APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua

Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua

Pasca kehilangan suami dan calon bayinya, Nadira Arsyad terpaksa menjadi ibu pengganti bagi anak bos mafia kejam, Rafhael Satrio. Di tengah rasa takut, benih cinta tumbuh meski terhalang dendam masa lalu. Terungkap bahwa mendiang suami Nadira terlibat kematian istri Rafhael, sementara Rafhael gagal menolong pria itu saat kritis akibat persaingan bisnis. Kini, Nadira terjebak di antara pengkhianatan masa lalu dan perasaan rumit. Akankah cinta menyatukan mereka atau justru memicu permusuhan abadi?
Bab
Bagikan

Bab 1

Hujan turun dengan deras di kota yang jarang tidur itu. Lampu-lampu jalan memantul di genangan air, menciptakan bayangan yang seolah menari-nari di trotoar yang basah. Di sebuah apartemen kecil di lantai sepuluh, Nadira Arsyad duduk membeku di depan jendela, menatap tetesan hujan yang menetes perlahan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang hancur.

Dua minggu yang lalu, dunia Nadira runtuh. Suaminya, Alfian Prakoso, meninggal secara tragis dalam kecelakaan yang tak pernah ia sangka. Dan lebih memilukan lagi, bayi yang dikandungnya selama sembilan bulan juga tak sempat melihat dunia ini. Rasa sakit itu begitu menyiksa, seakan setiap sel dalam tubuhnya menjerit memanggil kedua orang yang dicintainya itu.

"Kenapa... kenapa semuanya harus begini?" bisik Nadira pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh derasnya hujan. Matanya memerah, namun air mata tak lagi menetes. Hatinya sudah kebal, atau mungkin terlalu lelah untuk menangis lagi.

Tiba-tiba, dering teleponnya memecah kesunyian apartemen itu. Nadira menatap layar, dan seketika wajahnya mengeras. Nomor yang muncul di layar bukan nomor biasa. Itu nomor Rafhael Satrio.

Rafhael-nama yang sudah cukup menakutkan bagi siapa pun yang mengenalnya. Pria itu dikenal sebagai ketua salah satu jaringan mafia paling berpengaruh di kota ini. Kejam, dingin, dan tanpa ampun bagi siapa saja yang menghalangi jalannya. Namun anehnya, saat ini, dia menelpon Nadira.

Dengan tangan gemetar, Nadira mengangkat telepon. "Halo?" suaranya terdengar tegang.

"Selamat malam, Nadira," suara di seberang terdengar tenang tapi berat, seperti gelap yang melingkupi ruangan. "Aku datang menemuimu. Sekarang."

Nadira menelan ludah. "Kenapa? Aku... aku tidak ingin bertemu denganmu, Rafhael."

"Ini bukan permintaan. Aku tidak suka menunggu," kata Rafhael singkat. Nada bicaranya dingin, tegas, dan tak memberi ruang untuk keberatan.

Hati Nadira berdetak kencang. Ia tahu menolak bukanlah pilihan. Di dalam hatinya, ia juga tahu bahwa ini akan mengubah hidupnya selamanya. Dengan berat hati, ia menggenggam jaketnya dan berjalan menuju mobil yang terparkir di bawah. Hujan tak menghalanginya; hatinya sudah terlalu basah oleh air mata untuk peduli lagi.

Mobil mewah hitam milik Rafhael menunggu di lobi apartemen. Begitu Nadira masuk, Rafhael menyipitkan matanya, memeriksa setiap detail di wajahnya. Nadira merasakan tatapannya seperti pisau yang menembus tulang.

"Kau tahu alasan aku memanggilmu?" tanya Rafhael saat mobil meluncur di jalanan basah.

Nadira menunduk, menahan amarah dan rasa takutnya. "Aku bisa menebaknya," jawabnya singkat.

Rafhael diam, hanya menghela napas panjang. "Anakku... kau akan merawatnya."

Nadira menatapnya, tak percaya. "Maaf? Apa maksudmu?"

Rafhael menoleh, matanya yang gelap menatap tajam. "Suamiku... aku tidak akan mengatakan itu lagi. Kau akan menjadi ibu pengganti untuk anakku. Tidak ada diskusi. Tidak ada penolakan."

Nadira terdiam, napasnya tertahan. Kata-kata itu seperti pukulan di perutnya. Bagaimana mungkin ia-yang baru saja kehilangan segalanya-harus mengurus anak seorang pria yang ia bahkan tak kenal sebelumnya, seorang pria yang dingin dan menakutkan itu?

"Tapi aku... aku bukan siapapun yang bisa menggantikan ibu anakmu," gumam Nadira, suaranya bergetar.

"Tidak masalah. Kau tidak punya pilihan," jawab Rafhael, dan kata-katanya itu tidak bisa diganggu gugat.

