APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pendekar Pedang Patah

Pendekar Pedang Patah

Pancaka, pemilik pedang legendaris tanpa bilah, adalah musuh yang ditakuti oleh seluruh golongan persilatan hitam maupun putih akibat aksi penghancurannya. Namun, kejayaan sang pendekar runtuh seketika setelah ia mengalami kekalahan telak. Secara misterius, ia terlempar kembali ke masa lalu. Kini, Pancaka dihadapkan pada pilihan hidup yang baru: memperbaiki perilakunya yang dulu atau justru tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih kejam.
Bab
Bagikan

Bab 3

Entah sial atau tidak, Panca kini berada di kediaman Asih. Ia menatap bosan pada gadis kecil yang menggandengnya dengan riang untuk menemui ibunya. Dan mengingat hal ini, tentu saja membuat Panca merasa sedikit nostalgia. Dahulu, ialah penyebab kehancuran dari sekte Pedang Suci. Sekarang ia sadar akan satu hal, dirinya tidak menyusut tanpa alasan yang tidak jelas melainkan dirinya kini terlempar kembali ke masa lalu, tepatnya beberapa puluh tahun yang lalu waktu ia masih menjadi gelandangan dan pencuri demi menghidupi dirinya.

“Ibu, Ibu! Aku dapat teman baru. Ibu, di mana dirimu?” teriak Asih—masih setia menyeret Panca di belakangnya—mencari keberadaan ibunya.

“Iya, Nak? Ibu ada di dapur!” sahut ibunya sedikit berteriak.

Tanpa pikir panjang, Asih menghampiri ibunya yang berada di dapur—dengan Panca di belakangnya. “Ibuu! Lihat, aku dapat teman bermain! Dia juga tidak punya rumah, bisakah kita memberinya tempat tinggal?” rengek Asih tanpa memberi kesempatan ibunya menjawab.

“Ehm, bagaimana, ya? Bukankah tadi Jaka pergi mencarimu? Ke mana dia?” tanya balik ibu Asih berusaha mengalihkan perhatian anaknya dari permintaan egoisnya.

Seakan tersadar sesuatu, Asih menyengir polos menunjukan deretan gigi putihnya dan satu giginya yang tanggal di bagian tengah. “Kami meninggalkannya di hutan depan. Habisnya, Jaka selalu mengikutiku, Bu,” jawab Asih membela diri dengan wajah memelas.

Ibu Asih tersenyum maklum mendengarnya. Wanita muda itu lalu merendahkan tubuhnya dan mengusap pelan rambut hitam anaknya. “Nak, memang itulah tugas Jaka. Ia mendapat perintah dari ayahmu untuk menjagamu,” jelas ibu Asih berusaha memberi pemahaman pada gadis kecilnya. Lalu, pandangannya teralih pada Panca yang menatapnya dengan cengiran pura-pura polos.

“Ha—Halo, saya Panca.” Panca memperkenalkan diri dengan kikuk pada ibu Asih yang ia tahu bernama Ratna Kumalasari itu.

Ratna tersenyum singkat padanya. “Halo, anak manis. Aku ibunya Asih, namaku Ratna Kumalasari.”

Tepat seperti dugaan Panca. Wanita ini masih sama cantik dan anggunnya sejak dulu. Wanita yang sering ia khayalkan akan menjadi ibunya di masa lalu itu kini tengah tersenyum lembut padanya. Perlahan wajah Panca memerah karena hal itu.

“Jadi, Ibu. Panca boleh tinggal di sini, kan, Bu?” desak Asih menggoyangkan lengan ibunya tak sabaran.

Ratna kembali mengalihkan perhatian pada putri kecilnya itu. “Sabar ya, Nak. Ibu tidak bisa mengambil keputusan sebesar itu tanpa persetujuan ayahmu.”

Rahang Panca kini mengeras. Ia baru sadar jika suami dari Ratna adalah awal mula rasa bencinya pada sekte Pedang Suci. Tanpa sadar, ia mengepalkan kedua tangan mungilnya erat-erat—yang untungnya tidak diketahui oleh Ratna dan Asih.

“Ayah kapan pulang, Bu?” rengek Asih lagi.

“Sore ini dia baru akan kembali dari tempat kakekmu, Nak,” jawab Ratna dengan penuh kasih sayang membelai rambut putrinya.

“Jadi, Ayah pergi ke tempat kakek Surawisesa?”

“UHUK, UHUK, UHUK!” Panca tersedak ludahnya sendiri ketika ia mendengar Asih menyebut sebuah nama yang saat ini sedang ia cari—sangat.

