APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pembalasan Istri Kampungan

Pembalasan Istri Kampungan

Ketulusan Nara hancur seketika saat sang suami mengkhianatinya dan mengirimkan surat cerai. Di tengah keputusasaan yang mendalam, sosok Dimas hadir menawarkan aliansi untuk membalas rasa sakit hati Nara kepada orang-orang yang telah merusak hidupnya. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit: memperjuangkan keadilan atau justru terjebak dalam rencana berbahaya yang bisa memperkeruh situasi. Akankah pembalasan dendam ini sukses, atau malah berbalik menghancurkannya?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Surat apa ini?"

Napas Nara tercekat, di saat ia melihat tulisan pengadilan agama di dalam sebuah amplop yang masih tertutup rapat. Dengan tangan yang bergetar, ia mulai membuka isi surat itu dan membacanya secara menyeluruh hingga air matanya luruh begitu saja.

"Surat cerai? Ini tidak mungkin! Bagaimana caranya Mas Evan bisa menceraikanku tanpa sepengetahuanku? Apa salahku?" gumamnya tak percaya sambil membaca isi surat tersebut untuk yang kedua kalinya.

Tetes air mata Nara semakin menderas, di saat ia menyadari kenyataan ini bukanlah sebuah mimpi buruk. Entah nasib sial apa lagi yang tengah menimpanya, hingga detik ini tangannya bisa menggenggam sebuah surat perceraian yang dilayangkan oleh seorang pria yang belum genap menikahi dirinya selama dua bulan.

"Tidak! Aku tidak boleh percaya begitu saja! Aku harus meminta konfirmasi langsung dari Mas Evan!" batin Nara yang langsung menyeka jejak air matanya.

Perempuan itu beranjak dari tempat duduknya, dan beralih mencari ponsel di kamar. Nara masih berusaha berpikir positif, sampai langkah kakinya terhenti di saat terdengar suara ketukan pintu dari luar.

"Mas Evan? Ya, itu pasti Mas Evan pulang!" ujar Nara bersemangat, sambil berlari menuju pintu rumahnya.

Nara berusaha menampilkan senyuman terbaik untuk menyambut kepulangan sang suami, dengan harapan agar ia bisa berbicara baik-baik dengan Evan. Namun sayangnya, pria yang telah mengetuk pintu rumahnya itu ternyata bukanlah pria yang diharapkan. Kedua matanya sampai membulat, di saat ia mendapati tatapan tajam dari para tamu yang tak pernah diundangnya.

"Maaf, ini ada apa ya?" Nara sampai mundur selangkah ke belakang. Nyalinya seketika menciut, di saat beberapa pria berbadan besar dengan banyak tato di badannya menghampiri dirinya.

"Apa benar ini rumah kediamannya Evan dan Nara?"

"Ya, benar. Nara itu saya sendiri, dan Evan itu suami saya. Ada urusan apa ya?"

"Rumah ini akan kami sita! Suami Anda telah meminjam sejumlah uang pada pihak bank, dan tidak bisa melunasinya. Sehingga mulai besok Anda dan suami Anda tidak bisa lagi tinggal di tempat ini!"

Jdarrr!

Bagai tersambar petir di siang bolong, seketika kekuatan yang ada di dalam tubuh Nara pun hancur. Baru saja beberapa saat yang lalu batinnya terguncang berkat hadirnya surat perceraian yang amat tiba-tiba, dan kini ia sudah dihadapkan lagi dengan situasi yang tak kalah sulit.

"Ini adalah sisa pembayaran yang harus ibu segera lunasi," ucap pria berkepala botak tersebut, sambil menyerahkan selembar kertas pada wanita yang ada di hadapannya.

Nara membaca sejumlah angka yang tertera di kertas itu, hingga mulutnya kembali terbuka dengan napas yang kembali tercekat. "Seratus juta?" tanyanya tak percaya.

"Iya, benar. Itu adalah nominal gabungan sisa hutang suami Anda, berikut dengan bunganya!"