Dalam perjalanan itu, Nadira merasa dunia semakin gelap. Hatinya berontak, tubuhnya menolak. Namun di dalam, ada sesuatu yang membuatnya tetap bergerak-anak itu. Anak yang tak bersalah, yang entah kenapa nasibnya kini terikat dengan kehidupannya sendiri.

Malam itu, Nadira sampai di mansion Rafhael. Gedung besar itu berdiri kokoh di tengah hujan, dikelilingi oleh pagar tinggi dan penjagaan ketat. Begitu ia memasuki ruangan, Rafhael sudah menunggunya di ruang keluarga, duduk di kursi besar dengan postur yang selalu menimbulkan rasa takut. Di pangkuannya, seorang bayi kecil tidur, wajahnya lucu namun tak berdosa.

"Namanya... Arka," kata Rafhael. "Sejak ibunya meninggal, dia hanya mengenalku sebagai ayahnya. Dan kau... kau akan menjadi ibunya."

Nadira menatap bayi itu, hatinya terasa tertusuk. Bayi ini mengingatkannya pada anak yang tak pernah ia lahirkan. Tangannya gemetar saat ia mendekat, dan Rafhael meletakkan bayi itu di pelukannya. Arka menatapnya dengan mata yang jernih dan polos, seakan mengenali sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

"Jangan coba menolak," Rafhael menegaskan. "Jika kau menolak, konsekuensinya... kau tidak ingin tahu."

Nadira menelan ludah, menatap Arka. "Baik... aku akan merawatnya. Tapi jangan harap aku akan mencintaimu, atau bahkan menyukai situasiku ini," bisiknya.

Rafhael tersenyum tipis, dingin. "Aku juga tidak mengharapkan itu. Tapi kau harus bisa bertahan."

Hari-hari berikutnya menjadi neraka bagi Nadira. Rafhael jarang menunjukkan sisi lembutnya; ia tegas, dingin, dan kadang kejam jika Arka tidak menurut. Nadira, yang baru belajar menjadi ibu, sering kewalahan. Setiap tangisan Arka membuat hatinya hancur, namun ia berusaha tetap kuat, menyembunyikan kesedihan pribadinya.

Namun, di balik sikap keras Rafhael, ada sesuatu yang mulai ia rasakan. Perhatian kecil yang ia tunjukkan, cara ia menatap Arka dengan lembut saat Nadira tak melihat, mulai membuka celah di hatinya. Nadira tidak ingin mengakuinya, tapi ada getaran aneh yang muncul setiap kali Rafhael tersenyum tipis padanya-senyum yang jarang muncul, tapi mampu membekas lama.

Suatu malam, ketika hujan turun lagi, Nadira menemukan Rafhael duduk sendirian di ruang kerjanya. Cahaya lampu redup menyoroti wajah tegangnya, mata gelapnya menatap jauh ke luar jendela. Nadira masuk perlahan, membawa secangkir teh hangat.

"Kau tidak tidur?" Nadira bertanya, suaranya pelan.

Rafhael menoleh. "Aku tidak bisa. Pikiranku... berantakan."

Nadira duduk di seberangnya, menaruh cangkir di meja. Ada jarak di antara mereka, tapi juga ketegangan yang sulit diabaikan. "Apakah... kau merasa bersalah?"

Rafhael menghela napas panjang. "Bukan rasa bersalah... tapi rasa kehilangan. Aku seharusnya bisa mencegah semuanya. Suamimu... ia seharusnya selamat. Tapi aku terlambat."

Nadira menahan napasnya. Kata-kata itu seperti pedang yang menembus hatinya. Ia tahu kebenaran itu-Rafhael-lah yang seharusnya bisa menolong suaminya ketika kecelakaan terjadi. Tapi mengetahui fakta itu tidak membuatnya membenci Rafhael; justru campuran amarah dan rasa sakit mulai bercampur dengan sesuatu yang tak ia pahami-rasa simpati, bahkan... mungkin ketertarikan.

"Dan aku juga... aku harus jujur padamu," lanjut Rafhael, suaranya lebih lembut. "Suamimu... ia memiliki andil dalam kematiannya. Konflik lama... membuat semuanya semakin buruk. Aku tidak ingin menyalahkanmu, tapi kau harus tahu kebenaran ini."

Nadira menunduk, air mata kembali menetes. Hatinya terasa hancur berkeping-keping-dendam, kesedihan, dan rasa cinta yang tak bisa ia kendalikan bercampur menjadi satu.

"Jadi... kita berdua... terluka karena satu sama lain," bisiknya. Suaranya bergetar.

Rafhael mengangguk, mata gelapnya menatap dalam. "Ya. Dan entah bagaimana, aku masih... tidak bisa membenci anakmu. Atau bahkan dirimu."

Nadira menatapnya, hati berdebar. Kata-kata itu seperti bom yang meledak perlahan di dadanya. Ia benci dirinya sendiri karena merasakannya. Bagaimana mungkin, dalam situasi yang penuh dendam dan kehilangan ini, hatinya bisa mulai merasakan sesuatu terhadap pria yang menyebabkan tragedinya?

