APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Occidens

Occidens

Akibat ketamakan orang tuanya, Edgar yang berdarah campuran hidup dalam kebencian dan kutukan. Perlahan, hatinya yang dingin mencair berkat Selena, gadis pencari kayu yang selalu ceria. Namun, takdir kejam menguji cinta mereka saat Edgar dinobatkan sebagai pemimpin kaum immortal sekaligus penguasa klan demon. Aturan mutlak melarang sang raja memiliki ratu. Bisakah hubungan mereka bertahan menghadapi hukum dunia immortal yang sangat mengikat?
Bab
Bagikan

Bab 3

Melarikan diri

_★_

"Ayolah, kau, kan, memiliki simbol sang Demon. Tidak bisakah kau menebaknya?"

Edgar membatu di tempat. Kata-kata yang baru saja Bellatrix lontarkan membuat saraf otaknya membeku seketika.

Yang dimaksud simbol adalah tanda lahir di dahinya, bukan? Tapi, Justin selalu berkata bahwa saat lahir dahinya di ukir semacam simbol oleh para tetua untuk kehidupan panjang.

"Apa maksud mu?" tanya Edgar tak suka. Matanya memicing tajam pada sosok mungil Bellatrix yang tengah tersenyum menatapnya. "Kau tidak tahu? Di dahimu itu ada simbol sang Demon, simbolnya akan menyala sampai kutukan itu dibayar."

Brak!

"Katakan sekali lagi maka kepalamu akan terlepas!" ancam Edgar tak main-main. Cengkraman di leher wanita itu mengerat.

Bukannya merasa takut dan kesulitan bernafas, Bellatrix justru merasa ini hal yang menyenangkan. Dia semakin tersenyum penuh arti.

"Kau. Bukanlah. Penerus. Raja. Justin," ejanya penuh penekanan.

Menghembuskan nafas kasar, Edgar memilih mendinginkan kepala. Ia melepas cengkraman tangannya secara kasar dan berlari masuk ke dalam kastel.

Dalam batinnya ia sudah berteriak, memohon bahwa fakta yang Bellatrix beritahukan tadi hanya tipuan semata. Tetapi di halaman berada, Bellatrix tersenyum penuh arti dengan aura negatifnya yang menguar tanpa ditutup-tutupi.

Baru saja kakinya melangkah masuk ke dalam kamarnya, suara seruan dari para penjaga dan ibunya terdengar nyaring di sepanjang koridor.

Edgar tak bisa memendam rasa keingintahuan nya. Maka setelah kembali menutup pintu kamarnya, Edgar berjalan menuju sisi kanan koridor yang langsung mengarahkan nya pada ruangan besar sang ayah.

Tok! Tok!

Tak ada respon, namun suara ibunya semakin menjerit kesakitan. Edgar bisa merasakan ada rasa panas di sekitar lehernya setiap kali mendengar jeritan itu.

Ceklek. Pintu dibukanya tanpa permisi. Ruangan gelap langsung menyambut indra penglihatan nya. Edgar berdecak.

"Apa aku berhalusinasi?" gumamnya tak habis pikir.

Karena Edgar terlanjur ada di sini. Pria itu memilih mengitari ruang kerja Justin sendirian.

Menilik dan mengamati setiap jengkal benda-benda di sana ternyata membuat Edgar cukup merasa tenang. Terutama pada sebuah benda kuno yang tergeletak di atas buku besar bersampul lusuh.

"Apa ini? Bentuknya mirip dengan simbol di dahi ku." Tangannya meraba dan meraih benda itu. "Apa benar ... aku dikutuk oleh sang Demon?" gumamnya bernada datar.

Melirik buku di atas meja. Jemarinya dengan lentik membolak-balikan halaman utama dan membaca setiap kata yang tertuang dalam hitungan detik.

"Bulan berdarah? Occidens? Apa arti semua kata-kata ini—"

"Bunuh saja dia!"

"Ya, turunkan dia dari takhta kerajaan!"

"Hukum gantung, dia harus di hukum!"

Teriakan dari luar kastel berdengung di telinga Edgar. Matanya menangkap atensi para rakyatnya tengah beramai-ramai mendemo halaman kerajaan untuk sesosok familiar.

"Ibu?"

Edgar segera berteleport mendekat kerumunan. Sosok pertama yang dicarinya adalah Justin, sang ayah.

"Ayah, apa yang terjadi?" tanyanya pada sosok tegas Justin yang sudah berada di hadapannya. "Ibumu berkhianat."

"A-apa?"

.

.