Seketika kedua sudut air mata Nara kembali basah. Dirinya merasa pening sekaligus sesak, dengan berbagai cobaan yang datang secara bersamaan di hari ini. Kini tak hanya tangannya saja yang bergetar, tetapi mulutnya juga. Nara mengigit kuat bibirnya, mencoba menahan ledakan tangis yang hampir pecah. Namun sayangnya, ia gagal.

"Tolong jangan usir saya dari tempat ini, Pak!" lirih Nara memohon, dengan air mata yang semakin luruh. "Sudah lebih dari sebulan ini Mas Evan belum pulang, karena dia tengah bekerja di ibu kota sana," lanjutnya dengan sorot mata meminta iba.

"Maaf, kami hanya menjalankan tugas. Sertifikat rumah ini telah ada di tangan kami, dan mungkin untuk lebih jelasnya lagi Anda bisa tanyakan langsung pada suami Anda sendiri," ucap pria itu tak mau berdebat, dan langsung mengajak para teman-temannya pergi meninggalkan tempat tersebut.

Tangis Nara pecah. Perempuan itu terduduk di balik pintu, dengan kedua tangan yang menutup wajah. Nara tak tahu apa yang tengah terjadi pada Evan, pikirannya sudah terlanjur kacau. Hingga keesokan harinya, ia terbangun dan berusaha mencoba mencari tahu semuanya.

"Ya, sepertinya aku harus mencari tahu alamat tempat tinggal Mas Evan di Jakarta! Aku harus segera menemuinya, sebelum para rentenir itu kembali ke rumah ini!"

Dengan susah payah, Nara mengobrak-abrik isi lemari suaminya. Meski sebagian tubuhnya masih terasa lemas, ia tetap mencari semua data diri Evan. Tak ada satu pun yang dilewatinya, hingga kedua netranya tak sengaja melihat sebuah buku kecil dengan coretan pena di depannya.

"Jalan Melati, Nomor 30A. Tidak salah lagi, pasti Mas Evan ada di tempat ini sekarang!" ucap Nara yang seketika langsung merobek kertas tersebut dan menyimpannya di dalam dompet.

Pukul tujuh pagi keesokan harinya, Nara segera bergegas menumpangi sebuah bus yang berjalan menuju Jakarta. Dalam duduknya, Nara tak pernah berhenti meremas ujung baju yang tengah dikenakannya. Ia terlalu takut, karena ini adalah momen pertama kali dirinya meninggalkan kampung halaman sendirian. Selama ini Nara memang sama sekali tak pernah bepergian jauh, karena terlalu fokus mengurus ayahnya yang telah sakit berbulan-bulan.

"Jakarta! Jakarta!"

Nara terperanjat, dan langsung melihat sekelilingnya. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya ia bisa sampai di tempat tujuannya. Sehingga dengan menarik napas terlebih dahulu, Nara pun turun dari bus tersebut dan mulai menanyakan alamat tujuannya pada beberapa orang yang ada di sana.

"Waduh! Kalau alamat ini masih jauh, Neng! Neng harus naik beberapa angkutan umum dulu, supaya bisa ke sana," ucap orang itu, yang langsung membuat Nara memeriksa isi dompetnya.

Sisa uangnya hanya tinggal hanya tinggal 4 lembar uang lima puluh ribuan saja, mengingat selama ini Evan belum pernah mengiriminya uang. Itu pun adalah sisa uang simpanannya, yang sebagian besar telah habis untuk perawatan rumah sakit dan biaya pemakaman ayahnya.

"Saya catat di sini saja nama-nama angkutan umum sekaligus nomornya ya, Neng. Semoga cepat ketemu suaminya," ucap orang tersebut sambil mengembalikan kembali secarik kertas yang sempat diperlihatkan kepadanya dan pergi melanjutkan perjalanannya.

Nara mengikuti beberapa instruksi yang telah orang tadi tuliskan di kertasnya. Ia mulai menaiki sebuah angkutan umum berwarna merah dari stasiun bus tersebut, sampai akhirnya ia menyambung menumpang angkutan umum lainnya. Nara tak gentar mencari Evan, meski kini ia tengah berada di tempat yang sangat asing baginya.

"Jalan Melati," ejanya pelan sambil melihat sebuah papan nama jalan yang ada di hadapannya.

