmi, aku pergi selamanya ke benua baru.
Sampul Novel Dikhianati oleh Alpha-ku, Bangkit sebagai Luna
9.7
Bertahun-tahun mengabdi pada sang Alpha, aku justru dikhianati demi ambisi kekuasaannya dengan wanita lain. Darahku ditumbalkan untuk ritual politik, lalu ia menolakku dengan kejam di depan seluruh kawanan. Usai difitnah dan disiksa, aku menolak jadi simpanannya dan memilih kabur. Kini, aku telah bangkit menjadi Luna bagi Alpha sejati. Namun, obsesi mantan pasanganku belum usai; ia kembali menjebakku dan berbisik dingin memaksaku untuk pulang bersamanya.
Sampul Novel SAMSARA
9.3
Sejak menginjak umur tujuh belas tahun, hidup Larasati Sinta tidak lagi sama karena berbagai kejadian ganjil terus menerornya. Situasi kian rumit dengan munculnya Erland Altair Januar. Walau hubungan mereka diawali kejadian buruk yang menciptakan jarak, senior idola sekolah itu justru pantang menyerah mendekati Laras demi menjadikannya pacar. Kini, Laras terjepit di antara teka-teki misterius yang membayangi dan obsesi Erland yang membingungkan.
Sampul Novel Selir Harem Memelihara Monster Perkasa
7.9
Di tengah dinginnya harem karena Kaisar yang jarang berkunjung, keanehan justru terjadi saat para selir tampak begitu bahagia dan berseri-seri setiap hari. Rasa penasaran sang protagonis akhirnya terjawab ketika ia berhadapan langsung dengan sesosok makhluk misterius berekor yang menyerupai manusia. Keberadaan entitas aneh inilah yang ternyata menjadi rahasia besar di balik kegembiraan para wanita harem, yang kini selalu menantikan datangnya malam dengan penuh harap.
Sampul Novel SIX PRINCE || ALEXA RAWNIE
9.1
Takdir menyeret seorang pelayan ke pusaran tak terduga saat enam pria, beserta satu sosok misterius lain, mendadak mengejar cintanya. Kehidupan sang gadis seketika dipenuhi rahasia dan konflik rumit yang menguji ketahanan batinnya. Di tengah situasi pelik ini, ia dihadapkan pada dilema besar: memilih salah satu dari mereka atau justru merengkuh semuanya. Cinta kini menjadi belenggu erat yang memaksanya berjuang keras menemukan kunci demi mengakhiri segala kerumitan hidup.