APKDock Logo
Sampul Novel Pawang Hati

Pawang Hati

9.6 / 10.0
Dalam sebuah kisah cinta berlatar fantasi, seorang pangeran dengan kepribadian sedingin es menyembunyikan sebuah rahasia tak terduga. Di balik sikapnya yang kaku dan sulit didekati, ia perlahan-lahan mulai memperlihatkan sisi hangat yang mampu meluluhkan hati siapa saja di sekitarnya. Kehadiran sosok misterius ini membawa keajaiban tersendiri, mengubah suasana yang semula dingin menjadi penuh kehangatan saat ia diam-diam menaklukkan jiwa.

Pawang Hati Bab 1

"Tiga ... Dua ... Satu! Fight!"

Suara penghapus dipukulkan. Dua tangan saling mengait seerat mungkin sambil bertumpu pada meja. Bersama dengan semarak tepuk tangan anak-anak sekelas dan juga sorakan kencang. Sesekali Shaina mengangkat ujung lengan seragam, lalu mengerahkan segenap kekuatan dalam otot-otot lengannya untuk melawan satu cowok di kelasnya dan beradu panco.

"SHAINA! SHAINA! SHAINA!"

"PATAHIN AJA, NA! SIKAT!"

"JANGAN KASIH KENDOR!"

Detik demi detik, silih berganti tangan Shaina menekan dan tertekan hingga memiring perlahan ke kanan dan ke kiri. Entah sejak kapan menggeluti kegiatan ini, tapi hampir setiap hari Shaina menantang teman-temannya. Dan, senjata yang membuat Shaina selalu menang yaitu lewat tatapan mata dan bibir seksinya. Seperti sekarang, meski otot sedang berjuang tapi Shaina tetap terlihat enjoy sembari mempertahankan senyum andalannya.

Percayalah, semua iman lelaki tergoda berkat itu. Shaina memiliki manic mata yang indah seperti batu emerald yang mampu merobohkan benteng hati dan keegoisan.

Bruk!

"Yaaahhhh!"

Dan terbukti, saat cowok itu lengah maka Shaina dengan mantap menekan tangannya hingga jatuh membentur meja. Saat itu juga barulah dia sadar telah dikalahkan. Bukan Shaina yang heboh tapi teman-teman lain, mereka saling mengkoor dan terbahak-bahak menertawai pak ketua kelas yang cemen itu. Dia hanya mengacak-acak belakang rambutnya dengan muka memerah padam.

"Ayo, siapa lagi mau coba duel sama gue maju sini!" Ujar Shaina dengan napas terengah-engah, lima kali panco baginya masih belum cukup untuk pemanasan di pagi ini.

"Gue dong, Na!" Cowok di bangku belakang berdiri dan menyimpan ponsel di saku celana. Menempati tempat duduk di depan Shaina dan melemaskan jari-jari sesaat.

"Siap? Yok!" tantang Shaina antusias.

Dan, terjadi lagi pertandingan panco di kelas sepuluh IPA-2. Semarak anak-anak sekelas kembali memenuhi segala penjuru ruangan itu untuk menyemangati Shaina dan lawannya kini. Bahkan, beberapa murid lain mulai melipir dan melihat dengan penasaran di luar kelas itu, tak sedikit juga yang menonton dari jendela bagaimana Shaina mampu menjatuhkan banyak cowok yang ingin menjajal kemampuan. Mereka dibuat geleng-geleng.

Di mata para cowok, Shaina teramat mengagumkan. Dia selalu berusaha membuktikan bahwa derajat perempuan dan laki-laki itu sama. Sehingga, perempuan tidak bisa dipandang rendah begitu saja oleh mereka kaum lelaki.

Jaman emansipasi.

Di tempat lain, Shaka baru saja datang sepuluh menit sebelum bel masuk. Dengan headphone membungkam telinga, Shaka menyusuri sepanjang koridor yang ramai dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jaket bomber. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, Shaka menjadi fokus perhatian cewek-cewek biang gossip yang bertebaran di pinggir setiap koridor yang ia lewati. Bahkan tak segan-segan mereka memanggil Shaka, menyapa selamat pagi, dan meneriakan berapa nomor hape Shaka, namun tidak digubris sama sekali meski Shaka mendengar suaranya.