Hari-hari berlalu, dan hubungan mereka menjadi rumit. Nadira merawat Arka dengan sepenuh hati, sementara Rafhael mulai membuka sisi lembutnya yang jarang terlihat orang. Mereka berdua hidup dalam ketegangan: satu sisi cinta yang perlahan tumbuh, satu sisi dendam dan rasa bersalah yang menghantui.

Pertanyaan besar selalu mengintai: apakah cinta mereka bisa bertahan, ataukah rasa sakit dan pengkhianatan akan mengubah mereka menjadi musuh selamanya?

Nadira menatap Arka yang tertidur di pelukannya, dan Rafhael yang berdiri di dekat jendela, menatap malam basah di luar. Hujan masih turun deras, seperti dunia yang ingin membersihkan segala dosa dan kesedihan. Tapi mereka tahu, membersihkan hati tidak semudah menyingkirkan air hujan.

Dan malam itu, Nadira menyadari satu hal yang menakutkan sekaligus menenangkan: kehidupan barunya bersama Rafhael tidak akan pernah mudah. Tapi mungkin... hanya mungkin, cinta bisa lahir di antara luka dan rahasia yang mereka simpan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKSARA HUJAN
7.9
Julie rela bekerja keras menjadi penari pole dance di sebuah klub malam demi menjamin masa depan Gemma, adik yang sangat ia sayangi. Sayangnya, ketulusan Julie justru dibalas dengan pengkhianatan menyakitkan oleh sang adik sendiri. Saat berjuang menggapai kebahagiaan hidup, Julie malah harus menerima kenyataan pahit dari tindakan Gemma. Akankah sang adik menyadari kesalahannya, atau justru membiarkan Julie kian terpuruk dalam kepedihan yang mendalam?
Sampul Novel Bu Claire
9.2
Kehidupan pernikahan Claire dan Budi di desa kecil terasa hambar hingga memicu kejenuhan. Kehadiran Ridho yang menggoda membawa Claire ke dalam perselingkuhan rumit yang dipenuhi gairah sekaligus penyesalan. Ketika kecurigaan Budi memuncak, rahasia besar mereka pun terbongkar dan mengancam rumah tangga ini. Namun, mereka memilih bertahan dan berjuang memulihkan kepercayaan lewat kejujuran. Kisah mendalam tentang komitmen, rekonsiliasi, dan arti cinta sejati.
Sampul Novel Luka Seorang Istri
8.2
Demi menyembunyikan kehancuran yang terjadi, aku selalu mengalah dan berpura-pura semua baik-baik saja. Namun, kini kesabaranku telah mencapai batasnya. Aku memilih menyerah pada keadaan ini. Egoku bangkit dengan kuat, menolak untuk terus-menerus ditindas. Izinkan aku melangkah pergi untuk menjalani takdir dengan caraku sendiri. Aku ingin merasakan kembali kebebasan sejati sebagai manusia yang benar-benar hidup.
Sampul Novel Rinai Hujan di Pagi Hari
8.9
Kania terpaksa merelakan kekasihnya, Sammy, untuk menikahi sang kakak, Melani Lim, setelah kecelakaan tragis merenggut tangan kiri Melani. Demi melupakan kepedihan tersebut, Kania akhirnya menerima lamaran Daniel, seorang pria yang usianya jauh lebih tua. Di tengah pernikahan baru yang hambar tanpa rasa cinta ini, mampukah Daniel merebut hati Kania? Ataukah bayang-bayang masa lalu bersama Sammy akan terus membayangi kehidupan rumah tangga mereka selamanya?
Sampul Novel Satu-PD182
8.2
Sembilan kali baju wanita lain ada di loker suamiku, dan ia selalu berdalih. Kali ini, sepasang pakaian bayi ia sebut kepunyaan anak magang yang malang. Sambil merapikan dasinya, aku mengajaknya menemui pemilik baju itu. Wajahnya langsung pucat saat aku menuntunnya ke rumah tetangga baru kami yang mengaku lajang. Di sana, perempuan itu sedang menggendong bayi dengan gaun yang sangat aku kenali. Kebohongan suamiku akhirnya runtuh seketika di depan pintu rumah kami sendiri.
Sampul Novel Terjerat Cinta Mafia Kakak Beradik
9.5
Savana terpaksa diserahkan sang ibu kepada Luca Zeno demi melunasi utang. Bukannya takut, ia justru terpikat kebaikan Luca yang mengajaknya menikah kontrak dua tahun untuk donor sel telur. Namun, keadaan berantakan saat Savana mengandung. Terungkap bahwa ayah biologis bayi itu adalah adik kandung Luca, Ziv Zeno. Kini, dua bersaudara dari klan mafia tersebut saling bersaing ketat dan ekstrem demi merebut hati serta menguasai Savana sepenuhnya.