APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Oh My Beebu

Oh My Beebu

Masa dewasa muda Angela yang tenang seketika terusik oleh kehadiran tiga pria berinisial R. Mereka adalah Randy sang mantan pacar yang sulit dilupakan, Raffa si adik kelas yang kerap memberi kejutan, serta Revin, mantan kakak kelasnya dahulu. Interaksi dengan ketiga lelaki ini menghadirkan berbagai cerita berbeda yang rumit, membingungkan, sekaligus menguras emosi. Angela kini harus menghadapi dinamika hubungan pelik dalam kisah romansa remaja yang penuh liku ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Jam istirahat sedang berlangsung. Angela, Sherin, Naya dan Dila sedang berkumpul di kelasnya Angela. Sudah sekitar lima menitan keempatnya bercakap-cakap.

”Aku nggak bisa memahami sikapnya Randy, deh. Ngebingungin tuh bocah. Mutusin lewat chat WA, ngecuekin chatnya Angela, eh... tiba-tiba aja nanyain apa kamu baik-baik saja? Apaan juga gitu maksudnya? Geje banget sih?” kata Naya kesal.

Sherin dan Dila mengangguk.

”Udah mutusin duluan, terus ngecuekin chat selama dua hari, mendadak bersikap peduli ? Mencurigakan banget,” imbuh Sherin.

Dila mengangguk setuju.

”Kamu kemarin jawab apaan, Njel?” tanya Dila.

”Ya pasti aku bilang aku baik-baik sajalah,”

”Bagus!” seru Dila mantap.

”Kepo ih dia,” sahut Naya.

”Mungkin dia berharap Angela kalap. Ngamuk-ngamuk. Cemburu. Nangis gitu setelah ngeliat postingan foto dia sama Septiana. Gitu kali maksudnya,” timpal Sherin tak kalah sengitnya.

Sahabat-sahabatnya Angela itu tampak geram mendengar cerita yang disampaikan Angela tentang chat WA Randy yang kemarin itu. Mereka merespon cerita tersebut dengan komentar-komentar yang emosionil. Suaranya juga terdengar berapi-api. Ekspresi wajah mereka pun terlihat tak sukanya.

”Njel!” seru sebuah suara dari arah pintu kelas menghentikan obralan keempatnya. Angela menoleh. Ternyata Rizal yang memanggilnya. Dia anak OSIS juga. Ketua Sekbid 3, Pendidikan dan Pendahuluan Bela Negara.

”Tolong ke ruang OSIS ya ! Ketua panitia Pensi yang terpilih mau nyerahin proposal kegiatan. Dia menunggumu di ruang OSIS,” katanya masih dari luar pintu. Ia tak masuk kelas. Angela mengangguk. Rizal pergi tak lama kemudian. Angela pamitan ke Sherin, Naya dan Dila untuk ke ruangan OSIS. Mereka pun bubar. Angela segera berlalu menuju ruang OSIS.

Sewaktu Angela masuk ruang OSIS, ruangan itu sedang sepi. Hanya seorang cowok yang ada di sana. Dia berpostur tinggi. Berperawakan sedang. Berkulit sawo. Berhidung mancung dan berbibir tipis. Angela tak mengenali namanya. Cowok itu langsung berdiri saat Angela memasuki ruangan OSIS.

”Pagi,” sapanya.

”Pagi juga,” sahut Angela ramah.

”Saya ke ruang OSIS buat nyerahin proposal kegiatan Pentas Seni,” jelasnya tak kalah ramah dari Angela.

Cowok itu menyerahkan jilidan yang di bawanya ke Angela.

”Oh...,” Angela mengangguk. Ia menerima jilidan kertas HVS yang disebut proposal oleh cowok itu.

”Jadi kamu ketua panitia Pensi tahun ini ya ?”

”Iya,” jawab cowok itu.

”Oh...maaf ya...aku nggak ikut rapat pembentukan panitia Pensi. Aku sedang sakit waktu itu. Jadi nggak masuk sekolah. Makanya nggak ikutan rapatnya,”

Cowok di depan Angela melempar senyuman diikuti anggukan ringan.

