APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel PEMBALUT SUAMIKU

PEMBALUT SUAMIKU

Suami Laksmi yang telah lenyap tanpa kabar selama sepuluh tahun dan diduga meninggal, secara mengejutkan pulang ke rumah. Kehadirannya kembali justru memicu ketakutan dalam diri Laksmi. Ia mendapati sang suami memiliki tabiat ganjil yang mengerikan, yaitu mengoleksi dan menyembunyikan pembalut bekas secara rahasia. Kejanggalan aneh ini membuat Laksmi mulai mencurigai misteri besar di balik hilangnya sang suami selama satu dekade terakhir.
Bab
Bagikan

Bab 2

PEMB4LUT SUAMIKU (2)

"Buk, Mira takut deket-deket sama Bapak. Bapak sering liatin Mira terus," bisik putri sulungku dengan bibir gemetar.

Tak bisa dipungkiri aku bisa melihat sorot ketakutan dari matanya.

"Iya, Buk. Danu juga takut. Jangan tinggalin Danu berduaan sama Bapak ya, Buk," sambung Danu berbisik.

"Shutt! Kalian gak boleh bicara gini. Harusnya kalian senang dong, bentar lagi lebaran bisa sama Bapak. Danu juga gak lagi diolok teman-teman karena gak punya Bapak," jelasku pelan-pelan sambil berbisik, sembari menatap awas sekeliling.

Aku khawatir Mas Darma mendengar pembicaraan kami dan tak bisa dibayangkan bagaimana sedihnya dia mendengar perkataan seperti itu dari anak-anaknya.

"Ibuk sih gak pernah liat kalau kita berdua lagi sama Bapak. Bapak lihatin Mira terus!" kekeuh Mira tak putus asa. Anak itu memang keras kepala.

"Iya. Bapak gak pernah ajak kita becanda, Buk. Bapak bengong terus."

Aku menghela napas. "Sebentar!" kataku lalu bangkit meninggalkan mereka dan pergi ke kamar, hendak mengambil sesuatu.

Aku terdiam sebentar. Mengingat-ingat di mana aku menyimpan album foto keluarga kami.

"Ah, ya! Di situ!" kataku sembari menunjuk lemari tua di sudut kamar. Aku menyimpannya di sebelah tumpukan baju, supaya album yang menyimpan kenangan keluarga kecil kami tetap aman dan tidak dimakan rayap.

Klatak!

Sesuatu terjatuh saat aku mengambil album yang berada di bagian belakang tumpukan baju. Tumpukan baju terdorong maju dan terjatuhlah bungkusan kecil tersebut. Sepertinya benda itu tadinya diletakkan di antara tumpukan baju.

Aku mengernyit. "Benda apa ini?" gumamku sembari memungut plastik berisi sesuatu yang keras dan berlubang.

Penasaran, kubuka plastik tersebut. Mataku melebar menatap benda cantik di tangan. Cincin dengan mata biru yang mengkilap. Lingkaran cincin itu berwarna kuning ke emasan. Cantik.

Tanpa pikir panjang, kupakai cincin tersebut. Sepertinya tidak terlalu buruk melingkar di jariku, meski tanganku tidak begitu putih.

Mungkin cincin ini milik Mas Darma. Meski aku tak yakin, sebab barang-barang Mas Darma masih berada di ranselnya. Aku tak memindahkan ke lemari karena dia tidak menyuruh. Aku takut membuatnya marah lagi, mengingat kemarin dia melarangku untuk menyentuh barang-barangnya.

Meski agak aneh dan membuatku bingung, aku pun menuruti. Aku tak mau ada keributan. Terlebih di awal kepulangannya. Karena harusnya Mas Darma kusambut dengan baik.

Aku kembali ke ruang tengah di mana Mira dan Danu duduk di sana.

"Itu apa, Buk?" tanya Danu menunjuk sesuatu dalam dekapanku.