“Kamu kenapa, Panca?” tanya Asih polos. Ia melepaskan genggaman tangan pada ibunya dan menepuk-nepuk pelan punggung Panca.

“Aku tidak apa-apa, Putri,” jawab Panca penuh hormat—tentu saja ia berbohong.

Sementara itu, Asih yang bingung dengan sikap Panca yang berubah sopan ini tak tahan untuk tidak menyeletuk. “Tumben kau menyebutku seperti itu, tidak seperti sebelumnya.”

“Ah—apa yang ka—maksudku Putri katakan? Aku sama sekali tidak mengerti,” sahut Panca sambil meringis memaksakan senyum dan mengatakan sesuatu pada gadis itu pelan. “Diam saja!” lirihnya pada Asih yang tak diketahui oleh Ratna.

Sementara itu Asih yang melihat tingkat aneh Panca hanya mengerutkan keningnya heran. “Kau kenapa, Panca? Sakit gigi?”

Ingin sekali rasanya Panca menjedukkan kepalanya ke dinding kayu di dekatnya, tapi akan sangat tidak etis dilihat oleh Ratna—orang yang begitu ia kagumi. Jadi, untuk saat ini Panca hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Asih yang selalu di luar nalar itu.

Dan satu hal lagi yang Panca tahu pada akhirnya, bahwa Sekte Pedang Suci memiliki hubungan dengan Kuil Pedang Seribu—tempat di mana si kakek tua sialan yang telah merubahnya menjadi seperti sekarang ini tinggal. Mungkin itulah yang menjadi alasan kenapa si kakek tua itu murka kepadanya, karena ia telah meluluh lantakkan tempat ini di masa depan demi membalaskan rasa sakit hatinya pada si brengsek suami dari Ratna Kumalasari yang membuatnya sakit hati.

Saat Panca sedang sibuk dengan pikirannya, Asih kembali merengek pada ibunya untuk mengijinkan Panca tinggal agar bisa menemaninya bermain. “Ibu! Aku mohon, ijinkan Panca tinggal ya, Bu?”

Ratna yang melihat anaknya memohon sedemikian rupa hanya bisa tersenyum pasrah dan mengelus puncak kepala anak semata wayangnya itu. “Baiklah. Tapi kalau sampai ayah tidak mengijinkan, maka kau harus menerima keputusannya ya, Nak?”

“Baik, Ibu!” sahut Asih senang. Ia tahu, ayahnya pastilah tidak akan bisa untuk menolak keinginannya.

“Panca, ayo main di luar denganku.” Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Asih menyeret paksa Panca yang gelagapan ditarik tiba-tiba seperti itu.

“Kita mau ke mana, Putri?” tanya Panca masih bertingkah sopan karena mereka masih dalam jarak pengawasan Ratna di belakang mereka.

Begitu Asih membawa Panca keluar rumah menuju lapangan luas tempat biasa para murid-murid ayahnya berlatih, Panca langsung berhenti dan memasang wajah datar. “Asih, sebaiknya lepaskan tanganku.”

Asih yang mendengar suara serta sikap Panca kembali berubah pun menoleh ke belakang. “Kenapa? Kenapa kau bersikap begitu padaku, Panca? Apa salahku?” tanya Asih sedih. Ia melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Panca dan menunduk sedih menatap kedua kakinya.

‘Karena ayahmu yang keji itu telah menendang serta mengusirku dari tempat satu-satunya yang bisa aku sebut rumah! Dia menggusur tempat bernaungku demi kepentingannya sendiri!’ jawab Panca dalam hati. Ia tahu bahwa percuma ia mengatakan hal ini pada Asih yang hanya seorang bocah ingusan berusia lima tahun—sama sepertinya.

Ya. Alasan kenapa Panca mengacak-acak Sekte Pedang Suci adalah karena sikap Erlangga Kusuma—ayah Asih—yang pada saat itu menggusur pemukiman pengemis demi membangun sebuah cabang perguruan sekte pedang suci. Memang, Erlangga tidak mengusirnya secara kasar, ia bahkan memberikan uang ganti rugi.

Namun, Panca hanyalah anak kecil yang mudah dibodohi oleh orang dewasa. Para pengemis lainnya mengambil upah dan jatah milik Panca sehingga Panca berakhir menjadi gelandanga. Dan dari sanalah awal mula jalan kejahatannya dimulai.

“Hey, kenapa kau diam saja Panca.” Asih melambaikan satu tangannya di depan wajah Panca.

“A—Ah, aku tidak apa-apa. Jadi, sekarang kita mau apa?” tanya Panca berusaha mengalihkan kebencian dalam benaknya. Saat ini, fokusnya adalah kembali ke tubuh aslinya dan ia harus menemui Surawisesa secepatnya.

