APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pelabuhan Akhir Sang Pewaris

Pelabuhan Akhir Sang Pewaris

Sebagai pewaris tunggal Grup William, Sean Axel dikenal sangat tegas dalam bisnis. Meski banyak selebriti wanita mendekatinya demi harta, ia merasa muak dengan kepalsuan mereka. Hidup sang miliarder berubah total setelah bertemu seorang wanita unik yang berhasil memikat hatinya. Kini, Sean justru berjuang keras mengejar cinta perempuan tersebut, berharap dapat menjadikannya sebagai pelabuhan terakhir dalam perjalanan hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Manhattan, USA. | 22.53 PM.

Suara musik menghentak begitu kencang namun tidak memekakkan telinga. Justru sebaliknya, musik dengan kencang seperti ini seolah membuat tempat yang di singgahi terasa begitu menyenangkan dan terasa hidup. Para pelayan tampak hilir mudik mengantarkan pesanan.

Aroma tembakau mahal yang dibakar seketika masuk ke dalam indra penciuman, disertai dengan dentingan gelas sloki yang berisikan wiski, tequila, vodka, dan anggur sehingga mengimbangi suara musik. Ini adalah acara ulang tahun yang tergolong masuk kategori mewah. Bahkan yang di undangnya adalah orang-orang berjas dan berdompet tebal.

Laki-laki dengan balutan kemeja press body itu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa yang berada dalam ruangan private yang sudah dipesan secara sengaja oleh rekan kerjanya. Matanya berkilat tajam sembari memerhatikan para perempuan yang sengaja disewa untuk menyenangkan pelanggan.

Sampai seorang laki-laki yang memiliki kulit gelap dan berseragam pelayan itu menyerahkan satu gelar anggur. "Ini anggur Anda, Mr. William."

Dia Sean Axel William, laki-laki dengan sejuta pesona yang mampu membuat perempuan mana pun bertekuk lutut terhadapnya. Tampan, mapan, berpedidikan, tegas, berwibawa, dan dia juga berasal dari keluarga terpandang, memiliki kekayaan yang mampu menembus majalah Forbes.

Sean menatap laki-laki di depannya dengan pandangan menelisik. Menurut pendapat Sean, laki-laki itu lebih cocok menjadi polisi karena wajahnya terlihat menyeramkan saat ditatap. "Kau lebih cocok menjadi seorang Polisi dari pada pelayan bar seperti ini."

Laki-laki itu tersenyum kecil dan kembali bertugas saat Sean melambaikan tangannya, pertanda kalau Sean menyuruhnya untuk pergi.

Suasana seperti ini sebenarnya bagi Sean kurang bagus untuk dijadikan tempat ulang tahun. Tapi beginilah gaya ulang tahun masyarakat modern, tidak hanya meniup lilin dan memotong kue bersama orang terkasih. Tapi yang terjadi adalah big party yang diselenggarakan di tempat kelas atas. Kegiatan seperti ini sudah lumrah bagi bangsa Barat atau pun bangsa Eropa, seakan kau bebas melakukan apa pun ketika kau memiliki uang.

"Kudengar kau memiliki hubungan dengan Model dari Chicago itu? Kalau tidak salah namanya Zara Mellano, right?" Julian Antonio bekata setelah menyesap anggurnya. Laki-laki itu mengidikan bahunya dengan acuh saat Sean tidak kunjung menjawab pertanyaannya.

"Dari media mana kau mengetahui berita bodoh itu? Biar aku tuntut medianya." Sean mengeraskan rahangnya saat berita mengenai dirinya dan Zara selalu memenuhi tagar di media sosial. Dia menghadap untuk menatap Julian sebelum berkata, "Dengar Jul, aku tidak sedang dekat dengan siapa pun untuk saat ini. Dan mungkin berlaku untuk kedepannya juga."

Julian menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Kau ini kenapa sih? Kau tidak buta perihal meneliti perempuan kan, Sean? Menurutku Zara Mellano itu tipe perempuan yang sempurna," papar Julian dengan senyum lebarnya.

Bagi Julian Sean itu sangatlah aneh, saat diberi umpan yang luar biasa justru malah menolaknya begitu saja. Apalagi kali ini yang ditolaknya dengan mentah-mentah adalah seorang Model ternama.