Edgar berdiri mematung. Nafasnya terdengar tersengal. Pikirannya mendadak kacau semenjak percakapan terakhirnya bersama Bellatrix siang tadi.

Kini ada banyak yang dia sesali. Ada perasaan yang janggal dalam benaknya hingga membuat dirinya terpaksa melarikan diri dari Kerajaan Vampir.

Sosok hitam besar di tengah rimbunnya hutan tadi menambah rasa khawatir Edgar. Terlebih sosok Estelyn berusaha membunuhnya secara terang-terangan saat para pengawal hendak membawanya ke halaman kerajaan.

Setelah peristiwa hukuman sang ibu gagal. Edgar melihat dengan mata kepala sendiri bahwa sosok-sosok yang selama ini ada di dekatnya, berusaha keras untuk menyingkirkan dirinya.

Sekarang hari sudah malam. Kakinya yang tak beralaskan apa-apa tergores banyak ranting juga batu hingga menimbulkan rembesan darah segar.

Kepala Edgar terasa berdenyut. Bayangan bulan purnama kini menyinari tubuhnya. Lolongan para werewolf menemani kegelisahan nya. Laki-laki itu mendesah pelan.

Memilih beristirahat di dekat batu besar, Edgar duduk dengan perasaan waswas. Indra pendengaran nya menajam, menangkap atensi dari sosok lain yang perlahan mendekati.

Kembali bangkit, gigi-gigi Edgar mengeluarkan taring tajamnya. "Siapa kau?" cetusnya tak suka.

Semakin merasakan sosok lain telah dekat. Edgar menajamkan pengelihatan nya. "Hoho anak muda, tenanglah ...," ujar seorang wanita.

Melihat Edgar bersiap menyerang, wanita itu keluar dari bayangan gelap hutan tropis. Bellatrix.

Sosok yang selama ini Edgar acuhkan padahal ia tahu fakta bahwa Bellatrix adalah penyusup. Pria itu berdesis, "Mau apa lagi kau?"

"Tenang, Tuan ku. Aku datang untuk menjemput mu pulang ke istana Raja Demon." Bellatrix berjalan mendekat.

Dari situlah, Edgar menangkap sosok muda Bellatrix perlahan berubah menjadi wanita baya yang anggun dengan gaun mewah khas seorang bangsawan.

Edgar berdecih, "Aku bukan Demon!" tekannya penuh amarah. Namun, Bellatrix memberi tanggapan remeh sehingga Edgar mau tak mau melayangkan serangkaian serangan tak kasat mata yang membuat Bellatrix tersungkur tanpa perlawanan.

"Sepertinya kau hanya pesuruh? Apa Raja Demon memberimu kekuatan atau semacamnya?" cetus Edgar.

Bellatrix tersenyum, nampak tak terusik dengan kata-kata cetusan Edgar. "Memang, aku hanya utusan Raja ku."

Mendengar hal itu, simbol kutukan di dahinya menyala terang. Seakan ada sebuah panggilan yang mengharuskan Edgar mengikuti jejak Bellatrix yang perlahan pergi menjauh.

"Aku tidak akan ikut!" tegasnya lagi.

"Simbol itu akan terus menyala sampai kutukannya terpenuhi," ujar Bellatrix memberi tahu. Seolah tak peduli, Edgar berteleportasi guna melarikan diri dari kejaran pasukan vampir dan utusan sang demon.

"Oho, seolah selama ini kau telah mengawasi kami dari pertama kali?"

"Kau benar, itu juga yang menjadi latar belakang mu lahir."

"Sialan. Apa kau tidak—"

"Ibumu dikurung di penjara, itu semua karena ulahmu, Edgar."

"JAGA UCAPAN MU, BELLATRIX!"

Sepasang netra kelamnya malah menangkap sosok bayangan hitam itu, lagi. Dia berdiri menjulang di antara padatnya pohon yang tumbuh merimbun.

Edgar bergidik ketakutan, ketika sosok itu merubah wujudnya menjadi bentuk manusia. Apalagi sosok Bellatrix menundukkan kepala di hadapan sosok itu.

"Mundur. Ku peringatkan kau untuk mundur!" perintah Edgar bergetar. Apa sosok ini adalah sang Demon? batinnya bertanya-tanya.

Tiba-tiba saja dahinya terasa terbakar. Bahkan simbol Edgar sampai berdarah karena rasa panas itu. "Menjauhlah!" pekik pemuda itu ketakutan.

Menyunggingkan senyum seringaian, makhluk paling ditakuti banyak kalangan immortal itu berjalan mendekati, dia berbicara pada Edgar tentang sesuatu. "Meus es es , symbolum mansurus es , dum fatum tuum non imples."