”Kamu bukan anak kelas XI kan ?”

”Bukan,”

”Pantas aku nggak mengenalimu,”

Cowok itu menyunggingkan senyum mendengar apa yang dikatakan Angela. Beberapa detik kemudian, Angela ingat sesuatu. Ekspresi wajahnya menyiratkan rasa ia ingin tahu sesuatu.

”Maaf kalau ini menyinggung,”kata Angela.

”Kamu baru kelas X, tapi kok bisa langsung jadi ketua panitia Pensi sih ? Bukannya, harusnya kamu wakil dulu ? Ini kok langsung jadi ketua ?” tanya Angela.

Cowok di depan Angela itu kembali tersenyum.

”Iya kak. Harusnya wakil sih. Tapi kemarin disepakati kalau anak kelas X boleh jadi ketua panitia asalkan dia mau dan mampu,”

Dahi Angela mengernyit. Ia tak paham. Sejauh inj belum pernah hal itu terjadi.

”Apa yang terjadi kemarin ? Kok sampai ada kesepakatan seperti itu ?”

”Seperti yang kakak tahu, acara Pensi merupakan program kerjanya sekbid 8. Sekbid saya. Sekbid Persepsi, Apresiasi dan Daya Kreasi,”

Angela mengangguk paham.

”Biasanya, di sekolah kita, ketua panitia acara selalu diambil dari sekbid yang membidangi program kerja itu. Dan biasanya, ketua selalu diambil dari anak kelas XI. Tapi baru kali ini diizinkan dari kelas X boleh jadi ketua,”

Angela diam menyimak.

”Kak Elang Bayu sebagai ketua sekbid 8 minta izin nggak mau dicalonkan sebagai ketua panitia kemarin pas rapat itu,”

Dahi Angela mengernyit. Elang Bayu anak kelas XI MIA -1. Kelasnya paling ujung. Dekat pintu gerbang. Angela jarang berinteraksi dengan anak-anak seangkatannya yang kelasnya paling ujung. Karena kelasnya berada di deretan tengah, jadi ia lebih sering berinteraksi dengan anak-anak yang kelasnya berdekatan dengan kelasnya saja.

”Ayah Kak Elang sedang sakit. Mau operasi juga katanya. Jadi Kak Elang minta izin nggak dicalonkan atau dipilih jadi ketua panitia dulu. Mau konsentrasi ngurus ayahnya gitu,”

Angela mengangguk. Ia memahami kondisinya Elang.

”Sedangkan Kak Aldo Hilmi juga nggak mau dicalonkan atau dipilih sebagai ketua. Kak Aldo sedang persiapan ikut lomba olimpiade Matematika mewakili sekolah kita,”

Angela mengangguk paham. Ia menggaruk kepalanya sebentar. Mencoba memahami segala hal yang terjadi saat ia tak masuk sekolah waktu itu. Dua hari ia izin tak masuk sekolah karena demam dan muntah-muntah. Asam lambungnya sedang naik. Di saat itulah sedang berlangsung rapat OSIS untuk pembentukan panitia Pensi nanti. Jadi ia ketinggalan informasi.

Ketika Angela sudah masuk sekolah lagi, Gustav Putra, wakil ketua OSIS 1 dan Fabian Andri, wakil ketua OSIS 2 sudah memberikan laporan jika kepanitiaan sudah terbentuk dan akan segera memberikan proposal kegiatan kepadanya. Merasa semua sudah berjalan sesuai koridor, Angela tak bertanya-tanya lagi. Ia mengira yang jadi ketua panitia Pensi justru Elang. Dan tak seorang pun yang memberi tahunya kalau Elang enggan menjadi ketua panitia Pensi lantaran ayahnya sedang sakit.

”Oh...aku sepertinya ketinggalan banyak info nih,” komentar Angela setengah bergumam.

Hening beberapa detik.

”Ayahnya Elang sudah operasi belum sih ?”

”Belum, kak,”

”Emmmhh...kalau sudah operasi, kita usulin yuk ke anak-anak OSIS buat nengokin gitu,”

”Boleh kak. Setuju banget,”

Angela tersenyum. Raffa juga begitu.