"Jika kau mau, pacari saja dia, semudah itu." Sean menjawab dengan pendek.

"Tidak setuju. Karena menurutku Zara Mellano terlihat lebih cocok denganmu," balas Julian, kemudian laki-laki itu mengangkat gelas sloki untuk menyesap anggurnya.

Sean menggeleng dan menatap Julian dengan malas. Sepupunya itu selalu saja seperti ini jika ada berita tidak jelas mengenai dirinya. Selalu heboh jika ada berita scandal yang menyangkut namanya. Sedari dulu Sean tidak pernah tertarik untuk terlibat dalam publik apalagi dengan berita tidak jelas seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini.

*

Willian Group, Manhattan, USA. | 09.11 AM.

Pagi yang cerah setelah malam yang panjang. Sean mengetuk pena di atas meja, matanya menatap beberapa gedung yang menjulang di hadapannya. Ruangan kerjanya berada di puncak perusahaannya, namun untuk yang memiliki riwayat penyakit jantung jangan harap bisa menginjakkan kakinya di tempat ini.

Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Sean mengizinkan orang di balik pintu itu masuk sehingga berjalan menghadapnya membawa satu map berwarna biru gelap yang didominasi oleh warna emas berkilau melambangkan William Group.

"Ini Pak, laporan mengenai proyek yang Anda minta." Laki-laki paruh baya itu dengan sopan menyerahkan map di tangannya.

Sean menerima uluran map itu dari tangan pekerjanya. Matanya fokus membaca berkas-berkas yang ada di dalamnya. Laki-laki itu melingkari ejaan yang kurang tepat menggunakan pena yang di tangannya.

"Perbaiki lagi, kalau masih salah. Pintu keluar William Group masih terbuka lebar," kata Sean dengan nada suara yang dingin. Menyerahkan kembali map tersebut dan menyuruh laki-laki paruh baya itu keluar.

Sean membuka Mackbooknya untuk melihat perkembangan perusahaan. Semenjak Ayahnya pensiun sebelum waktunya, semua tanggung jawab perusahaan diambil alih olehnya. Mungkin Addison akan meluangkan waktunya sekedar melihat-lihat hasil kerjanya selama ini. Setelah lulus kuliah, Sean sudah harus mengorbankan kebebasannya untuk ini.

Dulu William Group hampir bangkrut karena ada salah satu orang kepercayaan Ayahnya menggelapkan uang perusahaan yang berjumlah miliyaran dolar. Dan yang mengatasi hal itu adalah Sean, menguras banyak tenaga serta pikiran untuk mencari jalan keluarnya.

Setelah mengetahui keperibadian Sean yang jauh lebih menyeramkan dibandingkan dengan Addison. Membuat semua orang yang bekerja di bawah perusahaan William Group harus menyiapkan mental untuk mendengar ucapan galak dan ketus Sean setiap harinya.

Tangannya menari lincah di atas keyboard harus terhenti saat suara dering ponsel menjadi nada yang terdengar riang dalam ruangan senyap dan hening ini. Sean hanya melirik ponsel mahalnya yang menyala dan nama Julian tertera di sana. Membuat Sean mengabaikannya, sudah kebiasaan Julian meneleponnya disaat jam kerja seperti sekarang ini.

Lima panggilan tidak Sean jawab. Sehingga beberapa menit kemudian datanglah satu pesan yang kembali membuat layar ponselnya menyala.

Julian Antonio : Aku hanya mengingatkanmu, nanti siang ada pameran di Galeri Seninya Paman Rodrigo. Kalau kau masih ingin bertemu dengan seniman itu, maka ikutlah nanti siang bersamaku. Pukul satu nanti aku akan ke kantormu.

Sean mengangkat pergelangan tangannya yang dihiasi oleh jam tangan yang harganya selangit. Modelnya terlihat simple namun tidak menghilangkan kesan elegan pada jam tersebut. Sekarang sudah pukul sebelas siang, ternyata dia sudah lama berdiam diri di kantor. Dengan cepat dia mengetikkan balasan pesan Julian.

Sean Axel : Aku akan ke tempatmu, kau masih berada di kantor?

Tidak lama muncul balasan yang mengatakan kalau Julian masih berada di kantor. Sean menutup Mackbooknya dan mengambil jas berwarna navy yang tersampir di kursi kerjanya. Tidak lupa memakainya dan segera meninggalkan ruangan.

