
Pasti Ada yang Mencintaimu
Bab 7
Liana menghela napas, "Dia benar-benar anak konglomerat yang lahir dengan sendok emas. Kita saja harus mencari Perusahaan Investasi Rowan untuk masuk pasar saham. Tapi aku dengar, Perusahaan Investasi Rowan hanya diberikan pada Steven untuk latihan oleh Keluarga Quinn."
Kota Bana.
Keluarga Quinn, Steven Quinn, perusahaan investasi.
Semuanya cocok.
Ketika Liana menyadari aku tidak merespons, dia bertanya, "Silvia, apa kamu mendengarkanku?"
"Ya, aku dengar."
Aku mengerutkan bibir sambil berkata, "Aku akan menyampaikan apa yang kamu katakan pada Felix."
Liana akhirnya merasa lega. "Baguslah. Oh ya, apa kamu sudah menentukan tanggal pernikahan? Undanganku harus yang versi cetak, jangan hanya menggunakan undangan elektronik secara asal-asalan!"
Aku tersenyum sembari membalas, "Tanggalnya minggu depan juga. Untuk masalah undangan, kamu tenang saja."
Ini adalah keluarga sekelas Keluarga Quinn.
Undangan untuk tamu tentu saja versi cetak semua.
Beberapa hari lalu, saat ibuku menelepon menanyakan siapa saja teman yang akan aku undang, aku sudah menyebutkan nama Liana.
Sisanya, Keluarga Quinn yang akan mengatur.
Setelah menutup telepon, aku menahan rasa tidak nyaman di perutku, lalu mengirimkan pesan ke Felix. Tidak ada balasan.
Akhirnya aku menelponnya langsung.
Aku pikir dia tidak akan mengangkatnya, tetapi ternyata panggilan tersambung juga.
Suaranya terdengar agak dingin di ujung sana, "Kenapa kamu terus meneleponku?"
Jadi, ternyata dia melihat panggilanku sebelumnya.
Aku mengusap perutku sembari berkata, "Kamu sedang sibuk apa? Liana bilang kamu beberapa hari ini nggak datang ke kantor."
Nada suaranya terdengar agak mengejek, "Kamu nggak tahu aku sibuk apa?"
"Bagaimana aku tahu?" tanyaku balik.
Felix mencibir ketika mendengar jawabanku, lalu menahan emosi sambil bertanya dengan nada marah, "Kenapa kamu menyuruh orang menyiram cat di depan rumah Yoana? Apa kamu tahu kalau dia penakut? Sekali terkejut, dia akan langsung trauma! Silvia, sejak kapan kamu jadi sejahat ini?"
Jahat.
Aku merasakan sakit yang makin parah. Aku tidak tahu apakah rasa yang mencekik ini berasal dari perutku atau dadaku yang terasa sesak. "Yoana mengatakan kalau aku yang melakukannya? Kamu percaya?"
"Dia dari kecil nggak pernah berbohong!" balas Felix.
Pria itu bicara dengan suara lantang, "Untuk urusan kantor, kamu bantu aku mengurusnya dulu. Yoana sekarang sedang ketakutan, nggak bisa ditinggal sendirian."
Aku meneguk air hangat, lalu membalas, "Perutku sakit, aku nggak bisa pergi."
Felix tahu dengan baik tentang penyakit yang mengendap di tubuhku beberapa tahun terakhir ini.
Selama dia ada di rumah, dia akan selalu memastikan aku makan tiga kali sehari, serta meminum obat tepat waktu.
Entah sejak kapan, dia bahkan tidak pulang ke rumah lagi.
"Silvia."
Nada suaranya terdengar makin tidak sabar, seolah tidak mau mendengar lagi, "Sakitmu ini memang adalah masalah lama, tapi bisa nggak kamu menahannya sedikit saja? Aku sudah bilang, kalau Yoana nggak bener-bener membutuhkanku, aku juga nggak akan menyuruhmu."
"Lupakan saja, aku akan mencari cara sendiri."
Setelah mengatakan ini, Felix bersiap menutup telepon.
Aku buru-buru menahan, "Apakah kamu akan pulang malam ini?"
"Silvia, apakah kamu benar-benar harus membuat keributan di saat Yoana sangat membutuhkanku?" ujar Felix.
Aku terdiam sejenak.
Aku pikir aku sudah tidak akan peduli lagi.
Namun, begitu mendengar kalimat itu, rasanya seperti ada sesuatu yang runcing dan tajam menusuk dadaku, menembus sampai ke paru-paru.
Bahkan bernapas pun terasa sakit.
"Hari ini adalah hari ulang tahunmu, juga peringatan enam tahun hubungan kita."
Sambil mengusap perut, aku melanjutkan perlahan, "Felix, kamu sendiri yang bilang kalau setiap hari jadi harus kita lewati bersama."
Putus.
Aku tetap ingin mengatakannya secara langsung.
Jika tidak, semua momen yang pernah kami lalui bersama akan terasa tidak berharga.
"Aku ...."
Felix terdiam sejenak, seolah merasa bersalah, "Aku hampir lupa karena sibuk."
"Silvia, aku akan segera pulang. Aku juga akan membawakan kue kesukaanmu dari toko favoritmu."
Baru saja aku ingin menjawab, suara Yoana tiba-tiba terdengar di seberang sana, seperti sedang menjerit panik.
Felix terdengar cemas, bahkan lupa mematikan panggilan telepon. Suaranya terdengar lembut saat menenangkan, "Jangan takut, aku di sini. Aku nggak akan pergi ke mana-mana."
Aku menutup panggilan. Ketika menatap rumah yang sudah sepi dan kosong, tiba-tiba aku tertawa.
Jarum jam terus berputar.
Langit malam pekat seperti tirai hitam.
Selain kurir makanan yang sempat mengetuk pintu, tidak ada lagi suara apa pun.
Felix tidak akan kembali malam ini.
Pada pukul tiga dini hari, ponselku berdering.
Itu adalah pesan dari Felix.
[Silvia, Yoana terus bermimpi buruk. Tenang aja, sebelum matahari terbit aku pasti pulang. Tunggu aku.]
Aku menunduk, duduk diam beberapa saat. Kemudian, aku membuang makanan dan kue di atas meja ke tempat sampah satu per satu.
Aku masuk ke kamar mandi, mandi air hangat.
Kemudian, aku mengirimkan pesan terakhir lewat WhatsApp untuk Felix.
Aku langsung memblokir serta menghapus semuanya.
Aku menarik dua koper yang sudah lama aku persiapkan. Tanpa menoleh ke belakang, aku naik taksi ke bandara.
Felix, kali ini aku tidak akan menunggumu lagi.
Semua barang milikku, termasuk diriku sendiri.
Hari ini, aku akan sepenuhnya meninggalkan kota yang sejak awal pun tidak pernah benar-benar menjadi milikku.
Anda Mungkin Juga Suka