Untuk sesaat, Nara sedikit mengerenyitkan dahinya. Ia nampak terlihat bingung, di saat melihat beberapa mobil dan motor yang tengah terparkir hampir memenuhi pinggir jalanan. Hingga akhirnya, dengan ragu-ragu Nara pun kembali menyusuri beberapa rumah yang ada di sana. Ia mencari keberadaan rumah Evan. Sampai tiba-tiba napasnya terasa sesak, di saat dirinya melihat sebuah tenda dan tulisan yang amat menghentakkan hati.

"Tidak! Ini tidak mungkin!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Untuk Nadia
9.3
Hari pernikahan Nadia berubah menjadi mimpi buruk saat calon suaminya mendadak batal hadir. Demi menyelamatkan nasib sang putri di tengah situasi kacau tersebut, Abah Yai mengambil langkah nekat. Beliau memohon kepada seorang pria lain untuk bersedia menggantikan posisi mempelai lelaki yang kabur. Keputusan darurat ini tidak hanya mengubah garis hidup mereka seketika, tetapi juga memicu pergulatan batin yang hebat antara tanggung jawab dan perasaan cinta.
Sampul Novel Jatuh Dalam Pesona Playboy
8.0
Claire Wilson menolak perjodohan dari ayahnya demi mengejar karier pasca-kelulusan. Di tengah penolakan itu, ia bertemu Jayden Kim, model tampan asal Korea dengan reputasi playboy penolak komitmen. Hubungan tanpa status yang singkat namun bermakna pun terjalin di antara mereka. Saat kontrak kerja Jayden di New York selesai, ia memilih pergi demi prinsip anti-cinta yang dianutnya. Kini, mampukah Claire meluluhkan hati pria yang sangat menghindari hubungan serius tersebut?
Sampul Novel Pengkhianatannya, Balas Dendam Mafia-ku
8.4
Hatiku hancur saat suami membawa selingkuhan mendiang saudaranya yang hamil ke rumah kami dengan dalih tanggung jawab. Pengkhianatan kian nyata ketika kalung warisan ibuku sengaja dirusak, dan suamiku justru menampar demi membela wanita itu. Tindakan kasarnya memicu perang besar, sebab aku adalah putri seorang kepala mafia. Di makam ibu, aku bersumpah menuntut balas. Kuhubungi ayahku untuk menghancurkan seluruh kerajaannya yang kini tak lagi memiliki kehormatan.
Sampul Novel Putri Kandung yang Diperlakukan Asing
9.7
Setelah resepsi pernikahannya dibatalkan untuk ke-88 kalinya karena sang adik angkat, Yasmin, mengancam bunuh diri, Willa mengambil keputusan besar. Ia memilih pergi mengembangkan pasar di Negara Heksa selama sepuluh tahun, meninggalkan tunangannya, Aditya, serta orang tuanya yang selalu menyalahkannya atas depresi Yasmin. Diusir secara verbal oleh ayahnya sendiri yang menganggapnya egois, Willa akhirnya menyerah untuk mendapatkan kasih sayang mereka dan memilih pergi selamanya.
Sampul Novel Rahasia Aneh Para Suami
8.1
Pernikahanku dengan suami mapan yang penyayang awalnya begitu indah. Namun, kehangatan malam kami tiba-tiba padam, menyisakan tanya dan gairah yang terpendam. Di tengah kehampaan itu, aku mencoba mencari pelarian. Alih-alih kepuasan, aku justru mengungkap rahasia kelam yang menyelimuti dirinya. Kini aku dihadapkan pada pilihan sulit: tetap setia dalam kepalsuan atau melangkah ke jurang pengkhianatan demi sebuah kebenaran.
Sampul Novel SELINGKUH
8.9
Pernikahan Rosa dan Indra selama lima tahun terasa hampa tanpa kehadiran anak. Penderitaan Rosa kian mendalam karena perlakuan kasar dari suaminya tersebut. Saat berada di titik terendah, Bian datang ke dalam hidup Rosa. Pria ini memberikan kehangatan serta rasa nyaman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Kini, Rosa berada di persimpangan jalan, bimbang memilih antara mempertahankan janji suci pernikahannya atau menyerah pada pesona cinta barunya.