Sean tersenyum kecil, tidak lama lagi dia akan bertemu dengan seorang seniman yang sudah sejak dulu ingin dia ketahui. Kabar kalau seniman itu akan datang di acaranya yang kali ini, membuat Sean semangat.

"Tunggu aku, Sands Of Time. Apa pun jenis kelamin dirimu, akan aku temukan."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Aliansi, Cinta Transaksional
9.1
Pernikahan aliansi kaum elite mengizinkan perselingkuhan asal istri sah mendapat kompensasi setara. Dean Ramosh memegang erat aturan ini. Meski keluarga Calista Syahrina bangkrut, Dean tetap memanjakannya dengan kemewahan berlipat ganda dibanding selingkuhannya. Saat orang lain memintanya bersyukur, Calista memang sangat bersyukur. Namun, tepat ketika Dean memberinya Vila Northcoast No. 1 demi mengimbangi hadiah rumah untuk selingkuhannya, Calista justru meminta cerai karena merasa bosan.
Sampul Novel Di Balik Topeng Cinta Pertama
8.5
Kehilangan putri tercinta akibat serangan jantung menyisakan duka mendalam bagi sang ibu. Kehancuran itu memuncak saat tahu sang suami menyuap dokter demi memindahkan jantung anak mereka ke putri teman masa kecilnya. Di saat suami merayakan keberhasilan itu, sang istri justru divonis menderita leukemia stadium lanjut. Sambil mendekap guci abu anaknya, ia pulang dan mendapati suaminya bersiap keliling dunia bersama teman masa kecilnya itu.
Sampul Novel Janda Dua Anak Untuk Arjuna
9.6
Dibuang oleh Ricky dalam kondisi mengandung, Raisa berjuang menghidupi bayi kembarnya sendirian. Nasib membawanya bekerja sebagai sekretaris Samuel Tirta. Meski sempat ditolak, kepolosan Raisa berhasil memikat Samuel, sebelum pria itu berpaling pada Lidya—sosok yang dahulu merusak pernikahan Raisa. Kini, Raisa berpindah tugas mendampingi Arjuna, adik Samuel. Lamaran Arjuna membuatnya bimbang karena bayang-bayang Lidya kembali mengintai. Namun, Raisa akhirnya mantap menikahi Arjuna Desta Mahendra Tirta.
Sampul Novel Jebakan Cinta Pertama untuk Kesayangan Bos
8.2
Agnes bermimpi menata ulang hidupnya setelah delapan tahun yang kelam. Namun, asa itu hancur saat Gerald Ogawa, cinta pertamanya, muncul kembali. Alih-alih membawa kasih, Gerald datang penuh dendam atas pengkhianatan masa lalu dan berniat merebut posisi kerja Agnes. Di tengah himpitan tersebut, Agnes harus tegar berjuang sendirian demi menghidupi sang buah hati. Sanggupkah ia bertahan dari kekejaman Gerald ketika rahasia lama mulai terbongkar dan menguji kembali perasaan mereka?
Sampul Novel Mantan Suami yang Gigih: Tetaplah Bersamaku
9.0
Tiga tahun menikah, Linsey justru pertama kali bertemu Bryson dalam kondisi memalukan. Sang suami bahkan tak mengenalnya dan malah merendahkannya. Usai resmi bercerai, takdir kembali mempertemukan mereka di dunia kerja, saat Linsey menjadi penasihat hukum di perusahaan mantan suaminya tersebut. Kini, Bryson yang mulai jatuh cinta justru memohon agar Linsey tidak pergi. Akankah pria itu rela membuang harga dirinya demi mengejar kembali cinta Linsey yang dulu pernah ia sia-siakan?
Sampul Novel Pernikahan Bukan Pilihanku
8.2
Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sakit, Kirana Ayunda Putri terpaksa merelakan cintanya pada Bima Senjaya. Di usia sembilan belas tahun, ia harus menikahi Mahardika Satria Wibowo, seorang pria yang didesak ayahnya untuk segera memiliki penerus baru setelah kematian anak tunggalnya. Namun, pernikahan ini justru menjadi awal penderitaan Kirana. Tanpa pembelaan dari Mahardika, ia harus berjuang sendirian menghadapi kebencian serta kekejaman dari istri pertama suaminya.