APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel PELUKAN UNTUK LANIA

PELUKAN UNTUK LANIA

Demi keluarga, Amara rela berkorban, tetapi takdir malah menorehkan kepedihan mendalam. Luka lamanya terkoyak kembali saat sang ayah kandung yang dahulu menelantarkannya tiba-tiba muncul. Di saat terpuruk, Angkasa datang menawarkan kehangatan hingga Amara terpikat. Namun, ketulusan itu runtuh ketika Amara menyadari dirinya hanya dijadikan selingkuhan. Kini, terjebak dalam status perusak hubungan, ia mulai kehilangan harapan akan masa depannya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Melihat langit yang begitu indah sore ini membuat Angkasa berniat menghentikan mobilnya tepat di taman kota. Wajahnya menengadah melihat senja, burung-burung yang lalu lalang serta banyak pemuda pemudi yang bercengkerama seolah sudah siap akan malam minggunya.

Ia segera duduk di bangku panjang yang terlihat kosong meskipun ada seorang bocah menempatinya seorang diri di posisi paling ujung. Entah ke mana orang tua anak lelaki itu, meninggalkannya seorang diri di tempat umum seperti ini.

Menikmati suasana dengan angin yang berhembus ia menyandarkan punggungnya tanpa ingin tahu keadaan sekitar. Langit yang kuning makin lama berubah menjadi gelap digantikan oleh lampu-lampu untuk membantu penerangan.

Telinganya mendengar bunyi tak asing, melirik sedikit apa yang dilakukan bocah di sampingnya itu.

"Kamu lapar?" Bergumam tanpa melihat.

Sedangkan anak laki-laki itu hanya menunduk malu seperti tertangkap basah mencuri sesuatu. Angkasa akhirnya menatap dengan jelas bocah itu. Anak yang sebenarnya tampan dengan baju yang sudah pudar warnanya.

Bunyi yang sama ke sekian kali membuat Angkasa menghela napas, akhirnya ia beranjak pergi. Bocah lelaki itu melihat kepergian Angkasa dengan wajah tertunduk, ia yakin om itu tak ingin berdekatan terlalu lama dengannya.

"Makanlah!" Sodoran yang diberikan membuat bocah itu melihat bagaimana wajah pria yang sudah memberikannya sesuatu. Ia melihat bungkusan hadapannya, tampak menggiurkan tapi dia takut.

"Kamu sendirian?" Angkasa duduk kembali sambil menaruh bungkusan nasi di bangku dekat dengan bocah itu. Tapi hanya anggukan yang di dapat Angkasa.

"Kamu tersesat atau bagaimana?" Menarik, seorang Langit Angkasa ingin ikut campur urusan orang lain. Ia tak henti-hentinya menanyakan hal yang seharusnya tak ia tanyakan.

Hanya anggukan lagi. Angkasa sampai menegakkan tubuhnya.

"Siapa namamu?"

"Kakak!" Teriakan secara tiba-tiba bocah itu sambil melambaikan tangan, entah siapa yang dipanggil membuat ia terperanjat.

"Cakra, Cakrawala." Sambil berlari, bocah itu berbalik menatap Angkasa

***

"Kamu dari mana saja?" teriaknya sambil memeluk bocah yang sudah lari menghampiri dirinya. Hampir dua jam ia berkeliling kota untuk mencari sang adik, yang entah kenapa bisa hilang begitu saja.

"Maaf, Kak," ringis bocah itu karena dipeluk erat sang kakak.

"Kakak takut kehilangan kamu!" Jantung Amara semakin berdetak, ia ingin menyerah dan menelepon polisi saja jika sampai malam ia tidak menemukan adiknya. Jakarta bukan kota aman untuk bocah seusia Cakra yang sendirian, bisa saja eksploitasi anak membuat Cakra menjadi budak. Ia menggeleng-geleng mengenyahkan pikiran buruk tentang hal tersebut.

"Apa yang ada di tangan kamu?" Menggandeng tangan Cakra untuk berjalan kembali pulang.

Cakra melihat tangannya yang membawa bungkusan, ia nyengir malu. "Makanan, diberikan oleh Om yang tadi susuk di samping Cakra.”

Amara tak habis pikir, bisa-bisanya Cakra mengambil pemberian dari orang lain yang tidak di kenal. Padahal bisa saja itu modus penculikan. "Kamu tidak ingat apa yang Kakak katakan untuk tidak mengambil pemberian orang lain?" Amara mengambil bungkusan dari tangan Cakra. “Beri tahu Kakak yang mana orangnya!”