“Aku ingin mengajakmu berkeliling perguruan sekte pedang suci, maukah kau?” pinta Asih dengan kedua mata berbinar-binar.

‘Apakah mungkin ini jalanku untuk kembali meraih kekuatanku? Dulu, aku telat berlatih ilmu bela diri pada usia kepala dua. Sekarang, mungkin aku harus mulai lebih awal. Jika memang benar ini adalah masa lalu, maka aku harus memperbaiki semuanya … dan kembali meneror dunia, bwaahaha.’

Lagi-lagi, Panca terdiam dengan ekspresi yang berubah-ubah. Terkadang ia terlihat melotot tajam, tertawa, lalu sedih secara bersamaan. Dan Asih yang melihatnya hanya bisa menggeleng bingung.

‘Apa kepala Panca terbentur sesuatu sehingga ia menjadi aneh seperti ini?’

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asa di Ujung Senja
7.9
Demi melunasi utang orang tuanya, Nada terpaksa menjadi pengantin pengganti bagi cucu Ndoro Brata. Ia harus menikahi Abian, seorang pemuda playboy yang mendadak buta akibat kecelakaan, setelah calon istri aslinya melarikan diri. Kemalangan itu mengubah Abian menjadi pria dingin dan pemarah. Di tengah sikap kasar suaminya serta tekanan berat dari keluarga konglomerat tersebut, Nada kini harus berjuang sekuat tenaga bertahan dalam pernikahan yang penuh luka dan air mata.
Sampul Novel Bersama Kita Bangkit Dari Abu
8.0
Saat hamil tua, sebuah truk sengaja menabrak mobilku. Di ambang maut, Kian, suamiku, justru mengabaikan teleponku demi menemani Florence yang mengeluh sakit kepala. Tragedi ini merenggut nyawa bayiku dan menghancurkan karier kakakku sebagai pianis. Pengkhianatan kejam tersebut kini menyalakan api dendam yang membara. Kian mengira kami telah habis, namun kami akan segera bangkit dari abu kehancuran ini untuk membalas semua rasa sakit kami.
Sampul Novel Broken Vessel
7.9
Trystan, pemuda 21 tahun, terancam bahaya di dunia yang mendewakan kekuatan Arte. Kemampuan langka miliknya memicu perburuan kejam dari pihak-pihak yang ingin melenyapkan atau mengeksploitasinya. Kini, hidupnya dilingkupi pengkhianatan, kepedihan, dan dendam mendalam. Di bawah tekanan tanggung jawab besar, Trystan harus berjuang keras demi melindungi apa yang berharga dari kejaran para musuh yang tiada henti mengincarnya.
Sampul Novel DENDAM DAN CINTA KING MAFIA
9.6
Albern Barnard, pemimpin mafia asal Italia, menyamar jadi pebisnis di Indonesia demi memburu pengkhianat bernama Reno. Dendam atas kematian kakaknya terbayar lunas saat Albern mengeksekusi Reno di hadapan Harnum, istrinya yang sedang hamil tua. Kejadian tragis itu membuat Harnum keguguran akibat pendarahan hebat. Bukannya kasihan, Albern malah menyekap Harnum di sebuah rumah hutan tua dan terus menyiksanya demi meluapkan kebencian yang membara.
Sampul Novel Kesempatan Kedua, Luka Terakhir
9.3
Niat baik berujung petaka. Usai membelikan teh susu pesanan rekan kerja yang hamil, protagonis dituduh sengaja menggugurkan kandungan tersebut. Fitnah di rumah sakit ini memicu kemarahan keluarga korban yang memukulinya dan menuntut ganti rugi dua miliar rupiah. Demi keadilan, ia melaporkan kasus ini ke polisi dan bersiap menuntut balik. Namun, sebelum hukum bertindak, ia tewas mengenaskan setelah didorong oleh ibu mertua korban hingga dilindas truk.
Sampul Novel PENDEKAR TAPAK DEWA
8.5
Desa Tanaru rata dengan tanah akibat kekejaman kelompok La Kala di bawah pimpinan La Afi Sangia. Di balik tragedi itu, mantan jenderal berjuluk Wu Ying Jianke, Hongli, menemukan seorang bayi yang selamat secara ajaib. Bayi bernama La Mudu tersebut bersumpah akan ia latih menjadi pendekar hebat. Sebagai titisan dewa, La Mudu kini mengemban takdir besar untuk membalaskan dendam keluarganya sekaligus melenyapkan kejahatan di dunia.