
Pedang Ikatan Darah
Bab 2
Tapi Ayah dan Ibu tidak pernah peduli.
Tidak lama setelah itu, ibuku memasukkanku ke pabrik lewat orang dalam yang dikenalnya agar aku bekerja dan menghasilkan uang.
"Kerja yang betul dan kirim uangnya ke rumah. Cindy masih SMA, butuh banyak uang."
Ibuku selalu perhatian kepada Cindy di setiap kalimatnya. Tidak pernah ada aku satu kali pun. Padahal aku sangat pucat dan celanaku merah karena baru mengalami menstruasi pertama.
Kerja di pabrik sangat melelahkan, tapi ada sebuah perpustakaan dengan semua jenis buku pelajaran yang sudah rusak dan buku-buku bekas.
Setiap waktu istirahat, aku pergi ke sana untuk membaca dan belajar sendiri.
Ada seorang karyawan di pabrik yang pernah sekolah SMA. Melihatku sangat muda dan bersemangat untuk belajar, dia membantu mengajariku dengan senang hati. Dia bahkan berusaha menghubungi sebuah sekolah untukku.
Aku mengirim sebagian besar gajiku ke rumah dan menabung sedikit, karena aku ingin sekali bersekolah.
Tapi suatu hari, aku mengalami demam tinggi dan terlambat mengirimkan uang. Sehingga ayah ibuku datang ke pabrik, bergegas memarahi dan memukulku.
Rekan-rekan kerjaku datang untuk menghentikan. Dan di tengah kekacauan itu, buku serta uang yang aku selipkan di antara buku-buku itu terjatuh.
Ayahku menendang perut aku dengan keras.
"Sialan, kamu berani menyembunyikan uang? Aku harus menghajarmu sampai mati, dasar anak durhaka!"
Sedangkan ibuku merobek-robek buku pelajaranku.
"Anak bodoh, masih mimpi belajar dan pergi sekolah? Buat apa!"
Aku berlutut dan memohon kepada ibuku. "Ibu, berhenti, aku mohon .... Ini bukan punyaku, aku susah-susah pinjam ...."
Tamparan Ayah mendarat di wajah aku.
"Berani membantah? Ibumu berhak melakukan apa pun yang dia mau. Kamu punya uang, tapi malah dipakai buat yang nggak-nggak!"
Mereka merobek-robek buku-buku itu, melemparkannya ke dalam air, dan menginjak-injaknya.
Mereka menggeledah kamar asramaku dan mengambil semua uangku. Tidak satu koin pun tersisa.
Sebelum pergi, ibuku berkata dengan kasar, "Kalau memang waktumu terlalu luang, cari pekerjaan lain sana biar dapat uang. Cindy butuh uang banyak buat les."
Aku tidak punya uang sepeser pun.
Ayah dan ibuku selalu memikirkan Cindy. Tidak pernah memikirkan apakah aku bisa makan tanpa uang.
Karena tidak dapat mengembalikan buku-buku yang kupinjam, aku harus mencari pekerjaan paruh waktu untuk mendapatkan uang dan mengganti kerugian.
Aku bekerja sebagai buruh bangunan serabutan.
Lebih melelahkan daripada bekerja di pabrik.
Suatu ketika, aku sedang menstruasi dan tubuhku sangat lemah. Ember yang berisi adukan beton sangatlah berat.
Ember itu terjungkal ke tanah dan mengenai kakiku. Mandor hanya menggeleng dan menyarankan agar aku berhenti bekerja.
Aku berlutut dan memohon penuh air mata, "Saya bisa lebih hati-hati lagi, tolong beri saya kesempatan."
Mandor itu mendesah dan ingin membantuku berdiri, tapi adukan beton itu mengeras sangat cepat sampai kakiku tidak bisa bergerak.
Mereka harus menggunakan palu untuk memecah beton. Akibatnya, kakiku terluka.
Mandor tetap memberhentikanku, tapi memberiku tambahan 600 ribu untuk biaya pengobatan kakiku serta biaya makan untuk memulihkan tubuh kurusku.
Aku berjalan terpincang-pincang. Uang ini kudapat dengan susah payah, tapi ini hari ulang tahunku. Aku ingin merayakannya sendiri.
Jadi, aku masuk ke sebuah toko mi ayam dan memesan satu mangkuk.
Tepat pada saat itu, ayah dan ibuku datang bersama Cindy.
Mereka hanya mengajaknya ke restoran seperti biasa. Siapa sangka, kami akan bertemu di sini.
Ayahku marah besar. "Kamu curi-curi uang lagi, 'kan! Anak durhaka!"
Ibuku menyerang dan menjambak rambutku sampai aku menangis. "Sudah merasa dewasa dan punya uang sendiri, hah? Nggak peduli lagi orang tuamu hidup susah?"
Mereka berpakaian bersih dan rapi. Cindy bahkan mengenakan gaun cantik seperti tuan putri.
Sedangkan aku ditendang sampai meringkuk di tanah. Rambut awut-awutan, mengenakan baju lama yang jelas-jelas kekecilan. Sepatuku pun sobek dan luka di kakiku terbuka lagi. Darah segar membasahi sepatuku.
Aku memegangi mangkuk mi di depanku dan makan dengan lahap.
Sangat enak! Aku belum pernah makan mi seenak ini seumur hidupku. Mi ini membantuku lupa akan semua rasa sakit yang kurasakan saat ini.
Aku melihat Cindy menutup hidungnya dan memalingkan kepala karena jijik.
Orang tuaku semakin marah saat melihat ini. Ibu memukul tanganku, lalu Ayah mengambil mangkuk mi itu dan menumpahkan isinya ke kepalaku.
"Makan! Makan sebanyak-banyaknya!"
Mereka kemudian membawa Cindy keluar. Sebelum pergi, ibuku tidak lupa menggeledah sakuku dan mengambil seluruh uangku.
Aku menutupi kepalaku dan menatap kosong, menyaksikan kepergian mereka.
Mereka benar-benar seperti satu keluarga kandung.
Penjual mi ayam itu sudah menerima uangku dan menyajikan satu mangkuk mi.
Aku menggeleng dan menolak, lalu berjalan tertatih-tatih keluar dari warung mi.
Di luar, hujan rintik-rintik turun.
Di layar persidangan, punggungku perlahan-lahan tenggelam tertutupi hujan.
Panel sidang yang beranggotakan seratus orang itu sangat hening. Orang tuaku memalingkan muka untuk menghindari tatapan hakim. Sementara Cindy menunduk, tidak menatap siapa pun.
Anda Mungkin Juga Suka