"Woy, Ka!" Tak lama seseorang datang dari belakang dan mendaratkan tepukan kerasnya di pundak Shaka. Seketika menginterupsi aktivitas itu dan Shaka bergegas menurunkan headphonenya ke leher. Ternyata si Jafar.

"Ka, gue barusan liat ada anak kelas lo adu panco, cewek, rame gitu di luar pada ngeliatin. Siapa dia? Coba, gih, lo tanding ama dia, dia jago banget asli."

Shaina, cewek tukang panco menggemparkan sekolah. Sejujurnya Shaka bosan sekali dengan fakta itu. Entah Shaina punya ilmu apa Shaka tidak ingin tau-menau, yang pasti Shaka malas sekali jika disuruh membaur dengannya. Dia tidak sepaham dengan Shaka. Dia suka menjadi pusat perhatian, sementara Shaka sebaliknya.

"Ayo, Ka, keburu bel!" Tanpa aba-aba Jafar langsung menarik bahu Shaka menuju kelas sepuluh IPA-2 di ujung koridor itu. Hingga menembus kerumunan murid-murid dan masuk ke dalam. Suasana berisik akan bermacam teriakan cewek kelas itu, karena Shaina lagi-lagi mampu mengalahkan cowok kelas sebalah dan yang terakhir itu.

"Ehm, hai, Shaina!" Jafar setengah mengeja nama yang tertera pada name tag seragam itu, sebagaimana murid-murid meneriakkan tadi. "Shaina, lo hebat banget ya?"

Tampak gadis itu tersenyum tipis usai meneguk air minumnya. "Hebat apanya? Cuma olahraga doang."

"Panco sekali lagi dong, sama Shaka, pake taruhan tapi," usulan Jafar mengundang pelototan Shaka tapi tidak digubris olehnya. "Gimana, mau gak? Yakin seru deh."

"Sori, maksud lo taruhan apa ya?" Shaina mengerutkan kening masih terduduk di bangkunya. Lambat laun murid-murid yang mengerubungi kelasnya berangsur pergi satu per satu bersama dengan decakan kagum tiada henti.

"Gini, kalo lo yang menang, nanti Shaka bakal traktir lo makan siang. Tapi, kalo misalnya Shaka yang menang..."

Shaka menggeram pelan, merasa tidak enak mendapati tatapan horor di mata Jafar. Pasalnya, keponakannya itu suka aneh-aneh dan bertindak semau udelnya sendiri.

Seperti yang dulu-dulu pernah terjadi selama keduanya tumbuh bersama di sekolah yang sama pula. Jafar suka nyodorin Shaka dalam hal apapun, termasuk soal cewek. Jafar paling sering membuat akal-akalan untuk mencomblangkan Shaka dengan cewek yang berbeda supaya Shaka keluar dari zona nyamannya. Nyatanya, sampai detik ini juga, tidak ada satupun yang berhasil.

Shaka masih sendiri, dan tak ada niat pacaran. Mungkin hanya itu yang tidak diwariskan oleh Zendi, sifat playboy.

"Kalo Shaka yang menang?" Shaina menatap bergantian dua cowok itu.

"Kalo misalnya Shaka yang menang ... kalian PDKT!"

"Hah?!" Shaka dan Shaina memekik bersama.

"Cuma main-main doang kok. Shaka jomblo, lo jomblo juga, kan? Sesama jomblo yaudah gass aja, PDKT. Paling engga kan kita mengurangi populasi jomblo di muka bumi ini, hehehe." Jafar tertawa garing, semakin dihujani pelototan tajam oleh Shaka, sesekali Shaka melirik ke arah Shaina yang juga mendadak kehabisan oksigen dan harus meminum banyak-banyak air dalam botolnya.

"Gua gak mau," putus Shaka.

"Ayolah, Ka." Pinta Jafar memelas.

"Sekali enggak, ya, enggak."