"Bentar. Ibu tunjukkan ke kalian."

Kubuka lembaran demi lembaran. Yang di dalamnya terdapat foto-foto kami. Sebagian masih bertiga, saat Danu dalam kandungan.

"Ini Bapak waktu Danu masih dalam kandungan," ujarku sembari melepas foto dari album tua itu.

"Gak mirip, Buk. Bapak yang ini tidak menakutkan!" sahut Danu.

"Nak, Bapak bertahun-tahun kerja mencari uang untuk kita. Tidak ada yang merawat Bapak di sana. Bahkan Bapak tidak sempat merawat dirinya sendiri demi cari uang untuk kalian," ujarku mencoba menjelaskan.

"Iya, Buk. Agak mirip, sih. Cuma beda jauh," gumam Mira sembari memperhatikan foto tersebut.

Aku harus menjelaskan dan membuat mereka mengerti. Supaya tidak terus-terusan merasa takut dan tidak nyaman di dekat ayahnya.

Sebetulnya aku mengerti dan wajar. Danu ditinggalkan saat masih dalam kandungan. Sementara Mira waktu itu usia dua tahun. Yang tentu saja ingatannya masih belum begitu kuat. Wajar mereka takut dan merasa asing dengan ayah mereka.

Namun, bagaimana pun keasingan ini tidak bisa berlanjut. Untuk satu minggu ini aku memang memutuskan untuk tidak bekerja dahulu, sebab ingin menemani Mas Darma.

Tapi untuk hari-hari berikutnya? Aku harus bekerja untuk kebutuhan hidup kami. Biasanya, Danu dan Mira berada di rumah ketika aku kerja di ladang. Namun, jika mereka tidak mau ditinggal berdua dengan ayahnya, mau ke mana mereka? Sementara Mas Danu belum dapat kerja yang tentunya dia akan tetap di rumah.

Kupandangi foto Mas Darma, badannya kurus tegap dengan potongan rambut rapi. Jambang dan kumisnya dicukur rapi. Beda dengan sekarang. Badannya agak berisi dengan perut buncit, berjambang dan rambut agak gondrong. Tentu saja aku merasa takut awalnya saat dia datang, terlebih di sore hari menjelang maghrib.

Kupikir waktu itu orang asing yang berniat jahat. Ah, aku merasa bersalah jika mengingat waktu itu. Mungkin Mas Darma agak kecewa karena aku tak mengenali, meski dia tidak mengatakan itu.

"Tapi yang bikin Mira takut karena Bapak lihatin Mira terus, Buk!" bisik Mira lagi seolah tidak puas dengan perkataannku.

"Bapak juga sering lihatin Ibuk. Kalian tahu kenapa? Karena Bapak rindu sama kita, Nak, bertahun-tahun tidak berjumpa. Terakhir Bapak ketemu kamu, saat Mira usia dua tahun. Kebayang kan bagaimana rindu seorang ayah pada anaknya?"

"Iya, Buk. Kami minta maaf. Kami gak takut lagi sama Bapak," ujar Mira menunduk, merasa bersalah.

***

Malam ini entah kenapa aku begitu gelisah. Berkali-kali aku terbangun karena mimpi buruk. Mimpi yang tidak bisa kugambarkan tetapi setiap kali terbangun aku selalu ngos-ngosan dengan keringat dingin. Anehnya, tiap terbangun aku selalu lupa apa yang terjadi di mimpi barusan.

Karena mulai ketakutan, terlebih mendengar suara nyanyian binatang malam yang sangat ramai bersahut-sahutan tak seperti biasanya, aku mendekat ke sisi Mas Darma dan melingkarkan tangan di perutnya.

Tak berselang lama terpejam, aku terperanjat saat tanganku dihempas begitu kuat hingga membuat tubuh kurusku juga sedikit terpental.