”Oh ya. Namamu siapa ? Maaf aku nggak hafal nama anak-anak OSIS yang kelas X nih,”

Raffa tersenyum geli. Terlibat percakapan sekian menit dengan Angela tapi ia lupa memperkenalkan diri.

”Saya Raffa kak,”

Angela mengangguk setelah itu melempar seulas senyum.

”Oke Raffa, aku pelajarinya dulu ya proposalnya. Ntar kalau sudah fix semuanya, aku tandatanganin, terus kita sama-sama maju ke Kepala Sekolah buat ngejelasin semuanya,”

Giliran Raffa yang mengangguk. Bel jam istirahat berakhir terdengar. Angela dan Raffa reflek melihat keluar pintu.

”Wah...udah waktunya masuk kelas deh!”

”Iya,” sahut Raffa dengan singkat.

”Aku bawa dulu proposalnya, Raff,”

Rafa mengangguk. Keduanya sama-sama keluar ruang OSIS yang bersebelahan dengan ruang perpustakaan itu. Beberapa siswa-siswi mulai keluar ruang perpustakaan bersamaan dengan keduanya keluar ruang OSIS.

Angela segera menuju ke arah tangga. Kelasnya ada di lantai bawah. Ruang OSIS ada di lantai 2. Sebelum beranjak pergi ia bertanya pada Raffa.

”Kelasmu yang mana, Raff ?”

”Itu kak ! Yang dekat tangga persis,” kata Raffa sambil menunjuk ke arah kelas dekat tangga yang hendak dituruni Angela itu.