"Jangan, Kak! Nasibnya bisa untuk makan malam kita ...," mohon Cakra sambil menarik baju kebesaran milik Amara.

"Dengar! Kalau di makanan ini ada obat terlarang atau racun, bagaimana? Lalu kamu diculik dan dijual oleh mereka?" Amara mensejajarkan tubuhnya untuk melihat wajah gembil sang adik. "Kakak masih punya cukup uang kalau untuk makan kamu sehari-hari. Jangan jadi miskin hati, Cakra. Cukup materi kita saja yang kurang." Amara menghela napas.

Bekerja sebagai operator fotokopi di depan sekolah, membuat Amara lebih banyak bersyukur meskipun hanya berpenghasilan pas-pasan. Ia sudah banyak mencoba melamar di suatu instansi atau perusahaan walaupun bermodal ijazah SMA. Tak ada salahnya bukan?

Sambil menunjukkan tempat orang yang memberikannya makan, Cakra menengok sekelilingnya. "Tadi om itu duduk di sini, Kak. Duduk di samping Cakra," jelas Cakra sambil menunjuk bangku panjang.

"Terus sekarang om itu hilang?" ejek Amara melihat wajah kebingungan Cakra yang terlihat lucu. Ia pun mendudukkan bokongnya di sana.

Amara memberikan bungkusan pada Cakra. "Ya sudah, ini untuk kamu. Tapi nanti kalau kita bertemu lagi dengan orangnya maka kamu harus membayar uangnya, ya.”

Cakra pun mengangguk senang. Setidaknya ia bisa makan enak malam ini.

**

"Bagaimana bisa kamu main hingga sejauh ini?" tanya Amara sambil menggandeng Cakra menikmati malamnya suasana ibukota.

"Tadi ada ondel-ondel terus Cakra ikuti, deh," kata bocah berumur sepuluh tahun itu menjelaskan.

"Sampai sejauh ini?" Anggukan yang bocah itu berikan membuat asumsi Amara benar. "Kamu sendirian?" cecarnya.

"Tidak, banyak anak lain juga tadi. Tapi sekarang Cakra tidak tahu mereka ke mana." Bisa dipastikan entah Cakra yang kehilangan jejak temannya atau memang ia yang pergi ke suatu tempat setelahnya.

Amara membuka gerbang tua rumahnya, membuat besi yang sedikit berkarat itu berbunyi. "Cepat kamu mandi, Kakak ingin lihat ibu dulu." Dengan lihai Amara menghidupkan seluruh lampu rumahnya.

Dibuka pintu kayu untuk melihat ibunya. "Bu ...." Panggilan itu memenuhi ruangan yang sedari tadi sunyi.

Hanya gumaman yang terdengar sebagai balasan. Amara duduk di pinggir ranjang memperhatikan ibunya yang juga menatap dirinya. Dengan sigap Amara membantu ibunya untuk duduk. "Cakra sedang mandi, Bu." Sambil memijat kaki ibunya, ia berbicara.

Mata sayu itu menatap Amara dengan lembut walau dirinya tak bisa berbuat banyak namun doa selalu terpanjat di hatinya.

"A ... aa ... aa." Perkataan tak jelas yang selalu bergumam itu membuat Amara miris. Tubuh ibunya tak lagi sama, setengah dari sistem sarafnya tidak berfungsi. Bibir yang sedikit menyungging itu menandakan jika dia tak bisa berbicara normal.

"Ibu lapar?"

Menggelengkan kepala Dinarianti–Ibu Amara—membuat Amara semakin berpikir apa yang diinginkan ibunya.

"Aaa ... aaa."

"Kak Guntur?" Akhirnya Amara mengetahui apa yang ibunya jelaskan, dengan bantuan tangan kiri yang masih berfungsi menggambarkan sosok tinggi yang artinya kakak Amara.

"Kak Guntur sepertinya tidak pulang lagi, Bu." Helaan napas Dinar membuat Amara mengerucutkan bibirnya.

Guntur Pribumi laki-laki dewasa yang sudah menginjak dua puluh lima tahun itu entah ke mana dan jarang pulang. Sosoknya tak ubah seperti berandalan di pinggir jalan yang sering nongkrong bersama teman-temannya. Mengikuti pergaulan bebas.

Amara tak banyak berharap dengan Guntur, jika laki-laki pertama di keluarga lain pasti menjadi sandaran dan tumpuan tapi tidak untuk Amara dan Cakra. Mereka tak bisa mengharapkan Guntur yang memberikan kenyamanan di rumah.