"Huuu! Dasar cemen lo!" Kalimat itu bisa terlontar kilat dari bibir Shaina. Akibatnya, Shaka langsung memandangnya seakan menusuk-nusuk, disertai muka datar seperti biasanya. Tapi Shaina hanya acuh tak acuh saja menanggapi itu.

"Kita gak sepadan," kata Shaka nyaris tak terdengar.

"Pantes aja namanya Shaka, orangnya takut kaya kena sakarotul maut, hahaha. Padahal cuma adu panco doang. Huu, dasar jiper!" Shaina tertawa seakan meremehkan. Karena memang hanya Shaka, cowok di kelas itu yang belum pernah sekali pun beradu panco dengan Shaina.

"Oke."

Terdesak, dan menyangkut harga diri. Shaka spontan melepas tas punggungnya dan melempar ke bangku di belakang, lalu menyodorkan tangan kanannya dengan siku bertumpu di atas meja itu. Aneh, Shaina bagaikan diperdaya oleh tatapan Shaka yang begitu tajam bukan main, hingga susah payah Shaina menelan ludah dan ragu-ragu saat hendak menyambut tangan kekar itu.

Mati gaya. Dingin. Sensasi itu kentara sekali terasa saat tangan mereka menempel dengan jemari saling mengerat. Jafar seketika berkoar-koar kala itu, hingga mengundang murid-murid lain berhambur mendekat dan mengerubungi bersama bangku Shaina. Dan, lima menit sebelum bel hari ini mungkin akan menjadi catatan sejarah di kamus hidup Shaka. Berurusan dengan cewek.

Keduanya menarik napas dalam sebelum akhirnya..

"Fighting!" Seru Jafar bagai wasit.

Sorakan kencang pecah dalam sekejap saja. Shaka dan Shaina mengerahkan tenaga dalam, bertarung dengan sengit saling menekan dan menjatuhkan satu sama lain perlahan-lahan. Shaina sampai menggigit bibir rapat-rapat merasakan tangannya nyaris ingin hancur karena remasan genggaman Shaka yang sangat amat sesak.

"SHAKA! SHAKA! SHAKA!"

"SHAINA! JANGAN KALAH!"

Riuh tepuk tangan mendominasi suasana. Sepertinya, keadaan akan berbalik. Jika menit-menit lalu Shaina menghipnotis cowok-cowok dengan tatapan teduh dan senyum paling manis yang ia punya, maka sekarang keadaan jungkir balik. Dengan mata elangnya, Shaka mengintimidasi Shaina tak tanggung-tanggung, tak peduli gender. Karena Shaka sudah diremehkan jadi ia bertekad bulat harus memenangkan adu panco ini.

"Argh!" Shaina menggeram kesal seraya mencengkram tepi bangku. Detik-detik yang terlewati, lama-lama pertahanan otot lengannya mulai melemas seakan ingin putus. Sementara Shaka terus menekan tangannya kuat-kuat hingga memiring dan sedikit demi sedikit semakin mendarat mendekati permukaan meja.

"SHAKA! AYO, KA! PEPET TERUS!" Jafar memukul bangku bertubi-tubi untuk membakar semangat Shaka. Meskipun dari awal Shaka juga sudah menebak. Secara logika, dimana-mana kekuatan cowok akan lebih besar dari pada cewek. Tapi Shaina menantang apa boleh buat, Shaka hanya mengikuti permainan itu.

"Argh! Gue.. pasti.. menang!" Desis Shaina terputus-putus. Dan, samar-samar senyum penuh arti terbit di bibir Shaka, melihat Shaina begitu mati-matian mempertahankan tangan mereka agar mengambang di udara. Sampai tiba waktunya kenyataan berbicara ..

Bruk!

Persis. Shaka berhasil menjatuhkan tangan Shaina di hadapan teman-teman, bertepatan dengan bunyi bel masuk dikumandangkan dengan nyaringnya. Masih tidak percaya, Shaina terperangah memperhatikan tangan kekar Shaka menahan di atas tangannya, disaat sorakan kencang di sekeliling menggebu-gebu terutama Jafar.

