
Pembalasan Dendam Seorang Ayah
Bab 3
Mereka enggan menyerangku di dalam mobil karena takut merusak peralatan yang ada, jadi mereka mengurungku di sudut yang tersembunyi. Begitu melihatku, pria yang berperan sebagai orang tua renta itu langsung berdiri tegak. Ternyata dia hanya pria kurus yang lemah.
"Alfred, sudah kuduga pria ini bukan orang baik."
Alfred menyipitkan mata, melempar puntung rokok yang baru dihisapnya ke arahku. "Mengacaukan rencana kita, ya? Mau balas dendam untuk putrimu? Jangan mimpi! Hajar dia sampai babak belur!"
Pria yang bernama Pedro dan Gordon itu langsung menuruti perintahnya dan mulai menghajarku. Tangan dan kaki mereka yang kecil dan kurus hanya terasa seperti gigitan nyamuk di tubuhku. Aku menahan diri dan tidak bergerak. Tidak lama, keduanya malah terengah-engah.
"Kak Alfred, orang ini pengecut. Dia cuma berani sembunyi di sudut untuk mengintip kita," kata Pedro berusaha cari muka. Sambil tersenyum sinis, aku mengepalkan tinju diam-diam.
"Lihat saja, badannya besar tapi cuma pengecut! Beberapa pukulan saja dia sudah ...." Belum selesai dia bicara, aku langsung bangkit dan memberi pukulan keras di dagu Alfred. Kemudian, aku meraih dua pria lemah itu dan membenturkan kepala mereka dengan keras.
Apa mereka benar-benar mengira ototku ini hanya pajangan? Ketika aku menguasai arena di dojo, mereka mungkin masih sibuk bermain lumpur!
"Cari mati!" Alfred terdorong mundur dan mengeluarkan pisau lipatnya dengan kesal. Aku mendengus, tidak menganggapnya serius. Dengan cekatan, aku mencengkeram leher kedua pria itu dan menggunakan mereka sebagai perisai.
"Kak Alfred!" Kedua pria itu berusaha melawanku dengan menendang kakiku, tapi trik kecil mereka itu tidak ada apa-apanya. Aku langsung menendang lutut mereka dan membuat mereka jatuh berlutut.
Mencengkeram mereka semudah mencengkeram anak ayam. Alfred mengacungkan pisau dan mengayunkannya ke arahku tanpa teknik sama sekali.
Aku mengangkat mereka berdua bergantian di depanku dengan mudah, membuat Alfred tanpa sengaja menusuk anak buahnya sendiri berkali-kali. Kedua pria lemah itu menjerit kesakitan saat terkena pisaunya. Alfred tak tega melihat anak buahnya terluka dan akhirnya menelepon polisi.
"Halo, polisi? Aku mau lapor ada yang melukai orang!"
Aku tersenyum, lalu melepaskan cengkeraman pada mereka dan merebut pisau Alfred dengan cepat. Sambil mencengkeram kerah bajunya, aku menghajarnya tanpa henti. Alfred yang tak siap sama sekali, hanya bisa menerima pukulan dan berdarah.
Kedua anak buahnya mencoba menggangguku. Namun, hanya dengan satu tendangan dariku, mereka terlempar jauh. Saat itulah, terdengar suara dari ponsel Alfred. Itu suara putriku, Lili.
Di tengah amarahku yang berkobar, seluruh tubuhku tiba-tiba menjadi kaku mendengarnya.
"Lili ...." Sesaat aku kehilangan arah, membayangkan putriku yang dulu selalu ceria dan ramai menyapaku.
"Ayah, aku kangen. Tolong selamatkan aku ...."
Suaranya terdengar terputus-putus, diselingi suara makian pria lain.
"Dasar perempuan nggak tahu diri .... Ayahmu nggak akan pernah mencarimu lagi ...."
Aku memejamkan mata dengan perih. Tubuhku merosot dan aku menutup telingaku. Namun tanpa sadar, aku tetap ingin mendengar suara putriku sekali lagi. Itu adalah pesan terakhir darinya yang tersisa untukku.
Melihatku berhenti bergerak, Pedro dan Gordon langsung mencengkeram kepalaku dan membantingku ke tanah. Namun, rasa sakit di tubuhku tidak lagi berarti. Yang kudengar hanya suara Lili yang memanggilku.
"Ayah, tolong aku ...."
"Ayah, aku nggak mau hidup lagi ...."
"Ayah, aku mau mati saja ...."
Dia terus berteriak hingga suaranya menjadi serak. Lama-kelamaan, suaranya semakin tenang, seakan-akan telah pasrah menghadapi semua orang gila itu.
Lili berkata, "Ayah, Ibu, aku cinta kalian. Aku nggak seharusnya bertengkar sama kalian."
"Ayah, Ibu, aku menyesal sekali. Kenapa aku nggak diam saja seperti orang lain."
"Ayah, Ibu, aku kangen. Sayangnya, seumur hidup ini aku nggak bisa jadi putri kalian lagi."
Pada akhirnya di tengah-tengah keributan, para pria itu mulai menghentikan gerakan mereka.
"Kak, gadis ini bunuh diri dengan menggigit lidahnya ...."
Seketika, otakku seakan-akan meledak. Hatiku terasa seperti dibelah dua. Lili-ku pergi begitu saja ....
"Gimana rasanya mendengar putrimu mati? Apakah kamu sakit hati sekali sampai ingin membunuhku? Ayo bunuh saja aku. Dengan membunuhku, kamu bisa balas dendam untuk putrimu."
Pada saat ini, aku hanya punya satu pemikiran, yaitu ingin membunuh ketiga orang ini sekarang juga.
Anda Mungkin Juga Suka