Angela mengangguk paham. Kemudian ia melambaikan tangannya sebagai isyarat pamitan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta yang Jatuh Tanpa Gema
8.1
Rumi tak sengaja bertemu mantan iparnya saat periksa kehamilan. Di tengah tuntutan untuk kembali pada Aryan—miliarder yang dulu mengabaikan pernikahan mereka demi wanita lain hingga memicu kematian ibu Rumi—ia diingatkan akan perjuangan sang mantan suami mencarinya. Namun, luka masa lalu akibat pesan suara kejam Aryan tak bisa terhapus. Dengan tenang, Rumi menunjukkan cincin di jarinya, menegaskan bahwa ia telah memulai hidup baru yang sederhana dan meninggalkan masa lalu kelamnya di Kota Daro.
Sampul Novel Hubungan Cinta Terlarang dengan Ibu Rina
8.7
Rina adalah seorang guru sejarah di sebuah SMA. Dia berusia 30 tahun, bercerai tanpa anak. Orang bilang dia mirip Demi Moore di film "Striptease". Tingginya 170 cm, berat 50 kg, dan payudara 36B. Semua muridnya, terutama yang laki-laki, sangat ingin melihat tubuh polosnya. Suatu hari, Rina harus memanggil salah satu muridnya ke rumahnya untuk tes rias wajah. Anto harus mengulang ulangan karena ketahuan menyontek di kelas. Anto juga dikenal dengan tubuhnya yang kekar karena sudah berlatih bela diri sejak SD sehingga harus menjaga kebugaran fisiknya. Bagi Rina, kedatangan Anto ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Dia diam-diam naksir dia. Itu sebabnya dia bermaksud memberinya beberapa "pelajaran tambahan" pada Minggu sore ini. "Sudah selesai, Anto?" Rina kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Anto sendirian selama satu jam untuk mengerjakan soal-soal yang dilontarkannya. "Hampir, Nona." "Kalau sudah selesai, datanglah ke ruang tamu. Aku akan berada di belakang." "Oke." "Mbak Rina, aku sudah selesai," Anto memasuki ruang tamu dengan pekerjaannya. "Dimana Kak Rina?" "Dia di kamarnya Anto, sebentar," Rina mencoba membetulkan kausnya. Ia sengaja melepas branya untuk membangkitkan gairah muridnya. Di balik baju longgarnya, bentuk payudaranya terlihat jelas, terutama putingnya yang menonjol. Begitu dia pergi, mata Anto hampir melotot melihat tubuh gurunya. Rina membiarkan rambut panjangnya tergerai, tidak seperti penampilannya biasanya di depan murid-muridnya. “Kenapa kamu tidak duduk dulu, biar aku periksa…” Wajah Anto memerah karena malu saat Rina tersenyum saat tatapannya terfokus pada payudaranya. "Bagus... bagus... Kamu bisa berbuat curang seperti itu?" “Maaf, Nona. Saya lupa belajar hari itu.” "Ah, benarkah?" "Anto, bisakah kamu membantuku?" Rina mendekat padanya di atas karpet. “Ada apa, Nona?” Tubuh Anto gemetar saat tangan gurunya memeluknya, sementara tangan Rina yang lain membelai area miliknya. "Tolong, bantu aku, dan berjanjilah untuk tidak memberitahu siapa pun." "Tapi...tapi...aku..." "Kenapa? Oh...kamu masih perawan?" Wajah Anto memerah mendengar perkataan Rina. "Ya." "Tidak apa-apa. Biarkan aku membimbingmu." Rina lalu duduk di pangkuan Anto dan Anto hanya menurut saja saat tubuh hangat gurunya menempel di tubuhnya. Dia bisa merasakan dada Rina mengeras. Keduanya berciuman mesra. Setelah memuaskan diri, Rina berdiri di hadapan muridnya yang masih tertegun. Rambut panjangnya tergerai seperti sutra di tubuhnya. "Ah, cepatlah Anto," erang Rina tak sabar. Anto kemudian berlutut di samping gurunya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. "Anto...letakkan tanganmu di dadaku," dengan gemetar Anto meletakkan tangannya di dada Rina, merasakannya naik turun.
Sampul Novel Hurt Wife
9.4
Farida menghadapi kepedihan luar biasa setelah suaminya tega berselingkuh dengan adik kandungnya sendiri. Pengkhianatan ganda ini mengoyak hatinya hingga ia terpuruk dalam kehampaan. Di tengah keputusasaan yang mendalam, Farida justru terjerumus ke dalam jerat hasrat dan gairah yang tak terduga. Kisah romansa dewasa ini menyoroti luka batin serta pelarian emosional yang seketika mengubah arah hidup sang istri selamanya.
Sampul Novel Istri Pengganti Sang Miliarder
8.7
Identitas aslinya terbongkar, memaksa Hailey membalas budi pada keluarga Brantley. Ia pun terpaksa menggantikan sang kakak menikahi miliarder yang dirumorkan telah renta. Namun di pelaminan, ia terkejut mendapati Mathias, pemuda tampan yang menjadi suaminya. Ketegangan memuncak saat malam pertama ketika Mathias menyudutkan Hailey ke dinding, mengungkap fakta bahwa ia tahu sang istri bukanlah putri sulung yang seharusnya ia nikahi.
Sampul Novel Jebakan Cinta Sang Miliarder (Amata: Beloved).
7.9
Kepulangan Hwanhee setelah tiga tahun justru berujung pada paksaan sang ayah untuk menikahi Ayda Hannah Elsworth demi ambisi keluarga. Di sisi lain, Hannah yang keras kepala curiga rahasianya dimanfaatkan sebagai alat kendali, sehingga ia menolak menjadi menantu boneka. Meski kewalahan menghadapi sikap Hannah yang rumit dan liar, kemandirian wanita itu perlahan memicu dinamika benci jadi cinta yang tak terduga di antara keduanya.
Sampul Novel Penyesalan Abang dan Calon Suami
8.8
Setelah dikhianati hingga bangkrut oleh abang dan tunangannya demi sang sahabat, Rose mendapatkan kesempatan kedua dengan kembali ke masa tiga tahun lalu. Menyadari ketidakadilan mereka yang diam-diam memberikan proyeknya kepada orang lain, Rose memilih menyerah dan pergi ke luar negeri, yang justru dirayakan oleh keduanya. Namun, penyesalan terdalam menghampiri mereka saat Rose kembali tiga tahun kemudian sebagai istri dari presdir Grup Arkava di sebuah acara tender besar.