Edgar tak bisa mengerti apa-apa selain kata, symbolum, fatum dan imples. Arti dari kata itu adalah simbol, takdir, dan memenuhi.

Apa maksudnya, aku harus memenuhi takdir ku? batinnya histeris.

"Successor meus, maledictionem tunc non sustinebis," peringat James.

Menatap kosong ke arah sosok di hadapannya, Edgar masih mencoba mencerna perkataan yang memasuki kepalanya.

"Fatum nego, non me cogis. Habeo invenire soror mea!" Kemudian tubuhnya terasa dihisap oleh lingkaran hitam besar. Sihir ungu terus menyelimuti tubuhnya dan ia sampai di rumah ini. Rumah seorang gadis—

Tunggu, seorang gadis?

"Kau baik-baik saja? Sudah merasa baikan?"

"A-apa yang ter-jadi?"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Kayungyun
8.0
Fatih hidup berdampingan dengan entitas misterius yang bersemayam di tubuhnya sejak kecil. Seiring waktu, keberadaan sosok tak kasat mata yang ia sebut teman itu kian tak terkendali. Kini, teror supranatural tersebut tidak hanya mengacaukan hidup Fatih, tetapi juga mulai mengancam keselamatan orang-orang terdekatnya. Fatih harus berjuang menghadapi gangguan mistis agresif yang perlahan merusak realitas di sekitarnya.
Sampul Novel Not A Perfect Marriage
9.5
Ivy Marionet menjalani pernikahan rumit yang penuh rahasia dengan seorang ksatria kerajaan. Ia harus berjuang keras demi menyembunyikan identitas aslinya yang misterius. Keadaan kian genting saat campur tangan Putra Mahkota Winter membuat Ivy terancam hukuman mati di tangan suaminya sendiri. Siapa sebenarnya sosok Ivy? Di tengah intrik dan bahaya yang mengintai, mampukah ia mengungkap kebenaran sekaligus menyelamatkan diri dari eksekusi yang membayangi hidupnya?
Sampul Novel Putra Rahasia Sang Alfa, Penawarku yang Dicuri
9.6
Tiga tahun aku bertahan melawan racun, hanya untuk dikhianati oleh suamiku sendiri, Alpha Yudha. Demi Elara, ibu dari anak rahasianya, dia memberikan satu-satunya obat penawar yang bisa menyelamatkanku. Yudha menginginkan kematianku demi kebahagiaan keluarga gelapnya, bahkan tega mempermalukanku di rumah orang tuaku. Menggunakan sisa kekuatanku, kuputuskan ikatan batin kami. Aku pergi membawa dendam, bersumpah untuk tetap hidup dan menghancurkan seluruh dunianya.
Sampul Novel Segitiga Penguasa - Sudut Pertama
8.5
Demi melindungi keluarganya dan bayi titipan sahabatnya dari kejaran prajurit, seorang pria mengungsi ke desa asal setelah tragedi memilukan. Sialnya, empat tahun kemudian ia tewas di depan istrinya yang baru melahirkan. Dua dekade berlalu, Marcapada tumbuh tanpa sosok ibu. Kini, ia harus berjuang bersama pemuda yatim piatu bernama Soma. Mereka harus bersaing ketat dengan puluhan pemuda lain dalam sebuah kompetisi sengit untuk memperebutkan gelar Penjaga.
Sampul Novel SOUL TRANSMIGRATION
9.0
Terbangun di tepi danau asing membuat Xio panik, terutama saat melihat wajah orang lain di pantulan air. Sadar ini nyata, ia justru ditangkap sekelompok pria yang memanggilnya Shiro dan menuduhnya berpura-pura mati. Kini, Xio terkurung di kamar megah layaknya istana. Meski merasa cantik di balik pakaian lusuhnya, ia sangat kebingungan dengan identitas Shiro serta tuduhan sandiwara yang diarahkan kepadanya.
Sampul Novel Sumpah Hening Balas Dendam Sang Luna Berparut
9.7
Kehadiran seorang wanita dengan anak bergenetik Alpha Damian di klinikku mengungkap kebenaran pahit. Melalui ikatan batin, aku merasakan cinta tulus Damian untuk wanita itu. Puncaknya, di pesta kawanan, Damian melindunginya hingga membuatku keguguran. Ia bahkan mengabaikanku yang sekarat demi luka kecil putranya. Setelah dibuang ke jurang oleh kekasihnya dan ditolak atas namanya, aku berhasil selamat. Kini, aku melangkah ke Swiss untuk bangkit dari segala kehancuran.