"Laksmi! D-dari mana kamu dapat cincin ini, hah?!" bantak Mas Darma begitu kerasnya. Saking terkejutnya, hatiku seolah tersentak membuat kantuk seketika menguap begitu saja.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Buta Pembawa Petaka
9.6
Sebuah panggilan misterius dari pengembang properti mengusik ketenangan hidupku. Mereka mengeluhkan kegaduhan malam pernikahan yang dituduhkan terjadi di rumahku, meski aku sebenarnya tidak memiliki pasangan. Demi membuktikan keluhan tetangga, mereka mengirimkan rekaman pengawas. Kejanggalan mengerikan pun terungkap; video itu memperlihatkan prosesi iringan pengantin yang meriah di lorong rumah. Sosok mempelai pria di sana sangat kukenal, ia adalah mantan kekasihku yang sudah berpisah sejak dua setengah tahun lalu.
Sampul Novel Foto Bayi di Ponsel Suamiku
9.1
Kepercayaan Monalisa sebagai istri runtuh seketika saat menemukan foto bayi misterius di ponsel Bayu, suaminya. Alibi Bayu bahwa foto itu hanya dari internet tidak membuat Mona percaya. Penyelidikannya justru mengungkap fakta menyakitkan: sang suami telah memiliki anak dari perselingkuhan. Enggan tenggelam dalam duka akibat pengkhianatan ini, Mona memilih bangkit. Ia merancang pembalasan dendam yang rapi untuk menghancurkan hidup Bayu dan wanita simpanannya dengan rasa sakit yang setimpal.
Sampul Novel Mati Untuk Hidup
9.6
Saat mengembuskan napas terakhir akibat kanker stadium akhir di rumah sakit, wanita ini justru menghadapi kenyataan pahit dari keluarganya. Tepat di hari ujian universitas anaknya selesai, sang suami malah memeluk mantan kekasihnya di hotel dan berjanji akan menyingkirkannya. Di tempat lain, anaknya mabuk di bar sambil mengeluhkan sikap protektif ibunya, sementara sang mertua sibuk menjelek-jelekkannya kepada tetangga. Kini, tanpa ada lagi bantahan darinya, mereka semua akhirnya mendapatkan kebebasan yang mereka impikan.
Sampul Novel NAJIS JADI MADUMU, MAS!
9.3
Pernikahan baru yang diimpikan indah justru terasa hambar bagi seorang istri. Sang suami kerap absen, mengabaikan nafkah batin, serta hanya memberi uang belanja yang sangat sedikit. Didorong kecurigaan yang kian mendalam, ia pun mulai menyelidiki sendiri sikap dingin pasangannya tersebut. Di luar dugaan, sebuah rahasia besar yang amat menyakitkan berhasil ia bongkar. Rupanya, selama ini sang suami telah menyembunyikan sisi lain yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya.
Sampul Novel Not a Dangerous husband
8.7
Raymond terpaksa menikahi Almoora setelah dituduh memperkosa gadis itu. Tanpa bukti untuk membersihkan namanya, ia menjalani hari dengan frustrasi, sementara Almoora terus histeris karena trauma berat. Di tengah kebencian sang istri, Raymond bertekad menyelidiki kasus ini demi menyeret pelaku asli keadilan. Mampukah ia meyakinkan Almoora akan kebenarannya? Akankah pernikahan mereka tetap bertahan saat semua tabir hitam akhirnya terungkap?
Sampul Novel Satu-PD182
8.2
Sembilan kali baju wanita lain ada di loker suamiku, dan ia selalu berdalih. Kali ini, sepasang pakaian bayi ia sebut kepunyaan anak magang yang malang. Sambil merapikan dasinya, aku mengajaknya menemui pemilik baju itu. Wajahnya langsung pucat saat aku menuntunnya ke rumah tetangga baru kami yang mengaku lajang. Di sana, perempuan itu sedang menggendong bayi dengan gaun yang sangat aku kenali. Kebohongan suamiku akhirnya runtuh seketika di depan pintu rumah kami sendiri.