"YIIHAA.. AKHIRNYA SHAKA PUNYA GEBETAN!" Jafar tertawa terbahak-bahak bagaikan di atas angin.

Detik itu juga Shaka melepaskan tangannya dari Shaina. Mendadak matanya membola saat bertemu pandang dengan gadis itu. Jadi, taruhan itu sungguh-sungguh? Shaka harus melancarkan PDKT dengan Shaina? Konyol sekali. Mungkin karena sudah terlalu miris dan freehatin ikut meratapi ke-jomblo-an Shaka, Jafar jadi merepotkan diri sendiri menjadi mak comblang untuk Shaka.

Selama pelajaran Matematika berlangsung, kerap kali Shaina menengok ke belakang-tempat duduk Shaka. "Mestinya tadi lo tuh kalah aja. Bukan malah menang gimana, sih?! Taruhan lo sama Jafar itu gak banget tau, gak?"

"Berisik."

Lanjut Membaca

Daftar Isi Pawang Hati

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Aku Tak Punya Siapapun Lagi
8.3
Vonis gagal hati akut menyisakan waktu tiga hari bagi protagonis. Namun, David, suaminya, malah memberikan kuota uji klinis terakhir kepada Emma, adik angkatnya. Dianggap "lebih pantas hidup", ia pun menghentikan pengobatan dan meminum pereda nyeri dosis tinggi yang fatal. Sebelum ajal menjemput, ia menyerahkan perusahaan perhiasan, menyetujui perceraian agar David menikahi Emma, hingga membiarkan putrinya diasuh Emma. Saat keluarganya menganggap semua pengorbanan itu wajar, ia menanti kehancuran mereka setelah kematiannya tiba.
Sampul Novel Derita Menantu Jelita
9.5
Kehidupan rumah tangga dalam novel modern "Derita Menantu Jelita" berubah drastis setelah sang suami mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan tragis. Situasi kian rumit ketika ayah mertua memutuskan tinggal bersama mereka. Demi menjaga kelangsungan garis keturunan, sang suami nekat melakukan aksi ekstrem dengan diam-diam membius istri dan ayahnya sendiri. Keputusan tersebut memicu rangkaian peristiwa misteri yang tak terkendali dan mengubah nasib mereka selamanya.
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan penuh kekerasan bersama Adnan, sosok suami yang tega menyiksanya demi membalas dendam kepada mertua. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang tiada henti, orang dari masa lalu Saschya mendadak hadir kembali. Apakah kedatangan sosok tersebut akan menjadi penyelamat yang membebaskannya dari jeratan kejam Adnan, atau justru memicu prahara baru dalam kehidupannya yang telah hancur?
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Niat tulus Rheina menyelamatkan sahabatnya dari tuan tanah malah berujung pelik. Sang ayah justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat, menyeret Rheina ke dalam lingkaran konflik keluarga yang kelam dan merusak hidupnya. Di tengah kerasnya tekanan hidup yang dipenuhi kata kasar dan adegan dewasa, gadis lugu ini terjebak dalam cinta segitiga yang rumit. Saksikan perjuangan emosional Rheina menghadapi takdirnya yang sarat liku.
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama tidak punya pilihan selain menjadi istri kedua dari miliarder Raga Dirgantara demi membalas utang budi masa lalunya. Hidup yatim piatu ini kian pelik saat ia menyadari perannya dalam pernikahan tersebut hanyalah untuk memberikan keturunan bagi sang pengusaha sukses. Tanpa status sosial yang jelas, Kayla harus bertahan menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya tidak lebih dari sekadar alat tanpa posisi nyata di mata sang suami.
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Tersesat saat menjelajah, seorang pria terjebak dalam keanehan Hutan Gondoriyo setelah kendaraannya hilang secara misterius. Di sebuah pondok sunyi, sepasang lansia misterius memberinya peringatan keras. Meski sempat kembali dengan selamat, rasa penasaran menuntunnya kembali ke sana, namun hutan itu telah lenyap. Rahasia kelam tentang kecelakaan bus di jurang dan misteri hutan ini mulai terungkap, memaksanya bertaruh nyawa demi membongkar kebenaran yang meneror.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan