APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pacarku Berondong

Pacarku Berondong

Meira, wanita 35 tahun, terus menghindari Daniel yang berusia sepuluh tahun lebih muda. Walau ditolak, Daniel pantang menyerah untuk meminangnya. Hubungan asmara ini pun diterpa badai besar, khususnya akibat pertentangan keras dari keluarga Daniel. Keadaan kian pelik ketika rahasia lama Meira terbongkar: ia nyaris menjadi istri dari paman Daniel di masa lalu. Di tengah gempuran konflik dan rahasia kelam ini, akankah cinta mereka sanggup bertahan, atau justru kandas?
Bab
Bagikan

Bab 2

Daniel mengambil dua gelas dan juga es jeruk di dalam lemari esnya. Kemudian menatap wajah Meira yang ingin tahu tentang dirinya.

“Aku punya pacar. Dan sudah putus beberapa hari yang lalu. Dia sering memintaku melakukan hubungan itu. Tapi, hanya kamu, yang baru aku bawa ke apartemenku.”

“Why?” tanyanya sembari mengambil gelas yang diberikan oleh Daniel padanya.

Daniel mengedikan bahunya. “Dia tidak pernah serius. Hanya ingin dipuaskan saja. Kemudian mendapatkan pria yang jauh lebih ganas dariku.”

Meira geleng-geleng kepala kemudian meneguk es jeruk tersebut. Daniel menatap wajah perempuan itu dengan tatapan manisnya.

“Orang yang sudah mengkhianatimu, suatu saat nanti akan menyesal. Wanita secantik kamu, dilepas begitu saja.”

Meira menyunggingkan senyum kecil. “Mungkin dia jauh lebih cantik dariku.”

“Bisa jadi, kalau itu.” Daniel lalu mengulas senyumnya. “Kamu kerja di mana? Atau punya usaha sendiri?”

“Oh, no. Aku kerja sebagai staff biasa, di Global Perkasa.”

Daniel menaikan kedua alisnya. ‘Perusahaan punya Daddy rupanya,’ ucapnya dalam hati kemudian manggut-manggut dengan pelan.

“Kenal, dengan atasannya?” tanyanya ingin tahu.

Meira mengangguk. “Ya. Dia cukup … gatal.”

Daniel menyunggingkan senyumnya. Lelaki itu ialah ayahnya, dan memang benar, apa yang dikatakan oleh Meira tadi.

“Kamu pernah kena rayuan mautnya?”

“Tidak. Tapi, sekretarisnya itu temanku. Dia sering diajak kencan dan bercinta, setelah diberi uang puluhan juta.”

Daniel tersenyum miring kemudian meneguk es jeruk miliknya sembari meremas ujung meja karena rasa bencinya kepada ayahnya itu.

“Sudah malam. Sebaiknya kamu tidur. Itu, kamar … kita.”

Meira menoleh dan menatap wajah Daniel. “Us?”

“Ya. Kamu boleh tinggal di sini, kapan pun mau.”

Meira tersenyum tipis. “Kamu baru mengenalku dan ….”

“Dan aku menginginkanmu.”

Meira menelan salivanya mendengar ucapan Daniel. Ia kemudian membuka heels dan masuk ke dalam kamar yang ditunjuk oleh Daniel tadi.

Daniel terkekeh melihat tingkah Meira yang salah tingkah karena ulahnya. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum kembali.

Waktu sudah menunjuk angka tujuh pagi. Meira membuka matanya kemudian menoleh ke samping di mana Daniel tengah tertidur pulas sembari memeluknya.

Wajah tampan yang disinari oleh terik matahari yang mencoba masuk di balik tirai itu membuat Meira semakin penasaran padanya.

‘Who are you? Kenapa kamu membawaku kemari, sementara tidak ada satu pun wanita sebelumku yang datang ke sini,’ ucapnya dalam hati.

Dengan pelan, Meira mengangkat tangan kekar Daniel yang melingkar di perutnya. Ia lalu beranjak dari tempat tidur dan melihat-lihat kamar yang sangat luas itu.

“Sangat nyaman. Bahkan kamarku tidak seluas ini,” gumamnya lalu membuka tirai jendela agar matahari masuk ke dalam kamar itu.

Daniel yang merasa silau itu kemudian membuka matanya. Melihat Meira yang tengah berdiri di depan jendela membuatnya tersenyum miring.

“Bukankah ini hari Minggu? Kamu tidak ke kantor, kan?” tanya Daniel dengan suara seraknya.

Meira menoleh ke belakang kemudian menggelengkan kepalanya dan melangkahkan kakinya menghampiri Daniel.

“Tidak. Tapi, aku sudah biasa bangun pagi. Mau itu weekday maupun weekend,” jawabnya kemudian duduk di tepi tempat tidur.

“Okey!” Daniel lalu menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Melihat Meira yang mengenakan kemeja putih kebesaran membuat fantasinya kembali melayang.

Ia lalu menyibakan selimut yang menutup tubuhnya lalu berputar menghampiri Meira yang tengah duduk di tepi tempat tidur itu.

Ia membungkuk. Kedua tangannya menyangga di samping Meira lalu meraup bibir itu dengan lembut. Usai mencium bibirnya, ia lalu mengulas senyum hangat kepada wanita itu.

Tangannya membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan oleh Meira sehingga membuat perempuan itu menelan salivanya.

Tangannya menyelinap masuk ke dalam dadanya dan meremasnya dengan lembut.

“Eumhhh ….” Meira mengerang pelan lalu menggigit bibir bawahnya.

Daniel lalu membalikan tubuh Meira dan menancapkan miliknya kembali di bawah sana. Meira memekik hebat. Tubuh Daniel memompa cepat di bawah sana hingga membuat Meira tak tahan menahan desahan yang akhirnya ia keluarkan.

“Ough! Daniel … oh my God!” raung Meira sembari meremas sprei yang ada di depannya.

“It’s so amazing, right?” bisik Daniel kemudian menciumi sisian wajah Meira.

Perempuan itu hanya mendesah, mengikuti pergerakan tubuh Daniel yang terus menghantamnya dari belakang.

Lima belas menit berlalu. Daniel menyelesaikan permainan itu lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.

Meira yang masih mengatur napasnya itu kemudian menoleh ke arah dompet Daniel yang tergeletak di atas nakas.

Ia penasaran, berapa usia Daniel sebenarnya sebab lelaki itu tak pernah mau menjawabnya.

“Kartu kredit dan debit-nya banyak banget,” gumamnya lalu melihat beberapa lembar uang merah berjejer rapi di dalamnya.

“Wajar. Apartemennya saja sebagus ini,” ucapnya lalu mengambil KTP milik Daniel sebab ia sangat penasaran dengan usia lelaki itu.

Matanya membola usai melihat tahun lahir Daniel yang sangat jauh dengannya. “What the fu ….”

Meira terduduk lemas usai melihatnya. Beda empat belas tahun dengannya membuat Meira ingin sekali kabur dari dunia ini.

Ia lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi sahabatnya—Feby. “Di mana lo?” tanyanya dengan lemas.

“Lagi nemenin Pak Reymond di vila. Jam sepuluh kemarin dia ajak gue ke sini. Orangnya malah masih tidur, habis mainin gue sampai pagi.”

Meira memejamkan matanya. “Gila lo. Kalau istrinya tahu, bukan Pak Reymond yang dibogem. Tapi elo.”

“Butuh duit gue, Mei. Lo di mana? Suara lo lemes amat. Jangan bilang lo masih ketemu sama Raffael?”

“Nggak. Gue lagi di apartemen cowok. Nanti aja deh, gue ceritanya. Kalau udah balik, kabarin gue.”

“Oke!” ucapnya kemudian menutup panggilan tersebut.

Meira menjambak rambutnya. Menatap kembali KTP milik Daniel yang tak pernah ia sangka akan menjadi teman tidurnya dalam satu malam.

Daniel kemudian mengambil data dirinya itu dengan pelan di tangan Meira lalu duduk di samping perempuan itu sembari menatapnya.

“Memangnya usia kamu berapa tahun?” tanya Daniel ingin tahu.

Meira menghela napas kasar. “Thank you, sudah menemani aku dalam satu malam kemarin. Aku harus pulang.”

“Wait!” Daniel menahan tangan Meira yang hendak beranjak dari duduknya. “Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?” tanyanya dengan pelan.

Meira menundukan kepalanya. “Aku malu, Daniel. Kamu terlalu muda bagiku. Kurasa, pertemuan kita cukup sampai di sini saj—”

“Why? Karena aku lebih muda darimu? Lalu, yang sudah kita lakukan tadi dan semalam, mau kamu lupakan begitu saja? Bahkan aku sudah memberi tahu tempat tinggalku di sini.”

Meira menelan salivanya lalu mengusap wajahnya dengan pelan. “Look, Daniel! Anggap saja aku melayani kamu malam ini dan tadi, satu jam yang lalu. Kemudian kamu memberikan uang padaku, anggap saja aku menjual diri kepada kamu.”

Daniel mengangguk. “Jika itu yang kamu inginkan, aku bisa membayarmu setiap hari, setiap aku menginginkanmu.”

Meira menggelengkan kepalanya. “No! Bukan itu maksudnya, Daniel.”

Daniel malah tertawa. “Hanya karena usiaku jauh lebih muda darimu, kamu ingin mengakhiri semuanya? Bahkan kita belum menjalin hubungan, dan kamu tidak ingin bertemu denganku. What happened, Meira?”

“Daniel. Aku tidak pantas untukmu. Jangan ada kata jalin hubungan di antara kita. Itu sudah sangat melanggar aturan.”

“Oh, shit! Mana ada pelanggaran seperti itu, Meira. Berhenti berucap yang tidak masuk akal. I will never let you go!” ucapnya dengan tegas.

Meira terdiam. “Daniel. Usiaku … usiaku ….” Meira menghela napas kasar. “Tiga puluh lima tahun. Kamu yakin, masih ingin menemuiku?”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikah dengan Pria yang Masih Mencintai Mantannya
9.6
Setelah hampir setahun menahan kepedihan dalam kehidupan pernikahan, Alika akhirnya memutuskan untuk menyerah. Keputusan bulatnya untuk meminta cerai secara terbuka membuat sang suami, Daffa Ardhana, seketika bungkam dan terpaku. Di tengah kesunyian yang mencekam itu, muncul sebuah tanda tanya besar: akankah Daffa merelakan Alika pergi, atau justru ia akan berupaya menyelamatkan rumah tangga mereka saat hati Alika sudah terlanjur letih bertahan?
Sampul Novel Amanda Rhea
9.1
Terlempar ke masa lalu, Amanda Rhea kembali dipertemukan dengan Hagana. Takdir unik kemudian menjalin ikatan misterius antara Amanda dan putri dari pria tersebut. Namun, kedamaian mereka terancam ketika iblis mimpi mulai muncul dan mencelakai orang-orang terdekat Amanda. Di tengah teror mencekam yang terus mengintai, mampukah cinta lama antara Amanda dan Hagana tumbuh kembali seiring takdir yang terus mempersatukan mereka?
Sampul Novel Cinta Kita Sudah Punah
8.8
Saat gempa bumi melanda ketika sedang makan bersama adik angkat suaminya, seorang istri yang hamil lima bulan menaruh harapan pada suaminya yang berprofesi sebagai pemadam kebakaran. Namun, di tengah situasi kritis, sang suami memilih menyelamatkan adik angkatnya yang sakit-sakitan dan membiarkan istrinya tertimbun batu besar hingga kakinya patah. Meski sang istri memohon pertolongan, ia ditinggalkan hingga tewas. Penyesalan pun membuat sang suami kehilangan akal sehatnya.
Sampul Novel Hati Seorang Perempuan
9.3
Senjahari Semesta Alam mengikhlaskan dirinya diceraikan Abimanyu, suaminya, yang harus menikahi Mega Mentari karena tuduhan menghamili. Tanpa disangka, kakak sulung Mega, Halilintar Sabda Alam, jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Senja yang diperkenalkan sebagai adik bungsu Abimanyu. Sementara Abimanyu berjuang mencari kebenaran untuk merebut kembali hati Senja, Sabda salah paham saat memergoki Abimanyu memperlakukan Senja seperti kekasih, bukan kakak. Gelap mata, Sabda menjebak dan menanamkan benihnya di rahim Senja. Terperangkap antara kebencian dan kehamilan yang tak diinginkan, Senja harus bertahan di tengah kekuasaan Sabda yang kejam.
Sampul Novel Nafkahku Bukan Nafkah Ibumu
9.3
Niar mengalami depresi berat saat suaminya, Deni, bekerja di luar kota. Tinggal bersama mertua dan ipar yang kejam membuat uang belanja Niar sebesar tujuh juta rupiah dirampas hingga tersisa 500 ribu saja. Walau Niar memilih bungkam demi menutupi penderitaannya, Deni akhirnya menyadari perubahan sikap sang istri. Ia pun bertekad menyelamatkan Niar dari tekanan keluarganya. Mampukah Deni membebaskan istri tercintanya dari belenggu penderitaan batin ini?
Sampul Novel Pembalasan Dendam sang Menantu Tertindas
7.8
Selama bertahun-tahun mengarungi bahtera rumah tangga, Owen harus menelan pil pahit berupa hinaan dan penolakan yang tiada henti. Kehidupannya berbalik seratus delapan puluh derajat setelah ikatan pernikahan itu resmi berakhir melalui perceraian. Alih-alih terpuruk, ia justru menerima warisan tak ternilai dari leluhur keluarganya. Kejadian tak terduga ini seketika mengubah nasib sang mantan menantu yang tertindas menjadi seorang penguasa baru yang sangat disegani, bergelimang harta melimpah, serta dikelilingi banyak wanita.