"Ibu ingin ke toilet?" Amara membantu Ibunya berdiri, Dinar bisa saja berdiri sendiri namun kakinya sebelah yang mati rasa memperlambat dirinya untuk berjalan.

Dengan tertatih dan menyeret kaki sebelah kanan, Amara menopang tubuh sang Ibu. Belum sempat mencapai pintu kamar, Dinar serta Amara dikagetkan dengan pecahan kaca dari arah dapur. Amara dengan cepat mendudukkan ibunya di kursi. Pikirannya langsung tertuju pada Cakra yang sedang di dapur, semoga Cakra hanya memecahkan gelas.

Amara tambah panik saat melihat adiknya sudah terduduk di lantai dengan pecahan kaca di sampingnya.

"Kak Guntur!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ghost Writer
8.3
Kehidupan asmara perkotaan berpadu dengan intrik dunia kepenulisan bayangan. Cassandra, seorang penulis jenius, terus dimanfaatkan oleh Ayu, klien setianya yang miskin bakat. Namun, sahabat Cassandra yang bekerja sebagai editor melihat keistimewaan tersebut. Sang editor kini berupaya keras meyakinkan Cassandra untuk keluar dari bayang-bayang Ayu dan berani bersinar dengan namanya sendiri demi meraih kesuksesan yang sesungguhnya.
Sampul Novel HASRAT MEMBARA CEO PERKASA
8.5
Dalam sekuel Cintaku Bersemi di Masa Remaja, Joseph Mikuel selaku CEO JM Corp tidak sengaja bersua kembali dengan Mary Violet, kekasih masa lalunya. Dulu, Mary pergi begitu saja tanpa alasan, namun kini ia mendadak mendaftar sebagai sekretaris pribadi di kantor Joseph. Lewat pengaruhnya, Joseph sengaja meloloskan Mary demi menyelesaikan urusan hati yang belum tuntas. Mary pun terkejut dengan pertemuan ini, memicu tanya apakah asmara lama mereka dapat terjalin kembali.
Sampul Novel I'am Sorry, I love You
8.6
Delapan tahun mencari cinta monyetnya, Liu akhirnya bertemu Mianhua di Universitas Tsinghua. Mianhua yang amnesia kini berstatus sebagai pacar Lay, padahal ia adalah Jia yang asli. Saat memorinya kembali berkat hipnotis, dilema besar muncul sebab Liu telah bertunangan. Di tengah upaya Lay menahannya, Mianhua memilih pergi demi kebaikan bersama. Namun, takdir mempertemukan mereka lagi di makam Chen, hingga restu sang ayah menuntun mereka ke pelaminan.
Sampul Novel Pudarnya Rasa Cinta
9.7
Nyawa Selina terancam ketika bom di tubuhnya hanya tersisa sepuluh menit sebelum meledak. Dipaksa penculik menghubungi pacarnya yang seorang polisi, ia justru mendapat makian. Sang pacar menuduhnya berbohong karena cemburu, demi menyelamatkan kucing milik Vinie, teman masa kecilnya. Di sela telepon, terdengar manja suara Vinie yang berterima kasih. Saat bom hampir meledak, Selina mengirim pesan terakhir yang menyatakan selamat tinggal dan berharap tidak akan bertemu lagi di kehidupan berikutnya.
Sampul Novel Rahasia di Balik Cinta Kita
8.1
Kebahagiaan rumah tangga Aruna dan Rayhan hancur seketika setelah sebuah pesan misterius mengungkap jati diri sang suami yang sebenarnya. Masa lalu Rayhan yang kelam dan berdarah mulai terkuak, menyeret sosok Alara yang berwajah serupa dengan Aruna. Terjebak di tengah konspirasi dan pengkhianatan, Aruna kini dihadapkan pada pilihan sulit. Haruskah ia pergi demi menyembuhkan luka, atau bertahan mendampingi pria yang ia cintai meski fondasi hubungan mereka dibangun di atas kebenaran yang mengerikan?
Sampul Novel Selamat Jalan Kekasihku
9.8
Sembilan tahun Kylee Brooks tulus merawat Kenney Walsh yang bersikap dingin. Namun, sebuah rahasia besar terungkap saat Kylee mendengar pengakuan Kenney di balik pintu kamar. Pria itu ternyata hanya berpura-pura lumpuh agar bisa menjauhinya. Kebohongan kursi roda tersebut sengaja dilakukan Kenney demi menjaga kesetiaan dan menyatakan cinta mendalam kepada Ruth, kakak iparnya sendiri. Kenyataan pahit ini seketika menghancurkan seluruh pengorbanan yang telah Kylee berikan.